Politik, Korupsi & Masyarakat

“Nations are born in the hearts of poets, they prosper and die in the hands of politicians.” –

Kutipan diatas setidaknya menyiratkan beberapa pesan apabila diterapkan pada kondisi pemerintahan Indonesia saat ini. Melihat bagaimana para politisi yang ketika kemunculannya membawa suatu slogan dengan berjuta makna yang memikat namun seiring dengan waktu hal memikat itu pun memudar dengan sendirinya.

Ditengah hiruk pikuk media yang seakan-akan tak pernah berhenti untuk menyajikan tayangan fantastis terhadap situasi terkini politik Indonesia, kita, sebagai publik, seolah-olah menjadi sebagai sesuatu subjek yang bertempur dalam ruang wacana dan persepsi atas apa yang tersaji. Diruang media dan wacana kita mendapat suatu kejenuhan, kegelian, dan kejengkelan atas prilaku para politisi yang terlibat dalam kasus kotor itu.

Ditambah lagi dengan proses hukum yang nampaknya tidak sesuai dengan kehendak masyarakat, terhadap suatu permasalahan, menambah kepanikan tersendiri yang ujungnya bermuara pada kekecewaan masyarakat terhadap aparat hukum bahkan Presiden.

Bolehlah dikata bahwa hukuman untuk maling uang Negara, koruptor, tak sebanding dengan hukuman bagi mereka yang cuma maling sandal. Hal itu bisa menjadi sebuah contoh bagaimana masyarakat terguncang hatinya untuk bersuara atas apa yang diberitakan oleh media.

Lantaslah kita pun akan mempunyai, setidaknya untuk sekarang, pendapat yang sama dengan kutipan Muhammad Iqbal diatas yang mengatakan bahwa they prosper and die in the hands of politicians. Oleh karena yang muncul di pemberitaan media adalah para politisi yang berangkat dikemudian hari menjadi seorang koruptor maka masyarakat pun cenderung melihat panggung politik sebatas dunia penuh dengan intrik, adu senggol dan taktik.

Ditahun sekarang saja kita sering digemparkan dengan berita-berita korupsi yang melibatkan para politisi, meskipun status hukum belum jelas, semisal prahara kasus hambalang, kasus korupsi impor sapi sampai pada kasus2 diluar politik yang terbilang mainstream atau yang diluar tersebut.

Bila kita terlalu lama bergulat pada lingkaran tersebut tanpa adanya sebuah penetrasi yang bisa menyaring sebuah realitas dalam sebuah media maka dengan sendirinya kita mungkin sedang digiring kepada persepsi yang sempit terhadap dunia politik itu sendiri. Padahal kalau dirunut dan ditarik kembali pada akar pengertiannya, politik itu, mempunyai makna yang sangat luas cakupannya.

Politik, Korupsi & Media: Terperangkap Dalam Fatamorgana

Tak dipungkiri lagi bahwa media massa saat ini menjadi salah satu kunci bagaimana seorang penguasa ingin memperlebar apa yang dicita-citakannya. Yasrif piliang setidaknya menyebutkan ada dua hal yang selalu berhubungan dengan media saat ini, yakni mereka yang berkuasa dalam dunia politik dan mereka yang berkuasa dalam dunia ekonomi.

Keduanya sama menawarkan apa yang mereka harapkan, bila disatu sisi yang berkuasa atas nama ekonomi hanya sebatas memasarkan produk yang ingin mereka tawarkan maka disisi lain yang berdasarkan politik juga ingin mengenalkan visi dan misi yang sesuai dengan apa yang dicitakannya.

Tahun 2013 nampaknya merupakan tahun dimana, meminjam istilahnya Baudrillard, sebagai tahun-tahun yang penuh dengan perang gerliya semiotika. Dimana dalam ruang ini kita dipenuhi oleh berbagai pergolakan tanda, citraan dan perang antar simbol satu dan yang lainnya. Perang disini bukan merupakan suatu perang yang melibatkan fisik, melainkan perang dan memanfaatkan kekuataan citraan semata.

Apakah dengan banyaknya pemberitaan media mengenai terungkapnya kasus korupsi merupakan suatu hubungan yang berkelindan dengan keberangkatan Indonesia menuju pemilu 2014. Ataukah terungkapnya kasus-kasus korupsi ini hanya kebetulan saja terungkap diakhir-akhir periode masa pemerintahan yang sekarang?

Yang pasti korupsi dimata masyarakat telah menjadi momok yang menakutkan sekali. Dengan banyaknya pemberitaan media mengenai maraknya para koruptor yang diadili oleh KPK membuat dunia perpolitikan kita penuh dengan kasus korupsi. Ada dua hal yang bisa muncul dengan adanya pandangan ini. yang pertama pemahaman publik tentang dunia perpolitikan akan menyempit dan yang kedua adalah masyarakat akan bersikap acuh dengan dunia politik, yang sebenarnya mempunyai pengertian luas.

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *