Pemimpin Menurut Plato

Ini bukan sebuah propaganda ataupun sebagai sebuah luapan kekesalan, ini hanya untuk mengingatkan kembali bagi semua yang menjadi orang khusus/pemimpin. tidak ada niat sama sekali untuk mencela dan tidak ada sama sekali niat untuk menggugat. ini hanya untuk mengingatkan kita pada cermin masa lalu.
Perhelatan sudah berakhir, seseorang pemimpin telah lahir, diharapkan bisa menjadi pemimpin yang bisa menguntungkan semua pihak dan yang bisa diharapkan oleh semua orang. seorang pemimpin itu harus menjadi orang yang bisa memakmurkan rakyat. jangan hanya memakmurkan seorang dan orang-orang terdekat. yah memang begitulah mungkin menjadi seorang pemimpin itu. banyak orang yang mengatakan bahwa menjadi seorang pemimpin itu harus itu, harus ini, harus begitu dan harus begini.
Sekali lagi ini hanya curhatan saja, ini bukan propaganda atau sebuah tulisan yang berdasarkan kebencian. yang ingin aku sampaikan hanya sebuah curahan hati. aku hanya ingin mengingatkan bagi semua pemimpin-pemimpin ataupun calon pemimpin.
Apa yang ingin aku ingatkan adalah sebuah pelajaran yang aku dapatkan dari seorang teman masa lalu, seorang teman yang menjadi inspirasi penting dalam pembelajaranku. sebut saja namanya adalah plato. berbicara pemimpin memang tidak sesederhana yang kita tahu, dalam bukunya republika plato mengingatkan kepada kita bahwa untuk menjadi pemimpin itu harus mempunyai setidaknya 4 elemen penting. yaitu seorang pemimpin itu harus mampu mengendalikan diri, seorang pemimpin itu harus arif, seorang pemimpin itu harus adil dan seorang pemimpin itu harus berani.
Yah itu memang masih bisa kita temukan dalam diri seseorang tetapi sangat jarang sekali yang mempunyai ke empat element itu. karena satu sama lain saling berhubungan dan saling mengisi. seperti dalam Avatar, ada elemen air, udara, api, tanah. menurut teman lamaku ke empat element yang diterangkan diatas itu memang harus ada didalam diri seorang pemimpin, karena kesemua itu berasal dari nafs. dan tidak semua orang yang memiliki unsur-unsur tersebut.
Oleh karena itu teman lamaku menerangkan kembali bahwa ke empat unsur tersebut hanya ada didalam diri seorang filsuf. loh koq hanya ada didalam seorang filsuf saja? teman lamaku lantas menerangkan. Mengapa seorang filsuf? Karena hanya filsuflah yang memenuhi syarat-syarat yang disebut di atas. Di mata Plato, seorang filsuf adalah orang yang memiliki kemampuan untuk mengendalikan diri, sarat dengan keberanian, dan bersikap arif dan bijaksana serta mampu bertindak adil. Sikap-sikap seperti itu membuat dia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang buruk, apa yang harus dilakukan dan apa yang harus dihindari, karena nilai-nilai keutamaan inilah yang dijadikannya sebagai prinsip dalam memimpin. Dengan kemampuan untuk menahan diri seorang filsuf mampu bersikap netral terhadap persoalan-persoalan, dan mampu menjaga jarak dengan materi-materi duniawi seperti harta benda dan kekayaan serta kekuasaan yang ada di hadapannya.
Pertanyaan yang tentunya relevan diajukan, mengapa Plato harus memilih seorang filsuf menjadi pemimpin? Makna apa di balik pemilihan orang yang memiliki kualitas moral seperti itu sebagai penguasa dalam sebuah polis (baca: negara)? Sekurang-kurangnya dua hal yang bisa dikemukakan sebagai jawaban.
Pertama, Plato ingin memperlihatkan bahwa kehidupan bernegara itu adalah juga memiliki kualitas moral, dan bukan justru sarat dengan jargon-jargon kebusukan sebagaimana nantinya dibudayakan oleh Machiavelli. Itu berarti bagi Plato, negara itu juga merupakan sebuah komunitas etikal. Sebagai sebuah komunitas etikal, nilai-nilai moral itu menjadi pilar penting. Dan yang pertama-tama harus memperlihatkan kualitas-kualitas moral itu adalah pemimpin. Karena itu dapat dimaklumi mengapa Plato menganalogkan struktur negara dengan struktur tubuh manusia.
Kedua, di belakang tuntutan ini tersirat pula makna bahwa para pemimpin haruslah mampu menjadi teladan kebaikan dan kebajikan bagi orang-orang yang dipimpinnya. Ia harus mampu menjadi tiruan moral bagi masyarakat. Karena itu
logislah menurut Plato, ketika seorang pemimpin tidak lagi memiliki keutamaan-keutamaan moral di atas, orang tersebut sudah tidak tepat diakui sebagai pemimpin.
Perlu diingat dalam bukunya juga teman lamaku sedikit menerangkan pembagian kelas sosial dalam masyarakat/negara.  kelas filosof (Aqliya’), yaitu suatu kelompok bermoral baik dan berakalcerdas yang memiliki kepiawaian mengolah Negara.Kedua, kelas militer atauprajurit yaitu kelompok yang bertugas melaksanakan pertahanan Negara baik dari musuh internal ataupun eksternal. 
Ketiga,kelas Buruhdisebut dengan warga negara biasa yang harus menyediakan barang dan jasa yang diperlukan bangsa. kembali pada soal kualitas “nafs” juga tidak hanya sebatas kecerdasan akal, dan kebaikan moral, tapi menurut Plato juga pada daya feeling untuk menangkap karya seni. Plato percaya bahwa seni sastra, seni rupa, seni musik, dan seni teater memiliki kekuatan yang sangat besar untuk menempa watak manusia, sebab seni secara formatis bisa mempengaruhi nilai, ide dan emosi. Oleh karena itu seni tersebut memainkan peran yang signifikan dalam mengambil keputusan seorang pemimpin. Maka ketika seoarang dihadapkan kepada ‘soal’ memiliki pengendalian diri, keberanian, kearifan dan keadilan, maka feeling seni juga sebagai syarat yang sangat relefan pada pemimpin, dan agaknya hanya seorang filosoflah yang memiliki sifat seperti ini.
Tidak terlepas dari semua itu banyak relevansi yang bisa kita aplikasikan atas teori dari teman lamaku, sebagai contoh negara kita. dulu seorang presiden adalah seorang pemikir yang handal, teguh, cerdas dan piawai dalam beretorika, dia juga seorang budayawam dan orang yang mengerit seni dan bisa mengapresiasi seni. tak lain adalah seorang sukarno. bisa kita cari bagaimana perjuangan dia memerdekakan Indonesia. sesudah itu pemimpin negara kita berasal dari kelas sosial ke dua menurut plato (militer). kalian bisa mengungkapkan sendiri bagaimana keadaan indonesia saat ini.
Tidak terlepas dari itu aku hanya ingin berpesan dan menyampaikan pesan teman lamaku, bahwa siapapun itu yang mencalonkan diri sebagai seorang pemimpin harus menguasai keempat unsur tersebut. itu pesan teman lamaku. dan pesan dari aku adalah jujurlah ketika jadi pemimpin. jujur pada diri sendiri bahwa pemimpin itu harus bisa mensejahterakan rakyat/anggota semuanya tanpa terkecuali.
waktunya tidur…..hoooaammm

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *