Download Ebook Comparative Literature – Susan Bassnett

Comparative literature studies bring you to understand the literature not only in one side. Comparative prefer to use some theory to make a good analysis. So it’s just like cultural studies. Even some scholar said that the comparative literature could be the reason of cultural studies field. I will not talk about that studies in this post but i just want to share one eBook that can become your useful reference for your paper or else.

This eBook, that’s titled A Critical Introduction of Comparative Literature, was written by Susan Bassnett, she’s scholar of literature, especially on field of comparative literature.

This major new introduction to comparative literature is for the students coming to the subject for the first time. Through an examination of a series of case studies and new theoretical developments, Bassnett reviews the current state of comparative literature world-wide in the 1990s. In the past twenty years of a range of new developments in critical theory have changed patterns of reading and approaches to literature: gender-based criticism, reception studies, the growth of translation studies, deconstruction and orientalism all have had a profound impact on work in comparative literature.

Bassnett asks questions not only about the current state of comparative literature as a discipline, but also about its future. Since its beginnings in the nineteenth century, comparative literature has been closely associated with the emergence of national cultures, and its present expansion in many parts of the world indicates that this process is again underway, after a period of narrowly Eurocentric research in the field.

The link download is below 🙂

*Note: Feel free to write comment if the link download is not sent or broken.

[freebiesub download=”http://adf.ly/XEh53″]

Mengenal Studi Sastra Bandingan

Mengenal Studi Sastra Bandingan

Apabila dipikir kembali maka ada benarnya juga ketika kita mendapati sebuah karya sastra yang mempunyai kemiripan satu sama lain dengan sastra yang lainnya dilain tempat. Sebagai contoh adalah karya Shakespeare – Romeo & Juliet yang esensi ceritanya mirip dengan cerita layla majnun. Meski tidak semua isi dan cerita itu bisa dibilang sama namun para pembaca pasti menyadari memang terdapat sebuah unsur persamaan diantara kedua karya tersebut.

Secara umum, pandangan tersebut merupakan bagaimana kita melihat apa yang dipikirkan hanya sebatas pada pandangan tematik. Artinya memang benar temanya yaitu sama kasih tak sampai, kasih yang tersimpan karena taqdir tak bertuan. Disini  kita mendapati suatu persamaan diantara kedua karya berbeda negara tersebut tapi kita belum melihat unsur-unsur lain yang mungkin menciptakan karya tersebut.

Unsur-unsur itu bisa dari sejarah, atau bagaimana pengarang melihat keadaan sosialnya, lingkungan, agama atau budaya. Unsur yang tersebutlah yang mungkin pada akhirnya akan membantu kita untuk menemukan sedikit perbedaan dari kedua karya tersebut, yang tentunya berlandaskan pada suatu pencarian yang bersistem, tidak semena-mena asal berbicara.

Kita boleh menamai khalayak tersebut dengan bagaimana peneliti melihat karya sastra diluar tekstualnya, yakni melihat karya tersebut dengan kacamata sosiokulturalnya. Pandangan ini cukup melegakan bagi peneliti disatu sisi dan untuk karya sastra yang diteliti disisi lain. Try to find a reason just by yourself!!

Studi Sastra Bandingan: Melihat Sastra Lebih Luas

Salah satu studi yang mungkin bisa kita pakai dalam menelaah bagaimana persamaan dan perbedaan itu nampak adalah dengan memakai studi sastra bandingan. Sastra bandingan adalah suatu disiplin ilmu yang relatif baru dikancah dunia sastra. Tapi gaungnya sudah terasa dekat ketelinga kaum akademisi. Sekilas, sastra bandingan itu merupakan bagaimana seseorang membandingkan satu karya dengan karya lainnya. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan maka ada dua aliran berbeda yang mempunyai opini tentang sastra bandingan.

Aliran pertama yaitu Prancis dan aliran kedua adalah yang datang dari Amerika. Sebenarnya perbedaannya hanya terletak pada bagaimana sastra bandingan itu diaplikasikan pada suatu karya.

Contoh kecil dari perbedaan kedua aliran tersebut ada pada bagaimana aliran prancis hanya menganjurkan karya yang sama ketika membandingkannya, cerpen dengan cerpen, novel dengan novel dll. Berbeda dengan Prancis, maka Aliran amerika lebih liberal, lebih maju, dari apa yang didefinisikan dari pemukanya di Prancis. Meskipun begitu masih banyak persamaan dari kedua aliran tersebut.

Untuk definisi dari sastra bandingan kita bisa melihat kepada kamus webster: " the study of the interrelationship of the literatures of two or more national cultures usu. of differing languages and esp. of the influences of one upon the other; sometimes : informal study of literary works in translation  1" Terjemahannya → Studi tentang hubungan timbal balik dari dua atau lebih kebudayaan nasional, biasanya dari perbedaan bahasa dan khususnya pengaruh satu karya terhadap karya yang lain.

Sedangkan Bassnett, dengan fokus yang lebih meniti daripada definisi dari webster, dalam bukunya A Critical Introduction to Comparative Literature mengatakan bahwa sastra bandingan adalah

"The study of text across culture, that is interdisciplinary, and that it is concerned, with patterns communication in literature across both time and space.  2

Baik webster atau Bassnett, mereka menekankan agar karakter sastra yang dibandingkan itu setidaknya harus mempunyai perbedaan bahasa atau budaya dalam ruang dan waktu yang berbeda pula. Hal ini pada akhirnya akan membuat kita lebih luas dalam melihat obyek yang dianalisis.

Sehingga apa yang dikatakan oleh Bassnett diatas itu benar bahwa sastra bandingan adalah suatu studi yang interdisipliner. Melihat sastra tidak hanya terpacu pada teks melainkan bisa meminjam pada teori-teori yang berhubungan, sesuai tujuan dan apa yang akan dianalisis.  Senada dengan hal tersebut bang

Damono berujar (2005:1; 2009:1), bahwa sastra bandingan adalah pendekatan dalam ilmu sastra yang tidak dapat menghasilkan teori sendiri. Boleh dikatakan teori apapun bisa dimanfaatkan dalam penelitian sastra bandingan, sesuai dengan objek dan tujuan penelitiannya. Dalam beberapa tulisan, sastra bandingan juga disebut sebagai studi atau kajian. Dalam langkah-langkah yang dilakukannya, metode perbandingan adalah yang utama. 3

Kenapa Harus Dibandingkan?

Pertanyaan diatas mungkin merupakan pertanyaan mendasar apabila kita ingin mengenal lebih dekat dengan sastra bandingan. Lebih mengetahui dengan bertanya sebenarnya apa yang harus dibandingkan? Bagaimana mencari persamaan dan perbedaannya? Dan kalau sudah ketemu, mau dibawa kemana perbedaan dan persamaan tersebut?

Kenapa harus dibandingkan? Jawabannya mungkin ada pada beberapa pandangan. Pandangan pertama datang dari bagaimana sifat folklore berkembang dari satu tempat ke tempat yang lain yang pada akhirnya diduga bermuara pada sebuah karya tulis. Misalnya tema kepahlawanan dalam sebuah karya sastra. Dengan adanya kemiripan tema antara cerita satu tempat dan tempat yang lain maka hal itu sangat menarik perhatian peneliti untuk menganalisisnya.

Tentu, dalam praktiknya peneliti itu harus mengetahui dahulu isi keseluruhan karya yang akan dianalisis. Tanpa mengetahui cerita yang dituliskannya peneliti itu tidak mungkin bisa menerka-nerka persamaan dari kedua karya tersebut, apalagi untuk mencari perbedaannya.

Syahdan, karya sastra itu bisa kita bilang adalah sebuah refleksi perasaan manusia, baik ketika mereka sedih, bahagia, menderita, dan sebagainya. Sastra/seni terlahir sebagai sebuah perantara bagaimana miniatur rasa manusia bisa diterka. Oleh karenanya kita sering mendapati tema-tema cinta, sedih, tragedi, pembunuhan sampai kepahlawanan dalam sastra. Hal itu menandakan bahwa sastra itu bersifat universal. Ia adalah perasaan semua manusia dibumi.

Akan tetapi, seperti yang telah disebut diatas, suatu karya sastra itu bisa dibilang sama karena kita melihatnya hanya pada tataran tekstual, tematiknya saja. Sedangkan unsur lain, unsur-unsur yang bisa mempengaruhi suatu karya sastra dimanapun itu berada belum kita sentuh keberadaannya.

Misal, memang betul ada satu kemiripan cerita antara Oedipus dan Sangkuriang ketika ingin menikahi seorang wanita yang notabennya adalah Ibunya sendiri. Stelah mengetahui hal tersebut apakah lantas kita berhenti pada tataran itu saja? Tidak. Studi komparatif tidak menganjurkan untuk sesederhana itu. Ada baiknya kita mengerti apa yang telah dikatakan seorang akademisi sastra:

Studi komparatif: sejenis penelitian deskriptif yang ingin mencari jawaban secara mendasar tentang sebab akibat dengan jalan menganalisis faktor-faktor penyebab terjadinya ataupun munculnya suatu fenomena tertentu. Dalam studi komparatif ini, sulit diketahui faktor-faktor penyebab yang dijadikan dasar pembanding sebab penelitian komparatif tidak mempunyai kontrol; metode yang digunakan di dalamnya adalah ex post facto, yaitu data dikumpulkan setelah semua kejadian yang dikumpulkan telah selesai berlangsung;  28 Peneliti dapat melihat akibat dari suatu fenomena dan menguji hubungan sebab akibat dari data-data yang tersedia.  4

Kisah Oedipus dan Sangkuriang adalah kisah cinta seorang anak pada ibunya sendiri. Bedanya Oedipus memang sempat menjadi seorang suami dari Ibunya sendiri sedangkan Sangkuriang tidak senasib dengan Oedipus. Disinilah letaknya kita harus mengenal faktor budaya, nilai leluhur, atau sejarah mitologi dari kedua sastra tersebut yang berasal dari dua negara yang berbeda.

Dengan meminjam disiplin sejarah maka kita akan mengenal keadaan sosial dari kedua negara tersebut, dengan meminjam disiplin politik maka kita akan mengetahui keadaan rakyat dan pemimpinnya, dan lain hal sebagainya. Sehingga setidaknya kita akan mengetahui bahwa dalam ajaran sunda, seorang anak yang menikah dengan ibu sendiri adalah sebuah kedurhakaan yang tiada tara. Lalu apakah di negeri Oedipus juga mengenal kultur semacam ini? Let’s try just by yourself!

To be continued..

Download Ebook An Introduction to Comparative Literature – Sussan Bassnett dibawah. Masukan email teman untuk mendapatkannya. 🙂

[freebiesub download=”http://adf.ly/XEh53″]

Referensi:

  1. http://www.merriam-webster.com/dictionary/comparative%20literature, diunduh pada tanggal 12/15/2012
  2. Bassnett, Sussan. 1993. Comparative Literature: A Critical Introduction. Cambridge: Blackwell Publisher.
  3. http://www.jendelasastra.com/wawasan/essay/sejarah-perkembangan-dan-fokus-kajian-sastra-bandingan, diunduh 12/15/2012.
  4. Yusuf H, Asep. 2007. Metode Penelitian Sastra, Modul. Unpad: Bandung.

Kritik Sastra Marxisme

zakii-aydia---sastra

Kurang lebih saya sedikit telah memaparkan mengenai bagaimanakah sastra dipandang bagi kalangan yang bermadzhab Marxis, atau marx itu sendiri. Khususnya pendapat Lenin – dalam Party Organization and Party Literature – yang telah dijelaskan dipostingan terdahulu. Apa yang digagas Lenin tidak akan terlahir kalau tidak ada akibat pengembangan dari keberpijakan awalnya itu bermula, yakni yang diusung langsung oleh Marx. Namun marx juga tidaklah sendiri mengenai bagaimana ia memandang sastra itu seharusnya. Bersama doi terdekatnya yakni Engel, Marx bahu membahu mengemukakan pendapatnya tentang sastra.

Meskipun begitu upaya yang telah dikembangkan Lenin pada waktu itu tidak sejauh apa yang telah dikemukakan oleh Marx dan Engel. Pada dasarnya sastra apabila dilihat dari kalangan marxis diupayakan untuk lebih memihak kepada kaum pejuang, buruh yang teralienasi kaum borjuis. Sejalan dengan pemikiran yang digagas oleh Marx dan Engel – terlebih dalam karya Manifesto communis – yang berkaitan dengan keadaan sosial, filsafat dan sastra sebagai landasan terbentuknya keadaan.

Sejauh yang saya kenal dari beberapa pemikiran yang bermadzhab Marxisme maka saya sedikit memahami bahwasanya kebanyakan dari mereka berusaha untuk membuka tabir yang tengah terjadi didalam kehidupan sosial didalam ruang dan waktu. Kapitalisme sejak dahulu sampai sekarang menjadi basis utama bagaimana kemunculan-kemunculan pemikir bermadzhab marxis terus lahir. Bisa kita lihat pada pemikiran Antonio Gramsci, George Lukacs, Herbert Marcuse, Althuserr, Theodor Adorno, Zizek sampai kepada para pemikir india dengan subalternnya. Continue reading Kritik Sastra Marxisme

Puisi Dari Rendra Untuk Perdamaian

Pelecehan yang dilakukan oleh Nakoula Basseley Nakoula terhadap tokoh paling sentral agama Islam, Nabi Muhammad SAW telah menimbulkan suatu keadaan yang sebetulnya tiada dikehendaki oleh semua jiwa.

Berbagai kecaman datang dari berbagai pihak dengan alasan-alasan tertentu diantaranya ada yang mengatakan karena ada rasa kekecewaan pada doktrin demokrasi yang salah satunya menghormati antar umat beragama dan di pihak lain yang tak dikehendaki pun muncul terhadap respon atas kaum muslim yang marah sehingga banyak menimbulkan konflik baru yang tak berkesudahan, mungkin.

Kiranya masih ingat dalam benak bagaimana waktu itu kita pernah mengalami masa yang menegangkan ketika Amerika, tengah menghadapi perang dengan Negara timur – Irak. Awal mula pada masalah tersebut tidaklah bisa terlepas dari dunia media yang penuh dengan propaganda. Apa yang ditampilkan dalam media itu seolah-olah adalah kenyataan yang benar-benar fakta, sedangkan kenyataannya kita sedang berada dalam dunia yang terkotakan.

Kita tak pernah tahu keadaan sebenarnya yang terjadi kala itu ketika perang antara Amerika dan Irak. Perlu digaris bawahi bahwa saya tidak mendeskriditkan kedua belah pihak namun saya lebih tertarik pada efek yang ditimbulkan setelah keadaan perang itu berkecamuk dalam sebuah tayangan media massa.

Media mempunyai sejarah tersendiri dalam dunia politis yang tak terlihat jernih secara kasat mata. Bagaimana Nazi menggunakan radio sebagai alat propaganda, Suharto jua sama, dan sekarang kalau kita teliti bahwasanya dibalik layar kaca yang sedang anda tonton itu pemiliknya adalah salah seorang politisi yang mempunyai tujuan tertentu! Maka sedikit benarlah bahwa media sekarang ini bisa disebut sebagai kekuatan baru Trias politica. Continue reading Puisi Dari Rendra Untuk Perdamaian

Jalan Telah Ada; Mengapa Engkau Masih Menunggu?

Sang pencerah telah mencerahkan
Ia datang bak surya semua semesta alam
Ia disinyalir yang didamba dari pelbagai keyakinan
Yang mendamba tak percaya
lantaslah ia bertolak belakang
Oleh karena banyak hal
Mereka tak menerima
Bahwa ia adalah yang dijanjikan

Surya menyinari dan lantas ia pergi
Taqdir kehidupan ialah suatu kepastian
Ia Meninggalkan kita
Tapi ia meninggalkan berjuta cahaya
Wasiat tak terhingga
Bekal manusia dibumi
Suatu jalan terindah
Bila kita menegakan Continue reading Jalan Telah Ada; Mengapa Engkau Masih Menunggu?

Sebahagian Dialog Tentang Kritik Musik Indonesia; Negative View

Bagaimana pendapat Anda mengenai artis/performer musik di Indonesia saat ini?

Mengapa saya memilih biasa saja dari semua pertanyaan yang disediakan? Itu adalah sebuah jawaban dari seorang individu manusia yang mempunyai pandangan berbeda dengan kebanyakan orang. Artinya selain saya, masih banyak orang lain yang akan mengatakan bahwa performer artis musik Indonesia saat ini sedang mengalami sebuah kemajuan.

Suatu hal yang wajar dalam bermusik terdapat perbedaan. Maka dari itu munculah genre-genre musik yang berbeda didunia ini, dengan kata lain mereka mengindikasikan kepada kita bahwa terdapat beberapa pandangan yang berbeda dari selera musik yang ada didunia.

Tanpa harus ada sesuatu yang harus mempertanyakan dan mempertahankan ego dalam ideologi. Tapi akhir-akhir ini terdapat sebuah selintingan, kritikan, sindiran yang banyak dilontarkan kepada Boyband/Girlband. Karena memang industri musik Indonesia sekarang ini Boyband dan Girlband sedang naik pamor. Apakah yang menjadi kendala utama penyebab semua ini?

Dalam persepsi sensual hanya dapat dicapai oleh yang merupakan suatu kualitas. Bila suatu kualitas sesuai dan serasi bagi orang yang memiliki persepsi, maka itu akan menyenangkan. Bila kualitas itu menjijikan dan dibenci orang itu, kualitas itu akan menyakitkan. (1986:512) Saya sepakat dengan Ibnu Khaldun, mengenai teori kesenangan yang ditimbulkan atas persepsi yang cocok dan serasi. Namun bila persepsi yang tidak Nampak dalam diri ini, adalah ketika mendengarkan musik-musik selain grunge, saya tidak akan menyukai jenis musik lain. Karena terlebih dahulu selera saya telah ada pada persepsi dan selera Grunge. Continue reading Sebahagian Dialog Tentang Kritik Musik Indonesia; Negative View