in Sastra, Sastra Islam

Sekelumit Tentang Sastra Islam

Untuk menjawab pertanyaan diatas mungkin akan membutuhkan penjelasan yang sangat panjang. Saya mempunyai asumsi bahwa untuk mendefinisikan sastra islam maka ada baiknya kita melihat kepada perkembangan kebudayaan islam pada masa silam, sekarang dan kedepannya. Karena pada dasarnya kesusastraan itu lahir dari manusia yang mempunyai jiwa, akal dan pikiran maka hal tersebut akan mempengaruhi corak kejiwaan masyarakat-masyarakat yang tercipta pada suatu kebudayaan, karya, peradaban.

Definisi paling umum mengenai kebudayaan adalah, manifestasi daripada kerja jiwa manusia dalam arti seluas-luasnya. Termasuk didalamnya adalah kesustraan akibat dari pemaknaan seorang manusia terhadap angan-angannya yang ditunjukan lewat puisi, prosa, novel (dewantara).
Sudah barang tentu ketika suatu kebudayaan/peradaban akan sangat mempengaruhi cara berpikir manusia yang hidup pada zamannya, contoh ketika peradaban jahiliyah dengan syair-syair yang memukaunya mampu membuat mereka terkenal dengan para penyair. Akan tetapi pada waktu itu syair-syair yang dilontarkan mereka hanya berisikan tentang wanita, kesenangan sesaat, tidak memperhatikan kehidupan akhirat. Kenapa hal itu terjadi karena pola kehidupan mereka dan cara mereka memaknai hidup, maka tak salah lagi bila dalam surat Asy-Syuara disebutkan bahwa para ‘penyair’ itu sesat dan diikuti oleh orang sesat.

Eits jangan dulu berpendapat bahwa semua penyair itu sesat dan menyesatkan! Namun ada baiknya kita mencari tahu latar belakang/asbabun nujulnya surat Asy-syuara tersesat. Karena kalau kita tidak berbuat demikian maka kita juga secara tidak langsung menyebutkan bahwa sahabat nabi Muhammad yang notabennya ada juga yang penyair itu adalah sesat.

Ada masa Nabi Muhammad menyenangi seorang sahabat yang berpidato dengan bahasa yang indah, dan itu membuat Nabi Muhammad merinding dan begitu takjub pada syair-syair yang menjadi bumbu tapi pada waktu lainnya juga Nabi Muhammad tidak senang dengan para penyair yang hanya bisa melontar kan syair-syair tidak berguna dan sebatas SMS (sastra madzhab selangkangan) baca Hamka.

Namun jauh dari kisah tersebut sekarang ini masalah tersebut muncul kembali ke permukaan, atau malahan hal ini masih akan menjadi bahan perbincangan yang menarik dan berlanjut. Apa yang menjadi masalah adalah dari sebagian orang sekarang ini ada yang berpendapat bahwa para penyair sekarang itu hanya bisa menafsir kata-kata yang bertolak belakang dari syiar Islam. Yah memang bakalan terjadi pro dan kontra. Disatu sisi ada yang mempertahankan statementnya masing-masing dan sebagian lainnya tetap kekeuh.

Oleh karena itu mungkin perlulah dengan diuraikannya dulu mengenai kebudayaan islam yang menjadi cikal bakal lahirnya sastra islam dimasa lalu, sekarang dan akan datang. Karena permasalahan mendasar dari pro dan kontra tersebut terletak pada apa yang melatar belakangi penyair membuat syair dan sebagainya.

Bersambung..

Tinggalkan pesan

Comment

  1. Hari ini kaum Muslimin berada dalam situasi di mana aturan-aturan kafir sedang diterapkan. Maka realitas tanah-tanah Muslim saat ini adalah sebagaimana Rasulullah Saw. di Makkah sebelum Negara Islam didirikan di Madinah. Oleh karena itu, dalam rangka bekerja untuk pendirian Negara Islam, kita perlu mengikuti contoh yang terbangun di dalam Sirah. Dalam memeriksa periode Mekkah, hingga pendirian Negara Islam di Madinah, kita melihat bahwa RasulAllah Saw. melalui beberapa tahap spesifik dan jelas dan mengerjakan beberapa aksi spesifik dalam tahap-tahap itu

  2. Na'am ~_^ bisa dibilang begitu dan memang itulah kenyataannya. Untuk bisa pada tahap-tahap seperti yang diutarakan ada baiknya dipupuk dulu rasa solidaritas yang tinggi antar ummat. Karena dampak yang akan dilahirkan akan begitu luar biasa, insya Allah.

    Karena yang saya lihat sekarang ini kaum muslimin terlihat retak dari kekuatannya.

    Terima kasih sudah berkunjung 🙂