in Agama, Jejak Islam, Sejarah

Muhammadiyah, Keragaman Islam Dan Hingar Bingar Maulid Nabi Muhammad

Tepat hari ini di Negeri Indonesia dan beberapa negeri yang terdapat komunitas Muslim didalamnya, sedang merayakan bulan dimana junjungan kita Nabi Muhammad SAW dilahirkan. Acara tersebut banyak kita kenal dengan istilah Maulid (seterusnya Muludan) Nabi Muhammad atau bahasa keren di Indonesianya yakni Muludan.

Secara historiografi, tentu dengan melihat pada konteks acara tersebut, muludan ini tidak pernah dirayakan pada zaman para sahabat, dinasti Umayyah atau Abbasiyah, melainkan lahir pada beberapa abad jauh lamanya setelah Nabi Muhammad SAW wafat.

Dalam literatur sejarah, terdapat banyak sumber mengenai awal mula acara muludan ini bahkan dalam penentuan tanggal kelahiran Nabi Muhammad SAW saja, para ahli ulama dan para penulis Sirah pun berbeda-beda.

Namun, terkait dengan muludan ini, dari beberapa sumber yang ada tersebut kiranya bisa diambil satu pendapat yang sering dijadikan rujukan, yakni pada awal ke 7 Hijriah. Disebutkan bahwa pada waktu itu di Irak, ketika tapuk kepemimpinan berada di tangan Sultan Al Muzhaffar, seseorang pemimpin yang dermawan, ia mengundang berbagai elemen masyarakat yang ada diwilayah yang ia kuasai untuk menghadiri acara yang diselenggarakan pihak istana. Ditempat perayaan tersebut disediakan berbagai macam makanan yang akan disantap oleh orang orang yang hadir pada acara tersebut.

Seiring waktu, sesuai dengan perkembangan Islam yang memukau itu, acara ini juga menjadi acara yang viral, ia selalu dirayakan diberbagai tempat dimana Islam berkembang termasuk di Indonesia meski tidak semua ikut merayakannya. termasuk salah satunya di Indonesia.

Muhammadiyah dan Muludan

Di Indonesia tidak semua umat muslim merayakan muludan, termasuk diantaranya organisasi Muhammadiyah. karena dalam putusan Majlis Tarjih sudah pernah dibahas mengenai permasalahan ini, yakni menganggap muludan ini sebagai satu ijtihadiyah.

Artinya boleh dilakukan selama tidak dilebih-lebihkan dan juga boleh tidak dilakukan karena memang tidak wajib 1.. Muhammadiyah mempersilahkan anggotanya jika ingin merayakan muludan asalkan perayaan tersebut berbuah manis pada peningkatan keimanan dan ketaqwaan 2 seseorang bukan malah sebaliknya, misalkan mengkultuskan Nabi Muhammad SAW.

Adanya keputusan tersebut tentu banyak menimbulkan beberapa respon yang berbeda. Ada yang menganggap Muhammadiyah tidak Cinta Nabi Muhammad atau ada juga yang mengatakan Muhammadiyah itu cenderung wahabi dan lain-lain. Namun tak usahlah kita beribut bila ada orang-orang yang berkata demikian karena sejatinya setiap saat dan dimanapun kita berada pasti selalu memanjatkan doa kepada Nabi Muhammad SAW.

Keragaman Islam dalam Hingar bingar Muludan

Bila merunut pada tesis Marshall G Hudson dalam buku babonnya The Venture of Islam, ia mengatakan kurang lebih ada tiga fenomena konsep yang terkait dengan Islam yang satu sama lainnya tidak bisa dilepaskan, yakni Islamic, Islamicate dan Islamdom 3.

Istilah Islamic itu merunut pada ajaran Islam itu sendiri (secara doktrin), Islamicate itu merunut pada Islam sebagai fenomena ketika doktrin tersebut terhubung pada ranah masyarakat dan kultural dan yang terakhir Islamdom itu merunut pada fenomena Islam sebagai sebuah kerajaan, kenegaraan atau politis.

Diantara ketiga konsep tersebut, tentu konsep yang menarik perhatian bila dihubungkan dengan perayaan muludan adalah konsep Islamicate. Dalam istilah ini seorang pengamat studi Islam harus melihat Islam dan hubungannya dengan fenomena kultural dan masyarakatnya dan tidak terikat pada porsi Islam sebagai sebuah doktrin.

Pendeknya seorang pengamat tersebut harus mempunyai point of view pluralism. Dengan seperti itu jadi seorang pengamat akan melihat bagaimana Islam yang berkembang dibelahan bumi yang berbeda telah melahirkan berbagai macam keragaman yang sangat unik termasuk perayaan Muludan yang dirayakan oleh komunitas muslim diberbagai negara.

Islam di Indonesia tentu mempunyai karakter berbeda dengan Islam yang ada di Afrika, Eropa, Timur Tengah atau dimanapun itu berada. Indonesia mempunyai karakter sendiri yang lahir akan dialektika sejarah yang berliku yang pada akhirnya membentuk Islam di Indonesia saat ini.

Keterbukaan Islam atas dialektika peradaban atau dialog peradaban telah memungkinkan Islam sangat kaya akan kebudayaan, ia mampu berbaur pada setiap zaman dan waktu yang berbeda. Proses-proses seperti itulah yang pada akhirnya akan membentuk keragaman Islam diberbagai wilayah sangat unik, contoh keragaman Islam yang bisa kita lihat saat ini yaitu muludan.

Berbagai Acara Muludan Di Beberapa Negara

to be continued…

Referensi:

  1. Kedua putusan ini tentu berdasarkan penerawangan para ahli terhadap dalil-dalil
  2. http://www.fatwatarjih.com/2011/09/peringatan-maulid-nabi-muhammad-saw.html
  3. Marshall G.S. Hodgson, The Venture of  Islam : Conscience and History in a World Civilization, The Expansion of Islam in The Middle World. Volume 2. (Chicago : The University of Chichago, 1974)

Tinggalkan pesan

Comment