LGBT: Zaman Beredar Riwayat Berulang

history
Quoted from philosopher

Salah satu isu hangat yang sampai sekarang masih diperbincangkan dimedia-media baik itu media online ataupun media cetak adalah berita mengenai berita pelegalan pernikahan sesama jenis. Berbagai respon yang terlontar dari masyarakat sudah lazim akan berbeda, disatu sisi tidak sedikit yang menolak dan disisi lain ada juga yang setuju terhadap pernikahan tersebut.

Tercatat dalam laman forbes statista sampai saat ini sebanyak kurang lebih 20 negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Mulai dari Argentina, Belgia, Brazil, Canada, Denmark, England/Wales, Finlandia, Francis, Irlandia, Islandia, Luxemburgo, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Portugal, Skotlandia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Amerika Serikat, dan Swedia.

Di Indonesia sendiri, yang notabennya dikenal sebagai negara mayoritas Continue reading LGBT: Zaman Beredar Riwayat Berulang

Andrejuk Dan Imigran Turki Di Jerman

Tulisan ini ialah sebuah critical review dari salah satu tulisan // Jurnal yang membahas tentang isu kewarganegaraan imigran Turki di Jerman. Adalah Katarzyna Andrejuk seorang penulis, sekaligus seorang ilmuwan, berkebangsaan Polandia yang banyak menulis tentang Imigrasi, multikultularisme dan tentang Eropa.

Termasuk salah satunya adalah jurnal yang berjudul “Muslim Immigration and Its Influence on The Redefinition of Nationhood in Germany” yang dikeluarkan pada laman Studia UBB Sociologia LVIII, 1, 2013, pp. 39-54. Sebagaimana diutarakan diatas, jurnal ini membahas isu yang berkaitan dengan adanya problema imigrasi yang terjadi dibelahan bumi Eropa, dalam kasus ini fokus yang ditujukan penulis adalah Negara Jerman dengan beberapa permasalahan yang dihadapi terkait imigrasi.

Secara garis besar jurnal ini banyak menjelaskan tentang bagaimana sebuah Negara mengalami suatu pendefinisian ulang mengenai status kewarganegaraannya. Jerman, sebagai salah satu contoh, telah memiliki peraturan khusus untuk hal tersebut namun seiring dengan waktu maka hal itupun mengalami sebuah pendefinisian ulang atau redefinisi.

Klaim dari penulis dalam jurnal ini terletak pada bagaimana nantinya proses imigrasi yang berkala ini akan berpengaruh pada kebijakan pemerintahan meskipun ia telah memiliki peraturan khusus yang telah lama diciptakan.

Dengan menggunakan pendekatan sosiologis, artinya menggunakan pendekatan teori-teori sosiologi, penulis berusaha menerangkan hal ihwal mengenai proses imigrasi orang-orang Turki antara tahun 1960 – 1970, yang dimana pada rentang waktu tersebut berimbas pula pada roda pemerintahan sekarang.

Fokus permasalahan penulis adalah bagaimana keadaan para imigran Turki bisa diterima, atau sukses, menjadi sebagai kewarganegaraan Jerman dan apakah hal tersebut berdampak pula pada perekenomian para imigran Turki?

Adapun kesimpulan yang ditemukan oleh peneliti didapatkan setelah melalui berbagai penjelasan-penjelasan terkait hal yang berhubungan dengan permasalahan yang dipertanyakan.

Dalam jurnal tersebut penulis awalnya menyinggung dan membahas tentang kewarganegaraan dilihat dari bingkai sosiologi setelahnya penulis membahas mengenai sejarah awal mula orang-orang muslim di Jerman lalu menganalisis bagaimana orang muslim bisa bersaing // berperan dalam dunia pasar atau lowongan kerja sebelum akhirnya penulis mulai masuk pada pembahasan yang substansial yakni dampak dari para imigran terhadap hokum dan perubahan status kewarganegaraan di Jerman.

KATARZYNA ANDREJUK, DEKONSTRUKSI DAN REKONSTRUKSI

Ada beberapa periode yang selalu menghantui dunia keilmuan, umumnya, atau filsafat, khususnya. Dikatakan sebagai hantu oleh karena periode tersebut selalu dibahas mengenai permasalahannya lalu dicari bagaimana solusi untuk mengganti hal tersebut. Sebut saja periode tersebut dengan tradisionalisme, modernisme dan postmodernisme.

Ketiga periode itu dibarengi dengan suatu gerak melingkar dari beberapa kritikan tajam terhadap hal-hal yang diyakininya bersifat mendasar. Sebut saja ketika para filsuf modernisme mencoba untuk mengurai permasalahan-permasalahan pelik dari periode tradisionalisme dan begitu pula sebaliknya ketika para filsuf postmodernisme mencoba untuk meredefinisi berbagai hal mengenai klaim yang diberi cap modernisme.

Diantara permasalahan peralihan periode tersebut maka sesungguhnya dinamika perubahan tengah berlangsung didalam kehidupan manusia. Karena mereka itu, para filsuf atau Ilmuwan, tidaklah berbicara atas sekehendak mereka akan tetapi dengan memaparkan beberapa bukti // permasalahan atau temuan yang bisa dijadikan sebuah sandaran. Inilah pendapat pribadi saya seketika membaca jurnal yang ditulis Katarzyna Andrejuk tentang imigrasi orang-orang muslim dan dampaknya terhadap kebijakan kebangsaan di Negara Jerman.

Dalam jurnal ini penulis tidak hanya ingin menguraikan beberapa permasalahan melainkan ia ingin juga mengajukan solusi. Ini barangkali menggambarkan dengan tak gamang bahwa ketika dekonstruksi diutarakan maka rekonstruki diajukan. Pertanyaannya sekarang lalu apa yang bisa dijadikan bukti untuk pendapat ini?

Pertama, penulis dalam jurnal ini, khususnya pada pembahasan “Citizenship and participation: overview of sociological approaches” menjelaskan tentang oposisi biner yang ada di Negara Jerman. Sebagaimana dijelaskan bahwa identitas kewarganegaraan di Jerman bisa dijelaskan dengan dua hal. Pertama ia menyangkut tentang pandangan etnis tradisional bahwa kewarganegaraan di Jerman tentu dibatasi oleh batas-batas politik tertentu seperti orang asli Jerman, bahasa atau darah.

Lalu yang kedua, dan tentu berbeda dari yang pertama, adalah apa yang dikenal juga dengan postnational community // membership yaitu suatu bentukan komunitas yang dibuat khusus untuk para imigran Turki yang ada di Jerman. 1

Sebuah keniscayaan oposisi biner adalah adanya suatu doktrin mendasar tentang hal yang baik dan buruk, tinggi dan rendah, bagus dan jelek, pintar dan bodoh dan lain-lain. Hal ini berimbas pula pada wacana-wacana imigrasi di Jerman, khususnya ketika penulis membahas tentang adanya klaim bahwa orang-orang asli Jerman lebih baik daripada orang imgiran muslim atau bahkan disinggung pula bahwa para imigran are less educated. 2

Hal ini mungkin didasarkan pada ihwal sejarah para imigran Turki yang pada waktu awal kedatangannya ke Jerman hanya menjadi perkerja tamu atau gestarbeiter. Lebih lanjut pada jurnal ini dibahas pula tentang keadaan para imigran yang senantiasa mendapat suatu kedudukan rendah dibanding tuan rumah oleh karena para imigran tidak dengan fasih, atau tidak fasih sama sekali, untuk belajar bahasa Jerman.

Permasalahan-permasalahan yang menyangkut tentang perbedaan kedudukan kedua posisi yang berbeda tersebut ternyata menjadi perhatian pemerintah, yang mana mereka mempunyai keinginan untuk mengintegrasikan para imigran.

Belum lagi terdapat satu masalah yang penting, yang mungkin tak bisa dikesampingkan, menyangkut keadaan para imigran yang berasal dari Asia. Hal tersebut mengemuka setelah para imigran dari Rusia datang dan menetarp di Jerman. Kedudukan mereka yang sama seperti para imigran tapi mempunyai sedikit hubungan dengan Jerman dipandang berbeda dengan para imigran yang telah lama hadir di Jerman.

Dengan demikian maka adanya perhatian dari pemerintah, khususnya oleh Partai Sosial Demokrat dan Partai Hijau, pada akhirnya bisa membuat para imigran bernafas lega. Segera setelah melalui beberapa perenungan dan pertimbangan maka sedikit demi sedikit hegemoni Jus Sanguinis bisa diruntuhkan dengan Jus Suis pada tahun 2010.

Adanya hukum baru tersebut setidaknya bermanfaat bagi para imigran meski hanya anak-anak yang telah berumur 8 tahun, dari ke dua atau ketiga generasi para imigran, yang bisa mendapatkan kedudukan tersebut. Itupun mereka harus memilih antara Negara Jerman, bersamaan dengan syarat menaati semua hukum-hukum demokrasinya, dengan memilih Negara dimana ia berasal.

Syarat lain yang tak boleh dipinggirkan adalah ketika kebijakan tersebut direvisi pada tahun 2007, yang mana para imigran tersebut harus juga mempunyai pengetahuan berbahasa Jerman.

Dalam jurnal ini dibahas juga tentang keadaan para imigran setelah ditetapkannya peraturan tersebut. Ada berbagai kemajuan yang dialami para imigran, khususnya para imigran dari Turki, dalam berbagai hal misalnya dalam pendapatan lapangan perkerjaan yang meningkat sampai pada peran penting para imigran yang berpartisipasi dalam dunia politik Jerman.

Hal diatas menunjukan bahwa dengan adanya system integrasi politik terkait kewarganegaraan di Jerman bisa berjalan secara berkelindan, saling melengkapi dan saling memenuhi.

Akan tetapi hal yang selalu muncul dalam setiap kebijakan ialah suatu perlawanan atau pertentangan. Ini bisa disandarkan pada orang-orang yang masih menganggap orang timur, khususnya orang Islam, sebagai “the other” atau liyan. Mereka masih saja berpendapat bahwa kedudukan pribumilah yang masih tinggi dan para imigran rendah.

KESIMPULAN

Jurnal ini adalah sebuah upaya penulis untuk membahas dan menguraikan permasalahan pelik dan berkala yang menyangkut imigrasi berserta dampaknya terhadap hukum kewarganegaraan di Jerman.

Penulis jurnal ini meyakini bahwa hukum apapun itu, bila menyangkut kemaslahan manusia, bisa berubah karena tergantung pada perubahan demografis didalam masyarakat . Dari yang bersifat tradisional menuju pada sifat yang lebih modern dan dinamis.

Mendekonstruksi hegemoni yang telah mapan dengan berbagai pertimbangan dan menawarkan suatu rekonstruksi, melalui pembahasan akademis, penulis jurnal setidaknya telah berhasil memberikan satu wacana baru bagi dunia pendidikan, pada khususnya, dan para imigran, pada umumnya.

Referensi:

  1. STUDIA UBB SOCIOLOGIA, LVIII, 1, 2013, pp. 42
  2. STUDIA UBB SOCIOLOGIA, LVIII, 1, 2013, pp. 43

Caleg Bukan Caleg: Ada dan Pengada

Menjadi caleg, bagi sebahagian orang, adalah sebuah keinginan besar yang dimana pada saat keinginan tersebut tercapai maka perasaan dari tingkat kenikmatan itu menjadi hingar tiada tara.

Oleh karena itu tidaklah salah bilamana kita mendapati, umumnya setelah pemilihan selesai, bahwa terdapat caleg-caleg yang rela mengeluarkan dana kampanye yang besar untuk diberikan kepada rakyat atau kata kasarnya adalah politik uang. Tujuannya hanya agar kelak ketika pemilihan legislatif dilaksanakan, caleg yang harus dipilih adalah orang yang telah memberikan uang a.k.a sumbangan tersebut. Continue reading Caleg Bukan Caleg: Ada dan Pengada

Tawuran dan Generasi Muda

Zakii-Aydia---Sejarah

Sebahagian Potret Generasi Muda Kita

Belum lama berlalu mengenai berita, mengejutkan, beredarnya video mesum anak sekolah menengah pertama di Jakarta. Sekarang Indonesia sudah digemparkan lagi dengan berita lainnya yang lebih mengejutkan, yakni tentang pembantaian yang dilakukan oleh sekelompok anak dari satu sekolah terhadap sekolah lain yang terjadi di Sukabumi. Continue reading Tawuran dan Generasi Muda

Pandailah Memaknai Qurban Hai Wahai Koruptor!!

Zakii Aydia - Agama

Jika hidup sekedar hidup
Babi di hutan juga hidup
Kalau bekerja sekadar bekerja
Kera juga bekerja – Buya Hamka –

Ihwal Pertama

Sebuah negeri, meski ia besar wilayahnya dan banyak sumber daya alamnya, akan binasa lebih cepat dari yang dikira bila kedzaliman dan kemunafikan sudah sedemikian terjadi dengan merajalela.

Apatah hal tersebut akan lebih menyakitkan bila yang menjadi persoalan ternyata terletak pada wilayah sang pemangku rakyat. Kita mestinya belajar pada hal yang telah berlalu, suatu hal ihwal kehancuran peradaban Islam yang terjadi karena para pemimpinnya sudah tak perduli akan janji dan tanggung jawabnya sebagai penanggung jawab rakyat. Continue reading Pandailah Memaknai Qurban Hai Wahai Koruptor!!

Ketika Kuasa Manusia Bersanding Iblis

Saya tak bisa membayangkan bilamana sang negarawan Muhammad Natsir mendengar atau mengetahui bahwa cita-cita abdi negaranya telah ternodai oleh setan koruptor disaat sekarang ini. Tidak tanggung-tanggung yang menjadi setan koruptornya tersebut adalah seorang yang paling tinggi diantara mereka yang berkerja kepada lembaga yang terhormat. Kita patut bertanya adakah kasus besar lainnya yang akan diberantas KPK melebihi kasus yang menyangkut Mahkamah konstitusi ini?

Aydia HartaDitangkapnya Akil Muhtar dan konco-konconya sedikit memberikan suatu kengerian kepada kita, atau boleh jadi ketakutan, bahwa perbuatan laknat korupsi yang ada di Negara kita sudah menjadi barang dagangan yang murah meriah dihadapan dosa besar, yang seharusnya berat diemban, terhadap masyarakat. Continue reading Ketika Kuasa Manusia Bersanding Iblis