in Filsafat, Sejarah

Pilihan Ideologis Thymos dan Ketakutan Rakyat

Sebagian dari anda mungkin sudah menentukan pilihan untuk calon dan wakil presiden mana yang akan dipilih pada tanggal 9 Juli nanti. Namun ada juga dari sebagian kita yang masih belum, atau mungkin tidak akan pernah memilih, dan menentukan calon tersebut.

Yang belum ini terkadang akan berubah sikap manakala mereka mendapatkan suara kampanye dari pihak yang terkait, baik itu serangan fajar, isu hitam dan bahkan kampanye terlarang. Lebih buruknya lagi bila sikap mereka akan tetap seperti mulanya, acuh terhadap dinamika politik di Indonesia, yaitu menerima apapun kampanye yang didapat tanpa memilih capres dan cawapres.

Itu merupakan hal yang tidak penting. Sekarang yang jadi pertanyaannya adalah bagaimanakah anda menentukan sikap anda, sebagai seorang rakyat, dalam hal menentukan pemilihan pemimpin tersebut? Apakah anda benar-benar menggunakan akal merdeka dalam penentuan itu atau apakah anda termasuk kepada kategori pemilih yang mengekor pada seorang yang anda sukai?

Pertanyaan-pertanyaan diatas dirasa sangat penting karena hal tersebut menyangkut sebuah filosofi dasar bagaimana seharusnya seorang manusia bisa menggunakan akal logisnya dari bayangan-bayangan semu yang membuat kita terhalang dari perbagai pertanyaan yang seharusnya terlontar.

Alih-alih sudah mendapatkan pilihan terbaik untuk capres dan cawapres nanti, namun tanpa disadari pilihannya tersebut hanya berdasarkan kepada pengelakan cara berpikir sendiri dan penerimaan dengan pasrah karena mengikuti seseorang yang kita kagumi. Bukankah kita dilahirkan untuk bertanya dan memilah terlebih dahulu sebelum menentukan sikap bung?

Bahkan yang paling mengerikan dari yang paling mengerikan adalah kita telah menjadi seseorang yang mati, karena pilihan ideologis kita telah teraniaya oleh pilihan semu alias nonreal alias hanya citraan semata, yang mana hal tersebut akan melahirkan kembali pilihan ideologis diatas realitas yang hiper tersebut.

Pilihan Ideologis: Ketika Kita Terlena dan Kapan Seharusnya Kita Bertanya

Apa sebenarnya pilihan ideologis itu dan apa hubungannya dengan pesta demokrasi nanti? Pertanyaan pertama begitu menggoda selanjutnya kita pecahkan pertanyaan ini dengan jawaban yang seirama.

Pilihan ideologis adalah sikap menghormati seseorang terhadap dunia sekitarnya. Motiasi sosial, lingkungan dan cara mereka melihat dunia secara umum menjadi hal yang mutlak dari sikap yang akan dilahirkannya kelak.

Dalam hal pemilihan capres dan cawapres ini, yang menjadi media besar untuk ideologis tersebut adalah kehadiran partai. Karena kelak partai itulah yang akan bersaing, secara politik, dengan partai lain yang boleh dikatakan berbeda pandangan, ideologi, satu sama lain.

Sudah menjadi hal yang mutlak bahwa orang partai haruslah berada pada apa yang mereka yakini searah dan satu reksa untuk kedepannya. Mereka yang telah menjadi bagian pemenang dari kubu yang berseteru tidak akan pernah mungkin mengatakan sesuatu yang jelek meskipun media bertanya tentang suatu yang valid. Hal itu didasarkan pada cita-cita ideologis partai yang sudah tertanam dalam dilubuk hati dan kepentingan mereka.

Kembali kepada pilihan ideologis. Selanjutnya adakah orang-orang tertentu diluar partai yang mengklaim dirinya terkesan pada salah satu capres, sedangkan pada ranah kebenarannya mereka hanya memilih karena berdasarkan pada pilihan ideologisnya tertentu?

Jelas sekali jawabannya adalah ada! mana mungkin tidak dan tidak mungkin tidak. Dalam dunia politik, apalagi ketika sudah berada pada wilayah kenegaraan, hal yang ideologis bukan hanya sebatas cita-cita partai saja, melainkan terdapat pula, didalamnya, keinginan merubah sesuatu yang dinamakan, meminjam istilah Francis Fukuyama, thymos.

Thymos adalah istilah manis yang terdengar elegan tapi mempunyai aura gelap ketika masuk pada ranah substansi yang sebenarnya. Khususnya ketika kita memahami thymos sebagai sebuah hasrat dari beberapa kelompok yang berbeda seakan bertarung untuk menguasai negara.

Bersambung..

Tinggalkan pesan

Comment