in Agama, Jejak Islam, Sejarah

Sihir Rendra, Evie Effendie dan Kita

Ada hubungan apa antara Rendra sang pujangga itu, dengan Pendakwah Evie Effendie? Padahal diantara mereka terpaut tahun yang begitu jauh, di tambah dunia mereka pun bisa di katakan berbeda satu sama lain.

Kalau di pikirkan yah memang tidak ada hubungan langsung di antara mereka, tapi bagi saya kedua sisi tersebut bisa-bisa saja dipertemukan dalam satu konteks. Khususnya berkaitan dengan kasus yang baru-baru ini menimpa pendakwah Evie Effendie. Loh koq Rendra bisa yah diajak-ajak?

Sebelumnya siapa yang tak kenal Rendra. Berparas rupawan berjiwa budayawan yang kiranya sudah dikenal banyak orang, singkatnya beliau adalah legenda. Saya, pribadi menyukai karya beliau, khususnya sajak beliau yang berjudul ‘Sajak seorang tua untuk istrinya’.

Rendra itu seorang penyihir, yang bisa membuat kita terpana pada kata-kata yang ia tulis dan ucap. Ia juga acapkali mencicipi dunia perfilman Indonesia pada tahun 1970an. Salah satu film beliau yang kiranya patut kalian tonton adalah Al-Kautsar.

Rendra: Pembaharu Perangkul Tradisionil

Tahun 70an dunia perfilman Indonesia memasuki masa yang disebut, meminjam istilah Teshome Gabriel, dengan masa combative phase. Ciri dari masa ini ialah banyak munculnya film yang mempunyai tema-tema ideologi, adat, budaya Indonesia. Saat itu film Indonesia banyak di warnai tema ke Indonesiaan baik itu film tentang folklore, perjuangan sampai film keagamaan.

Film keagamaan mempunyai tempat yang istimewa karena sejatinya ideologi ini mempunyai status yang lumayan setelah NASAKOM di resmikan oleh Sukarno dengan berbagai syarat yang salah satunya film keagamaan harus mempunyai ruh elan revolusioner dan Islam yang baharu.

Tak ayal film seperti Tauhid, Titian Rambut, sampai Al kautsar menjadi contoh film Islam yang mempunyai tema film pembaharuan. Di sinilah sihir Rendra mulai mewarnai dunia perfilman Indonesia. Ia dipercaya menjadi seorang aktor utama dalam film Al Kautsar. Saiful, begitulah Rendra dipercaya untuk memerankan aktor ini. Saiful adalah seorang ahli agama dan ahli pertanian yang diutus oleh gurunya untuk mengajar di salah satu desa.

Kedatangan Saiful, dengan celana cutbray, kemeja putih tanpa peci ini, mendapat respon yang berbeda, yah tapi kebanyakan respon yang ia terima adalah respon yang kurang mengenakan.

Beberapa adegan kerap menampilkan cara beragama Saiful yang dianggap melenceng atau kurang serasi dengan Islam setempat diantaranya ketika tragedi Halimah yang hanyut dan ditolong oleh Saiful dengan membuat nafas buatan (Ingat kisah Avicenna yang melakukan operasi bedah, waktu itu ia di anggap telah berdosa tapi akhirnya perbuatannya menjadi hal yang penting) bagi dunia kesehatan saat ini.

Selain tragedi Halimah, Saiful juga bertemu dengan seorang murid dari seorang Guru yang Saiful kagumi. Berlainan dengan Saiful, Sutan (Murid Guru itu) meskipun ia ahli agama tapi ia kerap tak selaras dengan perbuatannya, bahkan kerap digambarkan dalam adegan film tersebut ketika ia menafsirkan ayat berdasar kehendaknya.

Disinilah sihir Rendra mulai bermain tentunya lewat si Saiful, dengan tanpa tendensi nafsu menggebu dan kehendak buas dari jiwa yang kerap salah. Saiful tahu betul untuk melawan Sutan yang kerap salah itu, salah satunya dengan cara mulai merangkul, meski ia selalu mendapat hasutan dari Sutan dan Harun yang brengsek itu.

Sihir Rendra Untuk Kita

Satu dua kali mungkin gagal yang ia dapat tapi kita tahu bahwa batu keras saja bisa hancur oleh tetesan air meski lama. Artinya kesabaran adalah diatas segalanya, permasalahan tidak selalu harus beres bila menuruti emosi yang gagu. Begitu juga yang terjadi dengan Sutan, akhirnya ia pun tersadar juga dengan apa yang Saiful lakukan kepadanya.

Keberagamaan Saiful yang merangkul bahkan ia merangkul saudara seimannya sendiri, menjadi ciri Islam kita yang sampai saat ini masih ada dan itu harusnya menjadi contoh bagi kita. Jalan berliku tak semestinya menjadi titik perpisahan diantara saudara seiman. Pasti selalu ada jalan untuk membuatnya lurus kembali tanpa melahirkan stigma-stigma lain. Yah stigma yang muncul ditengah masyarakat bahwa ini adalah paham ini, ini adalah paham itu dan seterusnya…..

Bagi saya, Saiful yang diperankan Rendra itu menjadi pengingat bagi kita. Bahwa untuk melawan sesuatu yang berlawanan pun kiranya tak usah dengan berlatar kebencian dan dendam. Saiful seolah menawarkan kepada masa saat ini, bahwa cara merangkul adalah jalan utama yang harus ditempuh ketika ada konflik antara golongan satu dengan golongan yang lainnya… pendeknya dengan merangkul setidaknya bisa membuat masyarakat tidak menerima stigma-stigma lain yang kemungkinan menjadi benih konflik selanjutnya…

96 total views, 11 views today

Tinggalkan pesan

Comment