11866305_137833976555812_4640003992028941519_n (1)

in Napak tilas

Melacak Jejak Bujangga Manik Di Bandung Timur (1)

Salam.

11866305_137833976555812_4640003992028941519_n (1)

Sketsa Bukit Karesi by Igun Weishaguna

Sahabat (sahabat peterpan) hehe. Kemarin teman-teman saya, atau lebih tepatnya lagi senior, melakukan perjalanan menuju gunung yang letaknya tidak jauh dari tempat tinggal saya.

Saya sendiri tidak ikut melakukan perjalanan tersebut dikarenakan adanya kesalah fahaman waktu mengenai keberangkatan – dan itu sangat disayangkan. Meskipun begitu saya tidak lantas ketinggalan info. Dengan adanya grup di media sosial nampaknya rasa penasaran untuk mengetahui apa yang telah mereka lakukan bisa sedikit terobati.

Perjalanan ke gunung kali ini bukanlah untuk mencari inspirasi tentang kopi atau bahkan memetiknya. Akan tetapi lebih pada napak tilas sejarah yang ada di gunung manglayang, palasari dan bukittunggul.

Khusus perjalanan kali ini adalah napak tilas ke berbagai tempat yang tidak jauh dari sekitaran daerah (Palintang Patrol, Legoknyenang, Pasirpangeretan, Pamoyanan).

Pemilihan lokasi tersebut bukanlah tanpa alasan, melainkan timbul dari upaya yang dikemukakan oleh salah satu senior (seorang dosen di Unisba) yang bernama Igun Weishaguna. Ia mempunyai pemikiran, nampaknya hal ini bermula dari napak tilas sebelumnya dan mempunyai pendapat bahwa, terdapat sebuah situs yang diyakini mrupakan peninggalan zaman dulu, seperti candi munding, makam eyang santri, mundinglaya dan lain-lain.

Pertama mendengar pendapat Igun itu, pikiran saya dengan otomatis tertuju pada berbagai situs yang memang sudah ada di sana seperti batu lonceng dan patilasan yang ada di puncak Bukittunggul. Namun setelah melihat beberapa gambar yang diupload di grup ternyata dugaan saya meleset, bahkan saya tidak tahu sama sekali mengenai gambar yang ada diposting di facebook tersebut.

Oleh karena itu akan sangat menarik sekali untuk menunggu beberapa hasil penjelasan setelah napak tilas yang dilakukan beberapa senior pada tanggal 6 januari kemarin.

Bujangga manik dan Gunung Dekat Ujungberung dalam naskah

Bila melihat pada grup (perkumpulan orang Ujungberung) akhir-akhir ini terdapat semangat baru yang timbul dari kebesaran sejarah Ujungberung. Setidaknya hal ini bisa terlihat pada beberapa postingan yang menarik tentang Ujungberung baik dengan kebudayaannya, sejarah yang melingkupinya atau bahkan Ujungberung dalam perannya pada saat ini.

Penulis sangat mengapresiasi beberapa postingan yang ada di grup tersebut. Di satu sisi hal ini meneguhkan apa yang pernah diucapkan Sukarno untuk tidak melupakan sejarah. Disisi lain sejarah tersebut takan pernah menjadi sebuah kebanggaan bila tidak ada orang yang menyampaikan.

Beruntung sekali di Ujungberung terdapat beberapa orang dengan pengetahuan sejarah yang tak boleh diremehkan. Salah satu diantara yang berjasa dalam menelusuri sejarah tersebut ialah Anto Sumiarto. Dia seorang penulis buku benjang yang mana bukunya banyak dijadikan sumber penulisan skripsi oleh mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi. Selain itu ia juga menerbitkan buku sejarah terbaru yang memuat beberapa topomini yang ada diruang lingkup Ujungberung, Bandung.

Pada beberapa postingan yang ada di grup itu Anto dan kawan-kawan membuka kembali lembaran sejarah yang mempunyai hubungan dengan daerah ujungberung dan sekitarnya.

Salah satu postingan yang menarik bagi penulis adalah mengenai postingan tentang Bukit Karesi, Bukit Langlayang dan Palasari. Sumber yang di sajikan pada postingan grup itu tidaklah main main. Artinya sumber yang dirunut beliau, tentang rekam jejak Ujungberung, merupakan sumber primer yang sampai saat ini belum banyak membahasnya.

Sumber primer yang dimaksud adalah naskah Bujangga Manik. Naskah ini diperkirakan ditulis pada abad 16 dan tidak diketahui identitas penulisnya. Adanya keraguan tersebut berdasarkan pada akhir bagian cerita yang dituliskan bahwa Bujangga Manik menemukan tempat terakhirnya dan Moksa. 1

Naskah Bujangga manik pertama kali diketahui sebagai salah satu naskah yang ada di perpustakaan Boedlian, Oxford, Inggris. Dalam naskah ini diceritakan seorang Pangeran dari Pakuan, ia merupakan rahib hindu, yang memilih jalan hidup sebagai aksetis.

Oleh karena itu ia lantas mempunyai keinginan untuk menjelajahi beberapa tempat suci Hindu, sekaligus berziarah dan meluaskan ilmunya 2, yang ada disekitaran pulau Jawa dan Bali.

Tangga bukit Karesi

Dalam naskah tersebut diceritakan Bujangga Manik melakukan dua kali perjalanan. Pada perjalanan pertama, Bujangga manik hanya sampai di Jawa Timur. Hal ini terjadi karena dia teringat akan Ibundanya yang ada di Bogor. Oleh karena itu ia memutuskan untuk kembali lagi dengan mengarungi laut selama 15 hari menggunakan kapal dari Malaka.

Sedangkan perjalanan kedua ternyata lebih jauh lagi, setelah beberapa alasan yang terjadi ketika di Pakuan, Bujangga manik memutuskan untuk berangkat sebelum kembali lagi setelah menelusuri persinggahan suci yang ada ditanah Jawa dan Bali.

Dalam perjalanan tersebut, yang mana Bujangga manik telah melalui berbagai gunung yang ada di tanah Jawa, terdapat juga gunung-gunung yang ada di daerah sekitaran Ujungberung yakni bukit karesi, bukit langlayang dari baratnya palasari. 3

Berangkat dari sini maka terdapat sebuah keinginan yang muncul dari pecinta sejarah untuk mengidentifikasi lebih lanjut mengenai jejak yang dilalui oleh bujangga manik tersebut.

Beberapa Dugaan Temuan Awal

Untuk mengidentifikasi jejak yang dilalui Bujangga Manik maka mau tidak mau tim harus melakukan perjalanan ke tempat yang telah ditentukan sebelumnya. Sementara itu identifikasi tempat pertama ditujukan pada bukit Karesi.

Ada kemungkinan, bagi hemat penulis, pemusatan bukit Karesi sebagai identifikasi pertama, selain diantara kedua gunung yang disebutkan Bujangga Manik, adalah nama Karesi masih terdengar asing bahkan bagi penulis.

Setelah melakukan napak tilas pertama ada hal menarik dalam berbagai foto yang diposting di grup facebook. Terdapat temuan yang bisa memperkuat letak bukit Karesi. Igun Weishaguna mengatakan bahwa disana terdapat batu-batu yg tersusun secara menerus dari bawah sampai puncak bukit, mengindikasikan tangga bukit Karesi. 4

Imajinasi penulis seolah bermain disini. Bujangga Manik pasti mempunyai alasan mengunjungi bukit Karesi, Langlayang atau Palasari. Hal ini menandakan bahwa jauh sebelum Bujangga Manik melalui ketiga gunung tersebut ada kemungkinan telah terdapat sebuah peradaban (pada saat ini mungkin bukti arkeologis) di bukit Karesi. Oleh karena itu maka disekitaran identifikasi yang dilakukan oleh kang Igun mungkin akan ada temuan lainnya.

11866305_137834856555724_2935667753234015195_n

Makam Centrang Manik

Identifikasi selanjutnya dari Kang Igun adalah berupa bangunan. Dikatakan bahwa terdapat juga lokasi susunan batu mengindikasikan bekas bangunan. Di sini ditemukan pula batu gigilang (empat persegi panjang) dan tempat penyucian yang selalu dilalui ketika memasuki tangga punden berundak. Selain itu ada juga makam yang diyakini sebagai makam Centring Manik. 5

Proses identifikasi ini sangatlah penting dalam upaya menemukan jejak historis dari sebahagian perjalanan yang ditempuh Bujangga manik. Saya sendiri tidak berharap kepada para peneliti untuk bisa menemukan bukti kuat semisal jejak Bujangga Manik yang ada di Candi Penataran, Blitar akan tetapi saya menghargai proses yang sedang berjalan dan mungkin akan selalu menikmatinya.

Dan untuk melakukan identifikasi tersebut sejatinya terdapat beberapa proses yang harus dilalui oleh peneliti. Umpamanya para peneliti harus membandingkan temuan yang ada di bukit Karesi itu dengan beberapa situs yang ada di daerah Sunda lainnya yang sezaman. Adakah tipologi yang serupa dari bangunan, makam atau temuan lainnya yang serupa. Selain itu mungkin akan lebih bagus lagi apabila menemukan sumber-sumber, baik primer atau sekunder, tentang keberadaan situs yang ada di bukit Karesi sebagai sumber pembanding atau penguat.

Sejauh yang penulis amati dalam proses napak tilas Bujangga Manik disekitaran Ujungberung itu, penelitian akan terus berlanjut tanpa diketahui kapan berakhirnya. Tentu saya pribadi sangat mendukung, dan kalau boleh sayapun ingin menjadi dari bagian sejarah, dalam penelitian ini.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Referensi:

  1. Hawe setiawan mempunyai pendapat bahwa mungkin ini tipe dari penulisan puisi/sastra zaman dulu yang tidak selalu mencantumkan nama penulis
  2. Lihat buku Dennys Lombard buku ketiga
  3. baris puisi 1330, lampiran Hawe Setiawan
  4. Lihat di https://www.facebook.com/groups/446790648817858/
  5. Foto diambil dari grup Ujungberung

Tinggalkan pesan

Comment