in Kajian Budaya

Sinetron Kita: Kritikan dan Ekstasi

Ada yang ramai ketika dunia perfilman di Indonesia, dikerucutkan lagi, khususnya dunia sinetron dengan beberapa tema religi menghiasi layar kaca semua masyarakat. Lekas ketika semua itu berjalan, menghiasi setiap waktu istirahat, maka beberapa orang akan mendapat perasaan yang berbeda tentang sinetron itu.

Ada yang menemukan suatu kesenangan tiada tara dengan menonton film tersebut tapi banyak pula yang senantiasa membicarakan satu sisi lain dari banyaknya sinetron yang bertemakan religi di Indonesia saat ini. Kedua sisi tersebut merupakan suatu hal yang pasti apabila satu wujud adiluhung menjelma dalam bingkai media apapun itu.

Lantas beberapa opini pun mulai terkuak. Ada yang berbicara “Ambil saja sisi negatif dari semua yang ada”, “Dengan adanya acara ini semoga kita mendapatkan hikmahnya”, dan lain-lain. Namun disisi lain, disamping respon positif masyarakat terhadap sinetron tersebut, banyak pula yang mengatakan bahwa sinetron ini “Jauh dari substansi kebenaran aslinya”, “Merendahkan ajaran agama yang dipertontonkan”, dan lain sebagainya.

Pro dan kontra dalam dunia media itu adalah hal yang biasa kita temukan. Untuk masalah ini khususnya, kita bisa menarik ulang kembali bagaimana ketika berbagai orang-orang ramai membicarakan tentang ustadz-ustadz yang sering muncul dalam layar kaca, atau ustadz ini dikenal juga dengan sebutan ustadz seleb. Untuk ukuran mereka yang berdakwah pun takan terhindar dari kritikan yang muncul di masyarakat. Apalagi dalam dunia sinetron!

Tidaklah salah apabila negeri seberang, Brunai, dalam suatu ungkapannya, mengatakan bahwa mereka perihatin dengan sinetron-sinetron religi yang ditayangkan di beberapa stasiun televisi Indonesia. 1

Kritikan yang dilontarkan Brunai itu bukanlah tanpa alasan semata melainkan terlahir dari berbagai alasan yang masuk diakal. Saya rasa bila kita percaya terhadap hukum dialektika maka kita akan mengamini bahwasanya apa yang ada didalam media, sebagiannya, sangatlah berpengaruh penting terhadap bagaimana masyarakat melihat sesuatu.

Beberapa sinetron yang pernah saya tonton, misalnya, disatu sisi memang membuat kita bisa tertawa tapi disisi lain, media sebagai agen citra, sinetron tersebut membuat isi dari apa yang sebenarnya seorang, sebut saja, Ustadz, santri, muslimin dsb, itu menjadi tak kentara lemah adanya. Akibatnya bila tak ada kritikan atau sikap kritis yang dibenahi oleh penonton maka nilai-nilai yang ditampilkan dalam sinetron tersebut menjadi tak berimbang.

Sinetron Kita: Dari Religius ke Mistik

Kritikan terhadap dunia sinetron Indonesia tidak hanya bisa dilihat dari sisi religius semata akan tetapi bisa ditemukan juga pada sisi sejarah ke Indonesiaan. Seperti yang dilansir Yahoo.com 2 dalam salah satu berita-beritanya yang selalu heboh, dikatakan bahwa sineas Indonesia, khususnya yang bertemakan kepahlawanan sejarah Indonesia, dinilai sebagai sebuah wujud yang tak harmoni dengan apa yang dirasa benar.

Lebih lanjut sineas tersebut sepertinya dianggap sebagai sebuah proses dekonstruksi hebat terhadap peristiwa sejarah yang mempunyai wujud tak sebanding dengan apa yang ditawarkan visual kontemporer sekarang. Sangat wajar bila salah seorang sejarawan Indonesia, yang secara intens, memperlajari tentang sejarha majapahit & Gajah Mada merasa kecewa dengan apa yang ditampilkan dalam sinetron.

Dikatakan mereka kecewa dengan bagaimana mereka menyimbolkan Gajah mada, yang ada disinetron, dengan gambaran orang yang sangat kuat, sakti mandraguna, dan dibacok kuat. Bila mereka mempunyai pemikiran begitu, saya sangat setuju. Dan saya pula mempunyai perasaan yang, sama, tak kentara apabila melihat cerita yang ditayangkan dalam sinetron Raden Kian Santang.

Disatu sisi memang tak semua yang ada dalam sinetron tersebut salah namun sebagai seorang yang selalu senantiasa menunggu dulu sambil pikiran mampu untuk diterima jiwa, saya merasa haruslah ada satu sikap yang kritis untuk melihat apa yang selalu direksa mata.

Ada beberapa bagian yang selalu membuat saya tertawa sinis bila melihat, tanpa ada satu ekstasi pikiran, sinetron ini. Yang selalu saya soroti, selain penggambaran ajaran Islam, adalah bagaimana citraan seorang ulama yang ada didalam sinetron tersebut. Menghilang dengan sekejap, muncul dengan sekejap ditempat yang mereka inginkan, berdoa sebentar lalu dikasih jalan sekejap dan sebagainya.

Kejadian-kejadian ini sangatlah berbau mistis. Bukan hanya disinetron kian santang saja hal berbau mistis ditemukan melainkan dalam sinetron gajah mada pun bisa kita temukan. Kita tidak bisa mengelak dari rekam sejarah peradaban Indonesia yang sedari dulu dikenal dengan hal-hal yang berbau mistis.

Namun dalam sinetron-sinetron tersebut saya merasa semuanya terlalu dilebih-lebihkan baik visual maupun citraan sosok-sosok baik dan jahat dalam cerita sinetron diatas.

Obscura: Kita Tidak Melihatnya tapi Kita Terbius Olehnya

Terlepas dari beberapa kritikan yang terlontar maka kita tidak bisa mengelak bahwa sinetron hanyalah sebuah sinetron. Bahkan dari awal pihak yang bersangkutan telah mewanti-wanti pemirsa dengan rayuan maut pembuka sinetron. Semisal rayuan maut bahwa sinetron ini adalah fiktif belaka dan bla..bla..bla..

Tapi apakah benar, ketika dalam penayangannya, seorang penonton akan secara sadar melihat bahwa apa yang ditontonnya itu adalah hal yang keterlaluan? Ditengah ekstasi konsumerisme akut yang ditandai dengan sikap ingin menunggu episode selanjutnya. Apakah kita sadar bahwa kita telah, sedikitnya, terjebak dalam satu ruang produksi, sebatas khayalan, namun kita sebagai penonton malah lebih menganggapnya sesuatu yang lebih untuk ditunggu kehadirannya.

Bagi orang dewasa mungkin setidaknya ada respon untuk membantah apa yang ada akan tetapi bagi anak-anak kecil, yang seumuran dengan penggambaran Raden Kiansantang dan Gajah mada, mungkin mereka berdua dianggap sebagai sebuah fantasi yang kemungkinan menyusup pada narasi jiwa mereka mereksa dunia.

Media selain menawarkan kepada kita suatu hal yang hiperealitas, suatu realitas yang dibiaskan realitas visual, ia juga menawarkan kepada kita suatu ekstasi yang tiada terkira. Bila yang memproduksi menginginkan kejar tayang kepada mereka yang menggebu-gebu untuk menunggu. Yang menunggu, meski mereka sadar bahwa, satu adegan yang dipertontonkan tak lain merupakan hal yang serupa itu itu saja, seolah mereka kecewa namun tetap pula ditonton.

Dalam dunia media maka realitas berada pada koridor dekonstruksi hebat. Hal itu bisa berbagai alasan. Namun yang bisa kita tangkap adalah realitas tersebut merupakan realitas keinginan dari empunya sinetron tersebut. Bila sudah begitu memang wajar bila banyak orang yang mengkritik film ini hanya sebatas ingin meraup untung semata , sementara realitas, substansi isi diakektika, sejarah dikesampingkan.

Kesimpulan

Kritikan yang dilayangkan oleh Brunai dan pengamat sejarah berhubungan dengan dunia sinetron kita rasanya memang sangat perlu untuk diperhatikan. Mengingat yang ditampilkan adalah berhubungan dengan suatu dunia yang mempunyai nilai-nilai yang tak semudah dalam cerita.

Ahli sejarawan sangat pantas untuk kecewa karena melihat cara kerja yang berbeda satu sama lain. Bila sejarawan berangkat dari beberapa sumber-sumber dan melanggeng pada sumber lainnya kemudian dipertanyakan kembali, lain hal nya dengan sinetron ia telah menawarkan kesuluruhan realitas berserta hasrat ekstasinya tentang sejarah. Sejarawan berangkat untuk meluruskan sejarah yang sampai sekarang masih harus dicari kebenarannya sedangkan sinetron ternyata telah membuat kecewa mereka.

Generasi kita lah yang hidup dalam kekalutan konsumerisme. Ia berada pada bingkai keinstanan suatu substansi dan terlempar dari realita bingkai cerita yang terjadi. Jangan sampai mereka terhenti untuk memaknai bahwa apa yang ada disinetron tersebut merupakan suatu hal yang pasti.

Not the end

Tinggalkan pesan

Comment

    • Terima kasih mas Anggriyulio.
      Itu maksudnya “Semua = apapun yang ada dalam sinetron-sinetron tersebut” 😀 cuma kutipan atas berbagai opini bantahan mereka-mereka.
      Ia mas Anngriyulio 😀 template ini lebih sederhana dan enak dipandang hi
      Mas gimana drupalnya? Semoga sukses yah..

  1. Memang sangat memprihatinkan Mas, saya sudah bertahun2 yg lalu tidak nonton sinetron, bukan yg berbau sejarah saja, tapi semuanya, kecuali sinetron/film lama (era 70-90an) yg diputar kembali, itu pun tidak seberapa. Sbnrnya, mereka2 jaman skrg ini hanya mengejar materi dan kepopuleran tanpa mempedulikan isi, makna dan pengaruh keringat mereka terhadap khalayak.

    • Ia itu betul sekali Bang Ancis 🙂
      Dizaman sekarang biasanya yang substansi serasa kalah dengan materi. Bukan sejarah saja yang hilang substansinya, agama pun tanpa terkecuali. 🙂
      Makasih atas komentarnya Bang Ancis. Salam.

  2. bener juga, kang..
    kadang sinetron religi lebih bersikap membius penonton dengan trend trendnya..
    saya sendiri yang mempunyai background pesantren sangat prihatin dengan sinetron semacam ini..