in Kajian Budaya

Tron Legacy: Yang Nyata Meredup Dan Nostalgia Menepi (Simulasi)

See the truth

Rising

Pada tahun 2010 dunia perfilman dan dunia hasrat kita terhentak dengan kehadiran film monumental yang syarat dengan perkembangan sejarah tekhnologi. Film tersebut adalah Tron legacy. Film yang disutradarai oleh Joseph Kosinski yang kerap dikenal sebagai seorang sutradara dalam film berbasis 3D dsb.

Sebenarnya film Tron Legacy ini adalah sekuel dari film Tron yang telah tayang pada tahun 1982. Boleh dibilang bahwa dengan adanya film inilah sang sutradara menginginkan suatu inspirasi. Dan dengan seiring perkembangan zaman Tron Legacy yang ditayangkan serentak pada tahun 2010, artinya 28 tahun setelah penayangan Tron yang pertama, hadir kepada masyarakat dengan penampilan yang lebih segar, spektakuler, dan membahana badai dibanding saudaranya.

Hal itu menyiratkan kepada khalayak bahwa perkembangan tekhnologi media memang terasa sekali ketika melihat susunan grafis, tampilan atau pengolahan 3D dalam film Tron Legacy. Sejarah pun pasti akan mencatat bahwa dengan adanya Tron Legacy ini dunia terasa semakin menuju pada era dimana semuanya adalah tekhnologi ruang digital, suatu mimpi yang didamba.Sedangkan dalam isi alur cerita, penokohan atau temanya, kedua film Tron itu masih mempunyai kesamaan.

Semenjak kehadiran film Tron Legacy itu tidak diragukan lagi bahwa memang benar  apabila film Tron Legacy pantas mendapatkan beberapa award, baik itu untuk filmnya sendiri, untuk para pemeran,  atau mereka yang berkecimpung didalam proses pembuatan sampai kepada sutradara, dari pihak yang selalu menyelenggarakan. Dengan tekhnik tingkat tinggi 3D dan tampilan yang syarat akan kecanggihan bukan tak mungkin bahwa menurut saya film ini lebih menarik hati ketimbang film The Matrix.

Pertanyaannya sekarang adalah lantas apa yang kita dapat dari film tersebut? Apakah dari film tersebut kita semakin berkhayal untuk memasuki era digital grid seperti dalam Tron? Atau kita mempunyai misi menjadi seorang pemain dalam game Angry Birds, Counter Strike dan lain-lain? Ataukah kehadiran film tersebut hanya sebagai salah satu pelampiasan hasrat konsumerisme kita yang hidup dalam dunia gelembung kapitalisme?

Kita sebagai masyarakat massa atau masyarakat konsumer seringkali mendapati hal tersebut sebagai sesuatu yang biasa saja. Sebagaimana sebuah air yang mengalir dengan tenangnya tapi kita tidak mengetahui bahwa di kedalamannya terselubung sebuah proses yang diselimuti tirai-tirai hitam yang kelam. Tirai-tirai hitam itu bukanlah sebuah tirai yang didiamkan akan tetapi mereka penuh dengan konfrontasi.

Bisa jadi hal itu datang dari sistem kapitalisme mutakhir yang tidak melegitimasi dirinya melalui barang, akan tetapi melalui hasrat. Dan bisa pula hal itu datang dari sebuah sistem lanjut yang hadir dalam bagaimana suatu realitas kehidupan yang tak nyata ternyata disetujui oleh kita, yang bergejolak dalam makna, sebagai sesuatu yang benar-benar nyata.

Apabila kita lantas berdiam diri dan sepi tak berdaya maka kita pantas untuk menyandang sebagaimana yang telah disebut para ilmuwan dengan judul masyarakat yang diam, one dimensional man.

Mimpi Manusia Menemukan Nostalgianya

Dikatakan bahwa kita sekarang ini hidup dalam dunia yang serba bebas. Baik itu apa yang dianggap bebas benar, baik bebas, bebas betul, salah bebas, ada bebas dan sampai yang tiada. Yang jelas kita ini sekarang hidup dalam era yang plural, tak ada pembatasan mana yang baik, mana yang nyata dan mana yang indah dll.

Singkatnya tak ada sesuatu istilah suferior dan Inferior. Hal ini terlahir akibat kepongahan atau sifat ideologi yang selalu mendominasi suatu definisi sehingga seringkali definisi itu membawa kepada suatu konflik dan pertikaian.

Dengan seiring perkembangan dialektika kehidupan, manusia seringkali selalu menghadirkan beberapa pemikiran yang radikal terhadap sesuatu yang telah ada. Ada dari sebagian mereka yang tak terima dengan sistem yang terstruktur alasannya karena dengan adanya sistem yang seperti demikian telah membuat suatu kebebasan lebih dikekang, tak bebas bergerak.

Dalam film Tron Legacy ini pun saya menemukan suatu dekonstruksi hebat dari suatu naratif besar, yaitu kenyataan/realitas. Dimana kenyataan yang seharusnya menjadi sebuah hal yang bisa kita sentuh keberadaannya dibuat hilang namun kita tidak menyadarinya karena yang nyata dan tidak nyata saat ini sulit untuk dibedakan.

Sebagai penonton kita barangkali ada yang beranggapan bahwa apa yang terdapat dalam film tersebut benar adanya karena kenyataan/realitas dalam sebuah film sudah mengalami suatu kepudaran, meskipun begitu kepudarannya itu menemukan suatu udara segar ketika diterima suatu hasrat yang membuncah. Bila efek yang kita dapat setelah menonton  film Tron Legacy seperti demikian maka manakah suatu sistem yang membuat kita menjadi seperti itu? Jawabannya adalah penjelasan yang akan dibahas selanjutnya dengan mengambil subjudul dibawah ini

Dunia Simulasi Yang Berlabuh Pada Hiperialitas – Tron Legacy: Yang Hilang Bertemu Nostalgi

Tinggalkan pesan

Comment