in Puisi, Sastra Islam

Ruh – Ibnu Sina

Ia (Ruh) turun kepadamu (hai tubuh manusia) dari tempat yang tinggi.
(Bagaikan) merpati enggan dan menghindar.
Terselubung terhadap pelupuk setiap pemandang
Padahal ia yang membuka wajah dan tanpa cadar

Ia menangis bila mengingat janji-janji di alamnya yang luhur
Mencucurkan air mata, deras, tiada henti

Ia pun terus berkicau menangisi puing-puing
Yang telah runtuh oleh kisaran angin dari empat penjuru
Itu karena ia terhalangi oleh jeratan yang kuat dan dibendung
Oleh sangkar, sehingga tak lepas ke angkasa luas

Hingga jika telah mendekat jalan menuju asalnya…
Mendekat pula saat ia berpisah ke angkasa yang luas
Lalu berangkat berpisah dengan semua yang ditinggal
Ditinggal remeh bersama tanah…dan tanpa berpamit
Ketika itu, mendadak dibuka tabir, dan terlihatlah. ..
Apa yang tak terjangkau mata (dan) yang (tak) disentuh kantuk
Ia pun berkicau di atas puncak yang amat tinggi
Begitulah ilmu, meninggikan semua yang belum tinggi
(Mungkin ada yang bertanya, apakah ruh gembira dengan kepulangannya? )

Nah, mengapa ia diturunkan dari tempat yang tinggi?
Menuju kedalaman yang sangat rendah dan hina?
Ia diturunkan Tuhan, untuk suatu hikmah
Yang tidak terjangkau oleh cendekia yang sangat bijak!
Tak pelak lagi, turunnya adalah keniscayaan
Agar menjangkau apa yang belum dijangkaunya
Guna meraih semua rahasia, rahasia kedua alam
Sobekan bajunya tak perlu dijahit
Masa menghadang perjalanannya, kendati demikian,
Ia terbenam, tidak serupa ketika terbitnya
Ia seakan kilat, cemerlang di bentengnya yang tinggi
Lalu redup, menghilang bagai tak pernah berkilau…

Ruh – Ibnu Sina

23 total views, 2 views today

Tinggalkan pesan

Comment