history

in Agama

LGBT: Zaman Beredar Riwayat Berulang

history

Quoted from philosopher

Salah satu isu hangat yang sampai sekarang masih diperbincangkan dimedia-media baik itu media online ataupun media cetak adalah berita mengenai berita pelegalan pernikahan sesama jenis. Berbagai respon yang terlontar dari masyarakat sudah lazim akan berbeda, disatu sisi tidak sedikit yang menolak dan disisi lain ada juga yang setuju terhadap pernikahan tersebut.

Tercatat dalam laman forbes statista sampai saat ini sebanyak kurang lebih 20 negara telah melegalkan pernikahan sesama jenis. Mulai dari Argentina, Belgia, Brazil, Canada, Denmark, England/Wales, Finlandia, Francis, Irlandia, Islandia, Luxemburgo, Belanda, Selandia Baru, Norwegia, Portugal, Skotlandia, Afrika Selatan, Spanyol, Swedia, Amerika Serikat, dan Swedia.

Di Indonesia sendiri, yang notabennya dikenal sebagai negara mayoritas Islam, isu pelegalan pernikahan sesama jenis menjadi isu yang banyak menarik perhatian orang dari berbagai kalangan. Meskipun dikenal sebagai negara yang mayoritas penduduknya Islam tapi hal itu nampaknya tidak membuat isu ini ditolak mentah-mentah seutuhnya.

Berbagai kalangan ada yang merespon baik dengan dilegalkannya pernikahan sesama jenis ini, baik itu mereka dari kalangan akademisi atau dari kalangan publik figure (artis). Meski pada kenyataannya dukungan dari mereka pada akhirnya banyak melahirkan respon-respon tidak mengenakan. Apalagi isu ini memuncak ditengah-tengah bulan yang suci yakni bulan Ramadhan.

Zaman Beredar Riwayat Berulang

Perbedaan pendapat barangkali adalah hal yang wajar. Hal ini menandakan bahwa manusia tidak sama satu sama lain, alias manusia itu beragam mulai dari beragamnya suku, bangsa ataupun sampai kepada pemikiran.

Oleh karena itu pro dan kontra yang muncul di Indonesia atas respon pelegalan pernikahan sesama jenis ini adalah sebuah keniscayaan. Sejatinya kita tidak bisa menafikan berbagai perbedaan pendapat yang muncul terkait dengan hal ini, karena pada dasarnya kedua pihak yang bertentangan mempunyai pandangannya tersendiri dalam berpendapat.

Syahdan, apa yang terjadi saat ini, terkait dikotomi perbedaan pendapat diatas, hemat penulis nampak selaras dengan pengandaian atas pribahasa terkenal yang lahir di Francis Zaman beredar riwayat berulang.

Pada titik tertentu peribahasa ini, zaman beredar riwayat berulang, akan melahirkan pemaknaan dan kesadaran sejarah berbeda diantara kedua pihak. Bagi yang mendukung pernikahan sejenis apa yang dituliskan sejarah harus dipertanyakan kembali kebenarannya. Sedangkan bagi yang kontra terhadap isu pernikahan sesama jenis ini akan mengatakan bahwa ini bukanlah hal yang baru, melainkan hanya pengulangan semata.

Disatu sisi mereka yang pro mempunyai pandangan bahwa harus diadakan upaya-upaya untuk mempertanyakan, dan sekaligus, merubah sistem hegemoni pernikahan yang telah mapan sebelumnya, atau meminjam istilah yang pernah penulis baca adalah kesakralan perkawinan diantara pria dan wanita.

Adanya upaya tersebut sebanding lurus dengan apa yang diperjuangkan mereka untuk keluar dari lingkaran sejarah yang kerap melahirkan berbagai sikap diskriminasi dan kekerasan. Tak syak inilah yang menggerakan mereka agar sejarah yang terulang kembali tidak selaras dengan riwayat yang pernah berulang hadir sebelumnya.

Yang menarik disini adalah adanya kecenderungan dikesampingkan nya sisi moral, dalam hal ini agama, ketika berbicara mengenai pernikahan sesama jenis. Padahal salah satu titik temu perdebatan sengit antara mereka yang pro dan mereka yang kontra justru terletak dalam masalah moral ini.

Disisi lain yang kontra terhadap pernikahan sesama jenis tentu mempunyai pandangan bahwa permasalahan ini adalah permasalahan moral, yang ketentuan hukumnya sudah tertera jelas didalam kitab suci.

Pemaknaan dari semboyan yang berasal dari francis tadi, yakni sejarah terulang kembali, tidak lain adalah sebuah pengulangan semata dari sejarah-sejarah yang pernah terjadi, misalnya, pada kaum Nabi Luth, yang pada akhirnya mereka mendapatkan azab dari Tuhan. Hanya saja waktu dan pelakunya yang berbeda.

Tentu saja hal inilah yang pada akhirnya menjadi landasan penting bagi mereka ketika berdebat dengan pendukung pernikahan sesama jenis.

Meski pada akhirnya yang nampak kemuka, perdebatan tersebut terjadi hanya sambil lalu saja. Karena satu sama lain berdiri dibarisan yang berbeda, yang satu melihat bahwa adalah keharusan untuk merubah riwayat yang terulang tersebut, hal ini seiring dengan perubahan zaman dan cara pandang manusia melihat satu sama lain dalam kehidupan.

Sedangkan yang satu lebih memahami bahwa riwayat yang berulang tersebut adalah salah satu kepastian. Karena sejarah memang berulang meskipun peran dan aktornya berbeda namun esensinya tetap sama.

Jangan Marah-Marah, Mari Ramah-Ramah

Perbedaan pendapat adalah tanda dari kebebasan, tandas Edward Murrow, seorang jurnalis asal Amerika. Pro dan kontra yang terjadi antara pendukung pernikahan sesama jenis dan mereka yang tidak mendukung adalah sebuah hal yang lazim terjadi di negeri demokrasi ini.

Meskipun begitu kebebasan pun ada batasnya, karena negara Indonesia adalah negara hukum. Maka dari itu ada beberapa hal yang mesti diingat dan dijadikan pedoman manakala perdebatan ini, umpamanya, terus berlanjut. Salah satu hal yang harus dijaga adalah kita harus mengedepankan dialog yang ramah-ramah nan sehat dengan tanpa adanya pretensi marah-marah yang melanggengkan kekerasan.

Hal ini selaras dengan pendapat Menteri Agama Lukman Hakim Saifuddin yang mengajak masyarakat untuk mengedepankan diskusi dan dialog sehingga bisa memahami dari esensi pernikahan.

Dengan begitu satu sama lain bisa duduk beriringan dan mengutarakan berbagai argumentasi dan pemaknaan mengenai upaya-upaya mereka dalam memperbaki apa yang sedang diperjuangkannya.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment