in Budaya, Kajian Budaya, Karya-karyaku, Sejarah

Perahu Negeriku: Seberkas Cahaya Dalam Keretakan

Perahu Negeriku: Seberkas Cahaya Dalam Keretakan 1

Bismillaahirrohmaanir rohiim.

Terkait hal ihwal kehidupan bernegara dalam suatu peradaban. Setidaknya saya mempercayai bahwa semua itu berproses layaknya roda yang menggelinding. Satu tempat dalam ruang lingkarnya bisa menempati suatu tempat utama dalam alur sejarahnya, baik itu ketika mencapai kegemilangan kemajuan suatu negara sampai pada pelbagai gejala yang cenderung mengarah kepada kehancuran suatu Negara tersebut.

Tingkat dimana kegemilangan dan kehancuran yang menimpa suatu Negara itu adalah terletak pada bagaimana mereka mengelola, mempererat, memperbaiki serta memelihara berbagai aspek proses yang selalu ada didalam kehidupan bernegara. Diatas semua itu terdapat hal yang sangat penting, yang mungkin bagi sebagian orang dilupakan, tentang suatu hal yang musti kita jaga erat dalam kehidupan bernegara, yakni kesatuan, persatuan, dan solidaritas sosial.

Indonesia yang diseluruh dunia terkenal dengan keanekaragamnya; budaya, suku, bahasa, agama dan lain sebagainya merupakan buah manis dari bagaimana solidaritas itu ditegakan. Dalam hal ini, dinegara Indonesia, Pancasilalah yang mendasari bagaimana perbedaan itu melebur pada hanya tujuan yang satu jua. Bhineka tunggal ika adalah harga mati bagi rakyat Indonesia.

Namun seiring waktu yang berputar sedikit demi sedikit permasalahan pelikpun muncul kepermukaan. Pelbagai masalah yang mengarah kepada radikalisasi Pancasila banyak dijumpai baik secara internal maupun eksternal. Beberapa contoh yang paling sering dijumpai adalah maraknya tawuran pelajar, warga, suku, supporter, bahkan mahasiswa, hal ini setidaknya membuat kita ingin bertanya dan menegur hati nurani untuk mempertanyakan seberapa besar maknanya Pancasila bagi mereka?

Setelah kasus itu maka perhatian yang besar pun tertuju pada masalah korupsi. Saya kira, dan semua orang mungkin tahu, bahwa tahun ini nampaknya seolah menjadi tahun yang hari-harinya selalu diwarnai oleh pemberitaan mengenai koruptor dan korupsi. Dari tingkat tertinggi suatu lembaga sampai kepada lembaga terkecil yang ada dimasyarakat tak luput dari permasalahan pelik negeri ini, korupsi.

Belumlah permasalahan diatas selesai maka diruang yang lain permasalahan baru muncul ke muka, bersamaan dengan rasa yang curiga dan sinis yang mendalam. Masih hangat dalam benak kita tentang peristiwa penembakan TNI di Papua dan penyerangan tempat polisi bernaung oleh beberapa tentara. Akhir-akhir ini muncul kembali kejadian penembakan yang terjadi dilapas di Sleman-Jogjakarta terkait dengan suatu satuan elit negara.

Terlepas dari masalah diatas maka yang paling penting selain siapa dan kenapa bisa terjadi demikian, sebaiknya perhatian harus ditujukan kepada pelbagai gejala yang dicurigai sebagai sebuah tanda memudarnya rasa persatuan kita sebagai sebuah kehidupan yang berbangsa. Memudarnya tingkat solidaritas sosial/kesadaran sosial antara warga satu dengan warga lainnya, suku satu dengan lainnya, bahkan RT satu dengan RT lainnya, dikarenakan berbagai masalah yang beragam mungkin merupakan suatu tandanya.

Untuk membatasi pembahasan yang akan ditulis dalam tulisan ini, saya hanya akan membahas dua masalah yang dirasa masih akan mempunyai perhatian, untuk waktu yang lama, dari pemerintah khususnya dan dari kita umumnya. Adapun masalah yang akan saya utamakan hanyalah efek yang bisa menimbulkan kehancuran dari persatuan sebuah kesatuan yang diakibatkan oleh masalah tersebut.

Ke dua masalah yang saya maksudkan adalah masalah yang terjadi antara hubungan aparat Negara dengan rakyat dan yang kedua adalah khusus tentang pejabat bersama dengan lebel koruptornya.

Kedua-duanya sama yaitu menimbulkan suatu kekecewaan yang mendalam bagi rakyat sebagai tuan yang semestinya harus dilayani. Selain itu kedua masalah tersebut dipandang penulis sebagai masalah yang akut karena meskipun keduanya berada pada konteks yang berbeda tapi yang ditimbulkannya itu adalah mengikis suatu kesatuan, yang dimana kalau tidak ada pembenaran sama sekali maka akan hancurlah kesatuan itu.

[pwal id=”36153282″ description=”Afwan mengganggu. Like salah satu sosial media yang ada dibawah untuk melihat keseluruhan konten tulisan ini”]

Permasalahan Pertama: Yang Berseteru Sedari Dulu Sampai Sekarang

Indonesia yang berdaulat ragam adat, kembali dikejutkan dengan berita penembakan yang diduga pelakunya adalah Goliath Tibuni dan Marubi. Hal itu dikatakan langsung oleh menhukam Djoko Suyanto pada acara konfrensi pers terkait masalah disana.

Sehubungan dengan masalah itu maka terdapat pulalalah pendapat masyarakat terkait dengan masalah penembakan yang terjadi di Puncak Jaya Wijaya. Dari mereka ada yang berpendapat bahwa pemerintah harus mengusut tuntas sampai keakarnya agar tindakan serupa tidak terjadi kembali dan ada juga dari mereka yang berpendapat lebih tidak sepihak daripada yang pertama.

Mereka yang tidak sepihak adalah mereka yang tidak setuju bila kesalahan/konflik yang terjadi di Puncak Jaya Wijaya adalah diakibatkan oleh warganya sendiri. Mereka berbicara bukan tanpa alasan kosong melainkan berisi dan berantai pada waktu yang menderu.

Kita, sejatinya, benar-benar tidak mengetahui dengan pasti permasalahan yang terjadi disana, bahkan untuk akar-akarnya pun kita dirasa sulit untuk menembusnya. Namun yang sebenarnya bisa kita pikirkan adalah kita tidak bisa menerima pernyataan media begitu saja. Karena, sebagian, yang ada pada media tidak mencerminkan suatu realitas yang sebenarnya terjadi dilapangan.

Dalam kasus/konflik ini semestinya kita berada pada ranah yang adil, melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang. Sehingga apa yang nantinya dipikirkan dan tertulis tidak menimbulkan suatu wacana yang tak serasi dan memihak. Karena yang bertikai disana adalah masih saudara kita jua. Lalu timbul perrtanyaan, kenapa lantas mereka bertikai? Apa yang menyebabkan semua itu terjadi?

Kekayaan Indonesia: Sebuah Mutiara Cemerlang Namun Redup Menerangi Pribumi

Bukan merupakan suatu rahasia lagi bagi kita bahwa Irian Jaya adalah salah satu pulau yang kaya dengan sumber daya alam dan mempesona pandang mata. Laut yang meluas dan pasir yang memutih kerap menjadi surga bagi mereka yang bersyukur atas pemberian Allah.

Hutan yang masih memberikan sejuknya, pohon yang meninggi berdampingan seraya hidup dalam dunia damai dengan harmoni menjadi rumah alam bagi penduduk disana. Alamnya yang masih memberikan suatu kehidupan tak bernilai, bagi orang-orang disana, dan bagi kita, adalah benar adanya merupakan suatu mutiara yang gemerlap walau berada

diufuk timur Negara Indonesia. Pun masih banyak kekayaan yang ada di Irian Jaya yang tidak bisa saya sebutkan disini.

Tak pelak dengan status pulau Irian Jaya yang sedari dulu dikenal kaya dengan sumber daya alamnya membuat para investor, atau orang-orang yang mempunyai kepentingan-kepentingan tertentu menjadi terpincut pula untuk menanamkan suatu usaha, modal disana.

Satu contoh perusahaan besar yang sekarang masih bertengger disana adalah Freeport. Apabila mendengar nama ini dalam pikiran sudah terbayang benak sebuah mobil kuning besar pembawa pasir, mobil-mobil jeep yang asing didaerah kita sendiri, dan yang paling menonjol dari apa yang bisa kita lihat adalah cekungan besar yang mengerucut dalam kebawah oleh sebab cerukan-cerukan besi pembobol.

Mengenai Freeport barangkali kita semua sudah tahu bagaimana kehadirannya telah membuat pribumi menjadi merasa sesuatu yang dianggap tak wajar. Untuk sejarah yang detailnya munkin kita bisa merujuk pada tulisannya Lisa Leebe yang berjudul JFK, Indonesia, CIA & Freeport Sulphur. 2

Hal ini, meski secara tidak langsung, telah menjadi salah satu pemicu dari kekecewaan orang-orang pribumi terhadap pemerintah terpusat, Indonesia. Dengan kekayaan sumber daya alam Irian Jaya yang melimpah serta sejarah masa lalu yang dipenuhi nostalgia maka perebutan sedikitnya akan selalu menghadirkan suatu gangguan-gangguan baik itu secara nasional bahkan internasional.

Wacana publik yang sering tampil dikemuka adalah bahwa apa yang terjadi sekarang ini tidak jauh berbeda dengan apa yang terjadi dengan masa-masa kolonialisme, Belanda itu. Seperti yang Bung Karno katakan bahwasanya imperialism atau kapitalisme meskipun dibelakangnya ada lebel kuno atau modern tapi keduanya sama saja, tetap tak berubah. 3

Kalimat-kalimat seperti kekayaan kita yang berlimpah itu ternyata dirampok, negeri kita memperkaya negeri lain, dan lain sebagainya menandakan suatu rasa kekecewaan atas sesuatu yang tidak seharusnya pada tempatnya. Esensinya ialah sama bahwa secara sederhana mereka telah dibuat kaya oleh negeri Indonesia.

Oleh karena itu wajar apabila pada situasi dan kondisi yang tiada seimbang itu membuat warga-warga disana menjadi ketakutan: takut bilamana mereka tidak hidup sejahtera dan

lain-lain. Namun, dengan hakikat manusia sebagai makhluk yang mempertahankan diri, ketakutan tak selamanya mereka bisa pendam, ada pada suatu waktu ketakutan tersebutlah yang menjadikan mereka berani untuk bertindak revolusioner, yakni dengan cara lain sebagai media bagaimana mereka ingin mengungkapkan menginginkan kestabilan, sebut saja gerak memisah diri dari republik ini.

Kasus penembakan yang menimpa anggota TNI pada waktu itu merupakan salah satu buntut dimana rasa kekecewaan mereka tengah memuncak. Baik itu kekecewaan terhadap sikap TNI yang mempunyai citra negatif ketika berada disana, ditambah dengan adanya video kekerasan TNI atas warga Papua dan kekecewaan warga Papua terhadap pemerintah Indonesia yang kurang memperhatikan warga lokal ketimbang warga asing dalam masalah kekayaan sumber daya alam (baca:Freeport).

Terlebih, yang paling menakutkan, apabila dalam masalah internal ini terdapat suatu intervensi asing yang mungkin mempunyai niat untuk menyokong gerak keluar ketimbang mengembalikan gerakan-gerakan separatism kedalam NKRI.

Kasus kekerasan di papua dan pemberontakan yang dilakukan beberapa anggota yang ingin memerdekakan diri akan sulit terhindari apabila tidak adanya suatu tindakan cepat, tegas, dan tangkas yang dilakukan pemerintah. Meski saya tidak menafik bahwa banyak hal telah dilakukan oleh pemerintah disatu sisi namun disisi lain terdapat pula bahwa masih terjadi konflik yang berseteru dilapangan.

Untuk itu semestinya pemerintah harus mengutamakan apa arti penting dari makna solidaritas sosial yang bermuara pada kedaulatan rakyat. Seperti yang telah disinggung diatas adalah Pancasila adalah pertaruhan untuk kedaulatan.

Sebagai Negara yang bersemboyankan Bhineka Tunggal Ika maka hal pertama yang harus diperhatikan adalah apa yang diberikan wilayah terpusat haruslah sesuai dengan apa yang dibutuhkan diwilayah, dalam hal ini warga/wilayah papua.

Upaya Memperkuat Solidaritas Sosial: Sebuah Jalan Panjang

Keadilan dan ketahanan nasional adalah kunci bagaimana suatu Negara masih bisa disebut mempunyai keinginan untuk menjaga keutuhan kedaulatannya. Seperti halnya juga Franz Magnis Suseno pernah mengatakan bahwa bisa dikatakan bahwa ketahanan nasional adalah kemampuan suatu bangsa untuk mempertahankan kedaulatannya. 4

Sesuai yang tercantum dalam ketentuan MPR No IV/MPR/1978 yang menyatakan bahwa ketahanan nasional didefinisikan sebagai kemampuan dan ketangguhan suatu Bangsa untuk dapat menjamin kelangsungan hidupnya menuju kejayaan Bangsa dan Negara.

Sebuah Negara itu ibaratnya tubuh seorang manusia. Pada keduanya terdapat hal yang serupa. Ia mempunyai masa tingkat pertumbuhan, perkembangan ke masa kedewasaan, gemilang dalam peradaban, lalu munculah fase-fase ketuaan, kemunduran serta akibat gejala-gejala sosial, sampai masa terakhir matinya manusia dan runtuhnya pada peradaban.

Jika terdapat pada salah satu tubuhnya timbul beberapa penyakit maka mau tidak mau hal tersebut akan berdampak pada stabilitas kerja tubuh manusia keseluruhan. Sebuah Negara adalah sebuah wadah kesatuan dimana manusia berempug seluruhnya dalam naungan satu kesatuan untuk tujuan yang sama.

Oleh karena yang sangat penting dilakukan pemerintah adalah semua rakyat mendapatkan privilese yang sama satu sama lain, karena toh Negara kita bukan Negara yang berbasis feodalisme melainkan berbasiskan Demokrasi rakyat.

Dalam kitabnya yang terkenal Muqoddimah, seorang sosiolog terkemuka asal Maroko, Ibnu Khaldun pernah menuliskan bahwa “Besarnya suatu Negara, luas daerahnya, dan panjang usianya, tergantung kepada besar kekuatan pendukungnya.” 5 Maksud dari kalimat diatas adalah tak jauh jua dari bagian mana, dalam kitabnya, Ibnu Khaldun tengah menjelaskan tentang prihal solidaritas sosial. Oleh karena itu Ibnu Khaldun meneruskan kalimat tadi dengan bahasan “Sebabnya ialah karena suatu kedaulatan tidak dapat didirikan tanpa solidaritas.

Hidup rukun meski berbeda agama, suku, bangsa, budaya atau bahasa adalah merupakan ciri pemersatu yang didasari oleh rasa solidaritas yang tinggi. Indonesia adalah Negara yang sangat cocok sekali, dijadikan contoh, bila disandingkan dengan apa yang digambarkan Ibnu Khaldun. Dengan beranekaragam budaya, suku bangsa, budaya dan agama Negara Indonesia ini bisa menjadi Negara yang kuat maha besarnya.

Tentu apabila hal tersebut sesuai dengan prinsipil yang selalu ada dalam kehidupan hal ihwal kehidupan bernegara. Yakni memperkuat tali persatuan seutuh-utuhnya tanpa membeda-bedakan ras, agama, keturunan bahkan jarak jauh saudara-saudara yang ada diseberang lautan sana. Pancasila, sekali lagi saya katakan, adalah harga mati bagi Indonesia.

Dan kalaupun dalam suatu Negara yang besar luasnya, banyak kekuataan pendukungnya tidak dibarengi dengan prinsip menjaga keutuhan persatuan, niscayalah sedikit demi sedikit kekuatannya itu akan mengerucut. Begitupula yang dikatakan Ibnu Khaldun. Selain memberikan suatu nafas lega, beliau juga menuliskan betapa mengerikannya apabila pada Negara yang luas tersebut tidak ada rasa pemersatu, solidaritas sosial, yang kuat.

Kehancuranpun akan bermuara pada akhirnya. Menurut Ibnu Khaldun, mengenai kelemahannya, suatu kemunduran akan bermula didaerah-daerah pinggir. Pinggir dalam kalimat diatas alangkah baiknya bila kita interpretasikan dalam suatu konteks wilayah Indonesia yang luas, dengan pusatnya di Jakarta. Gerakan separatism yang ada di Aceh, gerakan Papua Merdeka, RMS, dan lain-lain adalah contoh bagaimana hal itu terjadi. Kita tidak mau apa yang menimpa Timor-Timor terulang kembali kepada pulau-pulau lain yang termasuk dalam NKRI.

Permasalahan Kedua: Korupsi (Merdeka Masih Ilusi)

Tanah pertiwi anugerah ilahi, jangan ambil sendiri, tanah pertiwi anugerah ilahi, jangan makan sendiri. 6

Kasus-kasus korupsi, dari kasus yang paling terkenal Century, Hambalang, Kasus Sapi sampai pada kasus korupsi tetekbengek, yang melanda negeri ini satu persatu mulai terkuak. Sangat mencengangkan sekali bila melihat daftar kasus-kasus korupsi yang ada di Indonesia sekarang ini. Seperti yang bisa dilihat di situs korupedia.org, disana memuat kasus korupsi mulai tahun 2000 sampai yang terbaru. 7

Satu kenyang, seribu kelaparan. Seberapa kecil atau besarnya praktik korupsi tetap saja yang menjadi imbas dari segalanya ada pada rakyat dan Negara itu sendiri. Belumlah selesai pemerintah mensejahterakan rakyat-rakyatnya, rakyat malah terpukul melihat problema korupsi yang tengah terjadi di Indonesia.

Oleh karena itu kemerdekaan bagi sebagian orang mungkin masih merupakan sesuatu yang masih ilusi, jauh dari apa yang diharap indah yang hendak didapat. Kita yang dahulu berjuang sepenuh hati untuk mengusir para penjajah, sebagai orang yang menindas

rakyat, sekarang nampaknya tengah berjuang melawan monster dari pihak kita sendiri. Barangkali cerita Frankeinstein seolah menyitir kita.

Suatu waktu Bung Karno, salah satu Bapak Revolusioner Indonesia, pernah mengatakan “Perjuanganku lebih mudah karena melawan panjajah. Tapi perjuangan kalian akan lebih berat, karena melawan saudara sendiri.” Meski itu dulu namun kalimat tersebut mengisyaratkan suatu keniscayaan yang terjadi diwaktu sekarang.

Tempurung gadah-gadah besi, yang dahulu pernah menyatroni tanah air, telah kita tumpas habis-habisan meski bergelimang darah yang tak sedikit limpah ruah. Sampai sang Fadjar pun menyinari bumi pertiwi, maka tersingkaplah tabir cahaya yang selama berabad lamanya pudar oleh kerakusan penjajah. Kita merdeka, terlepas dari tempurung besi yang membuat kita terkoyak. Harapan baru telah muncul seiring dengan cahaya fadjar yang mulai menyingsing negeri ini.

Memang benarlah bahwa kita pernah tidak gentar untuk melawan para penjajah. Meski mereka bersenjatakan gadah besi namun tidak membuat kita terkoyak untuk menyerah. Dengan perasaan yang sama akan nasib dan tujuan hidup kelak maka yang namanya gadah besi itupun dilumat sampai mereka lari terkocar-kacir.

Upaya Mengingat Kembali Sejarah

Tapi kuheran di tengah perjalanan, muncullah ketimpangan.

Seiring dengan waktu, semangat perjuangan nampaknya telah kehilangan pesona. Yang dahulu wanginya semerbak dari Sabang sampai Merauke lambat laun terasa memudar baunya. Kita, disatu sisi, memang terlepas dari penjajah dengan beberapa gadah besi ditangan, tapi disisi lain negeri ini memasuki era baru melawan para koruptor dengan tempurung korupsi yang melekat padanya. Kita merdeka terlepas dari tempurung besi tapi naas kita terkungkung dalam problema korupsi.

Perahu negeriku… langit membentang cakrawala di depan, melambaikan tantangan.

Sebabnya ialah karena pada waktu dulu melawan penjajah adalah era dimana semangat juang, dengan solidaritas dan persatuan, tengah berkobar tinggi, setinggi-tingginya. Dimana semua manusia tengah berjuang untuk satu kepentingan yang sama yaitu memasuki era hidup baru dengan cahaya terang menerangi hidupnya.

Waktu berputar, roda sejarahpun berganti, keinginan dan kehidupan manusia adalah dipengaruhi oleh apa yang telah dan yang tengah didapati dalam realitas sosial yang ada. Rasa solidaritaspun tak bisa dipungkiri adalah terpengaruh dari bagaimana suatu kondisi dimana negeri itu berdiri. Negeri Indonesia telah berdiri. Itu bagus disatu sisi tapi apabila rakyatnya terlupa dengan apa yang telah menjadi pondasi penting suatu perjuangan maka dengan sedih hati kita berdiri pada pondasi yang hampa.

Mengingat sejarah adalah anda memasuki suatu wahana, merenungkannya serta mengimplementasikannya dalam dunia sekarang. Orang yang tak lupa sejarah maka ia akan berpikir beberapa kali untuk melakukan tindak tanduk korupsi. Meskipun pengelakan muncul dengan mengatakan bahwa hal ini bukan merupakan faktor utama mengapa para koruptor bisa berbuat seperti itu.

Tapi dengan mengingat sejarah itu pulalah kita akan terhindarkan dari suatu problema penting yang selalu menjadi masalah diera sekarang. Yakni terhindar dari menjadi seorang Individu atau masyarakat yang sakit.7 Individu yang termakan oleh apa yang dibuatnya, obyektifitas mengalahkan suatu kebesaran subyektif. Singkatnya manusia akan berpikir ulang ketika mendapati dirinya tengah teralienasi oleh apa yang diagungkannya.

Pembacaan sejarah selain memberikan kepada kita sesuatu yang terjadi dimasa lalu, ia juga memberikan kepada kita suatu penawaran psikologis katharsis, perenungan diri. Ruang sejarah adalah cermin agar kita ngaca diri dan malu bilamana sesuatu yang salah, bertentangan pada diri, menemui perenungannya dengan mengetahui sejarah yang telah lalu. Oleh karena itu Bung Karno mewanti-wanti kepada kita dengan pesannya JASMERAH, Jangan pernah melupakan sejarah.

Sepatah Dua Patah kata Sebagai Penutup

Dua hal yang saya singggung disini adalah dua wilayah yang sama-sama bisa meretakan sebuah kesatuan, yang mungkin juga bisa menghancurkan sebuah tatanan Negara. Bila yang pertama datang dari pinggiran dan yang kedua terakhir adalah merusak dan mengoyak dari dalam.

Seperti yang telah dijelaskan diatas bahwasanya gerakan separatism muncul pada area dimana wilayahnya yang tak terjangkau dari pusat. Apalagi ketidakpuasan warga atas

perhatian pemerintah pusat, ditambah adanya ketidakseimbangan dalam konteks pengolahan SDM, banyak menimbulkan kekecewaan warga. Belum lagi ditubuh pemerintahannya pun dipenuhi oleh tindakan Korupsi yang bisa berakibat pada kerugian-kerugian yang tidak sedikit jumlahnya.

Dengan pembahasan diatas, kiranya kita bisa mengambil beberapa hikmah yang dirasa masih sangat diperlukan untuk kehidupan sebuah Negara, dalam kesempatan ini Indonesia. Yang pertama adalah ada baiknya kita tidak mengendurkan tali solidartias sosial, persatuan dan kesatuan kita sebagai bangsa yang berdaulat. Dan yang kedua adalah dengan mengingat kembali sejarah maka kita memasuki sebuah dunia ruang dan waktu perjuangan para pahlawan yang tiada henti, meski darah dan mati pada akhirnya taruhannya.

Bagi bangsa yang besar, baik itu segi geografisnya atau historisnya, persatuan dan kesatuan merupakan hal terpenting untuk menjaga keutuhan. Bilamana dalam satu bagian keutuhannya ada yang terluka maka semua yang dipersatukan akan tercederai. Tidak harus membedakan dari suku mana dia berasal, tidak membedakan agama apa dia, dan tidak membedakan seberapa jauh wilayahnya, yang penting adalah bagaimana caranya agar suatu perhatian dan keadilan ditegakan.

Selain itu bagi bangsa yang besar juga, melupakan sejarah berarti menghapuskan suatu masa dimana kita berdiri dengan tegak seperti sekarang. Bilamana kita hampa sejarah maka terombang ambing dalam berbagai arus adalah suatu keniscayaan yang akan menimpa. Dengan memasuki ruang sejarah seharusnya kita malu dan iri melihat bagaimana para pahlawan berjuang dengan gigihnya melawan penjajah. Jangan sampai perasaan iri dan penyesalan itu timbul ketika saat para koruptor telah terjerat dalam ruang penjara. Semoga Allah Maha Mulia selalu memberi kita suatu hikmah dari semua ini, Amin.[/pwal]

Referensi:

  1. Esai ini diikut sertakan dalam sayembara internasional dari PCIM Rusia Muhammadiyah
  2. Bisa juga diakses di sumber ini http://serbasejarah.wordpress.com/2012/11/23/jfk-indonesia-cia-freeport-sulphur/
  3. Salam, Solichin. 1966. Bung Karno Putera Fadjar, Pertjetakan Negara R.I- Djakarta.
  4. Suseno, M, Franz. Kuasa dan Moral, Jakarta: Gramedia
  5. Khaldun, Ibnu. Muqoddimah – Versi terjemahan, Jakarta: Pustaka Firdaus
  6. Sebuah lagu dari Franky yang berjudul Perahu Retak akan menjadi lagu pendamping dalam pembahasan ini. Lagu tersebut adalah buah cipta reksa manusia yang berkala. Artinya apa yang diutarakan dalam lagu tersebut selalu mendapat tempat, meskipun ruang dan waktu telah berubah.
  7.  Korupedia memuat data-data tentang berita korupsi yang ada di Indonesia 7 Fromm, Erich. Beyond Chains of Illusion: Pertemuan Saya Dengan Marx dan Freud, Yogyakarta: Jendela, 2012.

Tinggalkan pesan

Comment

  1. Sory nih mas sebelumnya.
    Sejujurnya saya baru pertamakali nih mengunjungi blog ini.
    Memang saya artikel kontes itu ada juga yang copas, tapi juga di edit lagi, dan bukan dari blog ini.
    Mungkin saja ada blog lain yang kopy artikel ini mas.
    Kalo boleh tau kata yang mana.. nanti biar saya edit saja.
    Maap nih yaa.. saya bener – bener gak tau mas.

  2. dengan membaca artikel ini,, berasa sekali kesemerawutan negera..

    aamiin..

    saya senyum2 sendiri.. kita harus ngelike kalau kita mau lihat postingan sepenuhnya.. … good,, sangat cerdas..

Webmentions

  • Momen Ngeblog Tahun 2013 | Zakii Aydia May 4, 2013

    […] Perahu Negeriku: Seberkas Cahaya Dalam Keretakan adalah artikel terbaik yang sering dibaca […]