in Budaya, Sejarah

Tawuran dan Generasi Muda

Zakii-Aydia---Sejarah

Sebahagian Potret Generasi Muda Kita

Belum lama berlalu mengenai berita, mengejutkan, beredarnya video mesum anak sekolah menengah pertama di Jakarta. Sekarang Indonesia sudah digemparkan lagi dengan berita lainnya yang lebih mengejutkan, yakni tentang pembantaian yang dilakukan oleh sekelompok anak dari satu sekolah terhadap sekolah lain yang terjadi di Sukabumi.

Dalam tulisan terdahulu tentang “Tawuran: Melihat Manusia dalam Pandangan Hobbes” dan “Video Mesum SMP 4 Jakarta“, saya mendapati bahwa yang paling bermanfaat bagi pengajaran anak pada masa sekolah adalah suatu etika dan moral. Oleh karena itu adalah benar bahwa Agama diatas segalanya.

Dari banyak berita yang ditayangkan, terdapat enam korban yang meninggal akibat pembantaian ini. Diantara keenam tersebut dua diantaranya masih belum diketahui keberadaannya.

Terkait hal diatas, sudah sepantasnya kita bertanya kepada diri sendiri. Apa yang sedang terjadi dengan generasi muda kita saat ini? Apakah generasi muda kita sudah terbiasa dan akan menjadikan hal ini sebagai hal yang biasa?Kita sangat khawatir karena pada kenyataannya generasi muda adalah jiwa sebuah Negara, ia seharusnya menjadi satu tiang penting sebuah Negara.

Adalah suatu keniscayaan bilamana kita terkejut untuk melihat kejadian seperti hal diatas. Bagaimana bisa sebahagian generasi muda Indonesia bisa menjadi seperti ini? Generasi muda yang tadinya menjadi tumpuan penting bagi kehidupan kelak ternyata sebahagiannya telah menjadi noda merah yang merona menjadi sejarah kelam Indonesia.

Saya menyadari barangkali kejadian yang menimpa diatas adalah salah satu dari banyaknya kejadian-kejadian lainnya yang tidak terpublikasikan ke muka media. Dan hal tersebut setidaknya sedikit melegakan perasaan saya. Apatah kalau misal semua kejadian-kejadian serupa semua dipublikasikan ke dalam media? Galaulah kita semua melihat generasi muda negeri ini!!

Pembahasan

Bila ditarik pada akar permasalahan diatas maka terdapat tiga elemen fundamental yang harus menjadi perhatian kita semua. Hal tersebut berjalan berkelindan, artinya bila ketiga elemen itu terabaikan dari gerak yang melingkar maka ia akan keluar dari apa yang kita harapkan. Ketiga tersebut adalah Orang tua, Guru dan Lingkungan.

Seorang filsuf Yunani, Aristoteles pernah mengatakan kepada kita bahwasanya dari orang tua yang baik akan lahir anak yang baik. Mencermati makna dari kutipan filsuf diatas saya rasa bila kita sandarkan semua harapan besar hanya pada orang tuanya sahaja niscaya yang didapat hanya berupa sebahagian saja.

Hal tersebut akan benar-benar mewujud ketika kedua orang tua yang baik itu menorehkan tinta-tinta kebaikannya dengan berperan penting dalam proses kehidupan anak tersebut. Seorang anak ialah ibarat kertas putih suci yang masih erat kaitannya dengan pencipta, namun ketika ia sudah mencapai proses usianya maka yang menjadikan anak tersebut menemui arahnya ialah yang membimbingnya, ia bisa sahaja orang tua, guru/pendidik dan lingkungan. Bagaimana besarnya nanti anak-anak atau generasi itu adalah sebuah keniscayaan bagaimana ia berada dalam ukiran semasa kecilnya.

Orang tua, dengan kapasitasnya untuk mengawasi anak, tidak selamanya bisa meyakinkan dirinya akan selalu bersama dengan seorang anak. Apalagi kalau seorang anak tersebut sudah mencapai umur yang mengharuskannya ke sekolah. Maka pada tahapan ini seorang pengawas adalah guru-guru yang ada disekolah.

Sekolah selain sebagai tempat mulia untuk menjadikan seseorang mempunyai karakter yang handal, ia juga seharusnya mempunyai kapasitas untuk mengawasi aktivitas para muridnya. Mengarahkan anak didik pada hal-hal yang positif adalah wajib hukumnya bagi guru-guru.
Namun pada kenyataannya mengajar saja, yang boleh dibilang hal positif, ternyata tidak menjadikan hal-hal negatif seperti tawuran hilang. Untuk itu seorang guru, khususnya, dan sekolah, umumnya, harus mempunyai satu solusi bersama untuk mencegah hal-hal buruk terjadi pada muridnya.

Banyak sekali hal-hal kreatif yang bisa diadakan sekolah guna mengarahkan anak muridnya pada hal-hal yang baik. Dan kegiatan-kegiatan tersebut akan lebih menjadi perhatian para murid bilamana menimbulkan suatu harapan. Yah seorang murid akan senang menerima bahwa apa yang dilakukannya sekarang ini dapat bermanfaat bagi kehidupan dimasa mendatang

Sekolah harus bisa merubah paradigma dari “kesekolahan” menjadi lebih “kemuridan”. Artinya sekolah tidak harus melulu untuk dengan giatnya mencari dana sebagai modal pembangunan sekolah dan lain-lain. Melainkan sekolah juga harus dengan elok berpikir untuk mencari dana dalam rangka membawa para murid berkembang, khususnya dalam bidang keahlian

Dan hal terakhir yang seharusnya menjadi perhatian para orang tua dan guru adalah bagaimana seorang murid berinteraksi dirinya dengan alam dan sekitarnya.

Terkadang kita juga selalu bertanya bahwa meskipun Orang tua dan Guru sudah berupaya keras dalam membimbing para murid kepada hal yang positif, ternyata masih saja banyak murid-murid yang gemar melakukan tawuran dan sebagainya.

Apakah peran orang tua dan guru, pada tahap yang telah dilakukan, masih dinilai kurang? Dan apakah kita harus setuju pada seorang aktifis dengan menyebutkan bahwa yang harus disalahkan dalam hal, misalnya tawuran, ini adalah sekolah? Saya rasa jawabannya saya tidak setuju mengenai hal tersebut.

Syahdan, alam atau lingkungan dimana seorang anak berinteraksi juga bisa menjadi hal yang pasti dalam membangun karakter seorang anak/murid. Kita selalu mendapati bahwa tawuran pastilah dilakukan oleh mereka yang bergerombol. Dan yang bergerombol inilah yang seharusnya menjadi pertanyaan kita. Kenapa misalnya rasa kebersamaan dalam, satu sekolah misalnya, bisa membawa kepada konflik yang tak wajar diantara sekolah?

Kesimpulan

Hubungan dari orang tua, guru dan tempat dimana anak banyak meluangkan waktu sosialnya adalah sebuah keniscayaan. Ketiga hal tersebut merupakan suatu tinta penting dalam hal melukis jiwa seorang anak yang masih putih.

Bila sahaja orang tua terlalu sibuk memikirkan dirinya masing-masing, maka dampaknya adalah bagaimana nanti seorang anak akan memaknai dirinya sepi dan terkadang mereka berpikir terabaikan. Bila sahaja guru terlalu sibuk dalam hal kemajuan pembangunannya saja tanpa adanya suatu kegiatan yang bisa membawa murid menjadi berkarakter, maka dampaknya adalah murid-murid akan lebih besar didominasi oleh peran lingkungan.

Dan bila sahaja peran lingkungan dimana murid itu melakukan aktifitas sosialnya terabaikan oleh perhatian orang tua dan guru maka yang akan terjadi adalah psikologis para murid yang lebih cenderung untuk menjadikan lingkungan dan sekitarnya menjadi hal yang menyenangkan. Ia akan mendapati dirinya lebih banyak diterima dalam sebuah rasa kebersamaan yang salah. Dan terkadang rasa kebersamaan itulah yang menjadi hal penting ketika tawuran terjadi.

Tinggalkan pesan

Comment