in Sejarah

Mereka Underbow Mereka Wow

Dulu kala kita tahu bahwa dunia seni dan budaya pernah tak terlepaskan dari partai politik. Utamanya pada tahun 45-an, dimana pada masa itu terjadi sebuah pertikaian diantara kubu seniman yang mempunyai pandangan berbeda terhadap seni budaya yang mereka usung. Dari pertikaian tersebut tentu dari lubuk hati mereka terdapat motivasi bahwa karya yang mereka harus lebih kuat. Maka jalan yang pantas untuk mereka lakukan adalah dengan melakukan upaya ‘melindungi diri’ dibawah partai politik. Alasan sederhana lainnya yah mereka sadar bahwa suara yang mereka bawa, dalam karya-karyanya, akan berjalan lebih cepat dan sesuai tujuan bila mereka bergabung pada bahtera sebuah partai besar yang notabennya mereka punya kekuataan politik.

Sebagai contoh saja yang kita kenal dari mereka para seniman yang menjadi anggota LEKRA dengan nahkoda PKI sebagai partai politiknya yang mempunyai perbedaan-perbedaan pendapat dengan mereka yang tergabung dalam LESBUMI. Tapi apakah dengan statusnya kini yang underbouw itu, mereka lebih banyak berkarya atau sebaliknya malah mereka menjadi sebuah alat ideologi masa atau moncong dari ideologi yang diusung partai politik yang diikutinya, pendek kata ‘organisasi kebudayaan tapi menyuarakan program partai’? Jawabannya tentu kedua hal tersebut memang berhubungan dan tak bisa dilepaskan. Begitulah kiranya gambaran situasi dan kondisi kebudayaan Di Indonesia tahun 45-an.

Berpuluh-puluh tahun kemudian, rasanya hal yang terjadi pada masa revolusi tersebut agaknya terasa kembali saat ini dengan alur yang sama tapi dengan wajah dan peran-peran yang berbeda. Yap History repeats itself!!

Sosial Media dan Mereka yang Underbow

Siapa yang menyangka bahwa definisi seni dan budaya saat ini telah meluas seiring dengan kemajuan dan perkembangan pemikiran. Berbicara seni dan budaya bukan saja meliputi Sastra, bernyanyi, melukis dan lain-lain tapi untuk saat ini barangkali bersosial media juga bisa dikatakan demikian. Pertanyaannya sekarang adalah bagaimanakah kaitan sosial media dengan politik? Jawabnya yah ada!

Sosial media yang menjadi wadah paling mudah meluapkan reksa pikir manusia tak selamanya sama. Selalu terjadi perbedaan pendapat diantara satu kubu dengan yang lain. Sama dengan yang dilakukan para seniman dulu, bila ingin kuat mempunyai suara dan mempunyai pengaruh terhadap masyarakat maka jalan sama harus ditempuh yakni masuk partai politik atau tak secara langsung menjadi penggiat media dibawah ideologi partai tertentu (underbow). Dengan melakukan tersebut setidaknya mereka mempunyai kekuatan untuk meredam lawan, bukankah begitu? Maka pertanyaan lainnya pun muncul apakah mereka juga hanya sebatas penggiat media atau sedang menyuarakan partai?

Berkaca pada sejarah mereka yang menjadi underbow pasti mempunyai visi untuk menjadi moncong partai. Disini, tugas penggiat media ialah untuk melawan balik/membungkam pihak lawan yang tak sesuai dengan pemikiran mereka. Mereka menjadi moncong bagi semua kesuksesan partainya dan menyebarkannya pada masyarakat bahkan bisa dibilang mereka sekarang ini adalah garda terdepan yang menyuarakan partai tertentu.

Lalu sekarang apakah yang paling ditakutkan kalau partai yang menjadi bahtera kapalnya adalah partai berkuasa dan bagaimana keadaan mereka para penggiat budaya media sosial sebagai pihak underbouwnya?

Yang pasti mereka yang underbow setidaknya pasti wow. Sekarang ini suara rakyat bukanlah lagi menjadi suara Tuhan, tapi menjadi suara mereka yang berkuasa dan berkepentingan saja. Akibat dari adanya otoritarian ini yah berupa ketimpangan, dimana pihak penggiat media dibawah underbow partai berkuasa selalu menang dan lawannya selalu menjadi pihak terbungkam yang selalu salah. Bahkan disatu kejadian terjadi sebuah penegakan hukum yang berat sebelah. Apakah ini yang diinginkan pemerintah untuk bertindak pintar dalam bersosial media? Ataukah pintar tersebut hanya terbatas pada apa yang mereka anggap baik dan benar?

Emh yang pasti, mereka yang dibawah underbow itu sekarang lagi berada pada posisi wow….

30 total views, 1 views today

Tinggalkan pesan

Comment