Sepasang Lilin dan Cahayanya

20080514114739_candlelight
Sepasang lilin berdiri pada ruang dan tempat berbeda namun pada waktu yang sama. Gelap sepi dan tiada yang terlihat dari satupun debu bahkan dinding yang terbentang luas menjulang disekitarnya. Sebelum pada keduanya cahaya nampak, dari rona merah api yang menerangi suasana, ternyata ruangan tersebut luas dan membentang ruang yang membahana.

Keduanya menerangi ruang yang berbeda, namun lekat cahaya yang diberikan tetaplah sang pemilik tuan maha pemberi.
Yang pada saatnya nanti mungkin cahaya tersebut akan serta merta melelehkan dan membinasakan sang lilin, karena cahaya yang diberi tuan nampaknya tak abadi untuk waktu dan ruangan sepi didunia. Oleh karenanya ada suatu waktu sang lilin harus menjaga baik cahaya tersebut, berilah ruang tersebut sekilat cahaya tuk menerangi sekitar. bukankah akan berguna untuk menerangi yang kelam? Tanpanya ruang ini seakan mati dan hampa dengan gelap dan kelam menyempitkan, biarkanlah cahaya itu memudar dengan sendirinya, meleleh kembali pada semula, karena hidup lilin dalam ruang mempunyai kadar batasan.

Yang seperti demikian lebih beruntung dari sang lilin yang tidak mampu menjaga indah cahaya yang diberikan sang tuan, dia padam tak ada cahaya, hanya beku dan mengeras bersama waktu. Dia tak kuat untuk selalu menerangi ruang, dia tak mampu menerangi sekitar, dia dan sekitar suram dan kelam untuk bergerak, dia tak mampu menerangi dirinya untuk kembali padanya, yang dia mampu hanya diam tak berarti. Dan yang lebih menyakitkan dia kemungkinan akan patah karena terjatuh dalam gelapnya.

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *