in Agama

Pandangan Yang Menyilaukan

Belum lama setelah pemberitaan tentang seseorang pemuka agama (Baca Pengakuan Umat) yang bertindak tidak terpuji ketika melakukan dakwah, sekarang dunia Indonesia, khususnya pada wahana media yang pada dasarnya membesarkannya, kembali dihebohkan dengan pemberitaan seorang pemuka agama yang terkait kasus penipuan.

Bukan tempatnya bila saya menuliskan siapa pemuka agama tersebut didalam tulisan ini. Melainkan saya hanya ingin melihat permasalahan tersebut pada satu sisi yang lebih general sahaja. Jadi meski tidak membahas siapakah ulama-ulama tersebut, pembahasan dalam tulisan ini tetap pada koridor substansi permasalahan.

Pemberitaan ini menjadi perhatian oleh karena terdapat satu relasi penting yang menjadikan hal ini banyak dibahas oleh orang-orang. Hal tersebut adalah dengan terkaitnya mereka-mereka yang pada awal mulanya dikenal sebagai seorang yang lebih agamis ternyata masih saja kekhilafan, hakikat manusia yang selalu ada, tak jauh dari mereka.

Gaib Yang Menggaibkan; Pandangan Yang Menyilaukan

Bila ada yang seksama mengikuti permasalahan ini secara berkala maka kita akan mengetahui bagaimana pembahasan yang ada diacara debat, acara di TVone, ketika membincang tentang pengobatan yang dilakukan oleh seorang pemuka tersebut.

Pada acara tersebut setidaknya kita bisa mengambil beberapa hikmah yang bisa dijadikan pembelajaran untuk kedepannya. Diantaranya adalah bagaimana seharusnya kita bisa melihat sesuatu yang supranatural/gaib atau apapun itu dengan tidak secara membabi buta, sehingga bila kita terbiaskan akan cahaya kebutaan tersebut, maka dengan mudahnya kita akan menjadi secarik kertas yang bisa diombang-ambing oleh bimbingan bias yang berharmoni dengan komoditas. Hal itu naas!!

Bukankah kita melihat, pada acara tersebut, seorang ahli ilmu metafisis yang membeberkan beberapa trik kecurangan yang ada dalam dunia pengobatan spiritual? Bukankah kita diberikan suatu cahaya ilmu yang seharusnya bisa membentengi kita sebelum mempercayai hal-hal yang seperti itu?

Saya sendiri percaya kepada hal-hal yang gaib namun perlu di ingat pula bahwa sikap percaya itu tidaklah membuat kemungkinan saya untuk tidak mempercayai sesuatu yang gaib atas dasar cipta realitas yang ada dimasyarakat apalagi cipta realitas dunia media. Karena sudah banyak hal tersebut yang sudah bercampur dengan pemahaman manusia atas dasar sesuatu yang tak masuk akal, sehingga banyak dari hal gaib itu lebih layak disebut sebagai bobodoan tapi ngabobodo!!!

Ada banyak contoh hal-hal gaib yang menurut saya adalah hasil cipta realitas manusia yang lantas telah berubah menjadi pemahaman dunia seseorang. Yang mana realitas tersebut telah banyak menjadi realitas yang turun temurun. Bahkan sekarang realitas tersebut terdapat pula pada acara-acara realitas yang ada di TV.

Dua Arah Yang Harus Belajar

Yang salah dalam kasus ini, dalam pandangan hukum atau agama, adalah kedua pihak yang berseteru. Bila pemuka agama terbukti menggunakan kecurangan-kecurangan, memanfaatkan kelemahan manusia, mengatasnamakan Agama tapi sedikit menyimpang, dalam hal menyembuhkan pasiennya maka sangat layak kita salahkan.

Sebaliknya bila pasien tak pernah mau belajar untuk mendalami hal ihwal ilmu agama, untuk memperkokoh pemahaman secara menyeluruh, maka jangan salah bila satu waktu tertentu ia akan dengan mudah dibohongi oleh hal-hal yang gaib tapi bohong itu.

Bukankah kita pernah meninggalkan jejak sejarah besar didalam dunia kedokteran? Dimana seorang Ibnu Sina menjadi seorang yang disegani didunia? Dimana kitab yang ia tulis itu adalah awal mula dari dunia kedokteran modern saat ini? Hal ini sangat perlu dijadikan renungan bagi kita.

Pada dasarnya dalam realitas dunia manusia terdapat dua hal yang selalu berdampingan. Yaitu dunia dimana seorang manusia untuk selalu maju menuruti perkembangan zaman dan dunia dimana manusia rindu pada hal-hal yang terlalu mistis. Bila tak seimbang kita berjalan maka kita tertinggal pada satu kepastian.

Efek Media

Oleh karena yang menjadi aktor dalam permasalahan berkala ini seorang pemuka agama, maka efeknya pun bukanlah kecil. Suara sumbang dari para pengkritik agama pun pasti akan banyak temukan, dan hal itu sangat wajar. Hal yang paling menakutkan adalah bila efek-efek ini dibiarkan saya takut yang akan tersisa hanyalah sikap kekecewaan seseorang pada agama tersebut.

Tapi disatu sisi dengan adanya berita ini kita pun setidaknya tercerahkan dalam hal pengobatan-pengobatan yang agak janggal. Terlebih kita bisa mendapatkan pelajaran untuk bersikap hati-hati melihat seseorang yang berpenampilan selaras indah, pandangan yang menyilaukan, dengan mengelakan sikap mempertanyakan terlebih dahulu.

Tinggalkan pesan

Comment