in Budaya

Pemikiran Bung Karno

Namanya harum di mana-mana. Sukarno atau Bung Karno ini, tercatat sebagai satu fragmen dari ‘the Founding Father’-nya Indonesia. Sikap revolusioner, berwibawa, tegas, didukung pula dengan pemikiran yang brilian, menempatkan ia pada posisi penting dalam sejarah pemikir politik Indonesia. Hasilnya, lahir ide besar Nasionalisme Indonesia.

Menurut Bung Karno, seorang Nasionalis sejati adalah orang yang bersedia berbakti dan memperbaiki nasib kaum kecil dari segala kemelaratan serta melindungi rakyat dari penindasan.

Bung Karno sangat anti terhadap kolonialisme dan imperialisme. Penindasan bukan hanya datang dari para kapitalis asing saja, tetapi juga dari para kapitalis bangsa sendiri, dari kesewenang-wenangan kaum borjuis lokal. Hanya nasionalisme yang bersifat Marhaenis-lah yang bisa menjalankan tugas sejarah guna menghilangkan segala borjuisme dan kapitalisme.

Untuk itu, tulisan singkat ini mencoba menguraikan secara epistimologis terbentuknya konsep nasionalisme versi Bung Karno. Marxisme tetap menjadi sumber inspirasi dalam pembentukan konsep nasionalisme tersebut.

Awalnya, pemikiran Bung Karno dipengaruhi ajaran Marxisme. Manuskrip-manuskrip Karl Marx, Friederick Engels, dan Lenin sudah dipahaminya, ketika ia masih tinggal dengan keluarga H.O.S Tjokroaminoto di Surabaya. Masa itu, Soekarno mulai menyelami pikiran tokoh-tokoh besar dunia.

Di antara berbagai pikir besar itu, Soekarno sangat tertarik dengan historis materialisme ala Marxis. Pola analisa Marxis digunakannya untuk perjuangan melawan kolonialisme dan imperialisme.

Baginya, Nasionalisme pada dasarnya mengandung prinsip kemanusiaan, cinta tanah air yang bersendikan pengetahuan serta tidak khauvinisme. Marxisme pun, mengandung prinsip persahabatan dan penyokongan, anti kapitalisme dan imperialisme.

Lebih lanjut, Marhaenisme dikembangkan sebagai alternatif terhadap konsep proletar Karl Marx. Konsep ini lahir ketika Soekarno baru berumur 20 tahun. Pada waktu itu, ia sedang enggan pergi kuliah dan bersepeda memutari Bandung Selatan, dan bertemu dengan seorang petani kecil bernasib malang bernama Marhaen. Sejak itulah, ia menamakan seluruh rakyat Indonesia dengan nama Marhaen.

Sekarang mari kita sejenak renungkan dan pelajari apa yang harus kita maknai dalam hari kemerdekaan kita yang ke 64. apakah kita sudah benar-benar terbebas dari kolonialisme, imperialisme, kapitalisme. jungjunglah tinggi rasa nasionalisme kita untuk menghapuskan ke tiga hal tadi. salam dari aku . merdeka indonesia.

15 total views, 1 views today

Tinggalkan pesan

Comment

  1. Вы хотели бы иметь собственный домашний бизнес и управлять им сидя дома за своим любимым компьютером в домашних тапочках?
    [url=http://klikads.ru/?i=15815]Деньги здесь[/url]

  2. Для продвижния вашего сайта есть хорошая база каталогов ссылок.А так же: Добавь своё объявление и оно автоматически разошлётся на сотни досок. И у Вас будет свой сервис рассылки бесплатных объявлений. Вместе с сервисом рассылки бесплатных объявлений Вы получаете и генератор посещений – отличную приманку для посетителей. Данный сервис можно установить на любом беслатном хостинге. [url=http://www.ffrees.ru]Смотрим здесь[/url]