in Sastra

Tiada Cinta Tiada Sastra. Tiada Sastra Tiada Kecintaan

Karya sastra menurut Sumardjo dan Sumaini adalah seni bahasa, expresi pikiran dalam bahasa, inspirasi kehidupan yang dimateraikan dalam sebuah bentuk keindahan, semua buku yang memuat perasaan kemanusiaan yang benar dan kebenaran moral dengan sentuhan kesucian, keluasan pandangan dan bentuk yang mempesona.

Mengacu pada pengertian diatas kita bisa mengerti bahwa suatu karya sastra itu adalah sebuah proses berpikir mengenai keindahan, kesucian kebenaran moral yang diexpresikan kedalam sebuah bahasa baik lisan atau tulisan.

Keberadaan dan proses itu akan senantiasa berjalan secara berirama apabila ada suatu rasa yang mempunyai peran penting yaitu rasa kecintaan kita terhadap apa yang ingin kita sampaikan pada sebuah karya sastra.

Kita tidak mungkin menciptakan sebuah puisi untuk seseorang yang kita cinta apabila tidak ada perasaan cinta yang menggebu ketika rindu tak bisa bertemu. Kita tidak bisa menulis puisi tentang alam apabila tidak ada suatu perasaan cinta terhadap alam yang begitu menjadi inspirasi bagi manusia.

Namun akhir-akhir ini nampak ada suatu masalah yang tidak bisa kita hindarkan keberadaannya, masalah yang tak bisa kita hindarkan tersebut adalah dengan menurunnya sebab suatu karya itu bisa tercipta yaitu kecintaan/kekaguman terhadap sesuatu yang bisa menghantarkan seseorang bisa membuat karya sastra.

Dalam tulisan ini saya mengangkat sastra lokal (sunda) sebagai kajian, hal ini terlahir bukan tanpa sebab, melainkan karena ada beberapa alasan yang membuat saya ingin sedikit berbagi tentang apa yang saya ingin utarakan

Bahasa dan Budaya Sunda

Kondisi bahasa dan budaya sunda sekarang ini sangat memprihatinkan, selain itu dengan adanya proses globalisasi yang merubah sendi-sendi kehidupan masyarakat di Indonesia, khususnya sunda disinyalir menjadi peran penting salah satu penyebab keprihatinan kita terhadap bahasa dan budaya sunda. Selain adanya proses modernisasi, proses globalisasi juga menjadi media utama yang mengintensifkan kontak bahasa sunda dengan bahasa Inggris.

Dari proses modernisasi yang bisa kita temukan, seperti adanya Internet dan Game online, menjadi kajian khusus saya tentang permasalahan yang diangkat disini. Karena semakin mudahnya orang-orang mengakses media Internet dan Game online tanpa disadari telah merusak sendi-sendi budaya asli orang sunda.

Saya seringkali menemukan (di beberapa tempat) bahwa bukan saja anak-anak muda yang menggandrungi Internet dan Game online, khusus Game online ternyata anak-anak kecil juga sudah sangat paham mengenal permainan yang hanya dengan duduk saja bisa bermain dengan orang-orang diseluruh dunia.

Apabila hal yang demikian itu dibiarkan begitu saja tanpa adanya antisipasi, mungkin kita akan hanya menunggu cerita dari permainan-permainan asli sunda yang dulu saya pernah kenal namun sekarang ini saya sangat jarang menemukan kembali regenerasi tersebut. permainan sunda itu seperti ajangkungan (engrang), kelom batok, rorodaan, gasing/papanggalan, perepet jengkol, bedil jepret, sorodot gaplok, engklek dan gatrik, kawih sunda, main kaleci, sondah, beklen, jaipongan, calung, wayang, ucing sumput, galah ulung dan masih banyak lagi permainan asli sunda yang tidak bisa dipaparkan disini.

Selain hal diatas juga, nampaklah ada sesuatu yang tidak bisa kita biarkan begitu saja mengenai arus globalisasi. Arus globalisasi yang datang dari barat juga telah menguatkan imprealisme bahasa inggris yang semakin hari semakin menggebu.

Kontak bahasa dengan media Internet dan Game online sebagai perantara ternyata juga banyak mempengaruhi pengguna Internet dan Game online. Hal itu terjadi karena seringnya mereka menjumpai kata-kata asing (jargon) yang muncul dalam suatu game online tertentu akan menimbulkan pemerolehan bahasa yang tidak bisa terhindarkan.

Apabila hal ini terus menerus menggerogoti, bukanlah tidak mungkin kita tidak berharap banyak mereka bisa dan mempunyai keinginan untuk mempelajari bahasa sunda dengan baik dan benar.

Saya sendiri saja banyak tidak mengetahui kosa kata bahasa-bahasa sunda ketika membaca puisi-puisi sunda, carpon sunda, dan ternyata hal itu sangat saya sesali sekarang. Namun tidak menampik kemudian bahwa saya akan sangat tekun untuk memperbaiki kesalahan fundamental ini.

Sebab Sastra adalah Cinta

Mencintai angin harus menjadi siut. Mencintai air harus menjadi ricik
Mencintai gunung harus menjadi terjal. Mencintai api harus menjadi jilat
Mencintai cakrawala. Harus menebas jarak
MencintaiMu(mu) harus menjadi aku.

(Sapardi Djoko Darmono : Sajak Kecil Tentang Cinta)

Puisi diatas sangatlah gamblang dan tegas mengisyaratkan bahwa memang benar salah satu yang menyebabkan kita bisa berkarya adalah suatu rasa cinta, rasa kagum terhadap sesuatu yang akan kita representasikan pada sebuah tulisan.

Perumpamaanya semisal untuk mencintai cakrawala maka mau tidak mau kita harus menebas jarak, bila ingin mencintai angin harus menjadi siut. Misal mencintai air harus menjadi ricik, benar-benar kita harus larut bersama air, mampu menempatkan posisi sepertinya, benar-benar bisa memahaminya. Begitulah, kalau benar-benar mencintai.

Sama halnya bila kita ingin membuat karya sastra sunda maka cintailah hal-hal yang berhubungan dengan sunda tersebut, apapun itu. Bila kita tidak bisa memposisikan diri kita secara demikian maka kita akan kesulitan untuk bisa membuat karya sastra sunda.

Seperti mencintai gunung tanpa melalui terjal yang harus kita lewati. Bila tiada kehendak untuk melalui terjal itu tidaklah mungkin seseorang bisa mencapai gunung, apalagi untuk mencintainya. begitu juga kalau ingin membuat karya sastra sunda. Apabila tidak ada keinginan untuk melestarikan dan mencintai bahasa dan budaya sunda maka kemungkinan untuk membuat karya sastra sunda akan semakin kecil diraih.

Oleh karena itu sangatlah perlu diperhatikan bahwa memanglah benar sebab sastra adalah cinta, tiada cinta tiada sastra dan tiada sastra berarti tiada kecintaan yang akan menumbuhkan keinginan.

Oleh karena itu marilah kita memulai semuanya dari hal yang terkecil, seperti orang bilang bahwa bukankah untuk mencapai puncak itu berawal dari satu langkah awal.

Dengan menumbuhkan kembali rasa cinta terhadap budaya dan bahasa sunda akan menjadi titik tolak penting dalam menumbuhkan dan menciptakan karya sastra sunda. Mensosialisasikan kembali kaulinan sunda dan memulai kembali untuk melestarikan bahasa sunda mungkin akan menjadi salah satu alternatif bagi keberlangsungan yang saling mengisi.

Dengan begitu ada hal yang nyata dalam mengantisipasi proses modernisasi dan imprealisame bahasa Inggris yang semakin hari semakin menggerogoti. Saya tidak ingin hal ini terjadi karena bukankah suatu karya sastra itu seni bahasa dan inspirasi kehidupan?.

Tinggalkan pesan

Comment

  • Related Content by Tag