in Bahasa, Kajian Budaya

Kreatifitas: Bahasa, Kecintaan dan Blogger

Perkembangan tekhnologi dizaman sekarang mungkin bisa dibilang adalah sebuah keberhasilan yang luar biasa. Berbagai inovasi dan perkembangan yang mengharuskan jargon “lebih maju” dari sebelumnya selalu mewarnai dalam proses berputarnya pengembangan tersebut.

Ada benarnya bahwa zaman kita adalah zaman dimana semua, perkembangan tersebut, seperti semisal fungsi tubuh kita sendiri namun mempunyai cara berbeda dalam hasil dan tujuannya, tentunya. The extentions of man 1, begitulah jelasnya kata Marshal Mclluhan. Seorang kritikus sastra yang intens dalam memahami media.

Apa yang digaungkan, diktum diatas dan teori global village, olehnya bahwa kelak dunia ini akan terasa seperti kampung global. Amerika disatu sisi bisa terasa dekat dengan Indonesia disisi lain. Adalah media informasi umumnya dan media sosial khususnya yang menjadi tali pengikat silaturahmi manusia jauh dan dekat di seluruh dunia.Seiring dengan waktu maka perkembangannya tersebut ternyata tidak serta merta membawa hal yang positif bagi negara-negara dunia ketiga. Dengan banyaknya pembahasan globalisasi, modernisasi dan lain-lain adalah suatu dilema masyarakat yang tengah digempur dunia baru yang sedikit maju didepannya.

Permasalahan tentang identitas selalu menjadi kunci utama bagaimana orang-orang membahasa dampak dan implikasi perkembangan globalisasi dan tekhnologi. Salah satunya adalah permasalahan kebahasaan; baik itu bahasa nasional bahkan sampai bahasa lokal kita.

Salah satu syarat utama bagaimana inovasi tekhnologi itu berkembang menyebar adalah melalui media bahasa. Kita tidak mungkin bisa sedikit mengharapkan bahwa bahasa pengantar dalam facebook, twitter, corel, photoshop, joomla dan apapun itu menggunakan bahasa indonesia atau sunda.

Wujud dari bahasa yang mempunyai sertifikat internasional adalah bahasa yang seharusnya mendunia 2, dan kita sudah tahu bahwa bahasa itu adalah bahasa Inggris. Oleh karena itu pula mengapa bahasa inggris disebut juga lingua franca of technology, jelasnya bahasa Inggris adalah bahasa pemersatu kita didunia maya.

Disatu Sisi dan Disisi Lainnya

Respon Indonesia terhadap perkembangan tekhnologi begitu mempesona dari zaman friendster sampai twitter dan facebook sudah terbilang berhasil dalam pandangan mereka yang menginginkan. Ada benarnya bila ada orang-orang yang mengatakan bahwa posisi Indonesia memang baik dalam “peta ekonomi global”.

Namun dengan begitu, ternyata ada kemenduaan rasa yang terlahir dari perkembangan dan dampak yang dihadirkan oleh definisi tersebut. Pengikisan solidaritas sosial tergiring menjadi manusia yang individualistis, terombang-ambing ditengah gempuran budaya konsumerisme dan persentuhan bahasa yang menyebabkan suatu hal yang ditakuti, prestise bahasa asing akibat dari kognisi citraan yang berlebihan.

Apabila kita terus menerus dicekoki oleh perkembangan tersebut tanpa adanya suatu peran subyek yang dialektis 3 maka kita akan senantiasa terasa mudah untuk digiring kemana inovasi itu mengarah. Subyek yang dialektis adalah upaya diri dalam gempuran sesuatu yang ada diluar kita, usaha sadar diri ditengah gempuran sesuatu yang tidak perlu. Untuk pembahasan selanjutnya mungkin anda bisa membaca tulisan singkat saya yang membahas tentang subyek 4.

Glokal, Kreatifitas dan Sadar Diri

Usaha sadar diri yang diperlukan dalam gempuran globalisasi diharapkan akan membendung sedikitnya badai yang keras menghantam, disini kita berperan seperti batu yang menancap keras kemukanya. Ia tidak terlalu bisa digerakakan kalau dihantam badai dan ia tidak keberatan apabila dikerumuni air.

Melebur pada keadaan dan mengikat sesuatu yang lalu meski melihat kedepan. Sadar bila kehadiran globalisasi membuat sesuatu kepanikan maka untuk melawannya bukannya dengan cara meninggalkan dan menjadi terbelakang akan sifat kehidupan yang berputar. Kita tidak perlu takut dengan kehadiran tekhnologi saat ini melainkan kita harus bersyukur karena dengan kehadiran tekhnologi, khususnya media maya, maka kita akan lebih mudah untuk mengenalkan identitas kita sebagai orang Indonesia.

Glokal singkatnya adalah kehidupan yang berputar tanpa harus terpisah dari apa yang kita tanam sebelum bermekar, seorang manusia global yang melokal. Menjadikan arena dunia maya menjadi senjata adalah salah satu cara ampuh untuk mengenalkan apa yang kita punya untuk dunia yang kita tidak kenal.

Ada banyak saudara-saudara kita yang telah berpikir sama dengan apa yang dianjurkan dalam merespon perkembangan tekhnologi. Kegiatannya pun tidak hanya dalam dunia maya melainkan dalam hal apapun. Namun disini saya hanya ingin memberikan satu contoh kecil yang mungkin bisa menjadi inspirasi anda kelak.

Fenomena bahasa dalam gempuran globalisasi masih menjadi pembahasan yang hangat sampai sekarang. Dari pengikisan bahasa, peminjaman bahasa yang tak perlu sampai kepada pembahasan singkat berbahasa ala mIrc – bahasa chat – masih menjadi suatu hal yang perlu dianalisis dan dicari solusinya.

Dari Blogger Untuk Dunia

Tadaaaaa..! Serasa gembira dalam hati melihat kreatifitas anak muda Indonesia yang mempunyai kecintaan besar terhadap Indonesia. Adalah mereka-mereka yang bisa menyeimbangkan apa yang didapat dan apa yang harus dipikirkan. Dari mereka mungkin sedikitnya pengenalan istilah-istilah bahasa nasional dan lokal ke dunia bisa diacungi jempol.

Yang dilakukan mereka hanya sederhana saja, mereka membuat suatu theme berbasis wordpress, Joomla dan blogger dengan menamakan theme buatannya menggunakan istilah yang lokal/nasional.

Dengan intensitas dunia blog yang masih mendapat perhatian orang banyak dari berbagai dunia, khususnya web developer. Mereka yang membuat themes adalah mereka yang senantiasa aktif bergabung dikomunitas developer seluruh dunia. Saling berbagi dan saling mengunjungi blog perusahaannya adalah hal yang biasa dalam istilah blog dan dunia maya. Apalagi dunia web development, developer, dan designer graphix memang satu paket. Intinya adalah menamai produk kreatifitas yang diciptakan dengan menggunakan istilah nasional atau lokal.

Berikut saya berikan sedikit contoh. Perlu digaris bawahi bahwa sample yang diambil adalah dari webdeveloper kenamaan, artinya sample yang diambil adalah dari themes yang sudah mendunia, banyak dikenal dan diklik oleh blogwalker. Mohon ditambah apabila pengunjung mengetahui lebih dari yang dicantumkan disini.

Kelontong theme, Bangkoo theme, Dangdoot theme, Kakileema theme, Terserah theme, Bajigoor theme, OrangOotan theme, Toko Bajoo theme, Dapur Kue theme, Garuda dan lain-lain. 5

Sehingga yang diharapkan bersikap seperti ambigu, disatu sisi kita bisa menerima baik perkembangan apapun itu yang ditawarkan teknologi dan disisi lain kita tidak harus pasif untuk berpikir dan menerima apapun yang diberikan zaman global ini dapat diaplikasikan dengan baik dan menguntungkan.

Untuk kedepannya mungkin kita bisa berbuat sama dengan apa yang mereka perbuat. Membuat suatu kreatifitas dengan berlandaskan kecintaan kepada nasional dan identitas lokal dan mengenalkannya ke seluruh dunia tanpa meninggalkan kehidupan yang berputar sesuai zaman.

Referensi:

  1. Understanding Media: Marshal Mclluhan
  2. David Crystal
  3. Istilah ini saya dapati dari web Rumah Filsafat, inspirator.
  4. http://zakiiaydia.com/sejarah/koruptormenjadi-subyek-yang-melampaui-masa-depan/
  5. anda bisa merujuk kepada website http://tokokoo.comhttp://www.jauhari.net/ dll

Tinggalkan pesan

Comment