in Budaya, Kajian Budaya

Valeria: Berbi, Cyborg, & Subkultur

Serasa hidup didalam dunia fantasi adalah ketika kita merindukan hal-hal yang manis bersifat imajinasi menemukan suatu pemaknaan pada kehidupan nyata. Semisal ingin hidup seperti kisah Cinderella, ingin terbang seperti peterpan atau ingin cantik sesempurna Berbi. Saya curiga bahwa hal itu terjadi mungkin karena apa yang pernah menjadi pembentuk kehidupan sekarang tiada terlepas dari bagaimana manusia itu dikonstruksi ketika masa hidup sebelumnya.

Apa yang menjadi sesuatu hal yang menakjubkan itu adalah ketika pengalaman masa kecil kita selalu dihiasi oleh kisah-kisah indah seperti Cinderella yang ceritanya aduhai romantis, Peter Pan yang terbang, Kecantikan Berbi yang menggugah, sampai kepada power ranger sang pahlawan kebajikan.

Mungkin hal seperti diataslah yang menjadi salah satu alasan bagaimana ketika dunia akhir-akhir ini dikejutkan oleh berita heboh tentang keberadaan manusia yang seolah-olah seperti Berbi si boneka cantik itu! Siapa yang tidak tahu dengan sang Ratu Berbi Sejagat – Valeria, dialah orangnya.

Dengan tubuh yang ramping, mata yang sedikit agak bolotot, rambut yang putih halus, jentik alis matanya, sampai pada bagaimana cerita di Film Berbi, menginpsirasinya, telah menjadikan Valeria sebagai seorang manusia yang menjadi Berbi dalam keadaaan aslinya. (Sebuah petanda melahirkan penanda baru)

Serentak berbagai opini pun mencuat terkait kemunculan manusia Berbi asal Rusia itu. Seperti biasanya, maka ada 2 opini yang berlawanan, pro dan kontra. Sebagian ada yang menganggapnya lazim, karena itu hak mereka dan sebagian orang mempunyai pendapat bahwa mereka terlalu terobsesi.

Kita boleh saja berpihak pada kedua kubu diatas namun ada baiknya keberpihakannya itu disertai sama alasan atau upaya yang bisa meyakinkan orang lain. Misalnya ketika ada suatu wacana bahwa foto-foto Valeria, olga dan teman serupanya adalah fake alias palsu dan dibuktikan dengan kepalsuannya. Begitupula apabila mengatakan biarkan sajalah itukan hak asasi mereka maka harus dibarengi dengan sesuatu yang menguatkan.

Valeria: Kegemaran Yang Menjelma

Valeria tidak akan pernah menjadi seorang Berbi apabila dia tidak mempunyai hubungan atau keterikatan yang dalam dengan Berbi tersebut. Seorang manusia sedikitnya, seperti yang diurai diatas, tidak akan pernah jauh dari apa yang ia alami dalam hidupnya. Ketika habitusnya dibarengi oleh beberapa kemistri yang mendukung maka keinginannya atau imajinasi/obesesi mimpi terasa dekat untuk digapai dan tak terlalu jauh untuk dilalui.

Untuk itu tidak mungkin kalau saya tidak menuliskan Valeria adalah penggemar berat dari Berbi. Sebagian kita pasti pula menggemari sesuatu, mengidolakan sesuatu, menginginkan hidup seperti sesuatu dan ingin seperti apa yang kita idolakan. Wajarlah kalau seseorang itu mempunyai Idola tapi kalau berlebih-lebihan kan tidak dianjurkan juga!

Menggemari sesuatu adalah hal yang biasa/wajar dalam hidup. Malahan dalam ajaran agama saya dianjurkan untuk mengidolakan seseorang dengan pertimbangan-pertimbangan tertentu.

Akan tetapi seiring dengan perubahan zaman, pandangan peralihan dan kemajuan tekhnologi istilah menggemari, penggemar atau apapun itu ternyata menjadi sesuatu kajian yang kritis bagi beberapa kalangan. Sebagian ilmuwan mengganggap bahwa praktik budaya tersebut muncul sebagai akibat dari alienasi ideologi kapitalis dan sebagian ilmuwan lain mengatakan bahwa budaya penggemar itu adalah sebuah sub baru yang unik.

Budaya penggemar sekarang bisa ditemui dimana-mana termasuk di Indonesia seiring meningkatnya konsumerisme. Kita lihat bagaimana generasi muda kita yang sedari pagi sudah nongkrong di acara – acara musik, selain itu kita juga melihat intensitas penggemar musik di Indonesia yang semakin marak dan ramai. Tak lupa bahwa

Dalam pembahasan kajian budaya, budaya penggemar selalu menjadi topik hangat untuk diperbincangkan. Disini ada baiknya kita tinggalkan dulu pengertian budaya yang selalu didefinisikan oleh para antropolog atau ilmu sosial lainnya karena kita disini akan memakai istilah budaya dalam ruang lingkup kajian budaya. Secara sederhana, kajian budaya adalah ilmu yang mempelajari budaya kontemporer berserta relasi sosial politiknya.

Tentu saja ada beberapa faktor penting yang lahir dari adanya budaya penggemar tersebut. Bisa jadi faktor itu mempermasalahkan kenapa dan mengapa seorang itu sangat menggemari apa yang ia sukai. Untuk itu marik kita menuju pada perkataan seorang peneliti budaya penggemar yang mengatakan bahwa literature mengenai kelompok penggemar dihantui oleh citra penyimpangan. Penggemar selalu dicirikan sebagai suatu kefanatikan yang potensial. Hal ini berarti bahwa kelompok penggemar dilihat sebagai perilaku yang berlebihan dan berdekatan dengan kegilaan. 1

Obsesi dan histeris yang berlebihan biasanya terdapat pada beberapa kelompok penggemar, dan itu tidak apa2 menurut kacamata mereka namun berbeda dengan kacamata yang lain. Justru dengan melebih-lebihkannya itu seorang penggemar akan terlihat seperti seseorang yang tergila-gila terhadap citraan sang idola.

Keadaan mereka yang asli telah dirasuki, setidaknya, oleh citraan yang mendahului substansi. Suatu ketidakperluan apabila tidak adanya suatu subyek yang mempertanyakan atau meragukan. Yang ada mungkin mereka sedikit dyuekat pada suatu masyarakat yang sudah terkungkung dalam satu dimensi. 2

Citraan Berbi yang cantik dengan beberapa gayanya serta film2 berbi yang setidaknya memberi suatu fantasi tentang dewi cantik yang aduhai sempurna telah memberi banyak pengaruh pada hidup Valeria. Baginya ia tidak perduli seberapa besar biaya yang harus dikeluarkan untuk menjadi seorang wanita Berbi karena pada dasarnya hidup seperti Berbi adalah kesempurnaan yang diidamkan.

Valeria Berbi: Suatu Pandangan Lain

Adalah suatu kewajaran apabila saya mengatakan bahwa ketika obsesi/histeris itu berada pada tinggkat tinggi maka potensi apa yang diidamkan akan dianggap sempurna oleh mereka. Sebabnya ialah karena jiwa akan melihat sempurna orang yang menaklukan jiwa itu oleh yang ditundukannya 3

Seorang manusia mungkin akan berpikir beberapa kali untuk menjadi berbi apabila jiwa dan keadaan yang ada padanya tak memadai untuk melihatnya secara sempurna. Tapi bagi mereka, komunitas berbi, mungkin menjadi manusia berbi itu adalah sebuah pilihan.

Tentunya pilihan yang terlahir itu bukan suatu keputusan yang datang dengan sendirinya melainkan terpengaruh oleh bagaimana situasi keadaan dimana mereka berada. Citraan yang ditampilkan berbi, ditambah. masa-masa kecil yang selalu dirindu, menjadi sebuah kenyamanan tersendiri untuk memaknai peran individu mereka. Dibawah akan sedikit dipaparkan mengenai pembahasan Berbi dilihat dari segi yang dipilih penulis.

Cyborg: Apakah Bisa Diterima?

Istilah Cyborg adalah suatu istilah ketika manusia dan mesin dapat menjadi sesuatu yang terpadu. John Hartley mengatakan bahwa Cyborg adalah perpaduan antara manusia dan mesin, organis dan teknologis. 4

Terkait fenomena manusia berbi ini, ternyata wacana sepreti hidup dalam plastik (Ditujukan kepada mereka) sudah banyak menjadi perbincangan media-media di dunia barat atau didunia timur. Hal ini menjadi sebuah pembicaraan menarik. Apalagi dengan adanya istilah Cyborg menjadikan manusia berbie perlu dibicarakan lebih lanjut.

Dengan mempelajarinya mungkin kita bukan hanya akan mengerti definisi tertentu dari Cyborg melainkan melebar kepada hubungannya dengan feminisme. Sebaiknya saya melepaskan pembahasan cyborg dalam tulisan ini. Tindakan ini dilakukan untuk menghindari beberapa kemungkinan yang sulit didepannya. 😀

Tapi kalau ada yang mau membahas berbi dan hubungannya dengan feminisme saya akan berbagi ebook yang isinya membahas permasalahan wanita, berbi dan feminisme.

Gaya dan Gaya Hidup

Bisa jadi apa yang dilakukan oleh Valeria dan teman-temannya adalah sebuah trendsetter yang sedang marak di Rusia. Indikator penting bagaimana hal ini menjadi trendsetter mungkin terletak pada kebaruan yang lahir ditengah kejenuhan atau bisa juga hanya ikut-ikutan saja.

Menjadi berbie dan terkenal ternyata telah menjadi suatu fesyen tersendiri disana. Hal ini telah membuat individu merasa menjadi seseorang yang khas diantara yang lainnya. Disini gaya menaruh perhatiannya pada kekhasan, aspek lain dan fesyen. 5

Dengan adanya situs jejaring media sosial seperti website, facebook, twitter dan youtube. Valeria dan beberapa komunitasnya serentak menjadi terkenal seantero dunia.  terecatat

With more than 30,000 subscribers on her official YouTube channel, plus a 20,000-strong following on Twitter and Facebook… Her 85 tutorials on her YouTube site, VenusAngelic, have been watched 10 MILLION times — with one on creating doll-like make-up seen a staggering 1.6 million times. 6

Kemunculan mereka yang khas dan beberapa tingkah laku yang begitu tak biasa telah menjadikan mereka sesuatu identitas yang baru, (Mungkin suatu sub) suatu identitas yang mengindentitaskan diri mereka pada berbie. Identitas menjadi sangat penting dalam pembentukan gaya hidup. Sebagaimana dikatakan Hartley ketika membahas 2 konteks yang ada dalam gaya hidup bahwa “Gaya hidup ini memiliki kaitan dengan subkultur urban atau penggemar musik, olah raga dan kesukaan.” 7

Sedangkan yang kedua menurut Hartley terkait dengan industri konten. 8 Dalam konteks ini suatu identitas yang terkolektifkan itu bergerak dengan kepentingan-kepentingan umumnya baik itu bagaimana mereka merawat tubuh, edit menggunakan photoshop atau mengundang dalam seminar spiritual ajakan Ratu Valeria. → lihat disini lebih lanjut 9

Melihat cara mereka mengelola website, akun youtube, facebook dan bahkan twitter sampai seminar-seminar yang diberikan oleh Valeria telah menjadi suatu konten yang menyuguhkan kepada kita untuk lebih mengenal mereka dengan identitas baru yang melekat padanya.

Kesimpulan dan Lanjutan

Kehidupan manusia adalah suatu kehidupan yang tak bisa terlepas dari suatu ruang dan waktu. Bagaimana ia besar dan bagaimana ia hidup di masa kecil adalah suatu waktu yang selalu menjadi rindu dikelak hari bahkan hal tersebut tak jarang menjadi sebuah mimpi.

Namun hanya sebagian orang yang bisa merealisasikan apa yang diidamkan dimasa lalu, yaitu mereka orang-orang dengan habitus dan suatu ruang waktu yang mendukung.

Seperti misal seorang Valeria dan perempuan lainnya yang mempunyai imajinasi tinggi untuk menjadi seorang berbie. Mereka meggemari maka mereka harus ada untuk kebahagiaannya itu. Menjadi berbie adalah sesuatu jalan bagi mereka karena untuk memilih merupakan kejadian dimana mereka sedari kecil. Yang tersisa sekarang hanyalah obsesi yang menjadi.

Manusia berbie adalah suatu perpaduan antara imajinasi dan realitas yang menjadi suatu gaya baru yang ada di Russia. Bagaimana Valeria terlihat sebagai sebuah gunung es yang mampu meleburkan Valeria2 lainnya. Satu persatu maka menjadi banyak lalu tebentuklah suatu komunitas dan bahkan sampai subkultur.

Sekilas tak ada permasalahan kritis yang dipertanyakan disini. Namun sesuai dengan temannya subjudul “Kesimpulan diatas” maka Insya Allah dalam beberapa waktu yang akan datang saya akan mencoba menulis permasalahan sama dalam perspektif Madzhab Frankurt.

Beberapa situs yang direkomendasikan adalah

  1. 10
  2. 11
  3. 12
  4. 13
  5. 14
  6. 15
  7. 16
  8. 17
  9. 18
  10. 19

Syahdan, salamku untuk semua saudara ~_^

Referensi:

  1. (Jensons dalam John Storey) 1996. Cultural Studies dan Kajian Budaya Pop. Jalasutra : Yogyakarta.
  2. Istilah ini dipopulerkan oleh Herbert Marcuse
  3. Khaldun, Ibnu. 2011. Muqaddimah. Jakarta : Pustaka Firdaus.
  4. Hartley, John. 2004. Communication, Cultural, & Media Studies – Key Concept. Jalasutra : Yogyakarta.
  5. Ibid ., hal 93
  6. http://hyperallergic.com/57313/living-dolls/, diunduh pada tanggal 12/18/2012.
  7. Ibid., hal 95.
  8. Ibid., hal 95.
  9. http://exposebarbie.com/
  10. http://www.thesun.co.uk/sol/homepage/features/4251638/Venus-Palermo-news-The-teenage-girl-who-spends-120-a-month-to-live-like-a-real-life-doll.html
  11. http://kotakoti.com/?paged=4
  12. http://hyperallergic.com/57313/living-dolls/
  13. http://transhumanity.net/articles/entry/the-human-barbie-doll-valeria-lukyanova-is-this-the-future-of-cosmetic-surg
  14. http://exposebarbie.com/valeria-lukyanova-her-bff/
  15. http://www.parenting.com/blogs/show-and-tell/kim-babytalk/meet-human-barbie
  16. http://www.dailymail.co.uk/femail/article-2133552/Valeria-Lukyanova-pictures-Real-life-Barbie-seeks-worlds-convincing-doll.html
  17. http://www.newsmakertoday.com/wanna-be-like-barbie-dolls-charlotte-hothman-spend-10000/3856.html
  18. http://www.newsmakertoday.com/ukrainian-girl-valeria-lukyanova-the-real-life-barbie-doll/4904.html
  19. http://thegreenbuz.com/ukrainian-girl-valeria-lukyanova-the-real-life-barbie-doll-04-2012

Tinggalkan pesan

Comment

  1. kehadiran tokoh2 imajinatif masa silam yang kini seakan2 hadir dalam dunia nyata bisa menjadi salah satu bukti betapa imajinasi memiliki kekuatan dahsyat, mas zaki. saya heran kalau masih ada orang yang meragukan kekuatan imajinasi itu.

    • Salam hormat sebelumnya atas Pak Sawali 🙂

      Betul sekali kata bapak. Bagi sebagian orang kehadiran mereka, diatas, merupakan sebuah kehidupan yang unik, bermakna dan berbeda daripada yang lain. Tapi bagi sebagian orang pula hal itu menjadi pertentanggan.

      Kehadiran imajinasi adalah sebuah kehidupan yang bermimpi, tanpanya kitalah tak mungkin mempunyai acuan.

      Setahu saya, untuk menjawab perihal bapak, orang-orang yang mempertanyakan itu adalah orang yang melihat kepada bagaimana imajinasi yang dipergunakan dijadikan hal untuk memperkayai diri mereka sendiri. Artinya golongan ini melihat kepada sebuah hal diluar berbi itu 🙂

  2. Oh iyaa.. tayangan mengenai barbie ini pernah saya lihat di salah satu stasiun tv. Agak menyeramkan juga kala seseorang berusaha sedemikian merasuk pada sesuatu yang sangat digemarinya. Semoga bukan terjadi kelainan jiwa semacam waham, yang menganggap dirinya adalah sesuatu yang digemarinya itu.

    • Ia mba 🙂 Semua ada pada batasnya.
      Soal masalah diatas sampai sekarang masih menjadi pertanyaan, Soalnya banyak yang menganggap itu hanya sebuah sensasi dan kepalsuan. Mkasih kunjungannya mbak.