in Agama

Muhammad Abduh: Masa Perpecahan Umat & Awal Mula Syiah

Muhammad Abduh memulai pembahasannya tentang awal mula Syiah tepat setelah beliau merampungkan subjudulnya yang berjudul “Masa Kesatuan Faham”. Menurut beliau pada pembahasan masa kesatuan faham inilah erat kuat solidaritas sosial antar sesama umat masih dijunjung tinggi.

Artinya kekuatan yang dimiliki oleh Umat Islam pada waktu itu adalah sebuah manifestasi dari harga mahal kesatuan antar sesama muslim, solidaritas sosial. Adanya ruang gerak yang sama, manifestasi dan keinginan yang sama dalam mengembangkan ajaran Islam pada waktu itu dirasa masih kuat berakar.

Dalam sebahagian hal, solidaritas sosial, menjadi sebuah pembahasan utama dalam kitab Muqadimmah – Ibnu Khaldun, yang artinya hal tersebut adalah sebuah hal yang sangat utama dalam menguatkan pondasi.

Masa kesatuan faham adalah sebuah awal dari adanya subjudul berikutnya yang sama sekali sangat bertentangan. Sejatinya pada pembahasan tadi kita diajak untuk merenungi bagaimana solidaritas sosial masih dijunjung tinggi namun pada tahapan selanjutnya, yakni pada tahapan setelah masa kesatuan faham, kita akan melihat bagaimana persatuan tersebut memudar seiring dengan waktu.

Tragedi Kematian Khalifah Utsman bin Affan dan Hura-Hara Fitnah

Peralihan kepemimpinan, Khalifah, disatu sisi ternyata tidak disenangi oleh sebahagian golongan yang tidak bertanggung jawab. Meskipun proses keperalihan ini sudah disepakati oleh semua umat Islam pada waktu itu akan tetapi hal tersebut sangat tidak berlaku bagi sebahagian kalangan yang memandang bahwa tampuk kepemimpinan seharusnya berada pada kalangan keluarga Nabi.

Sebahagian kalangan yang tidak merasa bahwa proses demokrasi peralihan tersebut adalah sah adanya banyak melontarkan fitnah-fitnah yang keji dan sangat berlebihan.

Dalam pembahasan ini Muhammad Abduh mengemukakan pendapat bahwasanya puncak dari memudarnya kesatuan faham adalah ketika terjadinya tragedi pembunuhan terhadap Utsman bin Affan – Semoga Allah senantiasa melimpahkan rahmat kepadanya –

“Peristiwa terbunuhnya khalifah yang ketiga itu, telah membukakan pintu bagi manusia untuk melanggar batas-batas yang telah ditetapkan oleh agama, karena khalifah sesungguhnya terbunuh dengan cara yang tidak sesuai sama sekali dengan hokum syara’. Maka timbullah dihati orang banyak, nafsu-nafsu perseorangan, utama sekali dikalangan orang-orang yang tidak ada pengaruh iman dalam hati mereka. Sehingga dendam dan kemarahan menguasai fikiran kebanyakan orang, lebih-lebih terhadap orang yang keterlaluan (fanatik) dalam agama. Masing-masing pihak berusaha mempengaruhi orang-orang yang masih tetap baik, untuk maksud-maksud tertentu dan akhirnya timbullah peristiwa lain, yang sama sekali tidak mereka harapkan.” 1

Kutipan diatas barangkali bisa kita kerucutkan kepada suatu pemahaman yang sederhana. Yakni dengan meyakini bahwa terdapat satu dendam dari sebahagian orang dari tingkat peradaban yang lain, terhadap Islam, yang dianggapnya telah membuat peradaban mereka tergantikan. Hal ini barangkali bisa menjadi sumbu api yang kelak akan membara menunggu waktu yang telah ditentukan.

Pada saat-saat seperti inilah banyak orang yang gemar menabur fitnah keji, suara miring tentang para Khalifah dan sebagainya. Diantara banyaknya yang sangat rajin menebar fitnah adalah Abdullah bin Saba.

Abdullah bin Saba dalam pandangan beliau sangatlah tidak mencerminkan seorang muslim yang taat. Meskipun dalam statusnya, Ibnu Saba, ia seorang muslim namun bila menilik pada tindak tanduknya dalam melancarkan beberapa fitnah yang keji alias siasat yang menyesatkan terhadap umat Islam, khususnya pada Khalifah, maka kita meyakini bahwa ada yang salah dalam diri beliau.

Dalam banyak literatur yang pernah saya baca, termasuk dalam pembahasan Muhammad Abduh sendiri, banyak disebutkan bahwa Abdullah Ibnu saba ini adalah seorang keturunan Yahudi (Rabbi) yang baru masuk Islam. Ia hidup sezaman dengan khalifah Utsman bin Affan (Semoga Allah Melimpahkan Rahmat dan cahaya kepadanya -.

Dengan keangkuhannya yang selangit maka ia dengan memanfaatkan tipu muslihatnya mulai menyerang umat islam, khususnya Khilafah, dengan fitnah yang menyesatkan. Dikatakan bahwa dengan sikap pura-puranya yang terlalu fanatik terhadap Ali Karramallahu Wajhahu, ia mendakwakan pula, bahwa Allah telah bertempat pada diri Ali. Ia mendakawakan pula bahwa “Alilah sebenarnya yang berhak menduduki kursi Khilafah. 2

Fitnah yang disiarkan Saba merupakan awal mula garis pemisah antara solidaritas sosial umat Islam. Oleh karena itu sebelum semua menyebar kepada hal yang tidak diinginkan maka Khalifah Utsman pun, dengan masih memberikan keadilan, mengusir Saba ke basrah.

Yang berlalu pada satu waktu ternyata tak meluputkan yang lalu untuk tumbuh kembali. Saba dengan, niat besarnya untuk memecah belah umat islam, tiada merasa dirinya harus bertaubat. Iapun melancarkan kembali propaganda-propaganda yang diutarakan kepada umat islam, khususnya khilafah, sebelum akhirnya ia diusir kembali Syria dan akhirnya menemukan puncak karirnya sebagai seorang munafik di Mesir.

Terkait dengan tingkah laku Saba ini, Muhammad Abduh, dengan khusus memberikan komentar bahwasanya:

“Saya memandang, bahwa Ibnu Saba’ dalam tindak-tanduknya, bukanlah sebenar-benarnya mencintai ‘Ali, sebab Islamnya adalah tipu muslihat semata. Untuk jasa-jasanya ia diberi penghargaan oleh kaum Yahudi. Seperi itu pulalah sikap kaum Majusi di Persia, yakni berusaha menonjol-nonjolkan ‘Ali dan kaum keluarga Nabi dengan tujuan untuk membinasakan Islam dan melenyapkan pengaruhnya, dengan cara memecah belah diantara penganut-penganutnya sendiri, sebagaimana dibayangkan oleh pengarang sendiri.” 3

Tanggapan Muhammad Abduh yang dilontarkan dalam footnote tersebut adalah sebuah hal yang akan selalu kita jumpai sekarang ini, khususnya bagaimana kita terperangah dengan sebahagian sikap orang yang terlalu berlebih-lebihan dalam menyanjung Ali Bin Abi Thalib (Semoga Allah selalu menerangi wajahnya)

Abdullah Ibnu Sabba Mendua

Fitnah Saba yang mengintimadasi Umat Islam untuk membaiat Ali ternyata hanya omong kosong belaka. Tabiatnya yang suka menjelek-jelekan atau bahkan dalam hatinya tak bersemayam sebuah kasih saying, telah membuat ia menjadi setan dunia.

Bila pada khilafah Utsman, saba, dengan giatnya mempropagandakan Ali sebagai khilafah yang semestinya namun pada waktu Ali sudah menjadi khilafah ternyata sikap dia mendua. Khilafah Ali memiliki kesan dan perlakuan yang sama dengan khilafah Utsman terhadap Saba. Karena itulah Sabba mengalihkan perhatiannya kepada hal-hal lain yang bisa membuat Umat Islam terpecah belah.

Pada satu sisi, kita tidak bisa mengelak bahwa, siasat saba yang dengan sangat keterlaluan sampai menuhankan Ali ternyata mendapat respon yang baik pada salah satu pihak. Dan pihak inilah yang dalam perbuatannya, bahkan bisa kita temukan sekarang ini, sama dengan propaganda Ibnu Sabba yang berpendapat berlebihan tentang Ali.

Semenjak hal yang demikian berlanjut, dengan menghasilkan perbedaan-perbedaan yang sangat fundamental, maka tidaklah salah apabila kita berpendapat bahwa hal fundamental inilah yang pada saat ini tengah menjadi perhatian utama dalam agama Islam. Singkatnya bahkan hal tersebut telah menjadi satu jurang tajam yang memisahkan antara kaum satu dengan kaum lainnya, Sunni dan awal mula Syiah.

Begitulah apa yang bisa kita baca pada subjudul terakhir dari pembahasan Muhammad Abduh tentang awal mula Syiah dan Khawarij dalam bukunya Risalah Tauhid. Ia membahas bagaimana kelak hal fundamental tersebut menjadi akar-akar kuat konflik internal dikemudian hari. Sebahagian orang-orang turut membai’at khalifah yang keempat (Khalifah Ali), menghianati janji-janji mereka. 4

[alert type=”success”]Pada tulisan selanjutnya saya akan mencoba membahass pandangan-pandangan tokoh agama terhadap Syiah baik dilihat dari pandangan politik, budaya dan agama. Kesimpulan dan opini pribadi akan saya sertakan apabila telah rampung dalam menuliskan semua pembahasan dari para tokoh tersebut. Diantara pendapat tokoh tersebut yang akan saya bahas adalah:

  • Muhammad Abduh → Awal Mula Syiah
  • Ibnu Khaldun → Konsep Imamah
  • Akbar Ahmed → Syiah Dalam Percaturan Dunia
  • Wamy → Gerakan Ekstrim Syiah
  • Abu Hasan Ali Al-Ahsani → Dua wajah Yang menentang

Silahkan subscribe blog ini untuk mengetahui postingan diatas. Salam.[/alert]

25 total views, 1 views today

Referensi:

  1. Risalah tauhid
  2. Risalah Tauhid
  3. Risalah Tauhid
  4. Risalah Tauhid

Tinggalkan pesan

Comment

  • Related Content by Tag