Para Sahabat Nabi Dimata Ali Bin Abi Thalib

zakii-aydia---sastra

“Saya sudah lihat sendiri akan semua Sahabat Rasulullah SAW. Tidak ada seorang jua dari kamu yang dapat menyamai mereka. Mereka siang hari bergelimang pasir dan debu (dimedan perang), sedang di malam hari banyak berdiri, ruku’ dan sujud (menyembah Allah), silih berganti, tampat kegesitan didahi dan wajah-wajah mereka, seolah-olah mereka berpijak diatas bara bila mereka ingat akan hari pembalasan (akhirat), diantara kedua mata mereka tampak bekas sujud mereka yang lama, bila mereka ingat akan Allah berlinang air mata mereka sampai membasahi baju mereka, mereka condong sebagai condongnya pohon dihembus angin lembut karena takut akan siksa Allah, serta mengharapkan pahala atau ganjaran dari Allah”.

“Manakah kaum yang diseru kepada Islam lalu menerimanya, yang membaca Al-quran lalu berhukum kepadanya, dikerahkan ke medan perang lalu segera meninggalkan anak instri mereka sambi menghunus pedang dari sarungnya, terus menyerbu permukaan bumi bergelombang-gelombang dan bersat-sat, ada yang tewas dan ada yang selamat, tidak gembira karena tetap hidupm dan tidak perlu ditakziyahi bila perut mereka karena banyak berpuasa, layu bibir mereka karena banyak berdoa, pucat muka mereka karena banyak bertanggang (tidak tidur dimalam hari), wajah-wajah mereka penuh dengan tanda-tanda kekhusyu’an”.

“Mereka adalah sahabat-sahabatku yang telah pergi, pantas kita merindukan mereka, dan menggigit jari karena kepergian mereka”. – Ali Bin Abi Thalib –

Para Sahabat Nabi Dimata Ali bin Abi Thalib R.A.

Syahdan, telah banyak saya mendapati suatu ungkapan, puisi atau kesan yang tertulis oleh satu orang manusia terhadap siapa yang disanjungnya. Namun diantara kesemuanya itu saya belum pernah menemukan keindahan tutur kata dan kedalaman makna semenawan ucapan Ali bin Abi Thalib terhadap para sahabat-sahabat Nabi Muhammad SAW.

zakiiaydiaDan sejatinya bila ada seorang manusia yang mampu membuat tutur kata yang begitu menawan dan kedalaman makna yang begitu memukau, tentu ia bukanlah orang yang ada pada dirinya terbentuk secara mendadak. Melainkan ia adalah apa yang direksanya sedari kecil, ia merupakan manifestasi dari wilayah dimana sastra mengalami suatu keharmonisan dan menemukan tempatnya yang menawan, dan bila orang tersebut dengan sangat menawan memaknai katanya maka ia adalah orang yang telah bersahaja menorehkan tinta cintanya kepada seuntai kata yang berjuta makna.

Begitulah yang ada pada ungkapan Ali Bin Abi Thalib R.A. diatas. Ketika suatu kecintaan akan kebersamaan menjelma menjadi kerinduan yang paling jujur maka kata-kata yang diungkapkan pun adalah sebuah kejujuran. Adalah kerinduan Ali bin Abi Thalib terhadap sahabat-sahabatnya – Abu Bakar Assidiq, Umar bin Khattab, dan Utsman – yang tak pernah gentar dalam memperjuangkan agama Islam sebagai agama yang besar.

Apa yang ada pada ungkapan tersebut adalah suatu gambaran yang kurang lebih serupa dengan karakter Umar bin Khattab dalam hal mencintai karya Sastra. Dimana kecintaan yang mereka bentuk bermula dari sejarah panjang kehidupan orang-orang Arab yang pada waktu itu sangat menghargai karya sastra.

Sungguh tidaklah salah bila karya Ali bin Abi Thalib – dengan kutipan dari Najhul Balaghah diatas – mendapatkan beberapa penghargaan dari beberapa ahli sastra terkemuka, termasuk dari golongan syiah, sebagai sebuah kitab sastra yang indah.

Sastra telah menjadi satu kegiatan penting yang tidak pernah lepas dari kehidupan orang Arab baik pra atau pre. Hal itu bisa terbukti dengan adanya acara sastra tahunan yang selalu diselenggarakan suku-suku arab di Mekah, atau dikenal juga dengan Muallaqat. Silahkan kunjungi tulisan saya tentang Umar bin Khattab: Sastra dan Kepahlawanan untuk mengetahui bagaimana Umar mencintai sastra dalam pandangan penulis atau tulisan tentang Ali bin Abi Thalib: Sisi Kesastrawanan yang ditulis oleh salah satu dosen favorit saya he.

Para Sahabat Nabi Dimata Ali bin Abi Thalib R.A.: Antara Kebenaran dan Kejanggalan

Ungkapan indah Ali bin Abi Thalib diatas setidaknya menjadi salah satu penegasan bahwa tak pernah terbesit didalam dirinya untuk menjadi seperti yang selalu dipropagandakan oleh beberapa golongan waktu itu. Dimana golongan tersebut terlalu mengagung-agungkan Ali dengan secara fanatik. Dikatakan oleh mereka bahwa yang seharusnya menjadi tampuk pemimpin umat muslim waktu itu adalah Ali bukannya para sahabat yang lain, khususnya Abu Bakar, Umar dan Utsman,

Bila saja Ali bin Abi Thalib sendiri tidak pernah ada maksud dengan propaganda tersebut lantas ada apakah dengan mereka yang begitu gencar ingin Ali menjadi khalifah yang mereka inginkan?

Disatu sisi terdapat orang-orang yang, dengan membabi buta, selalu berbicara hal yang tak benar terhadap para sahabat Nabi dan selalu mengedepankan Ali bin Abi Thalib maka disisi lain Ali bin Abi Thalib menuliskan kerinduan-kerinduannya akan para sahabat yang pernah bersama-sama dalam memperjuangkan agama Islam.

Published by

Muhammad Zaki

Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

2 thoughts on “Para Sahabat Nabi Dimata Ali Bin Abi Thalib”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *