Tour De Salah, Identitas dan Pemaknaannya

Pentingnya menjaga solidaritas atau kehendak untuk hidup searah mata memandang pada sebuah agama adalah sangat diperlukan. Hal tersebut pula yang banyak dibahas oleh salah seorang ilmuwan muslim terbesar, ibnu Khaldun, ketika berbicara solidaritas sosial, khususnya yang berdasarkan Agama.

Salah satu kata kunci yang bisa diambil dari bagaimana solidaritas itu bisa nyata adanya adalah  ditandai dengan silaturahmi antar sesama umat muslim yang lainnya. Disetiap zaman dan setia peradaban yang hilang maka silaturahmi atau menjaga keharmonisan antara umat muslim terdapat perbedaan. Akan tetapi perbedaan tersebut tidak mengganggu inti substansi dari makna nyata menjaga silaturahmi antara sesama umat.

Perlu digaris bawahi bahwa hal terkecil yang bisa melandasi solidaritas itu kuat adalah dengan melaksanakan shalat bersama-sama. Dalam khidmatnya kebersamaan shalat berjamaah dirasa akan menjadi satu pengikat kuat antar sesama manusia yang memahami dunia berdasarkan Allah, setidaknya hal inilah yang benar-benar membuat umat muslim bisa kuat.

Kembali lagi kepada pembahasan diatas. Maka banyak pula cara-cara lain yang bisa dilakukan dalam rangka memelihara keutuhan dan silaturahmi diantara sesama umat muslim lainnya. Sebagaimana dicontohkan oleh orang-orang muslim yang ada di Inggris yang mengadakan acara kreatif tahunan bernuansa Islami tapi dengan sentuhan kekinian.

Sekilas Tentang Tour de Salah

aydia - tour de salah1

Sebagaimana dikutip dalam laman info facebook TDS: “Tour De Salah is an annual cycle challenge around London stopping to pray each Salah at five of our capital’s iconic mosques:[1]

Tour De Salah adalah sebuah acara gowes/bersepeda tahunan yang dimana pada acara ini terdapat beberapa tantangan-tantangan yang berorientasi atau mempunyai makna menjaga kebersamaan dalam hal kegiatan bersepeda. “Cycling is a fantastic way to reduce our individual and community carbon footprint while benefitting our health and personal wellbeing at the same time!”

Lebih lanjut lagi, dalam official website TDS dijelaskan pula bahwa:

Tour De Salah is a physical and spiritual challenge like no other! It’s the biggest organised bike ride of its kind anywhere in Europe covering 100km across London stopping to pray each Salah (five daily prayers) at five of our capital’s iconic mosques. In 2015 hundreds of riders, including celebrities are going to raise over £100,000 for dozens of UK based charities Insha’Allah so don’t miss out!  The 2015 Tour De Salah takes place on Saturday 5 September 2015. The Tour De Salah is an initiative of MADE in Europe supported by Ibn Battuta Expeditions.

Diatas sudah jelas disebutkan bahwa TDS adalah kegiatan keagamaan seperti kegiatan lain – mungkin kegiatan disini lebih kepada menjaga silaturahmi, dengan bersepeda maka diharapkan sifat keindividualan akan berkurang, atau mengumpulkan amal. Karena pada dasarnya acara TDS ini terlahir dari inisiatif MADE in Europe, sebuah komunitas muda kreatif yang bergerak dalam bidang amal, kampanya, pendidikan dan lain-lain.[2]

Dalam TDS ini para peserta akan menggowes sepedanya dengan jarak kurang lebih 100km dan akan berhenti dilima mesjid utama yang ada di London pada lima waktu shalat.

Rute TDS dimulai sesaat setelah para pesepeda telah melakukan shalat shubuh dimesjid London timur dan menyusuri jalan menuju lokasi kedua yakni London Central Mosque, biasanya ditujuan yang kedua ini diadakan pula kegiatan-kegiatan amal yang diselenggaran oleh panitia. Setelah itu para pesepeda akan menuju titik ketiga dan keempat yakni Muslim Community & Education Centre untuk Ashar dan Harrow Central Mosque untuk melaksana shalat Maghrib. Dan terakhir para pesepeda akan mengunjungi Al-Manaar untuk melaksanakan shalat dan menyelesairkan Tour De Salah.

Pada tahun pertama, 2014 kemarin, TDS diikuti oleh empat puluhan pesepada akan tetapi dikatakan pada official website TDSnya bahwa pada tahun 2015 sekarang peserta TDS akan bertambah banyak dan bahkan diikuti oleh selebritis disana.

Tour De Salah, Identitas dan Pemaknaanya

Yang dimaksud dengan identitas pada subjudul diatas mungkin lebih mengorientasikan pada keinginan satu komunitas muslim yang ada disuatu tempat untuk tidak canggung mengenalkan identitas mereka.

Keinginan tersebut atau adanya suatu motivasi untuk membaur dengan media TDS tersebut akan mempunyai akar yang kuat bilamana pada tempat-tempat yang didiami komunitas muslim itu terdapat penolakan, dalam arti ada suatu respon yang tidak diharapkan oleh orang-orang asli (baca:Islamphobia).

TDS selain sebagai sebuah acara sepeda tahunan bisa juga dimaknai sebagai sebuah perlawanan, tanpa kekerasan, atau sikap untuk menjawab setiap pertanyaan-pertanyaan negatif tentang pandangan orang-orang phobia tentang gambaran Islam.

Konsep bersepeda yang bisa dikatakan kekinian ternyata bisa diharmonisasikan dengan konsep shalat lima waktu yang ada dalam agama Islam. Hal ini menegaskan bahwa merekapun bisa berbuat satu hal yang kreatif, unik sekaligus menarik dan asyik untuk diikuti.

Kalau misalnya dicermati lebih dalam, dengan pemaknaan yang indah, maka Tour De Salah juga bisa disebut sebagai sebuah upaya mengajak seseorang untuk lebih meningkatkan ketakwaan terhadap Allah SWT. Tour bisa dimaknakan sebagai jalan yang harus ditempuh seseorang dalam rangka meraih ridha Allah SWT, yaitu dengan cara beribadah.

Menjaga silaturahmi, mengurangi sifat individual dizaman global dan menumbuhkan solidaritas serta selalu mengingat Allah dengan melaksanakan Ibadah dimanapun seseorang berada menjadi hal penting dalam TDS.

[1] https://www.facebook.com/tourdesalah

[2] http://tourdesalah.co.uk/challenge-info/about-tour-de-salah/

Umar bin Khattab & Sastra Kepahlawanan

zakii-aydia---sastra

Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani.- Umar bin Khattab, dalam Anis Mata- 1

Ketahuilah bahwa kutipan diatas lahir bukan dari seorang sastrawan besar semisal Shakespeare, Homer, Hemmingway, Khairil Anwar atau bahkan Pram. Melainkan kutipan tersebut berasal dari salah seorang pembesar agama Islam, yakni Umar bin Khatab, – Salam dan doa kupanjatkan untuknya -.

Meskipun ia banyak dikenal sebagai seorang pejuang perang yang pemberani dan tangguh dalam menghadapi musuh namun dibalik keberaniannya itu ia adalah seorang yang menyukai hal ihwal syair khususnya dan sastra pada umumnya.

Ketertarikan Umar bin Khatab pada dunia sastra bukannya tanpa alasan namun memang pada saat itu beliau hidup di wilayah yang mana, pada waktu itu, syair-syair dan sastra menjadi sebuah identitas penting pada suku-suku yang ada di negeri jazirah Arab.

Syahdan, sebelum Islam menyebar luas dengan gemilang, negeri Arab pada waktu itu sudah banyak dikenal oleh orang-orang tentang kepiawaiannya dalam hal syair. Oleh karena itu negeri ini bukan saja dikenal sebagai sebuah negeri yang hidup mewangi, artinya Negeri ini dikenal karena mempunyai banyak cerita indah tentang suatu peradaban, akan tetapi Negeri ini juga dikenal karena kecerdikan-kecerdikan mereka dalam hal bersyair.

Dalam tulisan saya yang terdahulu, yakni tentang “Mu’allaqat: Yang Tersisa Pada Sejarah Ada Pada Syair” 2 telah dikemukakan sedikit mengenai gambaran kondisi orang Arab pra Islam yang sangat menyenangi Hal Syair. Dan untuk mengetahui lebih lanjut temtang keadaan tersebut saya sarankan untuk membaca tulisan itu terlebih dahulu.

Karena pada kesempatan ini saya tidak akan menjelaskan dengan panjang lebar mengenai bagaimana kondisi dan peran sastra yang ada di Arab. Disini saya hanya ingin sedikit menjelaskan bagaimana peran dan fungsi sastra dalam dunia masyarakat dilihat dari tema semata.

Sebagaimana telah terucap diatas bahwasanya Umar bin Khatab – Semoga Allah memberi tempat yang indah kepadanya – ketika berkata “Ajarkan sastra kepada anak-anakmu karena itu dapat mengubah anak yang pengecut menjadi pemberani” pada waktu itu beliau bukannya berkata tanpa alas an. Akan tetapi beliau mewasiatkan sesuatu yang luar biasa kalau kita pandang kalimat tersebut dengan hati yang jeli bersih nan suci.

Pada kesempatan kali ini yang bisa saya sampaikan, sehubungan dengan alasan Umar bin Khatab, ketika mewasiatkan “mengajarkan sastra kepada anak” pada waktu itu adalah apa yang pernah dialami oleh beliau sewaktu sebelum masuk islam dan sesudah masuk Islam.

Umar bin Khattab Sebelum & Setelah Masuk Islam

Seperti banyak diketahui bahwasanya Umar bin Khatab sebelum masuk menjadi seorang muslim ia lebih terkenal sebagai seorang pembangkang ajaran Islam dan Baginda Nabi Muhammad Saw, PBUH. Pada waktu itu beliau terkenal sebagai seorang yang gagah berani dan tak gentar untuk melawan musuh termasuk keberanian niatnya untuk mebunuh Nabi Muhammad SAW sendiri.

Akan tetapi, sebagaimana jalan taqdir yang berbicara, ternyata sejarah berkata lain padanya. Umar bin Khatab ternyata ditaqdirkan untuk menjadi seorang sahabat Baginda Nabi dalam misinya menyebarkan agama Islam kelak.

Berbicara mengenai ketertarikan Umar pada Islam, usut punya usut ternyata salah satu yang membuat Umar bin Khatab tertegun hatinya untuk lebih mendalami isi dan ajaran yang dibawa oleh baginda Nabi adalah ketika beliau mendengarkan beberapa lantunan ayat Al-quran yang dikiranya adalah sebuah syair.

Ketika kita mendapati hal tersebut maka bukanlah hal yang tak mungkin pada waktu itu beliau telah mengenal betul apa makna dan keindahan yang ada pada sebuah Syair atau pada kata-kata yang mempunyai arti dan makna yang bagus.

Kondisi seperti ini jelas tidak akan bisa terlepas dari lingkungan Arab yang, telah dikatakan tadi, sudah dikenal banyak orang dalam hal dunia sastra, khususnya syair. Itulah sebabnya dengan keindahan bahasa dan alunan merdu ayat suci Al-Quran maka seketika itu pula beliau terkejut ketika mendengarkan lantunan ayat tersebut ternyata merdu didengar dan syahdu direnung.

Begitulah kita mendapati bagaimana bila suatu karya sastra menyuguhkan kepada kita sesuatu yang menggugah hati dan mungkin menjadi penawar rindu bagi jiwa yang sepi. Terlebih apabila yang didengarnya itu adalah Al-Quran yang dimana banyak para ilmuwan yang meyakini bahwa bahasa yang ada didalam Al-Quran merupakan bahasa yang menakjubkan.

Banyak karya-karya sastra yang mampu menggugah hati manusia seperti karya-karya sastra bertema cinta, tragedi, dan kepahlawanan. Apa yang diwasiatkan Umar bin Khatab tentu memiliki kriteria tersendiri bila dilihat pada konteks karya sastranya. Oleh karena Umar bin Khatab adalah seorang pahlawan besar yang menyukai syair maka syair-syair yang dianjurkannya pun tak akan pernah terlepas dari syair-syair yang mempunyai pesan untuk menjadi seorang yang pemberani

Sastra & Kepahlawanan

Unsur-unsur sastra bertema kepahlawanan sebelum datangnya Islam menjadi begitu sangat penting bagi beberapa suku-suku yang ada di Arab. Ungkapan berupa syair yang bertemakan[sociallocker id=”4323″]seorang ksatria (Muru’ah), baik itu yang telah tiada atau yang masih hidup, seolah menjadi sebagai suatu welstanschaung dikalangan mereka.

Pada tingkatan seperti ini seorang pemikir besar islam, Ismail Raja Al-Faruqi, mendefinisikan keadaan diatas sebagai poros romantisisme. Dimana pada keadaan seperti itu (romantisisme) kondisi sosial akan membentuk solideritas internal suku.

Hal itu terjadi karena keadaan di Arab pada waktu itu digambarkan dalam sejarah-sejarah sebagai negeri yang penduduk atau suku-sukunya selalu berperang satu sama lain. Dan sudah menjadi ketentuan umum bahwasanya akan menjadi sebuah kehormatan untuk menang melawan suku yang ditantang perang adalah impian dari beberapa suku selain untuk bertahan hidup.

Syair (Puisi) yang pada waktu itu muncul dari hikayat perasaan individual seseorang menjadi sebuah mediasi yang cocok untuk menggambarkan apa yang tengah terjadi di Arab. Selain itu syair-syair juga menjadi sebuah senjata simbolik yang mampu menggugah perasaan seseorang untuk mengangkat senjata dan menjadi pahlawan di medan perang.

Mari kita simak tulisan singkat dari Ismail Faruqi sebagai penopang dari argumen diatas bahwasanya:

“Perang suku merupakan aturan umum, yang mana gencatan senjata dalam perang menyebabkan periode damai yang relative singkat. Syair terus menerus mengobarkan semangat, menyerukan kematian bagi suku sebagai puncak tertinggi prestasi heroik. Ayyam Al-Arab berkembang hampir seperti kultus, dimana para pemujanya adalah orang-orang Arab yang mendengarkan dengan penuh semangaat saat pendeta – dalam kasus ini, narrator- bercerita dalam syair dan prosa yang fasih warisan anekdot tentang pahlawan perang suku demi suku. Kultus ini benar-benar menguasai imajinasi orang-orang yang ikut serta. 3

Yang bisa kita maknai (jadikan hikmah) secara baik dalam keadaan ini adalah bagaimana sebuah syair atau karya sastra mampu membuat sesorang menjadi seseorang yang merasa seakan dirinya terbang dibawa kata yang diucap. Dengan kata lain inilah yang merupakan suatu sihir syair –sebuah karya sastra- yang mempunyai pengaruh sebagai sebuah sumbu bagi calon-calon pahlawan berikutnya.

Hal diatas bisa menjadi sebagai sebuah penegas bahwasanya unsur-unsur kepahlawanan dalam sebuah syair/karya sastra itu sangat penting. Sebagaimana Umar dengan wasiatnya prihal mengajarkan sastra kepada anak-anak, bukan hanya mengisyaratkan bahwa kita harus berperang, membunuh lawan, melainkan sifat dan hakikat sastranya lah yang bisa menggugah rasa dan jiwa seseorang sehingga yang tadinya ia malas melawan kejahatan menjadi seorang pemberani yang tak tertandingi.

Sedikit teranglah sekarang bagaimana wasiat Umar bin Khatab bisa kita dapati setelah tulisan singkat diatas. Mungkin banyak dari kita yang pernah mengidolakan seseorang pahlawan yang biasa kita tonton di televisi dan secara tidak disadari hal-hal itu membuat pertumbuhan psikologis kita sedikit terpengaruhi. Begitulah hal tersebut terjadi apabila kita membaca satu karya sastra.

Maka benarlah bahwasanya sebuah karya sastra yang hebat itu adalah sebuah karya yang bisa menggugah perasaan orang ketika dibacanya dan kita pun mengidolakannya, mungkin.

Kepahlawanan dalam sebuah karya

Kunci utama dari kepahlawanan, sastra kepahlawanan, adalah perlawanan yang dilakukan seseorang disatu tempat dengan perjuangan kerasnya untuk melawan orang-orang yang dianggapnya telah melanggar suatu aturan yang telah diberlakukan.

Adalah sama ketika kita sedang melihat tayangan-tayangan superhero asal Amerika atau Negara manapun yang sedang membasmi kejahatan dan kita terpukau oleh pahlawan pemberani yang tangguh itu.

Bedanya kalau waktu itu media TV dan tekhnologi belum tercipta maka perhatian utama para pengarang adalah dengan menuliskan cerita yang menggugah rasa kepahlawanannya kedalam sebuah mahakarya tulis/syair.

Banyak cerita-cerita kepahlawanan semacam Iliad, Odius, William Wallace, King Arthur, Hercules, Wonder Woman, Si Pitung, Robin Hood, dan Sanaya adalah buah dari bagaimana pengarang ingin menyampaikan sebuah sejarah yang mungkin bisa membuat kita menyadari sesuatu mutiara yang belum tersentuh hati.

Berbagai karakter pahlawan diatas memiliki perbedaan, baik itu secara keadaan sosiokultural (disesuaikan berdasarkan tempat pahlawan itu diceritakan) ataupun apa yang ditunjukan penulis pada karakter pahlawan tersebut. Sesuai dengan apa yang direksa dan lingkungan yang mereksa adalah salah satu syarat bagaimana seorang penulis mengkonstruksi pemahaman dirinya dalam suatu karya sastra.

Perlu diketahui bahwa satu hal yang paling mendasar dari bagaimana proses kepenulisan adalah seorang penulis itu tidaklah mungkin menulis sesuatu yang tak ia ketahui, artinya makna dari ketahui tersebut adalah apa yang ia pikirkan dan rasakan.

Sedangkan dalam pesannya, sebagaimana tersirat dari karakter yang ditampilkan dalam karya-karya tersebut adalah untuk menegakan keadilan dan kebenaran, membela yang benar dan malawan yang salah.

Keadaan sosikultural (Lingkungan) dimana karya tersebut lahir menjadi satu faktor penting pada cerita yang akan ditampilkan oleh seorang penulis kelak. Kadang seorang pahlawan muncul dalam sebuah sastra dalam situasi yang menggambarkan sebuah kerajaan yang penuh dengan korupsi, kesemena-menaan kaum borjuis dan ketidak perdulian mereka terhadap kaum miskin.

Bahkan ada juga tema yang muncul seperti sikap perlawanan negeri yang terjajah terhadap penjajahnya dulu. Sebagaimana Talas dalam essainya yang mengatakan bahwa:

Heroes first appeared in myths of various kinds, and in many cases the course of their life seems to represent daily or seasonal changes; in such cases they either symbolize the sun, or the growth and death of vegetation (Heroes and Heroism in Myth, Legend and Fiction)

Tema kepahlawanan dalam sebuah karya sastra adalah tema klasik yang selalu banyak kita temui hari ini. Dimanapun Negara kita singgah pastilah terdapat sebuah karya sastra –tentang kepahlawanan- yang kita dapat baik itu berupa dongeng, mitos atau legenda.

Menurut Jung –seorang pakar mitos- hal ini terjadi karena:

Heroes are constructions; they are not real. All societies have similar hero stories not because they coincidentally made them up on their own, but because heroes express a deep psychological aspect of human existence. They can be seen as a metaphor for the human search of self-knowledge. In other words, the hero shows us the path to our own consciousness through his actions.

Boleh dikata bahwa disini sastra menjadi sebuah alat perlawanan bagi mereka yang mempunyai kehebatan dalam merangkai kata sehingga semerbak menjadi beribu makna bagi para pembacanya. Sehingga benarlah bahwa kata-kata bisa lebih tajam dari pedang – dalam konteks perang -.

Seorang penulis sedikit mengubah gambaran perang dari cara mengasah pedang dan memainkannya menjadi sebuah kata yang tajamnya aduhai lebih terasah dari pedang itu sendiri. Buktinya sejarah mengatakan bahwa banyak para sastrawan/seniman yang pernah mendekam dipenjara akibat karya mereka yang dianggap terlalu radikal.

Pun ketika wasiat itu diturunkan beliau kepada rakyat-rakyatnya, termasuk kita sendiri, sebagai umat Islam hal ini menandakan bahwa syair atau sastra itu bukan merupakan suatu yang tidak dibolehkan. Kita tahu bahwa beliau adalah salah satu orang terdekat baginda Rosul, (PUBH) maka dari itu tidaklah mungkin jikalau beliau mewasiatkan sesuatu yang tidak dianjurkan oleh Islam.

[/sociallocker]

Referensi:

  1. Pendidikan Karakter Berbasis Sastra-
  2. http://skhatzey.blogspot.com/2012/07/muallaqat-yang-tersisa-dari-sejarah-ada.html
  3. Faruqi. Ismail, Atlas Budaya Islam

Serupa Qabil dan Habil: Sebuah Kepastian & Ketabahan

Hari berganti hari nampaknya manusia seakan tiada bisa menjaga amanat besar dari Allah Maha Mulia. Berbagai peristiwa mengerikan macam pembunuhan, pemerkosaan, atau bahkan berperang semakin mudah untuk ditemukan. Yang paling dekat dengan kita sekarang ini adalah ketiga-tiganya semua selalu hadir dalam setiap berita-berita terkini.

Yang namanya manusia semenjak Nabi Adam AS turun memang sudah mempunyai tabiat untuk melanggar ketentuan yang telah ditetapkan namun dengan kecerdasan yang bisa dikembangkannya itu pula manusia bisa keluar dari tabi’at tersebut. Sayangnya, orang yang tak pernah belajar untuk bertobat dan mengendalikan dirinyalah yang pada akhirnya akan selalu dikuasai setan, salam jari tengah untuknya.

Sejarah pertama yang seharusnya menjadi pembelajaran kita dizaman sekarang adalah mengenai peristiwa Qobil yang membunuh saudaranya sendiri yakni Habil. Sekarang banyak kisah serupa Qabil dan Habil yang bisa kita temukan. Seperti itu pula yang termaktub dalam sebuah Hadits: Continue reading Serupa Qabil dan Habil: Sebuah Kepastian & Ketabahan

Ada Apa Sebenarnya Dengan Palestina dan Israel?

Ketika pertama kali tayang dalam sebuah layar kaca kita, bagaimana tentara Israel – yang katanya sedang mengincar teroris – menghabisi tiga nyawa dalam sekaligus, diantaranya adalah petinggi pemerintahan Palestina. Maka terbenaklah dalam diri kita sanksi apa yang akan dijatuhkan oleh lembaga perdamaian didunia dan Negara adidaya – yang besar berkuasa – terhadap tindakan Israel tersebut. Pertanyaan tersebut selalu berulang setiap kali Israel melancarkan tindakan yang brutal, mengingat dari kejadian yang telah berlalu Israel sepertinya tidak begitu memperdulikan apa yang namanya kecaman-kecaman diatas kertas belaka.

Sementara kecaman datang silih berganti diseluruh dunia, ternyata didaerah konflik tersebut telah banyak jatuh korban  yang kebanyakannya adalah dari orang-orang Palestina. Yang lebih menyakitkan lagi ternyata korban yang meninggal tersebut kebanyakan dari warga sipil khususnya wanita dan anak-anak. Alih-alih menurut Israel tembakan tersebut telah memenuhi target, teroris, yang telah ditetapkan jauh hari. Tetapi fakta dilapangan ternyata bertolak belakang dan korban yang berjatuhan disini adalah mereka yang lebih dekat kepada sebuah sistem regenerasi yang berlanjut.

Teroris macam apakah yang dibayangkan Israel sehingga perempuan dan anak-anak pun mereka bunuh? Macam keliru berpikiran saja mereka dalam bertindak! Setidaknya kita perlu untuk sedikit sahaja meredefinisi ulang apa makna dibalik teroris sebenarnya? Karena dampak yang ditimbulkan dengan citraan teroris ini sangat bahaya sekali bung! Sorban dibalut kekepala, janggut yang teruntai lebat, hijab yang menutup muka sampai kepada buku-buku tentang agama bisa menjadi suatu hal yang dianggap menakutkan! dan kalaupun ingin tahu teroris ini mungkin lebih tepat disemayamkan sebagai sebuah bentuk hegemoni global, yang menemukan definisi pandangannya ketika bangunan kembar di amerika hancur. Sejak saat itu pandangan orang kepada muslim menjadi sebuah semacam ketakutan dan agama yang penuh teror, padahal itu tidak tepat sama sekali!! Continue reading Ada Apa Sebenarnya Dengan Palestina dan Israel?

Muallaqat; Yang Tersisa Dari Sejarah Ada Pada Syair

Kondisi orang Arab sebelum masuknya ajaran Islam adalah betapa memilukan sekali. Mereka lebih menyedihkan ketimbang bangsa-bangsa lain yang menganut agama nashrani dan yahudi pada waktu itu. Orang Arab pra Islam tidak memiliki panduan khusus seperti yang sudah diterapkan oleh agama nashrani dan yahudi sebagaimana contoh dalam menyembah Tuhan.

Bila meruntut cerita panjang yang bisa kita baca pada buku-buku sejarah maka akan ditemukan bahwa hakikat dasar dari ajaran agama Nashrani dan Yahudi adalah ajaran Monoteisme. Berbeda dengan mereka, orang arab maka tidak mengenal sama sekali hal seperti itu meskipun ada sebagian ajaran Nashrani dan Yahudi disana namun tak ada yang mempraktekannya dengan sungguh-sungguh, bisa dibilang hal itu redup.

Orang-orang Arab pra Islam dikenal pada waktu itu sebagai orang-orang yang suka menyembah berhala-berhala. Hal ini bertolak belakang dengan awal mula Nabi Ibrahim (Salam Rindu Untuknya) dan Nabi Ismail (salam Rindu Untuknya) pertama kali datang ke kota itu. Ketika Ibrahim datang bersama Hajar dan Isma’il ke Makkah, daerah ini masih gersang, tak ada tumbuhan. Alquran melukiskan daerah ini terpencil, sepi dan sunyi. (99: Agama dan Budaya)

Pembangunan Ka’bah yang dibuat oleh Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail pada hakikatnya adalah untuk beribadah kepada Allah yang maha Esa. Lambat laun seiring dengan proses adaptasi dan kondisi orang-orang disekitar pada umumnya, esensi tersebut menjadi kabur dan digantikan oleh kehendak-kehendak manusia yang tak terelakan. Mereka bangunlah dewa-dewa, dewi-dewi, dan berhala yang dianggap mempunyai peran besar dalam kehidupan duniawi. Tidak sampai disitu mereka berulah bahkan ka’bah pun dibuat kuil olehnya.

Lantas timbulah satu pertanyaan yang perlu diajukan sehubungan dengan kondisi ini. Kenapa ajaran monoteisme yang dibawa oleh Nabi Ibrahim menjadi lemah dan bertransformasi menjadi Politeisme? Adalah memerlukan suatu waktu yang panjang untuk menjelaskannya dengan cermat namun ada beberapa faktor penting yang bisa kita jadikan sebuah landasan awal mengapa ajaran monotesime bertransformasi menjadi politeisme. Continue reading Muallaqat; Yang Tersisa Dari Sejarah Ada Pada Syair

Doa Untuk Syria; Mencari Letak Pengikat Kehendak Satu

Ya Allah yang maha mulia, maha kuasa bagi yang tak terkuasai manusia. Sungguh aku bersimpuh tuk berdoa kepadaMu. Sebagai rasa ketidaksempurnaan manusia dialam bumi ini. Seperti aku yang sekarang sedang merasa terpukul, tertampar kesedihan melihat saudara-saudaraku di Syria, palestina dan dimanapun itu mengalami ujian yang begitu berat.

Hanya kepada Engkaulah tempat terakhir manusia menuju, dengan doa yang tulus untuk mereka, aku panjatkan semoga Engkau selalu memberikan ketabahan bagi saudara-saudara hamba disana. Continue reading Doa Untuk Syria; Mencari Letak Pengikat Kehendak Satu