Sejarah Kajian Budaya; Madzhab Frankurt

kajian-budaya

Dalam postingan sebelumnya saya telah sedikit menulis tentang apa itu kajian budaya? Dan kurang lebihnya kita sekarang tahu bahwa definisi budaya yang ada didalam kajian budaya itu berbeda dengan definisi budaya yang sudah didefinisikan dalam ilmu-ilmu kebudayaan (Antropologi) atau ilmu lain yang relevan. Budaya didalam ranah kajian budaya tidak dilihat seperti para peneliti mengkaji kebudayaan kuno, adiluhung, atau kebudayaan yang mempunyai nilai estetis tinggi. Karakter ini kebanyakan dimiliki oleh para antropolog yang lebih menekankan pada masyarakat yang identik dengan kesenaian dan kajian mengenai kebudayaan etnis. Suardi Hasan (2010:22).

Tetapi kebalikan dari semua itu, budaya dalam ranah Kajian budaya dilihat lebih bersifat politis, dalam arti terdapat suatu pergumulan kekinian dan tiada terlepas dari pengaruh kekuasaan. Peralihan ini tidak bisa terlepas dari perkembangan kehidupan manusia dari zaman pramodern, modern sampai postmodern. Cara pandang bagaimana manusia memaknai mereka dan kehidupan sehari-hari lambat laun telah berubah, apalagi dengan perkembangan tekhnologi yang menurut para ahli telah memberikan dampak perubahan penting bagi kehidupan manusia.

Saya lebih memahami kajian budaya dari area sejarah peralihan tersebut karena dalam kritik melingkar yang terjadi ditingkat peralihan itu para pemikirnya tidak lain adalah mereka yang menjadi pencetus kajian budaya. Dari sejarah rentetan peralihan itu setidaknya telah banyak membawa dampak penting bagi dunia filsafat waktu dulu sampai kini. Bagaimana Marx, Hegel mempengaruhi Madzhab Frankurt dalam komodifikasi, fetisisme (Bukan fetis yang porno loh hohoho), bagaimana Gramsci mempengaruhi teori yang dilahirkan Althuser – Hegemoni – bagaimana spivak dengan subalternnya, bagaimana Neitsche dianggap sebagai bibit pertama lahirnya postmodernisme dan sebagainya.

Teori-teori yang saya tulis diatas adalah teori yang ada didalam ranah kajian budaya. Sebetulnya masih banyak teori2 yang juga selalu digunakan dalam kajian budaya akan tetapi itu tadi, saya hanya sebatas tahu bahwa kajian budaya itu juga adalah bagian dari sejarah rentetan peralihan. Oleh karena itu pula kajian budaya adalah ilmu yang multidisipliner.

Sejarah Kajian Budaya

Sejarah lahirnya ilmu kajian budaya tidak akan pernah terlepas dari bagaimana lingkungan/kehidupan pada masa tertentu mempengaruhi teori yang dilahirkan oleh para pemikir-pemikirnya . Seorang pemikir takan pernah jauh dari apa yang ada dekat dengan dirinya sebelum meninggalkan jauh dari apa yang mereka diami sehari-hari. Begitu pula sama seorang sastrawan tidak akan menulis apa yang ia tak kuasai 😀 Sebut saja Madzhab Frankurt, siapa yang tidak kenal medzhab ini dalam ilmu budaya kontemporer? Saya yakin madzhab ini dikenal cukup baik dalam dunia akademik, karena yang dibawa mereka dalam pemikirannya telah menambah suatu khazanah keilmuan yang luar biasa berdampak penting bagi dunia akademik yang sampai sekarang masih relevan.

Madzhab Frankurt ini dikenal namanya karena pemikiran kritisnya terhadap budaya kontemporer, kritik terhadap industri budaya yang dianggapnya telah dinodai/manipulasi oleh campur tangan para penguasa. Pionir dari madzhab ini yang paling terkenal adalah Theodor Adorno, Benjamin, Herbert Marcuse, Habermas, Horkheimer dan lain-lain. Madzhab frankurt didirikan pada tahun 1923 untuk peneilitian sosial. Para pendirinya cenderun para intelektual Yahudi, bangsa Jerman sayap kiri yang berasal dari kelas atas dan menengah masyarakat Jerman. Strinarti (2000:59).

Oleh karena rezim Hitler yang pada waktu itu tidak memihak posisi mereka yang kebanyakan Yahudi, lantaslah mereka pindah ke Amerika, tapatnya di New York (oh aku ingin kesana jow). Kritik mereka tidak terlepas dari kondisi yang terjadi pada waktu itu. Perang dunia berkecamuk dengan memakan korban tak sedikit, akibat dari ulah ciptaan manusia yang disalah gunakan menjadi sebuah pencapaian kekuasaan maka mereka semena-mena dalam menggunakan tekhnologi. Kenyataannya ketika kepindahan mereka dari Jerman ke Amerika tidak membuat kepuasaan yang didamba.

Kontradiksi lain muncul sebagaimana yang kita ketahui dengan istilah kapitalisme. Perkembangan Amerika yang masih ditahap seperti tidak sekarang ini dirasakan pula oleh mereka, Madzhab Frankurt yang berada tidak jauh dari pusat kebudayaan baru yang sedang berkembang dalam basis tekhnologi mengalami langsung bagaimana dinamika penting budaya popular yang sedang berkembang di Amerika. Benar pulalah apa yang diungkapkan Ian Craib dalam bukunya (1986:276) bahwa pemandangan yang suram itu telah berubah kedalam suatu mimpi buruk: dunia sosial menjadi suatu raksasa elektronik yang meamakan anggotanya sendiri, yang memanipulasi dan menyerap setiap perlawanan yang mungkin diberikan.

Madzhab Frankurt dan Kajian Budaya

Kaitan keduanya tidak jauh seperti yang kita kira, melainkan dekat dari seperti yang tidak kita kira. Barangkali mereka seperti pencetus dan pengembang, revolusioner dan next revolusioner. Kritik yang banyak dilontarkan oleh madzhab ini berbasis pada pemikiran Marx menyangkut ekonomi dan kritik kapitalisme. Dan dengan cemerlangnya pemikiran tersebut digunakan para anggota madzhab Frankurt untuk menganalisa fenomena2 sosial yang terjadi pada zamannya mereka hidup, tapi basis utamanya sama yaitu Kapitalisme. Istilah-istilah seperti Konsumerisme budaya, fetisisme budaya, komodifikasi, individualisasis semu, kapitalisme modern, industri budaya dan musik pop akan kita jumpai dalam analisis mereka.

Mereka berusaha melihat suatu kehidupan sosial pada waktu itu dengan menghubungkan produksi dan konsumsi akibat dari sistem kapitalisme yang merugikan masyarakat. Meskipun mereka tidak secara terperinci dalam mendefinisikan ilmu kajian budaya, karena kita tahu bahwa kajian budaya yang sebenarnya baru lahir di Inggris pada tahun 1960an. Namun pembuktian mereka dalam cara berpikir melihat kehidupan sosial manusia dizaman modern telah banyak memberi suatu khazanah keilmuan yang banyak. Dan bukan mustahil mereka juga mempengaruhi para pemikir selanjutnya dalam melihat budaya dan kehidupan sosial dizaman modern.

Yang Saya Tahu Dari Mereka

Yang saya tahu dari mereka adalah cara berpikir mereka yang ingin merubah sesuatu yang suram – akibat dari penyalah artian tekhnologi – yang katanya menggiurkan kehidupan manusia dimasa datang (pencerahan). Madzhab ini termasuk pada kategori pemikir postmodern. Sebagaimana Yasrif Piliang (1999) mengatakan bahwa salah seorang sosok penting dalam perdebatan mengenai peralihan modernisme ke posmodernisme adalah Adorno.

Ciri utamanya adalah yang tadi bahwasanya dalam diri mereka timbul suatu kekecewaan yang terlahir dari sikap manusia yang salah dalam menggunakan pencerahan tersebut. Semangat yang dibawa oleh Madzhab ini adalah ingin menyadarkan bahwa kita jangan senantiasa terbelenggu oleh karena kehadiran sebuah tekhnologi yang begitu canggih.

Sebaliknya mereka lebih bersikap ambiguitas karena mereka mungkin percaya bahwa kehadiran tekhnologi tidak serta merta membawa dampak yang buruk apabila digunakan secara baik-baik dan pada tempatnya.

Yang mereka kritisi habis-habisan adalah sikap manusia serakah yang selalu meracuni lalu menjajah, yang dracuni seolah tak tahu mereka sedang diredupkan dan manusia serakah mendapat keuntungan yang banyak sementara yang teracuni mendapat kesenanangan semu yang hilang bersama dengan waktu.

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *