Rasis & Tidak Rasis DIdalam Karya Mark Twain “Huck FInn”

Mark Twain, seorang sastrawan realism, seorang manusia yang gigih dalam bertahan hidup. Mark Twain lahir pada tanggal 30 November 1835 di kota Florida dan hanya 200 mil dari daerah Indian. Ia adalah anak keenam dari John Marshall dan Jane Lampton Clemens, Mark Twain tinggal di Florida, Missouri sampai usia empat tahun, keluarganya pindah ke Hannibal dengan harapan untuk memperbaiki situasi hidup mereka.

Mark Twain adalah seorang anak yang tumbuh mandiri, dia terkenal nakal pada waktu itu, kenakalan yang paling dikenal dari dia adalah dengan menjadi ketua punkster, sebuah perkumpulan remaja nakal. Dia juga seorang yang prototype. Mungkin secara tidak langsung karakter seorang Mark Twain ini bisa kita bandingkan dengan karakter-karakter yang ada didalam penokohan seorang Tom Sawyer atau bahkan Huck.

Hal yang menyebabkan Twain nakal mungkin adalah lingkungan dimana dia tumbuh, seperti yang tercatat bahwa daerah hanibal adalah lingkungan yang keras, dimana banyak ditemui orang kulit hitam yang menjadi budak-budak menantunya. Bahkan pamannya sendiri adalah seorang menantu yang mempunyai 20 budak dari kulit hitam. Dan disana pula seorang Twain kecil pernah melihat seorang majikan yang membunuh budak (kulit hitam). Lantas mungkin hal inilah yang mungkin menginspirasi dia menorehkan sebagian pengalamannya kepada tulisan-tulisannya kelak.

Mungkin hari ini bukanlah hari dimana seorang penulis terbesar Mark Twain dilahirkan, tapi dalam pikiran muncul rasa ingin mendedikasikan sebuah tulisan untuk memberitahu pada dunia tentang Mark Twain dan karya-karyanya yang monumental. Siapa yang tahu bahwa keberhasilan Mark Twain dalam meraih penghargaan sebagai seorang sastrawan itu digapai dengan susah payah? Mulai dari Mark merasa dikritik habis-habisan oleh para sastrawan sebelumnya, hal ini terjadi ketika salah satu karya pertamanya yang berjudul “Innocent Abroad” dipublikasikan pada khalayak.

Namun seiring berjalannya waktu, ternyata filosofi roda memang berputar memang menimpa dirinya. Tepat ketika karya-karya setelah karya pertamanya dipublikasikan, karya-karya monumental dari Mark Twain muncul dan menjadi karya yang terbaik pada masanya. Diantara karya-karya Mark Twain yang kita kenal sampai sekarang adalah The adventure of Huckleberry fin, The adventure of Tom Sawyer. Saking mendapat tempat didalam hati pembaca maka tidak salah bila akhirnya ketika dia wafat dia dianugerahkan sarjana sastra dan dihormati oleh Yale University di Amerika.

Seperti telah banyak kita ketahui bahwa banyak sarjana-sarjana atau bahkan dosen yang menganalisis karya-karya Mark Twain, misalnya didalam, segi rasisme atau perbudakan. Para peneliti ini mampu mengenali apa yang tengah terjadi pada waktu yang lalu hanya dengan menganalisis sebuah karya sastra.

Dan disitulah letak agungnya karya dari Mark Twain. Seperti yang telah disinggung diatas bahwa Mark Twain adalah seorang sastrawan yang melihat realitas asli sebagai tinta pada pena, sebelum melepaskannya pada kertas-kertas kosong. Ketika seorang yang ingin menganalisis karyanya, rasanya seperti membuka kedok pada masa dimana Mark Twain hidup. Luar biasa!!

Tidak berhenti sampai pembahasan rasisme, banyak pula sarjana-sarjana Amerika yang mendedikasikan pemikiran-pemikirannya terhadap kajian takhayul yang ada didalam novel Huck Finn, ada juga yang menitik beratkan pada kesetiakawanan yang dialami seorang Finn, dan masih banyak lagi yang mungkin mempunyai pemikiran baru mengenai novel Huck Finn.

Hal yang perlu digaris bawahi disini adalah bagaimana pemahaman kaita memahami alam pikir seorang sastrawan realism. Tentu cara berpikir kita akan terbalik dan berangkat balik dari pemikiran-pemikiran structural lingusitik yang menuntun kita untuk selalu memahami teks tanpa konteks. Adakalanya kita perlu melihat sesuatu itu dengan histori konteksnya, karena besar kemungkinannya pengalaman kehidupan menjadi buah karya seseorang. Seorang plato bahkan pernah mengatakan bahwa sastra itu adalah mimetic.

Kita harus senantiasa mampu membuka lembaran-lembaran yang mungkin telah usang, yang biasa disebut sejarah untuk mengurai satu karya sastra realisme. Bukankah tadi sudah saya katakan dan wanti-wanti bahwa seorang sastrawan itu takan pernah luput dari alam pemikiran dan pengalamannya selagi ia hidup di zamannya sampai mati. Karena yang keluar dari mulut mereka itu adalah sebagai symbol kebahasaan yang mereka, alami, pikirkan dan sekarang telah menjelma luas menjadi relaitas sosial.

Sebagai contoh kecil dari pemikiran saya adalah ketika seorang Huck yang menganggap Jim adalah seorang negro yang masih mempercayai alam takhayul. Ketika Huck membangkang bahwa dirinya tidak menyukai dan mempercayai orang yang mati, sebagai reaksi atas cerita Solomon. Bila kita melihat dengan seksama maka apakah takhayul itu betul-betul hal yang seperti itu? Atau adakah suatu makna yang ingin ditunjukan Twain dalam pembentukan symbol di dalam diri Huck? Adakah benar bila saya mengatakan bahwa pembangkangan terhadap takhayul itu ada ketika adegan Tom yang merasa terkekang dengan adanya aturan-aturan. Pada akhirnya malah dengan aturan-aturan tersebut dia lantas menjadi lebih berani melakukan sesuatu yang dilarang?

Contoh lainnya juga mengenai sekitar karya Mark Twain adalah pembahasan tentang rasisme. Jalan hidup Twain memang berada pada zaman yang memungkinkan dia mengenal rasisme dengan baik dan masa kecil ia adalah masa dimana ia dengan sigap melihat sesuatu, yang besar kemungkin akan menjadi pengalaman yang tidak akan terlupakan olehnya. Oleh karena itu dalam karyanya Twain banyak memunculkan tema budak kulit hitam, seperti jim dan sebagainya. Terlepas dari itu pengalaman kehidupan seorang penulis takan bisa dipisahkan dengan pembentukan cerita, alur, setting dan penempatan kata pada karya sastra. Itulah yang saya temukan didalam karya sastra Twain yang berjudul The Adventure of Huck Finn.

Isu yang muncul dalam novel ini memang tidak berhenti sampai disitu, bahkan sampai sekarang para sarjana masih berdebat prihal manakah yang harus kita pilih antara Mark Twain yang pro terhadap rasis atau sebaliknya? Kalau misalnya Mark Twain adalah seorang rasisme mungkin ketika Huck bertemu dengan Jim ditepi sungai, Huck akan melaporkan pada majikannya bahwa Jim seorang yang negro itu ada denganku!!. Tapi pada kenyataannya didalam cerita memang tidak terjadi didalam novel itu. Yang lebih mengagetkan lagi mereka pada akhirnya menjadi teman baik dan berdua bersama-sama melakukan serangkaian perjalanan.

Satu dari beberapa hal yang menjadi kunci anggapan bahwa Huck seorang rasisme mungkin bisa ditemukan dalam panggilan huck terhadap Jim dengan sebutan Negro. Tapi apakah itu memang sebuah rasisme atau hanya sebuah panggilan biasa saja yang sering diucapkan oleh orang amerika selatan? Oleh karena itu kiranya alasan inilah yang mungkin menggugah hati saya untuk menganalisis perbudakan dalam karya Mark Twain yang berjudul The Adventure of Hucklle Berry Finn.

Karya The Adventure of Hucklleberry Finn telah menjadi tonggak dari lahirnya karya sastra-sastra yang lahir setelahnya. Dikatakan bahwa Karya Twain ini adalah bentuk inspirasi pertama dari pengantar sastra modern yang ada di Amerika, dan tidak ada karya-karya lain yang mampu mengalahkan Novel Huck Finn ini menjadikan novel ini sebagai novel terbaik sepanjang masa. Perkataan ini berasal dari seorang sastrawan amerika lain-nya yang terkenal, dan mungkin sudah kita tahu. Dia adalah Ernest Hemmingway. “All modern American literature comes from one book by Mark Twain called Huckleberry Finn. It’s the best book we’ve had. There has been nothing as good since”

Pernyataan yang masih hangat dan mungkin menarik tentang rasisme/perbudakan adalah apa yang diungkapkan oeh John H. Wallace bahwa, “[The Adventures of Huckleberry Finn] is the most grotesque example of racist trash ever written” (The Adventures of Huckleberry Finn adalah model paling fantastis mengenai sampah rasis yang pernah ditulis) [Mark Twain Journal by Thadious Davis, Fall 1984 and Spring 1985]. Salah satu penyebab pernyataan diatas adalah seperti apa yang telah disebutkan di atas bahwa ada beberapa serangkaian alur cerita yang bernuansakan rasisme/perbudakan, dan yang paling sering dibesarkan disini adalah panggilan dengan kata Negro untuk Jim. Seperti yang telah saya kutip dalam novel Huck Finn dibawah ini:

It was fifteen minutes before I could work myself up to go and humble myself to a nigger; but I done it, and I warn’t ever sorry for it afterwards, neither. I didn’t do him no more mean tricks, and I wouldn’t done that one if I’d a knowed it would make him feel that way. (h, 15.49)

Kontroversi di balik novel ini tak lain dari persoalan rasisme. Twain kerap menggunakan kata “nigger” (laki-laki kulit hitam), baik ketika merujuk kepada Jim, seorang budak, maupun ketika membicarakan orang-orang kulit hitam Amerika lain yang ditemuinya. Pemilihan kata ini jelas sebuah perlambang ejekan dan inferioritas. Namun, perlu diketahui bahwa gaya rasisme, perlakuan jahat terhadap warga kulit hitam di Amerika, dan sikap merendahkan mereka adalah tipikal tradisi sebelum Civil War (Perang Saudara) di Amerika.

Rasisme juga disebutkan dalam novel sebagai objek pelajaran natural dan akurasi pandangan aktual sebuah seting. Huckleberry Finn tampil sebagai gambaran kuat sebuah pengalaman lewat mata seorang anak kecil tak berdosa. Huck memperlakukan budaya African-American tersebut sesuai dengan nilai-nilai masyarakat yang membesarkannya. Mengatakan sesuatu yang berbeda sama halnya dengan keluar dari konteks ruang dan zaman di kala itu. Gaya sastra Twain ketika menggambarkan novel, posisi jelas dan sikap kasual Huck, serta penerimaan tak diragukan Jim terhadap penindasan dengan nama apapun jelas-jelas menjustifikasi kebenaran ini.

Gaya sastra Twain sejatinya adalah dialek selatan Amerika yang bercampur dengan dialek lain yang menampilkan berbagai watak daerah Mississippi. Jadi, sebetulnya Twain tidak bermaksud secara terang-terangan menunjukkan inferioritas kulit hitam. Kalau memang ia bermaksud menunjukkan fanitisme rasial, sudah barang tentu ia tak akan menulis simpati Huck terhadap Jim. Secara mudah ini dapat dilhat pada apa yang dilakukan Huck di novel ini yang memperlihatkan kesetaraan Huck dan Jim. Huck mengatakan kepada pembaca, ketika ia mengetahui Jim merindukan keluarga dan anak-anaknya,

“I do believe he cared just as much for his people as white folks does for theirs” (Saya percaya dia (Jim) sangat peduli dengan masyarakatnya sebagaimana masyarakat kulit putih peduli dengan masyarakatnya) [h. 150].

Ketika saya membaca keseluruhan novel ini mungkin kata Nigger/Negro mungkin banyak ditemukan, akan tetapi hal tersebut bisa saja saya tanggalkan karena dalam ceritanya Huck tidak benar-benar melakukan sebuah tindakan rasisme. Seperti apa yang telah saya kutip diatas bahwa Huck mempunyai rasa peduli terhadap Jim. Disini haruslah kita teliti untuk membedakan karakter seorang Mark Twain yang berhasil membuat dua kubu yang berlawanan berseturu untuk mengajukan pertanyaan, apakah saya rasis atau tidak?!!

Disini perlu diketahui ketika konvensi yang berlaku ketika Huck menjadi anak kecil yang selalu tunduk pada peraturan, nyatanya keliru ketika Huck mengikuti kata hati lain yang membawa Huck menjadi seorang yang melindungi Jim.

Kesadaran Huck itu seolah datang dari dalam hati ketika menyadarinya bahwa Jim juga memerlukan suatu kebebasan. Ketika ada peristiwa yang mengharuskan Huck untuk membantu Jim, Huck melakukannya sesuai dengan standar moralnya sendiri. Tindakannya menolong Jim untuk melarikan diri bisa mengundang agitasi moralitas sosial karena bertentangan dengan pandangan masyarakat Selatan di waktu itu. Namun, kecintaannya terhadap Jim mengalahkan standar moralitas itu semua.

“I come to being lost and going to hell…and got to thinking over our trip down the river; and I see Jim before me all the time… But somehow I couldn’t seem to strike no places to harden me against him…how good he always was… I was the best friend old Jim ever had in the world, and the only one he’s got now… I [will] steal Jim out of slavery again; and if I could think up anything worse, I would do that, too…” (Aku akan tersesat dan masuk neraka..dan harus memikirkan perjalanan kita sepanjang sungai; dan aku melihat Jim di depan sepanjang waktu. Aku adalah teman terbaik yang pernah dimiliki Jim di dunia ini, satu-satunya teman baginya sekarang..Aku (akan) kembali mengeluarkan Jim dari perbudakan; bila aku sanggup berpikir tentang hal lain yang lebih buruk, aku akan melakukannya) [h. 206].

Diakhir-akhir cerita mungkin agak sedikit nyeleneh dan banyak mengundang tawa, seorang manusia bertemu dengan pujaannya. Siapa lagi kalau bukan Huck yang bertemu dengan Tom Sawyer. Twain secara metafora memberikan wacana ini mungkin agar ada suatu pertemuan antara yang pandai dan yang licik, dan yang suferior. Hal ini terlihat ketika salah satu adegan yang mungkin paling tidak mengenakan kalau menyimpan makna rasis pada suatu tindakan. Ketika dengan candanya Tom dan Huck menyimpan tikus dan ular ditempat Jim.

Terlepas dari itu sebagai anak kecil, mereka memandang itu sebagai sebuah candaan yang dikemas oleh Twain dengan cerita yang memukau. Tanpa adanya suatu yang mendekonstruksikan pemaknaan awal antara sikap rasis dan tidak rasis yang disuguhkan dalam karya Huck Finn oleh sang maestro Mark Twain. Ia tidak bermaksud bahwa warga kulit hitam lebih rendah dan mendapatkan perlakuan diskriminasi. Sebaliknya, Twain ingin menyuguhkan keluguan dan semangat bermain anak-anak, khususnya ketika menggambarkan Huckleberry sebagai seorang anak sejati.

Huckleberry Finn adalah suatu karya yang benar-benar mengagumkan pada waktu itu, sekarang dan seterusnya. Mengapa? Karena didalamnya syarat fenomena yang selalu menjadi bumbu sosial permasalahan yang ada dimasyarakat sampai sekarang. Rasisme seakan menjadi hantu bagi kaum suferior dulu atau sekarang. Mungkin dalam pandangan Huck kita bisa mengambil kesimpulan yang sangat penting sekali bahwa ketika moral/hati berbicara maka kejujuran pun pasti akan datang dengan sendirinya.

Pandangan Twain seolah pandangan yang tajam dan panjang selama ada inferior dan suferior. Akibatnya akan selalu ada yang namanya rasis. Seperti yang dia katakana bahwa dimana saja, kapan saja, setiap hari akan ada selalu yang namanya rasis.

Tidak heran sampai sekarang masih banyak para sarjana atau bahkan calon sarjana yang mengambil tema Huck Fin sebagai bahan untuk tulisan akhir mereka. Ini menunjukan bahwa karya Twain memang benar-benar karya hebat dan membuat orang terkesima bahkan bisa memunculkan kontroversi. Dari berbagai macam pendekatan yang dilakukan oleh mereka pasti aka nada cerita yang berbeda yang membuat karya itu terus dibicarakan. Mark Twain telah berhasil menggambarkan pemikiran, pengalaman hidupnya kedalam sebuah tulisan yang menjadikannya sebagai seorang penulis ternama. Oleh karena itu dia dipandang sebagai salah satu orang yang banyak menginspirasi para sastrawan setelahnya.

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *