in Puisi, Sastra Islam

Tawon-Tawon Tetiron (Para Koruptor)

Baru tadi aku merasa gemetar
Pada saat angin kencang menyapa
Seolah mereka adalah titisan Allah Maha Mulia
Sebagai penegur umat manusia

Aku berjalan menyusuri gunung
Dalam hati sontak, aku merasa
Mengingat prihal Nabi Musa ketika mencari api
Digunung sinai beliau mencari

Seolah ingin aku berdoa juga pada Allah
Setibanya nanti aku diluar gunung
Hembuskanlah angin segar untuk para rakyat
Dari cengkraman panas para FIR’AUN masa kini

Meski tidak padaku
Aku harap setibanya dirumah
Tiada lagi telinga yang miris
Mata yang meneteskan kesedihan

Melihat ketidak puasan
Ketidak adilan yang begitu jelas
Nampak pada mata
Namun mereka tetap seolah tak bergeming

Wahai yang dipertuan Indonesia
Dimanakah engkau berada saat nada/jerit sakit rakyat membutuhkan?
Apakah engkau mampu hadir seperti Sayidina Umar?
Meski hanya mencucikan baju nenek yang buta?

Naas, ternyata sekarang tiada lagi seorang yang seperti itu
Bahkan sekarang aku lebih jijik melihat ketidak perdulian mereka
Mereka seperti terus menghisap harta-harta untuk ditimbun
Kemanakah engkau simpan hati kecilmu tuan?

Aku berharap, meski tidak padaku
Seorang akan hadir menjelma seperti keberanian Nabi Musa
Menentang raja yang dzalim pada rakyat
Menentang pemerintahan yang seakan tidak perduli pada rakyat

Tuan, tidak lama lagi engkau akan rugi
Kemegahan yang engkau dapat akan menghancurkanmu
Karena yang demikian itu
Tiada disukai oleh Allah Maha Mulia.

Tinggalkan pesan

Comment