Sejarah Apa Yang Harus Aku Tulis Untuk Negeri Ini

Sejarah adalah kisah yang didalamnya memuat tentang peradaban, perjuangan, peristiwa, politik, dan hal penting yang pernah dialami oleh bangsa-bangsa dimanapun berada. Kita tidak akan mengenal adanya perjuangan para pahlawan yang menentang kolonial Belanda, para penjajah Jepang ataupun Portugis tanpa ada pena yang terukir menjadi sebuah sejarah. Kita tidak akan mengetahui peristiwa Bandung lautan api, Arek-Arek Suroboyo tanpa adanya sejarah.

Dengan Sejarah pula kita mengenal para pemberontak pemerintah yang telah kita kenal dengan hari G 30 SPKI, kita tidak akan merayakan kemerdekaan Indonesia pada 17 Agustus 1945 tanpa sejarah penting yang ada dibalik semua angka tersebut.

Lantas apakah yang terpenting dengan adanya sejarah ini? Apakah kita hanya sebagai seorang yang bisu akan sejarah? Dalam artian kita tidak menghargai sejarah? Ingat pesan Bung Karno melalui kata-kata yang terkenalnya “JASMERAH”. Kalau kita melupakan sejarah, secara tidak langsung kita tidak menghargai para pendiri bangsa Indonesia ini. Kita seakan-akan tidak ingin berkompromi dengan sejarah, oleh karena itu kita juga tidak pernah ingin belajar dari sejarah.

Ibnu Khaldun didalam bukunya Muqodimmah (2005:3) mengatakan bahwa Peristiwa-peristiwa itu (sejarah) mengajak kita untuk memahami ihwal makhluk, bagaimana situasi dan kondisi membentuk perubahan, bagaimana Negara-negara memperluas wilayahnya, dan bagaimana mereka memakmurkan bumi sehingga terdorong mengadakan perjalanan jauh, hingga ditelan waktu, lenyap dari panggung bumi. Continue reading Sejarah Apa Yang Harus Aku Tulis Untuk Negeri Ini

Kerajaan Holing & Raja Ta-Cheh (Dari Pembedaharaan Lama-Buya Hamka)

Pernahkah kita sekali saja, bercengkramma mengingat darah pahlawan Islam membangun negeri ini, Pernahkah kita jujur pada diri sendiri, membuka kembali kerinduan pada masa lalu yang selalu diretakan, mereka itu meretakan seperti menggoreskan pisau pada air.

Meluruskan kembali intisari sejarah masuknya agama Islam ke tanah air masih selalu menjadi pertanyaan dari beberapa pihak. Saya rasa bakal selalu ada pihak berlawanan didalam urusan yang satu ini, karena mungkin berpangkal dari sejarah yang berbeda maka akan berbeda pulalah apa yang mereka dapatkan sekarang ini.

zakiiaydiaHal diatas itu merupakan sebuah keharusan bagi kita para penerus dan penganut agama Islam dinegeri seribu pulau ini. Sejatinya seorang manusia bila disajikan sejarah yang begitu gemilang maka akan timbul rasa bangga, tapi dalam prosesnya masih ada yang jahat prihal pembelokan sejarah. Bukan tidak lain hal itu dilakukan agar tidak adanya rasa suatu bangga akan perjuangan yang telah ditorehkan oleh pahlawan Islam dalam membangun negeri ini. Itulah kiranya pesan yang saya dapat didalam pembahasan pengantar didalam buku Buya Hamka yang berjudul “Dari Pembedaharaan Lama”.

zakiiaydiaSaya mengira sudah banyak tulisan-tulisan mengenai buku yang ditulis oleh Buya Hamka, tetapi yang menjadi khusus ingin disampaikan disini adalah berupa pengantar awal/tulisan diawal dari beberapa bab yang diterangkan oleh Buya Hamka di buku Dari “Pembedaharaan Lama”.

Dibalik semua hikmah ini, saya serasa didatangi sinar dalam gelap, untuk meniti sinar terang dalam mencintai Islam. Lewat Buya Hamka saya semakin tegar kuat dalam menganut agama Islam. Meski Buya Hamka telah tiada namun nyatanya pena yang telah ia torehkan begitu berkala sampai sekarang ini. Itulah hidup yang saya inginkan sebelum pasti meninggalkan bumi ini, saya hendak ingin meretas beberapa karya yang diharapkan berguna dan bermanfaat.

Sekilas Tentang Kerajaan Holing dan Raja Ta-Cheh

Syahdan. Pada abad ke 7 hiduplah sebuah kerajaan di daerah yang waktu itu dikenal dengan sebutan Cho-Po. Kerajaan tersebut terkenal dengan sebutan kerajaan Holing atau yang didalam sejarah kita diketahui sebagai kerajaan Kalingga. Usut punya usut menurut sejarawan asal Tiongkok bahwa Cho-po itu adalah nama lain dari Jawa, maka benarlah kalau disandingkan dengan letak kerajaan Kalingga pernah berdiri, yaitu di Jawa Timur-Pasuruan.

Agama yang dianut oleh kerajaan itu adalah agama Budha sebagaimana kerajaan I Tsing. Kehidupan pada zaman kerajaan Lingga sangatlah terkenal makmur dan sejahtera, kerajaan mereka dianugerahi kekayaan dan kedigdayaan. Sehingga pada waktu itu sampailah kedigdayaan kerajaan Kalingga yang termasyhur itu ke Raja Ta-Cheh. Bagai semerbak mawar yang tertiup angin, maka sampailah ia pada hidung.

Raja Ta-Cheh yang diketahui sebagai orang arab (Muawiyah bin Bu Sufyan) merasa tertarik dengan kabar tersebut, dan membuatnya untuk mengirim utusan untuk menyelidiki keabsahan berita yang menjadi semerbak. Diutuslah Raja Ta-cheh pada waktu itu menuju ke kerajaan Holing, Raja tersebut mendarat di pelabuhan yang kala itu bernama Bang-il. Perlu digaris bawahi bahwa kedatangan kaum Islam pada waktu itu bukan untuk menyerang, melainkan untuk berniaga dan berdagang. (674-675 Masehi). Barangkali sudah diketahui bahwa pada kurun waktu tersebut adalah 42 tahun setelah kematian baginda Nabi Muhammad SAW.

Raja Ta-cheh kagum benar, aduhai dengan segala kemakmuran dan kesejahteraan yang ada di kerajaan Kalingga pada waktu itu. Dalam sejarah tercatat bahwa pada suatu hari Raja Ta-Cheh hendak menabur emas ditengah jalan, mungkin sebagai sebuah tes untuk menunjukan bahwa kerajaan Kalingga itu tidak tertarik dengan hal lain diluar mereka.

3 tahun lamanya emas itu bergeletak ditengah jalan, tiada orang yang bahkan memindahkannya ke samping jalan. Hingga pada suatu hari sang anak dari Ratu berkuasa, Ratu Sima, Menyepak sekumpulan emas tersebut kesamping jalan. Sehingga tercecerlah emas-emas yang begitu berkilauan dijalan.

Hal ini terdengar pulalah ke telinga sang Ratu, dan murkalah dia mendengar berita tersebut. Indikasi mengapa sang Ratu marah mungkin lebih kepada faktor ideologi kerajaan pada waktu itu dengan kemegahan dan ajaran. Hal tersebut membuat ia malu dan kecewa dengan yang dilakukan anaknya.

Sang Ratu menghukum anaknya sendiri dengan memotong kedua kakinya, meski telah beberapa kali penasihat menasihati sang Ratu untuk tidak melakukannya namun sang Ratu nampak tidak bergeming untuk memotong kedua kaki anaknya tersebut.

Hikmah Yang Bisa Diambil

Selaras dengan pengantar diatas, bahwa saya ingin meluruskan intisari sejarah masuknya Islam ke negeri Indonesia ini. Sehingga bila kita membuka kembali sejarah dengan jujur tanpa adanya pandangan yang berbeda maka akan didapat bahwa indikasi pertama kali agama Islam datang ke negeri ini bukan pada abad ke 11 seperti yang selalu didengungkan oleh para orientalis, termasuk Snouck. Melainkan abad ke 7 masehi, seperti selarasnya pernah berdiri kerajaan Kalingga di Jawa TImur-Pasuruan.

Namun Buya Hamka menyinggung juga didalam bukunya bahwa ada juga seorang ulama yang mengatakan bahwa Islam sudah masuk pada masa khilafah Utsman, sebelum Muawiyah. Hal itu diperkuat dengan sejarah yang menyatakan bahwa ketika utusan Raja Ta-Cheh tiba di pelabuhan Bang-il, mereka melihat sekelompok orang komunitas muslim.

Dengan sejarah kita bisa menelusuri buah tinta yang ditorehkan oleh nenek moyang kita, khususnya orang-orang islam. Namun ada saja mengeruak segelintir orang yang ingin menodai tinta emas yang pernah ditorehkan oleh para pahlawan Islam. Tujuan mereka adalah seperti yang melenyapkan rasa bangga akan perjuangan yang gigih melawan para orientalis (penoda).

-Saatnya kita membuka mata kita jauh memandang kelicikan orang-orang berwajah dua, kita tidak mau tinta emas menjadi pudar hanya goresan yang masih bisa kita gasak menjadi hilang dan musnah-

Koca Mimar Sinan (Rindu Dibalik Karyanya)

Bumi dan manusia sebagai penghuni yang mampu menciptakan peradaban yang begitu aduhai memang benar-benar kita temui. Meski kemewahan yang aduhai tersebut tidak berupa kejadian ketika kita berada melainkan dengan melalui artefak kuno, bangunan yang megah bahkan ukiran-ukiran digunung. Kesuksesan manusia didalam zamannya mereka berada tidak boleh kita lepaskan dengan rezeki yang diberikan penguasa manusia, yaitu Allah Maha Mulia.

Seyogyanya kita sebagai ciptaannya haruslah selalu mensyukuri nikmat indah yang diberikan oleh Allah Maha Mulia. Sehingga pemberian diduniawi menjadi sangat bermakna dan diridhai oleh Allah Maha Mulia.Sejarah mencatat bahwa diseantero bumi ini banyak melahirkan peradaban-peradaban yang sungguh bila dipikirkan sekarang sangat sulit menebak bagaimana semua itu bisa dibuat sebegitu aduhainya.

Kita tengok ke peradaban mesir dizaman fir’aun. Dimana kita bisa menyaksikan beberapa artefak kuno, kuburan yang mewah, piramida yang menjunjung tinggi menenggadah kelangit, patung-patung para raja mesir yang sangat besar terbuat dari emas dan beberapa harta yang disimpan bersama mayatnya.Masih banyak sekali sisa-sisa peradaban yang tidak disebutkan didalam tulisan ini semisal borobudur, tembok besar, istana megah dan lain-lain. Namun yang paling bisa kita rasakan saat ini adalah rasa takjub kita pada manusia dengan seizin Allah Maha Mulia mampu menelurkan buah-buah penting sari sejarah untuk masa depan. Continue reading Koca Mimar Sinan (Rindu Dibalik Karyanya)

Penyesalan diakhir Hayat (Raja Firaun dan Risalah Nabi Musa)

Syahdan, dikala itu pernah hidup seorang pemimpin yang amat dzalim, dia berkuasa bak dewa penguasa bumi semesta raya. Sehingga tak pelak banyak dari pengikutnya yang bodoh mengiyakan apa yang dia katakan. Dari pengikutnya sebagian ada yang benar-benar percaya bahwa dia adalah titisan dewa, ada sebagian juga dari mereka yang takut dibunuh bila tidak percaya bahwa dia adalah titisan dewa.

Sungguh bilamana kita sedikit tersentuh untuk membuka kembali kitab suci, maka akan kita dapati suatu pelajaran yang benar-benar nyata keberadaannya. Disana kita bisa menemukan bagaimana akhir muara dari peradaban yang megah dari bangsa yang terdahulu. Disana saya bisa bertemu akhir dari kisah bangsa itu. Salah satu kisah yang paling mengena dari yang saya dapat adalah kisah seorang pemimpin yang durhaka, fir’aun.

Pada masanya yang telah habis, fir’aun karena kesombongannya yang tiada sedikitpun bergeming akan kebenaran. Dia ditenggelamkan oleh Allah Maha Mulia, Maha Raja dari Semesta Raya. Dan (ingatlah), ketika Kami belah laut untukmu, lalu Kami selamatkan kamu dan Kami tenggelamkan (Firaun) dan pengikut-pengikutnya sedang kamu sendiri menyaksikan. (Al-Baqarah:50). Continue reading Penyesalan diakhir Hayat (Raja Firaun dan Risalah Nabi Musa)

Mereka Pejuang Wanita Yang Terlupakan (Tentang Kartini)

Bulan april adalah bulan dimana semua orang akan memperingati hari lahirnya seorang pejuang Indonesia yang sangat gigih. Dia adalah seorang putri indonesia yang perjuangannya mempusatkan terhadap peran dan harkat kaumnya yang terkungkung didalam kehidupan. Ia siapa yang tidak kenal dengan R.A Kartini, seorang putri sejati yang namanya harum seantero Indonesia.

Kartini adalah satu nama yang pernah guru kenalkan kepada kita ketika di Sekolah dasar sebagai tokoh pahwlawan yang patut dicontoh. Beliau meskipun tiada dalam pandang mata kita, pernah menjadi seseorang yang aku dambakan dan idolakan, meskipun aku bukan seorang wanita akan tetapi kekagumanku dulu padanya sangat besar sekali.

Namun dengan teririsnya waktu yang dibarengi nalar manusia yang semakin hari semakin terang, rasanya saya dulu terlalu berlebihan dengan mengexspos nama Kartini sebegitu tinggi, saya mengidolakannya sebagai seorang pahlawan bangsa yang gigih memperjuangkan harkat dan martabat kaum-nya.

Nama Kartini sudah terlanjur jadi jargon emansipasi perempuan Indonesia. Di setiap waktu dan bidang, semua mengelu-elukan beliau sebagai peletak tonggak persamaan hak perempuan dengan laki-laki. Semua profesi yang berkaitan dengan perempuan sebagai pelaku aktif di dalamnya, tidak pernah ketinggalan selalu menyelipkan nama Kartini dengan penuh kekaguman dan terima kasih yang mendalam. Benarkah Kartini sehebat itu?

Terkait dengan seberapa hebatkah Ibu Kartini ini, saya mengadakan eksperimen kecil-kecilan mengenai tulisan ini dengan mengajukan pertanyaan terbuka tentang Ibu Kartini pada teman-teman khususnya (kaum hawa).

Hasil dari jawaban yang saya dapat setelah mengajukan beberapa pertanyaan menyatakan bahwa Ibu Kartini adalah seorang penggerak perjuangan kewanitaan, seorang panutan yang harus ditiru oleh kita, seorang wanita yang bisa memperjuangkan wanita untuk bisa menjadi berwawasan tinggi dan akhlak yang baik. untuk lebih jelasnya, dibawah akan saya lihatkan beberapa jawaban dari para responden.

  • Kartini adalah sebuh nama namun namanya itu menjadi harum karena perbuatan orang yang di beri nama raden kartini yang telah memperjuangkan kaum wanita menuju kewanita yang modis berwawasan tinggi and berakhlak baik
  • Kartini adalah sosok panutan bagi wanita/perempuan di indonesia. dia mau dan mampu berusaha untuk mengangkat harga dirinya dan harga diri wanita/ perempuan indonesia. yang diperjuangkan tentu adalah emansipasi wanita. kesejajaran harga diri dan martabat wanita dengan kaum adam
  • Kartini itu motivasi buat aku, agar ga mau kalah ma laki2 dalan hl positif
  • Apa ya bgung eunk poko namh kagum aja dah memperjuangkan hak” wanita:)
  • Kartini=pemrakarsa kederajatan prempuan, mmperjuangkan emansipasi wanita
  • No word to say except to say that i’m proud of her 🙂 apalagi satu statement yang menurut saya memberikan motivasi sekaligus inspirasi bagi perempuan khususnya “habis gelap terbitlah terang”
  • Menurut saya perwujudan Kartini sebagai pahlawan pada masa sekarang tdk lepas dari pengaruh etnis jawa,,,,sya krg setuju pabila Kartini terlalu diekspos, dia hanya sebatas surat menyurat saja kan dengan teman2 orang Belandanya? hal seperti itu akan sangat kontras bila dibandingkan dengan perjuangan Dewi Sartika yang membangun sekolah bawah tanah dan berlindung dari kepungan Belanda.

Yang menarik

Namun hal yang menarik dan harus ditelusuri lebih dalam lagi oleh kita sebagai orang Indonesia adalah apakah tidak ada lagi pahlawan-pahlawan selain Kartini yang patut ditorehkan kembali dan dijadikan panutan untuk kita?

Berangkat dari situ saya mendapati salah satu jawaban dari responden yang sangat menyentuh hati nurani saya sebagai orang yang suka dengan sejarah untuk memicu dan memecut saya untuk membuka sejarah lagi dari beberapa sumber.

Jawaban yang menarik itu antara lain adalah menyatakan bahwa perwujudan Kartini sebagai pahlawan pada masa sekarang tdk lepas dari pengaruh etnis jawa,,,,sya krg setuju pabila Kartini terlalu diekspos, dia hanya sebatas surat menyurat saja kan dengan teman2 orang Belandanya? hal seperti itu akan sangat kontras bila dibandingkan dengan perjuangan Dewi Sartika yang membangun sekolah bawah tanah dan berlindung dari kepungan Belanda. (responden)

Oleh karena itu saya memusatkan petanyaan kedua kepada hal yang berkaitan dengan pahlawan-pahlawan wanita lain selain Kartini. Saya mengajukan petanyaan yang singkat sekali kepada mereka. pertanyaannya kurang lebih menanyakan apakah anda mengenal nama-nama seperti Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah, dewi sartika, Malahayati, Cut nyak dien dan Rohana Kudus?

Dari jawaban-jawaban yang dilontarkan mereka sangatlah beragam sekali, sebagian mereka ada yang tidak tahu sama sekali dan sebagiannya ada yang tahu, itu juga yang tahunya cuma satu aja. Terus, apakah hal ini penting untuk dipertanyakan oleh saya?siapakah mereka dan apa tujuan saya menanyakan nama-nama diatas?

Yah, pertanyaan itu sangat penting sekali untuk saya ajukan kepada responden karena nama-nama diatas adalah pejuang-pejuang juga yang tidak patut untuk kita lupakan begitu saja perjuangannya. Perjuangannya bahkan sangat ditakuti oleh para penjajah yang memperbudak orang Indonesia, mereka sangat anti sekali dengan yang namanya penjajah, oleh karena itulah mereka sangat dicari dan ditakuti oleh penjajah.

Perempuan-Perempuan Lain.

Para sejarawan membuktikan bahwa nama-nama yang tersebut itu hidup sezaman dengan Kartini. Namun kenapa Kartini yang dijadikan satu nama utama ya? Padahal nama-nama perempuan hebat tersebut telah melakukan sesuatu yang lebih dahsyat daripada Kartini di saat itu. Di saat Kartini masih dikungkung oleh budaya Jawa saat itu yang melarang perempuan bersekolah tinggi dan harus menunduk-nunduk di hadapan laki-laki meski itu adiknya sendiri, perempuan-perempuan tersebut di atas sudah melakukan lebih.

Disaat Kartini sedang surat menyurat didalam rumah yang begitu nyaman, nama-nama seperti cut metia, dewi sartika, malahyati sudah berbuat hal yang lebih daripada Kartini, mereka berjuang dibelantara hutan melawan penjajah dan mematikan penjajah, mereka berjuang dengan mendirikan yayasan-yayasan untuk kepentingan bangsa.

Dewi Sartika berkiprah di sekolah yang didirikannya bernama Kautamaan Istri (1910) yang berdiri di berbagai tempat di Bandung dan luar Bandung. Bahkan Rohana Kudus (1884-1972) mendirikan Sekolah Kerajinan Amai Setia (1911) dan Rohana School (1916).

Lebih dahsyatnya lagi, Rohana Kudus juga aktif sebagai jurnalis perempuan pertama di Indonesia. Dan yang lebih membanggakan, perempuan hebat ini juga mendirikan koran-koran surat kabar yang didirikannya sendiri semisal Sunting Melayu (Koto Gadang, 1912), Wanita Bergerak (Padang), Radio (padang), hingga Cahaya Sumatera (Medan). Subhanallah!

Perlu diketahui pula bahwa Rohana Kudus bukan jurnalis perempuan biasa. Ia mempunyai visi dan misi keislaman yang jelas dan tegas bahwa perempuan harus tetap menjadi perempuan dan bukan pesaing laki-laki. Perubahan yang ia perjuangkan adalah perempuan harus mendapat pendidikan dan perlakukan sebaik-baiknya terutama dalam masalah akhlak, budi pekerti dan ibadah. Dan semua itu bisa dicapai hanya dengan ilmu pengetahuan saja.

Bahkan bila kita benar-benar menggeluti sejarah maka kita akan tahu bahwa yang bernama Teungku Fakinah dan malahyati adalah pejuang-pejuang yang ikut membela perang membela bangsa dari penjajah. Selain itu juga Fakinah adalah seorang ulama islam yang berwibawa sekali.

Malahyati (Hidup sebelum Kartini) adalah seorang Panglima Angkatan Laut wanita pertama di kepulauan Nusantara. Awalnya, Malahyati membentuk barisan prajuritnya terdiri dari para janda untuk melawan Belanda yang berusaha menjajah kerajaan Aceh. Karirnya pun semakin cemerlang sehingga pada tahun 1599, beliau membawahi ratusan armada perang dan berhasil membunuh Cornelis de Houtman yang terkenal bengis itu dengan tangannya sendiri. Nama ini kemudian diabadikan menjadi nama Universitas, rumah sakit dan pelabuhan serta kapal perang.

Dari penjelasan singkat diatas telah dijelaskan bahwa mereka dengan gigihnya memperjuangkan hak-hak kaum mereka dan bangsa Indonesia ini dari penjajah. Perjuangannya tak kentara dan sangat diperhitungkan oleh Belanda, oleh karena itu Belanda sangat takut dengan tekad yang mereka emban. hal ini sangat penting untuk kita ketahui sebagai orang Indonesia, karena dengan mengenal mereka kita akan merasa bangga juga akan perjuangan mereka, yah seperti kita juga bangga dengan Kartini.

Kenapa nama-nama mereka kurang dikenal? Itulah pertanyaan yang sesungguhnya harus kita jawab, kenapa orang-orang yang mempunyai perjuangan yang benar-benar gigih kurang dikenal oleh bangsanya sendiri. Sangatlah sedih sekali bila mendengar jawaban ‘Kurang tau, hehe’ jawaban yang memilukan ketika ditanya tentang mereka, dan yang lebih heran lagi mereka nampaknya tidak ingin tahu sedikitpun tentang sepak terjang pahwlawan-pahlawan selain Kartini.

Piranti untuk menjawab pertanyaan diatas mungkin sangat panjang untuk diceritakan, akan tetapi singkatnya adalah berkaca pada sejarawan Harsja W. Bahtiar yang menulis tentang buku Kartini, yang sedikit isinya menggugat secara halus penokohan Kartini. Didalam buku yang ditulis Harsja dipaparkan bahwa ia lebih menunjuk 2 sosok wanita yaitu Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dari Sulawesi Selatan sebagai pahlawan yang kuat dan tangguh. dan Anehnya kenapa dua wanita itu tidak masuk kedalam buku Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), terbitan resmi Kongres Wanita Indonesia (Kowani). Tentu saja Kartini masuk dalam buku tersebut.

Padahal kehebatan kedua wanita itu sangatlah penting untuk kemerdekaan bangsa ini, dari keduanya belanda tersungkur-sungkur menghadapi kegigihan mereka. dan jangan pernah kita lupakan juga bahwa perjuangan mereka melahirkan dan membuat kesusatraan di Indonesia mengalami kemajuan, salah satunya adalah epos La-Galigo yang terkenal, yang ditulis oleh We Tenriolle.

Apakah ada pihak-pihak terkait dari penokohan Kartini?

Dalam beberapa artikel yang pernah saya baca di situs-situs milis islam dan sejarah, saya mendapati bahwa memang benar adanya pihak terkait yang memang menokohkan Kartini ‘saja’ sebagai seorang pahlwan penggerak bangsa. dan hal ini juga dikuatkan kembali oleh Harsja yang mengatakan bahwa Kartini memang dipilih oleh orang Belanda untuk ditampilkan ke depan sebagai pendekar kemajuan wanita pribumi di Indonesia.

Disaat para pejuang wanita berjuang gigih dengan orang-orang belanda, Kartini malah dekat dengan orang-orang belanda karena beliau juga adalah seorang keturunan priyayi yang dekat dengan orang belanda pada waktu itu, tercatat bahwa nama Cristiaan Snouck Hurgronje juga menjadi teman Kartini. sementara kita tahu bahwa Snouck adalah seorang orientalis yang harus dipancung karena ulahnya dengan membuat aceh sempat teracuni oleh kebohongannya.

Bahkan dari kegiatan surat menyuratnya kartini, kartini sedikitnya dipengaruhi oleh pemikiran-pemikiran Ny.Abendanon. Harsja mengatakan bahwa merekalah yang meyuruh Direktur Departemen Pendidikan, Agama dan Kerajinan, agar memberikan perhatian pada Kartini tiga bersaudara.

Ringkasnya, Kartini kemudian berkenalan dengan Estella Zeehandelaar, seorang wanita aktivis gerakan Sociaal Democratische Arbeiderspartij (SDAP). Wanita Belanda ini kemudian mengenalkan Kartini pada berbagai ide modern, terutama mengenai perjuangan wanita dan sosialisme. Tokoh sosialisme H.H. van Kol dan penganjur Haluan Etika C.Th. van Deventer adalah orang-orang yang menampilkan Kartini sebagai pendekar wanita Indonesia (Harsja)

Dan mereka pulalah yang mempubilkasikan surat menyurat antara kartini dengan Stella tentang pergerekan kewanitaan pada waktu itu. Lebih dari enam tahun setelah Kartini wafat pada umur 25 tahun, pada tahun 1911, Abendanon menerbitkan kumpulan surat-surat Kartini dengan judul Door Duisternis tot Lich. Kemudian terbit juga edisi bahasa Inggrisnya dengan judul Letters of a Javaness Princess. Beberapa tahun kemudian, terbit terjemahan dalam bahasa Indonesia dengan judul Habis Gelap Terbitlah Terang: Boeah Pikiran (1922).

*Perlu diingat bahwa didalam proses surat menyurat antara kartini dengan temannya itu, kartini pernah terpengaruhi oleh theosofis sebelum akhirnya kartini menemukan kembali jalan yang diridhoi oleh Allah*

Dari sana mereka mengumpulkan dana untuk membuat sebuah lembaga Komite kartini fonds yang misinya adalah mengembangkan ide-ide yang pernah dipikirkan Kartini dan ketua nya juga adalah seorang belanda C.Th. van Deventer. kita patut curiga, apakah memang benar2 mereka murni menyampaikan gagasan ide kartini?ataukah mereka hanya menggunaka tameng saja?

Andai saja tidak ada perlakuan khusus dari belanda maka kita tidak akan mengenal kartini? sebagaimana Harsja berkata “Orang-orang Indonesia di luar lingkungan terbatas Kartini sendiri, dalam masa kehidupan Kartini hampir tidak mengenal Kartini dan mungkin tidak akan mengenal Kartini bilamana orang-orang Belanda ini tidak menampilkan Kartini ke depan dalam tulisan-tulisan, percakapan-percakapan maupun tindakan-tindakan mereka.”

Oleh karena itu dia sangat bersikukuh dengan mengambil alih Kartini sebagai lambang emansipasi wanita di Indonesia dari orang-orang Belanda. Kita tidak mencipta sendiri lambang budaya ini, meskipun kemudian kitalah yang mengembangkannya lebih lanjut.

Sudah sepantasnya kita buka lebar-lebar tentang khazanah sejarah kita yang murni, dengan begitu kita akan sedikit peka dan akan bangga terhadap pejuang-pejuang perempuan yang berkiprah penuh terhadap bangsa ini dan bila benar bahwa perjuangan mereka lebih dari perjuangan yang dilakukan kartini, kita harus berbangga dan berucap syukur bahwa wanita kita lebih hebat dan penting untuk diketahui tanpa sedikitpun merendahkan Kartini.

Muhammad Zakii Al-Aziz

Mengucapkan selamat hari Sultanah Seri Ratu Tajul Alam Safiatuddin Johan Berdaulat dari Aceh dan kedua, Siti Aisyah We Tenriolle dan Selamat hari Tengku Fakinah, Cut Mutia, Pecut Baren, Pocut Meurah Intan, dan Cutpo Fatimah, Dewi sartika, Malahayati, Cut nyak dien dan Rohana Kudus, dan Kartini.

Sejarah Dikepal Penguasa (Barus, Fansur)

Pada zaman ketika nalar rasional masih ditahap biasa-biasa, kita sudah dicecoki oleh suatu doktrin rekaan semata dari keperluan kepentingan perorangan. Sadarkan, apabila kita kembali pada zaman ketika masih SD, SMP, SMA atau Pesantren, dimana kita berkewajiban penuh untuk mencari ilmu, dengan kata lain dengan ilmu itu sendiri kita tidak akan digelapkan oleh dunia. Dengan membaca pasti kita akan banyak tahu, namun dengan membaca juga kita menyadari bahwa kita tidak banyak tahu. begitulah memang seharusnya manusia, semakin dia sedikit membuka diri untuk membaca dan mengetahui apa yang ia belum ketahui maka ia dekat dengan ketidak tahuan, hal itu akan dengan mudah membuat mereka menjadi mudah untuk digoyahkan.

Pada waktu masih kecil saya sangat senang sekali dengan pelajaran-pelajaran yang beraromakan kisah nabi dan rosul, kisah-kisah yang menurut aku pada waktu itu sangat mengundang imajinasi dan kekaguman terhadap para nabi. meskipun saya tahu bahwa ada beberapa cerita yang diluar nalar kita sebagai manusia, akan tetapi saya mempunyai nalar batin juga terhadap the ultimate reality, even metafisik or tranfisik. ada kekuatan yang tak terbantahkan dibalik kisah-kisah ajaib para nabi. Dan tanpa disadari sedikit demi sedikit rasa kesukaan saya akan cerita-cerita berkembang kepada pelajaran-pelajaran yang diajarkan di SD dan selebihnya di Ma’had. Continue reading Sejarah Dikepal Penguasa (Barus, Fansur)