in Agama, Budaya

Pandailah Memaknai Qurban Hai Wahai Koruptor!!

Zakii Aydia - Agama

Jika hidup sekedar hidup
Babi di hutan juga hidup
Kalau bekerja sekadar bekerja
Kera juga bekerja – Buya Hamka –

Ihwal Pertama

Sebuah negeri, meski ia besar wilayahnya dan banyak sumber daya alamnya, akan binasa lebih cepat dari yang dikira bila kedzaliman dan kemunafikan sudah sedemikian terjadi dengan merajalela.

Apatah hal tersebut akan lebih menyakitkan bila yang menjadi persoalan ternyata terletak pada wilayah sang pemangku rakyat. Kita mestinya belajar pada hal yang telah berlalu, suatu hal ihwal kehancuran peradaban Islam yang terjadi karena para pemimpinnya sudah tak perduli akan janji dan tanggung jawabnya sebagai penanggung jawab rakyat.

Meskipun kehancuran tiada terasa bila dilihat mata, yang kadang bercampur rasa penasaran yang tak sabar, akan tetapi kehancuran peradaban, sesuai dengan prinsip sejarah peradaban, akan berangsur sedikit demi sedikit.

Bisa jadi kegagalan tersebut berbuah rasa kecewa dari pulau-pulau yang jauh dari pusat negara kita. Negara timur-timur mungkin bisa menjadi contoh bagaimana bila dalam satu lingkup kenegaraan, prinsip-prinsip penting dari sebuah dasar negara tidak diterapkan dengan secara seksama.

Hal tersebut bisa kita tempatkan pada konteks masalah external yang sudah menjelimet terjadi di Indonesia. Sekarang mari kita lebih dekat untuk mengetahui permasalahan internal yang impilikasi dan akibatnya kurang lebih sama dengan permasalahan ekternal.

Ihwal Kedua

Bila ada yang bertanya apakah permasahalan internal itu? Jawaban yang pasti dan sangat elok untuk diungkapkan adalah permasalahan korupsi.

Sangat disayangkan apabila kita meneliti berapa banyak kerugian negara yang diakibatkan oleh tikus-tikus kotor para koruptor negara kita. Namun dengan demikian para koruptor tersebut sangat pantas kita sebut dengan penjajah diera sekarang.

Perbedaan dari mereka dengan penjajah tidaklah jauh, melainkan mereka sama dalam segi memiskinkan dan mengecewakan rakyat. Dengan demikian melawan mereka untuk kemaslahatan rakyat merupakan hal yang wajib.

Yang lebih mengecewakan lagi ialah ketika seorang koruptor tersebut ternyata adalah seseorang yang seharusnya melihat secara jeli bagaimana kehidupan masyarakat kecil disekitarnya.

Kita begitu terkejut karena harta pemimpin tersebut sangatlah menumpuk, artinya bila dibagikan pada rakyat membutuhkan, maka kebutuhan warga miskin yang ada disekitar wilayah yang dipimpin akan sedikit teratasi.

Namun apa yang terjadi? Hal tersebut nihil. Pemimpin tersebut barangkali tiada waktu luang untuk sebentar saja merasakan bagaimana susahnya menjadi rakyat kecil, wong kecil atau marhaenisme.

Kita musti mempertanyakan kembali tentang niat yang diemban pemimpin tersebut dalam pencalonannya. Bila kata manis yang dulu sempat terungkap mesra, berhasil memikat rasa terkagum masyarakat, berbuah tak kunjung datang. Apalagi tambah parah. Maka apa yang ia lakukan hanyalah berdusta untuk kepentingan pribadinya sendiri, bahkan untuk keluarganya.

Ihwal Ketiga

Syahdan, manusia itu adalah makhluk sosial. Itu artinya manusia tidak bisa hidup berdiri sendiri. Begitulah yang terjadi kepada Nabi Adam ketika meminta diturunkan dan dipertemukan dengan Hawa.

Peradaban pun tak lain adalah lahir dari bagaimana keberhasilan manusia, satu sama lain, dalam mengikat solidaritasnya dengan saling membantu. Ketika mereka telah hidup dalam satu wilayah yang tetap maka mereka membutuhkan seorang pemangku/pemimpin/yang dituakan.

Bila yang demikian terjadi karena adanya solidaritas sosial dan hal tersebut sesuai dengan kodrat manusia sebagai makhluk yang bersosialisasi. Maka yang terjadi bila seorang pemimpin tak perduli dengan keadaan sekitar, pantaslah ia disebut dengan pemimpin yang tak mempunyai rasa sosial. Ia sakit dan harus diobati. Namun bila tak kunjung ia sembutm revolusipun harus dilancarkan.

Pembangkangan pemimpin akan rasa kemanusiaan adalah hal yang sangat penting. Seharusnya, bila perlu, para pemimpin sekarang diajarkan tentang bagaimana dahulu kala para aulia islam mempunyai harta lebih sedikit dari rakyatnya.

Bukannya ia malah tambah kaya ketika kuasa didepan mata. Bukannya ia tambah sombong dan sakit ketika kuasa menawarkan banyak harta bagi nafsunya.

Yang demikian tersebut tidaklah jauh berbeda dengan sifat-sifat kebinatangan. Dimana rasa sosial yang rendah, yang sebatas hanya pada insting makan semata, masih menyelimuti raga dan jiwa manusia yang terkoyak.

Sifat kebinatangan yang rakus, tak perduli dengan kehidupan sosial dan lain sebagainya adalah merupakan pertanda bahwa sang khalifah Allah, yakni manusia, mempunyai iman yang lemah. Suatu kesenangan bagi setan/iblis dalam mengambil kesempatan untuk memperdayai manusia sakit.

Ihwal Keempat: Qurban & Sebuah Pembelajaran Bagi Koruptor

Alhamdulillah sebentar lagi seluruh ummat muslim didunia akan menyelenggarakan ibadah Qurban, Iedul Adha. Suatu sejarah yang terus berkelindan semenjak titah Allah diturunkan kepada orang-orang yang terpilih.

Apatah, kita pun harus mengetahui bahwa bila titah Allah diperuntukan manusia maka, dengan tanpa membantahnya, kita harus mengakui bahwa telah nampak pula hikmah yang besar bagi manusia dalam rangka melaksanakan ibadah tersebut.

Pertanyaannya disini. Lalu apa yang bisa dikaitkan antara para koruptor dengan binatang, dihari yang suci ini?

Kiranya telah dipaparkan sedikit diatas bahwasanya bila manusia telah pudar akan rasa sosialnya, apalagi kalau seseorang tersebut adalah pemangku rakyat, maka ia telah hilang pula sedikit rasa kemanusiaannya.

Dengan begitu, tanpa disadari, sifat kebinatangan manusia yang dikarenakan setan/iblis akan mencuat tak terbendung. Oleh karena iman yang lemah dan nafsu duniawi yang besar mereka telah pudar bersama dengan waktu.

Sifat kebinatangan itulah yang kiranya dijadikan suatu perenungan bagi para koruptor, secara khusus dan para penjahat-penjahat lainnya, secara umum dihari Iedul Adha sekarang.

Saya jadi teringat akan kata mutiara hamka, yang telah dituliskan dimuka, bahwasanya “Jika hidup sekedar hidup, babi dihutan juga hidup. Kalau bekerja sekedar bekerja kera juga bekerja.”

Kalau hidup lupa pada yang esa maka hidup akan terguncang makhluk yang dosa. Kalau bekerja sekedar memperkaya pribadi semata maka ia lebih dari sekedar binatang.

Ihwal Kelima

Sudah semestinya para koruptor atau yang masih berlabel koruptor dan belum tertangkap, sadar betul bahwa hidup tidaklah untuk memperkaya diri sendiri, keluarga pribadi dan kebutuhan dirinya semata.

Apalagi pemimpin rakyat, yang dimana ia mempunyai tanggung jawab besar untuk menghormati rakyat-rakyatnya. Kita tidak mau lagi mendengar bahwa seorang pemimpin dikota ini mempunyai kekayaan yang tak terhitung apabila disisi lain kita masih banyak mendengar ocehan-ocehan dari wong kecil yang tersiksa.

Jadikanlah hari Iedul Adha sekarang sebagai suatu hari yang akan merubah diri untuk selamanya. Bila merasa diri ini seorang koruptor maka pandailah memaknai qurban. Dimana ketika seekor binatang telah dipenggal atas nama Allah yang esa, disana pula tersematkan doa besar untuk menghilangkan sifat kebinatangan manusia yang selalu muncul bila iman tergoyah.

Itulah salah satu cara bagi manusia dalam memaknai qurban. Menghilangkan sifat kebinatangan yang ada didalam diri manusia, memaknai qurban sebagai pembelajaran bahwa kita hidup berbeda dengan seekora binatang, kita hidup bersama-sama dalam tanah yang sama dengan manusia.

End with next → alias bersambung

Free download ebook Buya Hamka – Dari Pembedaharaan Lama 🙂

[freebiesub download=”http://adf.ly/XNZC8″]

Tinggalkan pesan

Comment