Mengingat PKI

Pondok bobrok, langgar bubar, santri mati

Kutipan diatas merupakan jargon keras//Yel yel yang dibuat PKI sewaktu mereka pernah hadir di Indonesia, khususnya ketika mereka melakukan pemberontakan kelam yang terjadi pada kurun waktu 1940-an. Rasanya kalau diartikan secara istilah yel-yel diatas itu bisa bermakna sangat mengerikan.

Continue reading Mengingat PKI

Antara Penulis, LGBT dan Film Solace (1)

Tulisan ringan ini berangkat dari kekhawatiran penulis mengenai fenomena LGBT yang akhir-akhir ini masih marak dibicarakan. Penulis sebenarnya, bisa dibilang, mengikuti isu ini sedari awal. Dalam tulisan terdahulu, yang bisa diakses dengan judul “LGBT: Zaman Beredar Riwayat Berulang”, setidaknya dipaparkan mengenai bagaimana makna sejarah ditempatkan pada interperetasi masing-masing.

Baik yang mendukung dan yang tidak mendukung LGBT mempunyai pemaknaan tersendiri mengenai sejarah. Di satu sisi sejarah, atau kejadian masa lalu, bisa ditempatkan pada posisi untuk memperkuat pemahaman orang-orang dalam menolak kehadiran LGBT namun di sisi lain sejarah juga bisa menjadi bumerang bagi sebahagian orang yang menolak mengenai hegemoni dari definisi yang telah lalu.

Seiring waktu ternyata fenomena LGBT ini semakin tajam dan semakin banyak dibicarakan baik diranah media atau dalam kehidupan sehari-hari. Sampai-sampai pemerintah, dalam hal ini, dibikin pusing kepayang untuk menentukan kebijakan-kebijakan terkait LGBT.

Sikap Penulis Terhadap LGBT

Continue reading Antara Penulis, LGBT dan Film Solace (1)

Melacak Jejak Bujangga Manik Di Bandung Timur (1)

Salam.

11866305_137833976555812_4640003992028941519_n (1)
Sketsa Bukit Karesi by Igun Weishaguna

Sahabat (sahabat peterpan) hehe. Kemarin teman-teman saya, atau lebih tepatnya lagi senior, melakukan perjalanan menuju gunung yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya.

Saya sendiri tidak ikut melakukan perjalanan tersebut dikarenakan adanya kesalah fahaman waktu mengenai keberangkatan – dan itu sangat disayangkan. Meskipun begitu saya tidak lantas ketinggalan info. Dengan adanya grup di media sosial nampaknya rasa penasaran untuk mengetahui apa yang telah mereka lakukan bisa sedikit terobati. Continue reading Melacak Jejak Bujangga Manik Di Bandung Timur (1)

Bertemu Kembali Mahasiswa Pasca Sejarah Kebudayaan Islam Pasca UIN Bandung

Setelah tiga bulan lamanya berdiam diri tak bertemu dengan teman sejawat perkuliahan, rasanya ada sesuatu yang hilang. Paling tidak yah rasa kehilangannya adalah rindu akan suasana kelas pascasarjana yang seringkali diwarnai berbagai perasaan he. Alhasil ketika tiba waktu perkuliahan dimulai, rasa yang membuncah itu terasa mencair manakala melihat mereka diteras-teras gedung perkuliahan.

Obrolan dari yang berbobot ringan semisal bertanya kabar atau hanya melepas senyum kangen, sampai kepada obrolan yang berhubungan dengan perkuliahan pun mulai disinggung. Continue reading Bertemu Kembali Mahasiswa Pasca Sejarah Kebudayaan Islam Pasca UIN Bandung

Dialektika Diri Tanpa Henti, Navicula Dan Din Syamsudin

Sebagai seorang hamba Allah maka wujud paling mulia untuk memunajatkan rasa syukur atas semua itu adalah dengan di pegang selalu sikap mengupayakan agar kita berjalan tepat di jalan yang telah dikehendakiNya.

Tidak ada kata berhenti untuk terus menjadi insan yang bermanfaat, baik kepada Allah dan kepada manusia selama nafas belum menemui titik habisnya. Momen bulan suci kemarin adalah momen yang perlu dijadikan satu pengingat bahwa sejatinya kita, selain mendapatkan bulan yang penuh berkah maka kita juga, diberi amanat untuk dapat mengaktualisasikan nilai-nilai tersebut selepas semua berlalu.

Hal tersebut bisa berupa hikmah menghargai waktu, hikmah saling bertemu sapa dengan teman dan sanak saudara, atau hikmah agar kita meningkatkan ilmu agar lebih dekat degan pencipta.

Semua hal diatas mungkin menjadi satu poin penting bagi individu itu tersendiri namun rasanya tiada bermakna kalau tidak dijadikan satu pelajaran bahwa hidup tidaklah seorang diri. Seorang ibnu khaldun pernah mengatakan bahwa pada dasarnya manusia adalah membutuhkan kehidupan yang bermasyarakat.

Dalam hal ini saya juga pernah mendapati suatu pernyataan menarik yang datang dari pentolan grup band grunge Indonesia, Navicula, yang mengatakan bahwa: Continue reading Dialektika Diri Tanpa Henti, Navicula Dan Din Syamsudin