Untitled-1

in Internasional

Review The Oxford History of Islam: John Esposito

PENDAHULUAN

Untitled-1

Cover book

Buku yang berjudul The Oxford History of Islam menceritakan tentang beberapa hal yang berhubungan dengan Islam. Setiap bagiannya, meski tidak berurut, namun memiliki tema yang erat berkelindan.

Ada yang menjelaskan pembahasan sejarah peradaban islam dari awal mula sampai pada kemunculan tentara Mongol yang menjadi babak terakhir dari kerajaan Abbasiyah. Sampai pada hal yang bersifat peradaban yang telah diliharkan oleh agama Islam semisal penerapan Fiqh pada kehidupan nyata dan lain-lain.

Tentu karakter Oxford dalam judul buku tersebut menjadi pewarna dalam buku ini. Pelbagai gambaran visual tentang sisa peradaban Islam barangkali dimunculkan untuk menambah ilustrasi yang bisa dilihat para pembaca.

Hal ini setidaknya berhasil dilakukan Oxford. Barangkali testimonial yang ada dibeberapa situs terpercaya semisal Goodread atau dari situs-situs yang mempunyai domain resmi sebuah institusi pasti membahas kekhasan tersebut.

Buku ini, The Oxford History of Islam, terdiri dari 15 bagian dengan penulis yang berbeda. Para penulis adalah mereka yang disebut John Esposito, ia sekaligus editor buku ini, dalam pengantarnya sebagai kolega.

Esposito lebih lanjut mengatakan bahwa kehadiran buku ini setidaknya diharapkan bisa menjadi pengetahuan dasar bagi kalangan awam. Oleh karena itu bahasa dan pembahasan yang dihadirkannya pun disajikan dengan mudah alias readable style. Berikut saya sertakan kutipan dari Esposito yang ada dalam pengantarnya:

The oxford History of Islam is designed to provide ready access to the history of Islam. Written for the general reader but also appealing to specialists, our goal is to present the best of scholarship in readable style, complemented by a rich use of illustrations.

Selain disajikan dengan begitu mudah barangkali kita pun sedikit mengetahui mengenai eksistensi John Esposito sebagai penulis yang banyak menelurkan karya tentang dunia Islam. Selain buku ini terdapat beberapa buku terjemahan yang saya punya diantaranya Islam sebuah ancaman atau mitos dan lain-lain.

Ia, meski saya tidak meyakini hal ini benar, agaknya seimbang dalam hal pemberian ulasan-ulasannya. Barangkali testimonial yang muncul di Goodread atau di Amazon bisa menjadi wakil dari adanya indikasi bahwa Espostios was balanced. Hal inilah yang kiranya menyebabkan saya untuk sedikit suka membacanya.

BERBAGAI PEMBAHASAN

Judul bagian kesatu dan kedua adalah “Muhammad and the Caliphate” dan “Fruit Three of Knowledge”. Bagian kesatu yang ditulis oleh Fred Donner (Guru besar dalam kajian timur) menjelaskan mengenai perjalanan Islam dilihat dari sejarah awal mula (kelahiran Nabi Muhammad – Semoga Allah Senantiasa menempatkannya dalam keberkahan – ) berdirinya Islam sampai pada kerajaan Abbasiyah yang luluh lantah oleh tentara Mongol.

Bagian pertama ini barangkali lebih mirip dengan pembahasan yang sering dibahas dalam mata kuliah sejarah peradaban islam klasik sampai pada pertengahan. Ia menjelaskan beberapa peralihan dari satu kerajaan/dinasti kepada kerajaan lainnya dan sebagainya. Sejauh yang saya baca, penulis menjelaskan beberapa peristiwa dengan sebagaimana mestinya, ia tidak bertendensi pada hal yang kurang baik dari sisi representasi.

Bagian kedua dari buku ini menjelaskan bagaimana kehadiran Islam disatu sisi tidak hanya bersifat alam akhirat sahaja akan tetapi disisi lain Islam telah berhasil menumbuhkan beberapa buah manis yang kuat berakar pada pondasi keimanan. Bagian ini ditulis oleh Vincent Cornell (guru besar dalam kajian islam).
Hal inilah yang bisa kita mengerti dari sedikit review yang dihadirkan oleh Esposito sendiri:

This chapter discusses faith in Islam. It argues that faith, like speech, is both social and individual. Acts of faith always involve a dialogue either between the worshiper and the object of her worship, or between the actor and his fellows in a religious community. This is why a faith that is not expressed in the context of structured social relationships is no faith at all.

Islam menjelma menjadi sebuah hal yang membumi dibahas dalam bagian ini. Terutama ketika membahas bagaimana rukun Islam dan beberapa sunah lainnya menjadi sebuah rutinitas berkala yang menciptakan beberapan fenomena berbeda dari kalangan muslim seluruh dunia. Selain itu buah manis juga bisa dipetik dari segi hukum, yah manakala penulis membahas perihal syariah.

Bagian ketiga dari buku ini adalah “Law and Society” yang ditulis oleh guru besar dari kajian yurispudensi Islam, Muhammad Hashim Kamali. Pembahasan dalam buku ini barangkali bisa dinisbatkan pada judul itu sendiri.

Bagian ini membahas berbagai aspek hukum Islam yang berhubungan dengan kekhawatiran masyarakat Muslim. Ini dimulai dengan penjelasan dari dua istilah, Syariah dan fiqh, yang sering digunakan secara bergantian, tetapi tidak identik.

Sejarah dan sumber hukum Islam yang dibahas, diikuti dengan review dari kontribusi khas dari sekolah terkemuka hukum untuk pengembangan fiqh. Shariah kemudian ditandai, dimulai dengan diskusi tentang dimensi agama dan moral, diikuti oleh eksplorasi kontinuitas dan perubahan, ruang lingkup interpretasi, dan analisis rasional. Bagian ini diakhiri dengan survei reformasi baru-baru ini di negara-negara Muslim yang berusaha untuk beradaptasi hukum Islam dengan kekhawatiran masyarakat modern.

Hashim kamali mungkin mempunyai tekad untuk membumikan syariah sebagaimana keinginan Quraish Shihab dalam membumikan Al-Quran. Tak syak ada satu buku yang selalu dijadikan pegangan para penelitis hukum syariah yang ditulis oleh Hashim Kamali dengan judul Membumikan Syariah yang diterbitkan Mizan.

Bagian keempat pembahasan beralih pada tema ilmu sains, tehknologi, pengobatan dan beberapa penyebab kemajuan tersebut. Ditulis oleh guru besar dari kajian keislaman, Ahmad Dallal, rasanya bagian ini seperti ketika membahas kemajuan peradaban sejarah islam pada masa klasik sampai kepada stagnasinya.

Pelbagai hal yang melatarbelakangi seperti bentuk kehidupan sosial budaya dibahas oleh Ahmad Dallal untuk menemukan benang kuning yang bisa menghubungkan antara perkembangan dan bagaimana perkembangan itu dibantu oleh kehidupan masyarakat itu sendiri.

Pertama yang dibahas oleh Ahmad Dallal adalah kemajuan umat islam dalam bidang Astronomi. Dalam bagian ini pembaca juga diberi ilustrasi menarik sebagai penguat bahwa pembaca sedang dalam dunia penulis.

Bidang lain yang dibahas adalah mesin-mesin dan tekhnologi serta ilmu pasti atau matematika dan ilmu tentang optik. Pada bagian ini dimunculkan juga beberapa ilustrasi atau manuskrip sejarah asli tentang ilmu tersebut.

Bagian kelima pembahasan beralih pada “Art and Achitecture” yang lahir dalam peradaban Islam. Ditulis oleh pasangan Sheila Blair dan Jonathan Bloom, pembahasan ini menegur kita bahwa Islam bukan hanya menorah tinta tapi menorah jejak terlihat oleh mata.

Memulai tulisannya dengan bertanya apa itu seni islam. Keduanya menjawab bahwa seni islam itu adalah manifestasi dari tauhid. Yah setidaknya hal ini mengingatkan saya pada Ismail Faruqi.

Pembahasan selanjutnya adalah berbagai seni yang berkembang dalam Islam seperti seni menulis. Seni ini menjadi lebih istimewa karena diterapkan pada berbagai benda berharga seperti uang koin kerajaan dan lain halnya yang berhubungan. Anakisme juga dibahas dalam bagian ini namun kesimpulan yang didapat adalah pearaturan tentang anakisme itu berubah seiring waktu.

Seni ukir yang terdapat pada dinding-dinding mesjid, bangunan kerajaan dan dalam tulisan tidak terlepas dari pengamatan penulis ini. Mereka berdua tidak hanya membahas makna dari berbagai liukan ukiran tersebut akan tetapi pada warna pun mereka sangat detail.

Bagian ini penuh dengan ilustrasi yang bagus. Hal ini menjadi kesenangan tersendiri bagi pembaca dalam melihatnya. Setidaknya pembaca tidak hanya jatuh cinta pada kegemilangan buah pena sahaja tapi visual gambar lebih membuatnya jatuh terfana.

Selain itu ada bagian-bagian tertentu dalam buku ini yang bisa dikategorikan kepada dua atau lebih bahagian. Bahagian pertama adalah tulisan yang masih berkaitan dengan sejarah peradaban klasik sampai pertengahan.

Bisa dilihat pada bagian “Islam and Christendom” yang banyak menyinggung tentang pertemua kedua dunia tersebut, khususnya pada perang salib dan kontak lain yang terjadi setelah perang salib. Ada juga bagian yang membahas tentang konsepsi sultan dan studi kawasan Islam di Afrika dan kedatangan Islam di Asia tengah dan China.

Bagian ke sepuluh adalah pembahasan tentang perkembangan pemikiran dalam dunia Islam, yang ditulis oleh Majid Fakhry, guru besar dalam bidang teologi, khususnya ketika filsafat mulai masuk kepada pemikiran. Bagaimana filsafat dipadukan dengan pelbagai pemikiran Islam dibahas dalam bagian ini sampai kepada perbedaan madzhab yang ditimbulkannya.

Pada bagian akhir pembahasan penulis tidak lupa menyertakan dunia filsafat pada saat ini. Pembahasan tersebut terbagi kepada tiga pembahasan penting tentang dunia filsafat modernis, postmodernis dan tradisionalis.

Bagian kesebelas masuk kepada pembahasan Islam yang datang ke dataran Asia. Jelasnya bagian ini membahas perluasan Islam ke Asia Selatan dan Asia Tenggara. Munculnya pola sosial yang khas di Asia Selatan memiliki hubungan erat, meskipun tidak setara, di Asia Tenggara.

Sebelum masuk pada pembahasan utama, penulis menjelaskan tentang situasi sejarah asia pada umumnya sebelum kedatangan Islam. Setelah saat itu Bruce Lawrence membahas juga tentang kedatangan para pedagang dari Arabia, Gujarat dan lain-lain.

Adalah India, Persia, Turki dan bahkan sampai ke Indonesia menjadi pembahasan yang dijelaskan Bruce Lawrence. Dimana secara de jure diantara wilayah yang berbeda tersebut sebenarnya terdapat kaitan yang tidak bisa terlepas akan pengaruhnya.

Khususnya di Asia tenggara maka kedatangan para pedagang kelak akan berubah menjadi menetap oleh karena beberapa hal seperti adanya perkawinan antara masyarakat lokal dengan para pedagang tersebut sehingga Islam diterima oleh penduduk dengan tidak menimbulkan konflik yang keras.

Ilustrasi gambar masih menjadi hal yang ditonjolkan. Berbagai macam sisa peradaban Islam yang masih ada seperti Taj Mahal, Mesjid di Turki dan beberapa kekayaan seni di Persia disajikan untuk menambah khidmat para pembaca.

Bagian keduabelas sampai ke limabelas sejatinya adalah pembahasan para ahli dalam tema dunia Islam “menuju” modern. Tema-tema pembahasan adalah mengenai penyebab imperialisme dan kolonialisme yang dilakukan orang Eropa terhadap Islam, ada juga pembahasan mengenai pembaharuan yang dilakukan dalam tubuh Islam itu sendiri dan sampai pada pembahasan situasi dan kondisi Islam pada zaman sekarang yang dibahas secara tajam setajam tajamnya oleh Esposito.

Kedua pembahasan terakhir yang berjudul “The Globalization of Islam dan Contemporary Islam” adalah membahas situasi umat islam dalam kancah dunia global dan beberapa komunitas muslim yang menjadi minoritas dinegeri barat.

The Globalization of Islam ditulis oleh Yvonne Yazbeck Haddad, seorang guru besar dari kajian keislaman dan hubungannya dengan agama Kristen. Bagian ini mengkaji umat Islam yang menetap di Barat. Tentu saja penulis membahas situasi komunitas Muslim di Barat, bagaimana kebijakan dalam hal keimigrasian diBarat dan juga tantangan yang dihadapi oleh umat Islam yang tinggal di Bara.

Dibahas juga bagaimana kelak mereka, setelah mempunyai komunitas akhirnya, mulai membangun masjid dan mulai mengembangkan organisasi payung Islam, pendidikan Islam, hubungan antar agama, keamanan, kesenjangan budaya, hukum Islam, dan kekuatan politik Islam dan pengaruhnya terhadap negeri yang ditinggali.

Tulisan terakhir yang datang dari John Esposito itu sendiri berbicara tentang dampak dari persentuhan masa lalu tersebut pada dunia modern saat ini. Pada sub pertama John Esposito menekankan kembali warisan kolonialisme dan imperialisme yang masih bisa ditemukan dalam dunia saat ini.

Oleh karenannya dalam tulisan Esposito dapat dibaca mengenai tokoh-tokoh pembaharu Muslim seperti Jamaluddin Afghani, Sayid Ahmad Khan, Muhamamd Iqbal, Muhammad Abduh dan pembaharu lain yang tidak disebut disini. Hal ini barangkali sebagai sebuah respon dari kemunculan imperialism didunia Islam, Esposito pasti mengerti itu.

Pembahasan Esposito mengerucut pada bagaimana kondisi umat islam pada waktu itu melazimkan mereka untuk membentuk suatu isme baru yakni nasionalisme dan pembentukan Negara Bangsa. Selepas setelah pembahasan ini Esposito lanjut membahas tentang dunia politik islam pada periode awal. Pembahasan pertama adalah Negara Irak dan Iran sebagai contoh.

Esposito juga, hal ini bisa dijumpai dengan buku lain yang ditulis Esposito, membahas keadaan dan hubungan Islam dan demokrasi yang berkembang pada masa itu. Meski kedua sistem ini telah banyak menimbulkan konflik akan tetapi Esposito menawarkan kembali pada sub pembahasan selanjutnya dengan judul The Compatibiliy of Islam and Democracy, yang memberikan contoh Abu Ala Al-Maududdi sebagai tokohnya. Terakhir ia membahas tentang kemungkinan-kemungkinan yang akan dihadapi Islam dimasa mendatang dengan berbagai hipotesa yang tak mungkin cukup untuk dituliskan dalam tulisan pendek ini.

KESIMPULAN

Setelah sedikit ulasan diatas maka barulah saatnya kita beroleh kesimpulan sedikit tentang buku yang berjudul The Oxford History of Islam. Buku ini terdiri dari lima belas bagian, yang mana pada setiap bahagian tersebut tema dan penjelasan memiliki kekhasannya tersendiri.

Hal ini kemungkinan terjadi oleh karena oxford itu sendiri yang kebanyakan menerbitkan atau selalu dikaitkan dengan buku-buku ensiklopedia atau kamus yang menyajikan beberapa tulisan yang beragam. Karakteristik lain yang sangat menonjolkan hal tersebut adalah penyajian ilustrasi yang kaya dan kemungkinan berasal dari sumber yang terpercaya.

Menurut hemat penulis ada kemungkinan metodologi yang digunakan dalam berbagai tulisan ini adalah fokus pada narasi, interpretasi, pandangan umum, penggunaan bukti-bukti, dan metode presentasi dari sejarawan lainnya. Meskipun begitu pada beberapa bahagian terdapat bibliografi yang disajikan untuk dijadikan rujukan para ilmuwan untuk mendalami.

Terakhir buku ini hemat penulis tidak mempunyai tendensi keliru yang selalu dilakukan para orientalis masa awal. Hal ini barangkali berangkat dari John Esposito, seorang Italia dari Katolik yang taat, itu sendiri yang dikenal sebagai seorang yang akrab dengan dunia timur, bahkan ada yang mengatakan ia adalah seorang pembela agama islam yang asli. Sebagai editor dalam buku ini tentulah kita kira bahwa ia akan menyaring hal-hal yang keliru sebelum lantas menjadi debu.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment

  1. makasih kak pembahasannya. menolong hesti bgt buat tugas bibliografi. hesti juga mahasiswi uin jurusan sejarah kebudayaan islam.