in Kajian Budaya

Wind of Change; Yang Dirindu Dalam Sebuah Lagu

Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow share their dreams
With you and me
Take me to the magic of the moment
On a glory night
Where the children of tomorrow dream away
In the wind of change

Diatas adalah petikan dari sebuah lagu yang pernah populer di era 90an. Lagu tersebut tercipta dan dibawakan oleh salah satu band legendaris asal German yakni Scorpion 1.

Sebagai wujud dari kondisi dan keadaan yang sedang – atau pernah -terjadi kala itu di German. Dengan lirik yang sangat general, artinya pada bait, lirik dan maknanya, lagu itu melejit dan bahkan sampai mendapatkan sebuah penobatan lagu perdamaian yang terbagus dizamannya. Lagu ini menembus tangga nada di USA peringkat 04 dan di UK peringkat 02 2, pada saat itu merupakan suatu kehormatan apabila sebuah band bisa menembus pasar besar terutama di 2 negara tersebut.

Apa yang membuat lagu tersebut menjadi sebuah lagu populer dizamannya dan sampai sekaranpun masih menjadi suatu lagu yang amazing? Adalah terletak kepada bagaimana seorang musisi berhasil mencipta suasana yang bisa menyentuh lara dengan baik.

Apabila lagu tersebut berkala disukai, diulang  dan didengar maka jawabannya terletak kepada isi yang general tadi. Apalagi lagu tersebut khususnya merupakan suatu wakil dari isi kebanyakan orang-orang German yang waktu itu sangat menantikan suatu dunia yang baru dalam kondisi perdamaian.

Merupakan sudah sebagamaina mestinya manusia, maka salah satu dari berbagai cara untuk mengekspresikan rasa yang tiada terhingga itu adalah dengan membuat abadi pada lagu, seperti Scorpion dengan Wind of Change – nya.

Band ini telah berhasil bukan hanya dalam segi ekonomi dan nama yang mendunia akan tetapi mereka lebih berhasil dalam dimensi lain yang lebih dari segi pertama tadi.

Dalam hal inilah menjadi suatu penting ketika seorang musisi, yang senantiasa mencipta, seharusnya berada pada lagu yang memuat isu tak monoton. Scorpion, band legendari ini, sedikitnya mencapai suatu kesempurnaan didalam mencipta lagu karena mendapati antusias dan lagu tersebut yang senantiasa didengar dengan berkala maka tak sungkanlah bila kita berkata bahwa lagu ini memang melewati zamannya.

Wind of change merupakan bentukan dari harmoni antara rasa yang menggelora, jiwa yang menangis terharu dan bersedih, harapan yang meninggi tiada henti, dan baris kata/lirik cantik yang ditulis dengan sempurna dan diperindah dengan nada dan suara yang aduhai merdunya.

Wind of Change & Kerinduan Yang Berulang

Dalam sebuah hidup yang terkerangkeng gadah-gadah besi yang sudah biasa bertebaran diudara lalu mendekat dan meledak didarat. Selalulah manusia merasa ingin dirinya mendapati kehidupan yang lebih indah dari yang sekarang mereka dapati. Kita bisa melihatnya dalam suatu waktu ketika konflik antara Palestina dan israel sepakat untuk gencatan senjata maka pada itu pula suara senang bahagia menjadi suatu yang ada di kedua belah pihak warga.

Soldiers passing by, listening to wind of change.

Melihat para tentara mengemas senjata dan peralatan lainnya adalah suatu keadaan yang didambakan diantara warga kedua negara, dengan sejarah yang luar biasa, tersebut. Dengan begitu sedikit hilanglah rasa takut dalam jiwa mereka ketika mendengar gencatan senjata dan melihat para tentara mengemas alat-alat perangnya untuk menghentikan serangan-serangan yang menimbulkan ketakutan baik moral atau fisik.

Inilah letak dimana suatu lirik yang berkala menemukan suatu dialektika manisnya. Serupa dalam harapan tapi beda dalam keadaan tidak membuat suatu hal yang harus dipertentangkan lebih dalam. Dimanapun anda berdiri dalam keadaan berperang mendapati suatu hal serupa dengan diatas, apa yang akan dirasakan tepat pada waktu itu?

Take me to magic of the moment on glory night. Where the children of tomorrow dream away, in the wind of change. Take me to magic of the moment on glory night. Where the children of tomorrow share their dream, with you and me.

Melihat air mata menetes ditengah reruntuhan puing bangunan yang lebur merupakan suatu yang biasa terjadi. Terakhir kali konflik, banyak warga sipil menjadi korban kebiadaban zionis,  benar apa kata salah satu senior saya bahwa mereka bertindak layaknya seorang vampir!

Syahdan, keadaan esok hari adalah suatu penggambaran mereka, para korban, terhadap keadaan yang tak menentu jadinya. Semisal mereka bermimpi untuk esok hari diantara tembakan yang menakutkan dan keheningan dunia tanpa gadah besi yang bahaya.

Keadaan yang terakhir adalah suatu porsi yang seharusnya disediakan lebih besar ketimbang keadaan yang pertama. Tidakah mereka semua sama dengan kita? Mempunyai mimpi sebagaimana kita bermimpi untuk menjadi pangeran dan putri di altar suci penuh dengan tanaman?

Bedanya adalah mereka yang disana tak muluk-muluk untuk bermimpi sedangkan yang muluk-muluk adalah suatu mimpi yang tiada berarti dari mimpi yang pertama.

Mendapati suatu perdamaian walau hanya gencatan senjata merupakan suatu yang selalu disyukuri oleh para korban. Perdamaian seperti yang dikata diatas adalah suatu keadaan yang selalu didamba manusia dalam hidupnya.

Oleh karena wakil rasa tersebut tertuang dalam sebuah lagu maka benarlah apabila saya memberikan suatu subjudul diatas sebagai kerinduan yang berulang. Suatu rindu yang tergugah karena lagu terdahulu. Meski telah berlalu pada waktu namun isi dari lagu itu adalah merdu seiring waktu.

Dimanapun anda berada, dalam situasi konflik, pasti tersemayam pada diri untuk menginginkan suatu perubahan yaitu perdamaian. hal itu berulang sebagaimana dunia berputar.

Wind of Change & Question When?

Gencatan senjata diantara Palestina & israel bukan merupakan hal yang pertama kalinya terjadi. Artinya meski ada gencatan senjata yang disepekati tidak menyurut kemungkinan bahwa salah satu pihak diantara mereka ada yang melanggar.

Yang saya tahu bahwa dari pihak yang kembalilah gencatan senjata selalu dinodai. Kalau kita menengok sejarah pasti kita akan tahu kenapa mereka selalu berada pada pihak yang tak dipercaya.

Oleh karena itu selama mereka berada pada konflik yang abadi tersebut maka pertanyaan besar seharusnya menjadi PR untuk para penggagas kemanusian; baik itu organisasi perdamaian, hak asasi manusia, UN atau lembaga tentang kemanusian yang berhubungan.

Pada merekalah “mungkin salah satu dari mereka” akan tunduk dan mungkin pula salah satu dari mereka pula akan terus bedegong  dan menganggap kecaman itu hanya kicauan belaka.

Disini kita. Seiring waktu masih berjalan masih banyak ada cara yang bisa kita ungkapkan dari mimpi-mimpi yang mereka bagikan kepada kita. Salah satunya berdoa dan membantu untuk sedikit menyisihkan uang jajan kita untuk mereka. Untuk saat ini hanya itu yang bisa kita lakukan kan?

Meski mimpi saya tentang perdamaian disana lebih mendua tetapi saya yakin kelak akan ada suatu keadaan yang banyak diingnkan oleh manusia, perdamaian dalam akhir cerita. Dan perdamaian itu adalah perdamaian yang benar-benar adil tanpa memihak manapun. Mereka yang bersalah dan berdosa maka hukuman setimpal tanpa tambah atau kurang pasti diterimannya.

Salam Alaykum ~_^

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Referensi:

  1. http://www.the-scorpions.com/english/history.asp
  2. http://en.wikipedia.org/wiki/Wind_of_Change_(song)

Tinggalkan pesan

Comment