in Sastra, Sejarah

Road To Mecca (Sebuah Pencarian Jalan Leopold Weis)

Pendahuluan

Ketika seseorang mencari jati diri yang sebenarnya, maka yang akan dia cari adalag hal yang benar-benar memuaskan hatinya agar tidak selalu bertanya mengapa?”. Seseorang yang bingung dan tidak tahu arah yang benar akan tetapi dia jenius dalan berbagai hal, akan mencari tahu kenapa dia bisa seperti demikiannya?”. Seperti yang telah dikatakan seorang yang bijak bahwa “Hidup yang tidak dipertanyakn adalah hidup yang tidak layak untuk dijalani, Plato”. Sekilas pendahuluan diatas adalah jabaran dari kata-kata bijak sang maestro Plato, bahwa dalam hidup itu kita harus menyusun berbagai strategi untuk bertahan atau mempertanyakan mengapa hidup itu begini?”. Sebagai contoh adalah seseorang yahudi yang notabennya adalah agama yang sangat bertentangan dengan agama islam, dan menganggap bangsa-bangsa selain yahudi sebagai bangsa kedua setelah bangsa yahudi itu sendiri. Dia adalah Leopold Weiss, seorang yahudiAustria yang merupakan keturunan para rabb yahudi pada waktu itu.

Leopold Weiss pada mulanya agama yahudi, sejak usia dini beliau telah menguasai bahasa Hebrew atau kitab perjanjian lama. Sehingga kita menduga bahwa kelak dia nanti akan menjadi sebagai rabb yang terkenal. Akan tetapi hal itu bertolak belakang dengan realitasnya itu sendiri. Leopold Weiss dalam perjalana hidupnya yang bias dikatakan sebagai pencari hikmah pada akhirnya menjadi cendikiawan dan pemikir islam yang terkenal pada abad 19/20 an. Seorang yang dahulunya yahudi menjadi pemikir islam yang sangat terkenal pada waktu itu. Dan dia juga mengganti namanya menjadi Muhammad Assad.

Lepas dari itu perjalanan beliau yang sarat akan pertanyaan dan ketidakpuasan dalam mencari kebenaran sangatlah panjang, dan bertahun-tahun. Hanya orang yang selalu bertanyalah yang selalu ingin tahu hakikat sebenarnya kebenaran. Seperti yang telah dikatakan oleh plato tadi. Muhammad Assad dalam perjalanannya melahirkan beberapa karya yang sampai sekarang masih ada dan masih terjaga, salah satunya yang terkenal ialah Road to Mecca. Autobiography Muhammad Assad dari sejak pertama dia dewasa dan sampai dia menemukan agama yang bias menenangkan dirinya sendiri. Muhammad Assad memang sudah mati, akan tetapi karyanya tetap abadi tak lekang waktu.

Pembahasan

 Leopold Weiss lahir di Livow daerah yang sekarang kita kenal dengan kota Austria, Leopold Weiss kecil hidup dalam lingkungan yahudi yang sangat kental sekali, bias kita lihat dari silsilah keluarga dia yang mempunyai kakek, paman sebagai rabb yahudi pada waktu itu, terkecuali ayahnya yang terputus kerabbian-nya karena dia berkerja sebagai hakim. Leopold Weiss menguasai bahasa Hebrew, kitab perjanjian lama pada waktu dia berumur belasan tahun, bias kita membayangkan sekecil itu dia sudah menguasai bahasa Hebrew dan kitab perjanjian lama. Sangat pintar sekali.

Suatu hari dia pernah kabur untuk bergabung dengan tentaraAustriasetempat yang sedang perang, pada waktu itu dia masih berumur 14 tahun. Selepas dari sekolah menengah ke atasnya, dia meneruskan kuliahnya di Universitas Vienna yang ada diAustriayang pada akhirnya dia meninggalkan juga dan berganti alih menjadi seorang asisten sutradara film yang ada diBerlin. Dari sanalah awal mula berkembangnya pemikiran Leopold Weiss. Pada tahun 1922 dia menjadi salah satu wartawan dari majlah terkemuka yang ada diBerlinpada waktu itu. Mencari berita dan mencari masalah yang baru adalah pekerjaannya. Dari sanalah berawal ketika dia diajak oleh pamanya untuk pindah ke Israel, pada awalnya dia berat untuk meninggalkan, akan tetapi pihak majalah memberikan otoritas yang lebih baik, karena kinerja dia yang baik pada waktu berkeja di Berlin. Dia diberi tugas untuk mencari berita-berita penting yang sedang terjadi di Timur tengah dan sekitarnya.

lantas yan terjadi dia menemukan perbedaan yang sangat jauh dari kehidupan eropa, perbandingan inilah yang menjadi titik awal dari kehidupan Leopold Weiss selanjutnya, dia penasaran akan keadaan masyarakat yang ada di timur tengah, begitu tersusunnya, aman, tentram dan sebagainya.

Rasa simpati ini secara perlahan-lahan telah menyebabkan timbulnya keinginan saya untuk menyelidiki sbab adanya perbedaan itu, dan saya menjadi tertarik dengan ajaran-ajaran keagamaan orang islam, akan tetapi telah membuka pandangan baru terhadap suatu pemandangan baru mengenai masyarakat kemanusiaan yang progresif dan teratur, dengan mengandung hanya sedikit pertentangan, tapi dengan rasa persaudaraan yang sangat besar dan sungguh-sungguh, walaupun kenyataan hidup orang-orang island sekarang jauh berbeda dengan kemungkinan yang dapat diberikan oleh ajaran islam.

Perkembangan ini tidak terasa oleh saya, sampai pada suatu hari musim gugur tahun 1925 dipegunungan Afghanistan, seorang gubernur yang masih muda berkata kepada saya: “tapi tuan adalah seorang muslim, hanya tuan sendiri yang tidak menyadarinya.” Saya sanga kaget dengan kata-katanya itu dan secara diam-dia saya terus memikirkannya. Sewaktu saya kembali ke eropa pada tahun 1926, satu-satunya konsekwensi logis dari pendirian saya ialah harus memeluk agama islam. Hal itulah yang menyebabkan saya menyatakan keisalaman saya, dan sejak itulah dating bertubi-tubi pertanyaan yang berbunyi: “Mengapa engkau memeluk islam? Apanya yang telah menarik engkau.

Peran penulis sangat berperan penting dalam karya ini, karena dia sendiri yang merasakannya, apa yang dia ketahui akan dia tuliskan pada suatu tulisan. Dalam analisis ini, menekankan pada pentingnya kedudukan pengarang agar dapat memahami karya yang dihasilkannya. Akibatnya, segala informasi mengenai pengarang menjadi sangat penting, sedangkan teks yang dihasilkannya hanya sebagai alat pembenaran saja. Pendekatan ini diilhami oleh karya sastra aliran romantisme dan psychoanalisisnya Freud. Kriterianya, semakin hebat karya itu mengekspresikan ide pengarang, semakin hebat pula nilai sastranya. (Analisis intrinsik memusatkan perhatiannya pada piranti sastra dan hubungan antar piranti tersebut sehingga melahirkan sebuah kesatuan yang unik). Dan tak ayal karya ini sangat berpengaruh sekali dalam keadaan umat islam pada waktu itu, atau untuk keadaan seseorang yang mempunyai keadaan sama dengan Muhammad Assad (mencari kebenaran sejati). Karya ini banyak mempengaruhi zaman sesudahnya. Begitulah kenyataannya.

  • Tema   :Pencarian jati diri Seorang Yahudi yang bermuara akhirnya masuk agama Islam.
  • Amanat: Sudah jelas sekali Muhammad Assad ingin mengembalikan hakikat keadaan orang-orang muslim pada waktu itu, dengan mengembalikan nilai-nilai islam yang dilupakan. Dan dia menhadirkan kembali.
  • Latar: Terjadi di tengah keluarga yahudi diAustria. Memakai sudut pandang saya sebagai actor utama.

Keseimpulan

Telah dipaparkan diatas bagaimana sebuah karya yang tertulis menjadi sebuah saksi akan keadaan seseorang yang menemukan tempat paling terindah sepanjang hidupnya. Berbagai hikmah telah dia dapatkan, dan tentu dengan jal;an yang susah dia tempuh, dari rasa penasarannya, keinginannya. Sehingg tumbuh rasa simpati terhadap ajaran yang dia yakini benar itu.

Semakin pengarang baik menyajikan karyanya maka semakin baik pula orang-orang membacanya atau menerimanya, karena pengarang menyampaikannya dengan penyajian yang benar-benar tersusun rapi.

Balik lagi ke kita sebagai umat muslim tulen dari kecil, apakah kita bias menjadi seorang Muhammad Assad selanjutnya?.

Tinggalkan pesan

Comment