in Kajian Budaya, Sejarah

Pengabdi Setan: Ketidakberdayaan Agama Pada Era Orde Baru

Dekade 80-an dunia perfilman Indonesia, disatu sisi bisa dikatakan telah mengalami perkembangan, namun disisi lain tidak bisa dielakan juga bahwa film pada waktu itu telah menjelma menjadi salah satu media yang bukan menyajikan hiburan semata, melainkan ia telah bertransformasi menjadi sebuah alat yang efektif yang bisa digunakan sebagai sebuah alat perjuangan atau propaganda baik oleh penguasa atau bagi mereka yang mempunyai ideologi tertentu.

Sadar betul akan pentingnya film tersebut maka pada waktu itu selain memproduksi film-film yang sesuai dengan kepentingannya, pihak yang berkuasapun, dalam hal ini yakni pada masa pemerintahan Suharto (Orde Baru) melalui badan sensornya, berusaha untuk mengawal ketat dan mengawasi setiap film yang diproduksi, tak terkecuali dengan film-film yang berlatarbelakang Islam.

Dalam beberapa historiografi sejarah perkembangan Indonesia, hubungan antara Islam sebagai sebuah agama dan Negara, bahkan sampai sekarang masih, menjadi hal yang paling banyak menimbulkan satu perdebatan. Pada masa orde baru pun nampaknya ada satu hasrat tertentu yang berusaha untuk membuat Islam tidak perlu ikut campur dalam urusan kenegaraan. Apalagi dengan adanya rantai sejarah perkembangan Indonesia yang didalamnya pernah berlabuh satu masa ketika Islam “dikatakan” ingin mendirikan sebuah Negara, hah? Tentunya hal tersebut, bagi sebahagian orang, menimbulkan sebuah trauma sampai saat ini.

Natsir Agaknya Benar Atau Apakah Kita Yang Salah

Pada satu waktu Muhamad Natsir, sang maestro sekaligus pujangga besar asli Indonesia, pernah mengutarakan kegusarannya tentang kondisi Islam.

“Islam beribadah, akan dibiarkan, Islam berekonomi, akan diawasi, Islam berpolitik, akan dicabut seakar-akarnya”.

Sebenarnya tiga premis diatas pernah menjadi renungan juga bagi Hartono Mardjono. Bagi dia terdapat fenomena unik selepas tragedi berdarah G30S/PKI. Pertama terdapat satu gairah untuk kembali mengamalkan Islam, baik itu shalat berjamaah di mesjid, mengadakan pengajian-pengajian, peningkatan orang yang naik haji dan lain-lain. Kedua berbarengan dengan gairah yang pertama, penumpasan para eks anggota PKI pun terus berlanjut. Dan yang ketiga ada upaya tertentu dari penguasa untuk mengawasi ketat pergerakan Islam, yang kata Hartono, diwakili oleh Opsus.

Nampak terdapat ketakutan atau phobia terhadap Islam apabila melihat pada penyataan yang telah disebutkan diatas. Hal ini, dalam pandangan tertentu, bisa dikatakan bahwa Islam mungkin menjadi sebuah ancaman manakala berkembang dan masuk pada ranah politik. Oleh karenanya, melalui Opsus, badan sensor atau dari lembaga-lembaga tertentu Islam benar-benar diawasi setiap gerak geriknya, dan salah satunya adalah dari bidang perfilman.

Ahli peneliti tentang film Islam di Indonesia, Khrisna Shen, menyebutkan bahwa tahun 1960-an bisa dikatakan menjadi awal mula kebangkitannya film-film bertema Islam di Indonesia. Masa-masa tersebut masih terdapat gairah dakwah dalam pembuatan film-nya, sebut saja contohnya film yang berjudul Tauhid. Namun merangkak jauh pada peralihan kekuasaan, pada masa pemerintahan Suharto, film-film yang berlatarbelakang Islam mulai dikemasi dengan hal-hal yang luar biasa.

Peran Islam sebagai sebuah agama pembaharuan justru dalam film-film direpresentasikan sebagai sebuah kejumudan, telah berpikir dan masih terlena akan mitos. Makanya film yang ada pada waktu itu adalah film-film yang didalamnya memuat pembaharuan-pembaharuan Islam (Lih. Catatan Eric Sasono). Selain itu yang paling mencengangkan sehubungan dengan Islam dan film di Indonesia adalah adanya jargon “Kyai pengusir Setan”, jargon ini tentu bermula dari film-film Indonesia yang diproduksi pada masa orde baru, khususnya pada film horror dimana nampaknya peran kyai telah berubah menjadi hanya sebagai seorang pengusir setan-setan yang lahir pada masa tersebut.

Dilema Film Sebagai Sebuah Representasi atau Refleksi

Persoalan film sebagai sebuah representasi dari masyarakat atau apakah film itu bermula dari refleksi masyarakat sebenarnya sebuah hubungan sebab akibat. Film di dalamnya pasti memuat/merefleksikan hal-hal atau nilai-nilai yang ada pada masyarakat tertentu. Seperti halnya film-film Amerika yang di Impor ke Hindia Belanda pada tahun 1920-an. Film-film tersebut memuat berbagai kehidupan orang-orang barat yang sering berkelahi satu sama lain, selain itu adanya adegan mesra yang sangat bertolakbelakang dengan kehidupan di Hindia Belanda pada waktu itu. Adanya film-film tersebut memunculkan ketakutan pada pihak Belanda yang menganggap film tersebut bisa membuat image orang barat menjadi buruk. Ketakutan tersebut bisa dibilang sebagai awal mula bagaimana nantinya film dikatakan pula sebagai sebuah media representasi. Artinya film seharusnya tidak hanya dijadikan sebagai sebuah wadah pemindahan refleski realitas masyarakat semata melainkan harus pula dihadirkan dengan kode-kode tertentu, konvensi dan ideologi-ideologi tertentu. (Graeme Turner)

Penulis sendiri, dalam hal ini, sepakat dengan Turner. Film bukan hanya menjadi sebuah refleksi dari masyarakat akan tetapi bisa dikatakan ia telah melampaui masyarakat itu sendiri. Kode-kode yang dihadirkan kembali dalam film kadang berawal dari pesanan-pesanan tertentu, yang tujuannya mungkin untuk mendeskriditkan lawan politik meraka, disini ialah Islam pada khususnya, Karenanya menyadari bahwa film menjadi sebuah media yang efektif untuk mengubah pandangan masyarakat, maka film-film yang dibuat pada masa orde baru tentu harus melalui bidang pengawasan dan sensor yang hadir pada waktu itu.

Dilemma inilah yang bisa kita amati pada perdebatan sengit antara para eks keluarga anggota PKI, yang diwakili oleh Ilham Aidit dan para eks tentara, yang diwakili oleh Kivaln Zein dalam acara ILC pada tanggal 24 September kemarin. Disatu sisi Ilham Aidit mempertanyakan kembali realitas yang ada pada film tersebut. Bagi ia mungkin film G30S/PKI itu penuh dengan bualan atau penuh dengan representasi yang salah kaprah. Namun perlu di ingat kembali hei Ilham Aidit! bahwa melihat sejarah pada film tentu sangat salah kaprah, karena bagaimanapun juga dalam film yang baik memuat sejarah yang buruk (Jerremy Allen).

Sebaliknya meski dikatakan sejarah yang buruk tapi ia hadir dalam sebuah idea-idea yang muncul bukan dari mitos belaka. Ia tak hadir dengan sendirinya diatas bualan-bualan tertentu namun hadir dari sebuah rantai fakta yang mungkin terpatahkan dalam dunia imajiner produser.Itulah yang dipertahankan oleh Kivlan Zein ketika membantah setiap pendapat dari Ilham.

Kembali pada film Islam yang diproduksi pada era orde baru. Bila melihat film berdasar pada madzhab kritis, tentu representasi, kode-kode, konvensi atau ideologi yang dihadirkan pada film akan sedikit terbuka. Meskipun interpretasi yang akan dihasilkan jauh berada pada koridor keinginan para sineas tapi kacamata atau pandangan kita melihat film dari sisi kritis memang mengharuskannya begitu. Katanya orang-orang yang berada pada periode enlightment itu telah mematikan peran Tuhan didunia ini untuk mencapai kesuksesan-kesuksesan?

Mereka melakukannya begitu guna melepaskan diri dari kungkungan mitos atau takhayul yang membuat mereka terbelakang. Begitu pula bila kita melihat sebuah film, interpretasi yang tidak menghadirkan pembuat film disatu sisi bisa membuat film tersebut lebih kaya dan dikenal atau bahkan mungkin dikritik. Adanya pandangan tersebut setidaknya kita mempunyai pendapat bahwa tidak ada film yang baik dan buruk, tidak ada film yang mempunyai nilai dan mempunyai nilai, tidak ada film yang historis sebaliknya ahistoris. Berangkat dari sinilah pula penulis ingin mencoba untuk menghadirkan salah satu film horror yang berjudul pengabdi setan pada ranah kenyataan yang sebenar-benarnya.

Pengabdi Setan: Ketidakberdayaan Agama atas Realitas Masyarakat Saat Ini

Film pengabdi setan sejatinya adalah remake dari film yang sebelumnya telah dibuat pada tahun 1980-an. Sebagai sebuah remake maka jalan cerita serta plotnya tidak akan terlalu melebar dengan film yang aslinya. Film ini menceritakan tentang sebuah keluarga yang dihantui oleh Ibunya seketika ia meninggal. Kembalinya sang ibu mungkin sudah merupakan sebuah perjanjian dengan iblis atau entahlah. Setelah beberapa hari dilacak, anak-anaknya memang menemukan fakta mengejutkan bahwa Ibunya itu termasuk salah satu anggota sekte hitam yang mengerikan.

Kalau melihat sepintas lalu maka film tersebut memang merupakan film yang sangat horror banget. Tapi bila melihat jauh pada ranah kapan, siapa dan pada zaman apa film ini dibuat maka tentu kita membutuhkan kacamata yang lebih tajam untuk melihatnya. John Fiske menawarkan kacamata tersebut dengan tiga arah berlainan. Pertama kita melihatnya melalui realitas dalam film tersebut, kedua melalui representasi dalam film tersebut dan ketiga adalah ideologi yang ada dalam film tersebut. Kedua dari tiga hal diatas agaknya tidak harus diurai dalam tulisan pendek ini. Namun tidak ada salahnya untuk menjelaskan apa yang dimaksud dengan realitas, representasi sebelum hendak masuk pada ranah ideologis.

Realitas sejatinya adalah keseluruhan film itu sendiri mulai dari tokoh, pakaian, lingkungan, keadaan dan lain-lain. Yang ditampilkan dalam film pengabdi setan adalah realitas dari seorang perempuan yang jauh dari agama, ketika jauh dari agama ia dekat dengan keburukan. Realitas lain ialah dalam film pengabdi setan pada tahun 1980-an terdapat anak dari salah satu keluarga tersebut yang suka berfoya-foya. Selain itu cara keluarga lainnya memperlihatkan kiranya mereka jauh dari agama. Sedangkan representasi adalah bagaimana tekhnik kamera menekankan realitas tersebut menjadi semakin terang. Nampaknya ada beberapa scene yang bisa mewakili bagaimana Liberalisme dan peran agama ditunjukan, diantaranya ketika penguburan ibunya, ada adegan dialog yang salah satu pertanyaannya adalah apakah anda shalat? Tidak hanya itu ada juga adegan lain yang diantaranya adalah ketika hal buruk terjadi mereka baru melakukan shalat.

Kedua level tersebut sejatinya membentuk level terakhir yakni pemahaman ideologis dari keseluruhan film diatas. Tentu pada level yang telah disebutkan diatas kita bisa mengambil sebuah kesimpulan bahwa kemungkinan menjangkitnya liberalism dan penekanan agama dalam film ini memang benar adanya. Bahkan Joko Anwar sendiri yang mengatakan bahwa kesimpulan dari adanya film ini adalah “Jangan pernah tinggalkan Agama”.

To be Continued…

Tinggalkan pesan

Comment

  • Related Content by Tag