in Agama, Jejak Islam

Serupa Qabil dan Habil: Sebuah Kepastian & Ketabahan

Hari berganti hari nampaknya manusia seakan tiada bisa menjaga amanat besar dari Allah Maha Mulia. Berbagai peristiwa mengerikan macam pembunuhan, pemerkosaan, atau bahkan berperang semakin mudah untuk ditemukan. Yang paling dekat dengan kita sekarang ini adalah ketiga-tiganya semua selalu hadir dalam setiap berita-berita terkini.

Yang namanya manusia semenjak Nabi Adam AS turun memang sudah mempunyai tabiat untuk melanggar ketentuan yang telah ditetapkan namun dengan kecerdasan yang bisa dikembangkannya itu pula manusia bisa keluar dari tabi’at tersebut. Sayangnya, orang yang tak pernah belajar untuk bertobat dan mengendalikan dirinyalah yang pada akhirnya akan selalu dikuasai setan, salam jari tengah untuknya.

Sejarah pertama yang seharusnya menjadi pembelajaran kita dizaman sekarang adalah mengenai peristiwa Qobil yang membunuh saudaranya sendiri yakni Habil. Sekarang banyak kisah serupa Qabil dan Habil yang bisa kita temukan. Seperti itu pula yang termaktub dalam sebuah Hadits:

“Dari Ibnu Mas’ud r.a. bahwasanya Nabi s.a.w. bersabda: “Tiada seorangpun yang dibunuh secara penganiayaan, melainkan atas anak Adam -manusia yang pertama melakukannya itu- mempunyai tanggungan dari darahnya -semua jiwa yang terbunuh secara penganiayaan-, sebab sesungguhnya ia adalah pertama-tama orang yang memulai membuat sunnah membunuh -yang dimaksudkan ialah Qabil putera Nabiyullah Adam a.s. yang membunuh saudaranya yakni Habil.” (Muttafaq ‘alaih).”

Dalam kontek diatas membunuh adalah mungkin sebuah salah satu sifat dasar yang akan selalu mewarnai hidup manusia selama dibumi. Semenjak terciptanya Nabi Adam AS sampai kepada kemunculan makhluk hidup [iblis] pembangkang yang keluar dari aturan Allah menjadi sebuah pionir penting bagaimana semua itu bermula.

Kemunculannya, dengan beberapa ajakan terakhir yang dipinta pada Allah, senantiasa mengiringi hikayat perjalanan manusia selama bumi masih diberi waktu untuk bertengger dengan khalifah2nya. Manusia tentulah harus kuat menghadapi ajakan-ajakan jelek tersebut.

Hikmah Kisah Habil & Qobil

Membunuh adalah sebuah dosa besar bahkan didalam kitab suci Al-Quran disebutkan bahwa ketika seorang manusia membunuh manusia lainnya maka ia sedang membasmi sebuah peradaban yang memanjang.

Tapi yang terjadi sekarang ini adalah membunuh mungkin adalah suatu pemandangan yang sangat biasa ditemukan. Ada seorang istri yang berhasil dipengaruhi oleh selingkuhannya untuk menghabisi suaminya, tak lain hanya untuk hidup bersama. Ada beberapa bayi tak berdosa harus berakhir mengenaskan ditempat-tempat tak layak seperti kardus, tong sampah, sampai selokan/gorong2, tak lain karena berzina yang kebablasan dan aib yang tak ingin diketahui.

Manusia keji yang tega menghabisi nyawanya adalah manusia yang sudah keliru dalam dirinya. Ia tiada bisa mengenali dirinya sendiri sampai-sampai ia tak bisa mencapai ketenangan hati untuk sedikitpun bercengkrama dengan Penciptanya. Alhasil yang begitu akhirnya gelap dalam jiwanya.

Bukan hanya mereka menghabisi nyawa manusia, mereka juga tak sedikitpun sudi untuk mengembalikan manusia itu ditanah asal mulanya. Yang terlintas dalam pikirannya dan jiwanya hanyalah buah kepuasaan bejat dari setan yang merasuki. Sehingga untuk menguburkannya pun ia enggan karena melihat korbannya terkulai lemaspun hatinya riang gembira tiada tara.

Tengoklah kembali kisah bagaimana beberapa ekor burung gagak yang diperintahkan oleh Allah Maha Mulia untuk mengajarkan kepada kita bagaimana memperlakukan seseorang yang meninggal.

Kemudian Allah menyuruh seekor burung gagak menggali-gali di bumi untuk memperlihatkan kepadanya (Kabil) bagaimana dia seharusnya menguburkan mayit saudaranya. Berkata Kabil: “Aduhai celaka aku, mengapa aku tidak mampu berbuat seperti burung gagak ini, lalu aku dapat menguburkan mayit saudaraku ini?” Karena itu jadilah dia seorang di antara orang-orang yang menyesal. 1

Maka begitulah pelajaran terindah yang seharusnya menjadi suatu ketetapan bagi manusia dibumi. Menguburkan seorang manusia yang meninggal ketanah asal mulanya adalah ketentuan yang ada diseluruh dunia, meski sebagian ada yang berbeda.

Jikalau sudah terjadi banyaknya pembunuhan dengan berserta ketidakmampuannya mengembalikan asal mulanya maka yang menjadi pertanyaan adalah jauhkah mereka yang membunuh itu dari Penciptanya? Jawabannya , ia.

Kita berharap bahwa kehidupan ini bukan sebuah gerak menuju kebobrokan melainkan menuju kepada suatu keindahan. Tapi dalam mimpi yang utopis tersebut manusia janganlah sampai lupa bahwa iblis takan pernah diam barang sekejap pun. Malahan ia dengan bombardirnya terur mempengaruhi kita dari sudut yang mereka jangkau.

Memaknai Kembali Hidup

Selama esok hari adalah pasti, dan masa yang lalu adalah berlalu kita masih bisa menghirup udara pagi sampai malam hari. Adalah semua itu berkah pencipta kita, siapa lagi kalau bukan Dia, Allah Maha Mulia.

Mendekatkan diri kepadanya dengan menjalankan apa yang disyariatkan Islam merupakan jalan terindah yang bisa menjauhkan kita dari Iblis yang jahanam itu. Mencoba untuk mengenali diri sendiri lebih dalam dan menyadari bahwa kita tidak apa-apa tanpa pencipta akan selalu menambar jiwa kita untuk selalu bersyukur kepada rezeki dan limpahan yang senantiasa diberikanNya.

Kita pula akan mengetahui bagaimana azab dan dosa akan diberikan apabila aturan-aturan yang telah diperintahkan dilanggar karena keserakahan manusia dan nafsu yang tiada terkontrol. Kisah Habil yang mengetahui betula bahwa dengan tidak melawan saudaranya sendiri maka ia akan mendapatkan keutamaan bisa menjadi pelajaran berharga bagi kita semua.

Terus menerus mendekatkan diri, Insya Allah akan menguatkan jiwa yang kosong kembali mekar, menjernihkan pikiran kita yang kotor kembali suci seputih sutera dan perasaan kita yang bimbang menjadi tenang bak samudera malam hari.

Semoga kehidupan ini selalu diberkahi oleh Allah Maha Mulia, Ia adalah maha menguasai segala daya manusia, Ia adalah pelipur lara bagi jiwa yang sedih.

Referensi:

  1. Al-Maiddah. 31

Tinggalkan pesan

Comment