in Cerpen, Sastra

Langka dan Ishadat – Rimba Kota –

 

  • Langka: “Hey Ishadat, Tolong ceritakan padaku, kenapa engkau bisa tersesat dirimba kota?”
  • Ishadat: “Aku tersesat ketika hendak pulang ke hutan rimba, Aku berjalan baru kemarin, -meski itu masa lalu- aku masih ingat jejak-jejak yang aku tinggalkan kemarin, namun aku tidak mau menyentuhnya kembali, aku tidak tahu kenapa.”
  • Langka: “Lantas kenapa engkau menjadi seperti orang yang lupa? Sedangkan engkau tahu bahwa hidupmu yang sekarang ada dari keberangkatan yang kemarin- “
  • Ishadat: “Sampurasun kang Langka, Aku lupa bukan karena jejak-jejak itu hilang -sekalipun hilang, pastilah ada suatu yang menuntunku-. Namun rimba kota banyaklah yang berkilau -dikanan dan dikiri-, hingga ketika setiap mata melirik, maka hatipun tertarik, dilihatnya suatu kenikmatan tiada tara, setiap itu pula aku mulai enggan untuk melangkah kembali kepada rimba hutan.”
  • Langka: “Lalu bagaimanakah engkau pada akhirnya nanti?”
  • Ishadat: “Aku Tidak tahu, yang aku inginkan sekarang adalah menikmati masa muda dirimba kota, bersama penikmat dunia.”
  • Langka ngahuleung dan kembali pergi bersama rakitnya…

14 total views, 2 views today

Tinggalkan pesan

Comment