in Bahasa

Selalu Dekat & Babarengan Yuk: Melihat Slogan Cagub Lebih dekat

Dibeberapa jalan yang tempatnya, bisa dibilang, strategis tidak sedikit kita melihat bagaimana spanduk-spanduk besar dari beberapa bakal calon gubernur menghiasi altar sekitar. Dan bila kita berpergian ke seluruh wilayah dijabar maka anda tak usah khawatir bakal kehilangan spanduk-spanduk yang biasa ditemui diruas jalan yang ramai itu. Kenyataannya spanduk-spanduk cagub itu pun menyebar pula kepelosok-pelosok yang jauh dari perkotaan.

Hal tersebut merupakan pemandangan yang sudah biasa dijumpai ketika suatu wilayah akan menghadapi pemilihan para pemimpin baru. Yah itulah bagian dari bagaimana suatu kampanye berjalan. Sebenarnya apa yang kita jumpai pada spanduk tersebut tidak jauh berbeda dengan iklan-iklan yang suka kita lihat di televisi.

Sedikit ilustrasinya begini orang yang punya niat dan ada barang lalu mereka membuat iklan/spanduk –asal ada uang- untuk membuat masyarakat tahu dan syukur-syukur bisa dipengaruhi oleh apa yang akan ia tawarkan, Hhe.

Wajah-wajah cagub yang biasa kita lihat diruas jalan sampai yang ada didinding batang-batang pohon adalah wajah yang dipromosikan oleh orang-orang yang berada dipihak cagub tersebut. Sekilas apa yang bisa kita terka dari spanduk cagub tersebut adalah perpanjangan dari bagaimana mereka ingin mengajak untuk bersatu membangun …..

Yang kita lihat dari spanduk tersebut bukanlah semata merupakan gambar sahaja melainkan hal tersebut bisa sedikit mempengaruhi bagaimana kita berpikir dan merasa. Representasi adalah bagaimana suatu keadaan bisa dibuat sebegitu indah dan ditampilkan dari altar indah yang terkodefikasi.

Kadang yang muncul dan sering kita lihat di iklan itu menjadi sebuah keharusan bagi pikiran kita yang terpengaruhi. Semisal saja yang cantik itu adalah yang kulitnya bersinar, putih alami, rambut yang lurus merepet, dan mewangi karena minyak wangi. Lah kita ikut-ikutan untuk membelinya dan merasalah kita seperti wanita yang ada di iklan tersebut.

Apalagi kalau spanduk yang terpampang diruas dan batang pohon tersebut adalah pemandangan keseharian kita. Perlu diketahui bahwa ketika suatu spanduk ada maka sudah barang tentu ada suatu penegas yang disematkan padanya. Hal itu bisa kita lihat pada bagaimana mereka menyelipkan kata-kata jitu, manis, yang terlihat pendek namun berdaya ledak tinggi, dan tak lupa gesture para cagub yang sedikit nyentrik atau ketawa sambil tangan mengepal ke atas, sebagai sebuah tanda yang mengatakan “ayoh.”

Kesemua itu bisa kita analisis menggunakan frame berbeda tergantung tujuan yang akan dicapai. Namun yang akan menjadi tulisan ini sedikit terurai kebawah adalah dari bagaimana spanduk-spanduk itu ada dengan kata-kata jitu yang disematkan kepadanya.

Disini saya hanya ingin memilih dua sahaja dulu dari ke 5 pasangan calon gubernur yang akan tampil kemuka kelak. Kedua spanduk tersebut adalah dari pasangan Ahmad Heryawan dan Dedy Mizwar serta Pasangan Dede Yusuf dan Lex Laksamana. Keduannya dipilih atas pertimbangan karena kedua calon yang akan menjadi ketua baru adalah ketua dan wakil hubernur sekarang yang menjabat.

Tentu ada sesuatu yang baru yang kelak akan dikemukakan oleh Dede Yusuf sebagai seorang wakil gubernur sekarang. Bisa jadi itu berupa sebuah keinginan memperbaiki kinerja ketua gubernur sekarang yang menjabat atau mungkin beliau ingin membuat suatu terobosan yang baru. Dengan melacak pada kata-kata (visi atau isi politiknya) yang disuguhkan kepada spanduk-spanduk mungkin akan bisa kita temukan.

Yang muncul pada unsur-unsur spanduk itu adalah bagaimana padangan para cagub dalam berpolitik. Kata-kata yang disuguhkan biasanya sedikit namun memiliki makna yang luas kalau diurai lebih lanjut. Hal itu mungkin sebagai sebuah syarat bagi siapapun yang mencalonkan diri menjadi seorang gubernur. Tak mungkin dan sedikit lucu apabila mereka hanya mengucapkan selamat hari raya atau selamat apapun itu dalam spanduk2. Spanduk biasanya disandingkan dengan sesuatu slogan politis yang mampu mengajak masyarakat dalam tujuannya.

Bisa kita lihat pada contoh slogan ini “Selalu dekat dan melayani” dan “Berkerja sepenuh hati babarengan Yuk.” Kedua slogan diatas adalah slogan yang dipakai oleh pasangan Aher/Dedy dan Dede/Lex. Nampak seperti yang alami dari kedua slogan diatas apabila kita hanya melihat hal tersebut pada konteks bahasa saja.

Mungkin akan menjadi hal yang sedikit tidak biasa apabila kita melihat itu semua dengan menggunakan kacamata lain semisal: semiotika dan bahasa, analisis wacana bahkan sampai pencitraan. Melihat sesuatu pada yang bukan dirinya adalah kerja yang mengasyikan loh hhe. Asal tidak keluar dari ketentuan yang berlaku dan tidak jauh dari apa yang dihubungkan.

Selalu Dekat & Babarengan Yuk: Melihat Slogan Cagub Lebih Dekat adalah sebuah judul yang ingin saya tulis diatas. Karena kedua slogan diatas mempunyai suatu ciri khas tersendiri dan permasalahan yang tak biasa ada diluar dirinya.

Selalu: Dari Yang Telah Untuk Diungkapkan

Slogan yang diusung oleh Aher dan Dedy Mizwar nampaknya adalah yang paling mencolok dari yang diusung oleh pesaingnya, Dede Yusuf dan Lex Laksamana. Hal itu bisa kita lihat pada pemakaian kata “selalu” yang terselip pada slogan utuh Aher/Mizwar.

Sebagaimana kita tahu bahwa bahasa itu adalah bagaimana cara orang berkomunikasi dan menyampaikan pesan. Pada setiap potongan kata dari berapa kalimatnya maka bisa kita maknai pesannya apa. Kata selalu dari slogan diatas adalah bagaimana kita bisa masuk pada makna diluar dirinya.

Kata kunci selalu pada slogan diatas mengidentifikasikan bahwa telah ada kejadian yang telah berlangsung dan untuk lebih meyakinkannya maka kata setelah selalu itulah yang menopang kata selalu menjadi suatu pesan dan makna yang utuh.

Sosok Aher dan Dedy Mizwar seperti yang kita ketahui adalah sosok yang telah dikenal baik diwilayah regional sekitar sampai seluruh Indonesia. Aher adalah gubernur jabar yang telah malang melintang pergi kesana kemari mengunjungi pelosok-pelosok seluruh jawa barat karena mengetahui keadaan masyarakat yang ada di jawa barat adalah suatu prioritas yang harus dikedepankan oleh seorang gubernur.

Kedekatan dan rasa solidaritas beliau terhadap masyarakat itulah yang pada akhirnya membuat pemerintah memberikan suatu penghargaan kepada beliau sebagai seorang gubernur yang paling peduli kaum disibilitas. Tak bisa dipungkiri bahwa kinerja beliau menjabat selama menjadi Gubernur itu menjadi sebuah senjata untuk pemilihan gubernur sekarang.

Sementara sosok Dedy Mizwar adalah seorang artis senior yang disegani dijagat perfilman Indonesia. Dari film yang terkenal “Hikayat Pengembara”. Kiamat sudah dekat sampai film yang selalu ada mengisi hari-hari dibulan ramadhan “Para Pencari Tuhan” telah dibintangi/disutradarai beliau. Dengan antusias tinggi dari para penonton terhadap film-film yang dibintangi/disutradarai beliau maka memang pantaslah ketika spesial award for foreign diberikan untuk film satu ini. Dan diatas adalah sebuah senjata bagi beliau untuk membantu Aher dalam pemilihan kelak.

Selalu dekat dan melayani lebih cocok pada konteks bagaimana seseorang meyakinkan sesuatu yang telah terjadi dan bagaimana cara mengatasinya. Selalu dekat apabila dilihat dari sosok kedua tokoh tersebut memang benar bisa kita lihat pada mereka dan bagaimana kesuksesan mereka dalam ranah masing-masingnya membuktikan bahwa mereka, telah sedikitnya, berhasil untuk mengisi relung rindu dari masyarakat yang membutuhkan.

Babarengan Yuk: Sebuah Jalan Dari Segi Identitas

Slogan yang diusung oleh Dede Yusuf dan Lex Laksamana adalah “Berkerja Sepenuh Hati Babarengan Yuk.” Kalau dilihat secara perkata maka kita akan mendapati sebuah kata campuran yang berasal dari bahasa sunda, yakni babarengan.

Dede Yusuf dan Lex Laksamana tahu betul bahwa dengan menggunakan bahasa ini maka suatu penggugah hati akan bisa menyambangi perasaan orang sunda. “Ah urangmah milih Kang Dedy jeung Lex da katinggalinamah asa nyunda euy.” Sedikit kata bisa mengubah cara orang melihat orang yang menjadi sosok penting.

Bahasa yang ada dalam slogan tersebut adalah syarat akan ajakan untuk warga sunda untuk saling membantu dalam melaksanakan program kerja kedepan. Kedua tokoh ini adalah bukan orang asing di jagad tanah sunda. Kita tahu Dede Yusup adalah wakil gubernur terpilih pada periode sebelumnya sedangkan Lex Laksamana adalah Warga asli yang besar di Bandung.

Dalam kaitannya dengan slogan Aher/Dedy Mizwar Nampak ada kesamaan dari bagaimana mereka mengungkapkannya menjadi sebuah slogan. Hal itu akan Nampak jelas bila dilihat dari bagaimana isi diluar kata tersebut, makna yang terkandung adalah yang sudah dan bagaimana cara mengatasinya.

Berkerja sepenuh hati babarengan yuk nampak tidak jauh berbeda dengan selalu dekat dan melayani karena kedua slogan ini terungkap dari kedua sosok yang memang sedang mengenyam akhiran gubernur [Ketua dan wakil]. Untuk slogan yang diusung Dede/Lex maka yang bisa menjadi point adalah kata “Babarengan Yuk”. Sebuah identitas yang ditempatkan pada bahasa slogan sedikitnya bisa menjadi suatu magnet rasa kewargaan sunda itu sendiri yang suka ngariung ngopi jeung udud babarengan.

Petikan Terakhir Sebelum Tutup

Spanduk dalam hal ihwal pemilihan Gubernur adalah hal yang wajar untuk dilakukan. Menjadi sangat penting karena kenyataannya masih banyak wilayah di jawa barat yang masih jauh dari tekhnologi. Tv adalah salah satu media paling efektif bagi mereka yang ingin mengkampanyekan diri menjadi seorang pemimpin.

Menyadari betul bahwa masih banyak wilayah yang tidak bisa dijangkau tv/internet maka mau tak mau suksesor calon tersebut harus membuat spanduk sebagai alternative perpanjangan tekhnologi tersebut. Untuk mendapat simpati yang baik dari masyarakat maka yang harus pintar adalah mereka yang tahu bagaimana sebaiknya mungkin citraan bisa disematkan pada spanduk tersebut. Sehingga apabila waktunya telah tiba tidak akan susah bila para calon tersebut untuk merangkul mereka secara nyata dan lebih dekat.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment

  1. saya agak kurang suka dengan bertebarannya spanduk2, selain membuat nilai keindahan jalan berkurang, setelah masa kampanye berakhir, biasanya di biarkan begitu saja sampe rubuh sendiri, jadi membuat kesan agak kumuh gitu…

      • Kalau mau bicara dari sisi analisis wacana kritis, penggunaan spanduk dan poster di jalan pun bisa dikaji. 😀

        Terbayang untuk jadikan ini bahan penelitian gak Bang?

          • Insya Allah, kayaknya rencananya ambil american studies UGM Bang.

            Dari kemarin di sms lho, nyampe ndak bang? mau sekalian ngobrol mengenai rencana S2. Mulai dari persiapan sampai rencana di sana gimana.

            Pak Dian dan Pak Hasbi dukung banget ngambil American studies disana.