in Karya-karyaku

Lingua franca bahasa inggris berserta gejala bilingualisme di Pare.

Indonesia yang merupakan negara multilingual, multirasial dan multikultural sangat berpotensi sekali untuk menerima bahasa-bahasa asing sebagai alat komunikasi yang baru. Seperti yang diketahui bahwa bahasa inggris adalah bahasa internasional yang harus kita kuasai, dengan begitu kita bisa mempelajari dan mengikuti perkembangan dunia barat dan sekitarnya. Dalam tulisan ini saya ingin berbagi ilmu tentang bahasa di pare.

Seperti yang sudah kita pelajari dulu bahwa Sosiolinguistik adalah ilmu yang mempelajari keadaan bahasa didalam kehidupan bermasyarakat, baik dilihat dari penutur, tindak tutur dan juga bahasa dan masyarakat itu sendiri. Keadaan tersebut saya dapatkan di Pare.

Pare, terletak diantara 2 kota besar yaitu kediri dan malang, dan juga kita pasti tahu bahwa bahasa yang digunakan orang-orang kediri dan malang adalah bahasa jawa sebagai bahasa ibunya. Namun apa yang menarik dari pare tersebut adalah dengan banyaknya lembaga-lembaga pengembangan bahasa inggris yang ada disana, dengan demikian tempat tersebut bisa dibilang desa inggris, itu kata orang-orang setempat.

Ketika hal itu terjadi lantas yang bisa ditemukan adalah bertemunya orang-orang dari berbagai suku, budaya dan juga orang-orang yang memiliki bahasa ibu berbeda. Untuk itu sikap pemilihan bahasa harus benar-benar dijaga, agar menjaga komunikasi nyambung dan tetap berjalan lancar sebagaimana mestinya.

Oleh karena itu perlunya sistem linguistik yang digunakan sebagai alat komunikasi SEMENTARA oleh para partisipan yang mempunyai bahasa ibu yang berbeda (chaedar dan agustina 82:2004) yang kita kenal dengan istilah lingua franca, dengan demikian komunikasi tetap berjalan lancar kalau kita memakai bahasa standar yang satu sama lainnya mengerti, dan jawabannya adalah Bahasa Indonesia.

Tapi tidak semua orang disana lantas memakai bahasa indonesia untuk mencairkan suasana, ada juga orang yang memakai bahasa inggris sebagai lingua franca nya, keadaan tersebut terjadi karena beberapa faktor, faktor psikologi berpengaruh sekali dengan keadaan seperti demikian.

Hal yang demikian ini sangatlah memungkinkan juga terjadinya bilingualisme, adanya 2 kontak bahasa yang dipakai secara bergantian oleh partisipan.

1. Namun kapan hal yang demikian terjadi?!
2. Persentase penutur yang menjadikan bahasa inggris sebagai lingua franca?! (dibatasi hanya dilembaga, camp2 yang menggunakan bahasa inggris area)

Dikarenakan penulis belum siap-siap kuliah dengan sangat terpaksa tulisan ini bersambung dulu

Tinggalkan pesan

Comment