in Budaya, Sejarah

Koruptor;Menjadi Subyek Yang Melampaui Masa Depan

Filsafat---Zakii-Aydia

Sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit. Mungkin perumpamaan kata diatas sangatlah cocok apabila kita sematkan makna itu kepada negara Indonesia dengan keadaan fenomena korupsi yang sudah akut. Pelbagai berita korupsi dari tingkat pemerintahan, daerah bahkan kecamatan/desa mulai terkuak ke permukaan.

Data yang disajikan didalam sebuah website tentang informasi korupsi mencatat bahwa kurang lebih ada 153 tikus-tikus kotor yang berhasil dijaring oleh pihak berwenang dan beberapa lainya sedang diproses. 1 Sepintas apabila melihat kepada angka yang tertera mungkin jumlah tersebut tidak sebanyak yang kita kira namun apabila kita melihat angka tersebut berserta anggaran/harga uang yang mereka korupsi mungkin kita akan berpikir berbeda dan bertolak belakang dengan apa yang kita kira sebelumnya.

Kita patut bersyukur kepada para pegiat antikorupsi yang senantiasa tak kenal menyerah untuk memberantas hama-hama busuk Negara yang merugikan rakyat. Yang seharusnya rakyat dipertuan eh malah memperagung diri sendiri dengan kepentingan-kepentingannya, wong goblok! Yang kita harapkan biarlah yang lama terkumpul itu menjadi bukit agar kelak akan mudah bagi kita untuk memnghanguskannya.

Menyadari bahwa memberantas korupsi itu bukanlah tugas pada sebahagian kelompok sahaja, kita juga mempunyai hak untuk sedikit sahaja membantu mereka dalam memberantas korupsi. Sebetulnya banyak yang bisa kita upayakan dalam pemberantasan korupsi meskipun intensitasnya tidak seluas apa yang telah dilakukan para pegiat antikorupsi yang sudah mempunyai label dipercaya.Salah satunya adalah dengan membongkar dan memberikan suatu hinaan dan cercaan kepada para koruptor yang telah membuat banyak rakyat-rakyat menderita tak ujung jera dengan melalui sebuah karya tulis. Memberikan hukuman sosial yang bisa membuat orang berpikir untuk melakukan korupsi. Dengan melakukan hal tersebut kita tidak hanya memanfaatkan perkembangan tekhnologi – dalam blog atau citizen jurnalis – saja melainkan menerapkan I’tikad baik perihal menginginkan suatu perubahan.

Dalam tulisan ini saya akan sedikit membahas beberapa pandangan pribadi – berbasis orang lain juga sih 😀 – terhadap fenomena korupsi yang sudah menjamur. Ada dua pembahasan yang akan disajikan dalam tulisan ini. Yang pertama saya akan membahas korupsi dengan menggunakan konsep triad-nya lacan dan kalau mungkin diperlukan saya akan menambahkan pengagumnya Zizek. Yang kedua adalah membahas korupsi dengan menggunakan konsep yang ditawarkan Ibnu Khaldun dalam sub-judulnya tentang kedzaliman membawa kehancuran. Setelah itu baru memberikan suatu kesimpulan dan beberapa hal yang harus diterangkan.

Koruptor; Yang Telah Mati

Koruptor adalah sekumpulan manusia yang mengalami suatu euphoria fantasi yang tak ujung henti bila tak korupsi. Kenikmatan yang mereka dapatkan adalah kenikmatan semu akibat dari kesalahan menjalani suatu prosedur subjektifitas bagi dirinya. Sehingga apabila ia tak kuat saja untuk meyakini suatu definisi awal maka ia akan dengan mudahnya terpengaruh oleh sifat-sifat struktural yang mempengaruhi.

Dalam dunia ini kerap para koruptor sedang berada pada tahap dimana mereka kehilangan suatu substansinya semula. Yang oleh Rousseau 2 dikatakan pada mulanya manusia itu mempunyai sifat yang baik, akan tetapi suatu keadaan struktural menjadi suatu keniscayaan bagaimana manusia berubah menjadi seperti iblis.

Keadaan seperti ini sangat erat kaitannya dengan bagaimana suatu citraan mendahului suatu substansi semula. Apabila konsep triad-nya Lacan, Yang imajiner, yang nyata, dan yang simbolik, digunakan disini mungkin pembahasan singkatnya akan seperti ini.

Koruptor adalah manusia yang telah kehilangan suatu keadaan realitas semula, mereka didahului oleh suatu keadaan dimana mereka telah menemukan dirinya dalam kebahagiaan yang mereka impikan. Suatu kekayaan, pergi keluar negeri, mempunyai mobil banyak, mempunyai segalanya, hidup mewah dan sebagainya.

Keadaan yang sedemikian rupa diatas pastilah datang setelah mereka mengenal, pangkat untuk berkuasa, uang yang begitu banyak melimpah ketika menjabat suatu jabatan yang menggiurkan. Uang, harta, dan pangkat itulah merupakan hal-hal yang simbolik, yang telah membuat jarak antara yang nyata dan simbolik.

Para koruptor bisa seenaknya menyelewengkan suatu realitas samar yang berubah pada dirinya ketika mengenal yang simbolik. Ia merindu yang ia mimpikan selama ini, ia merindukan sebuah kehidupan mewah bak raja yang didamba. Pertanyaannya dimanakah letak realitas awalnya bermula? Substansinya itu apa loh?

Untuk permasalahan manusia ini saya lebih memihak kepada pemahaman orang-orang yang mempunyai pandangan bahwa keadaan telah membuat manusia untuk berbuat semena-mena. Akibat suatu jabatan, kekuasaan dan harta mereka jadi mempunyai sifat untuk berkehendak menguasai dan menyakiti. Tidak ada suatu subyek pasti yang ada pada para koruptor. Yang ada pada dirinya adalah suatu subyek yang telah dimatikan oleh sifat-sifat yang ada diluar para koruptor.

Untuk menemukan kembali keberpijakan semula adalah hal yang sangat sulit dan menyakitkan karena mereka harus kembali kepada yang nyata. Yang nyata ialah yang seharusnya para koruptor agungkan ternyata menjadi suatu hal yang tidak diinginkan yang simbolik. Tandasnya adalah the real adalah yang mengganggu stabilitas tata simbolik. 3

Para koruptor mungkin tahu betul bahwa apabila mereka membiarkan hal itu terjadi maka mereka akan menjadi seorang yang tak berharta banyak, tidak bisa hidup mewah, pergi keluar negeri dengan uang rakyat! Akan tetapi jalan inilah yang seharusnya mereka tempuh untuk kembali menemukan suatu subtansi yang samar.

Melalui kesadaran diri, yang telah terpengaruh oleh suatu ketidakharusan mereka seharusnya bisa keluar dari kungkungan gairah yang bersifat mengasyikan dan menikmatkan itu. Melepaskan semua karakteristik semua kebutuhan partikular anda, kepentingan dan kepercayaan. Maka yang tertinggal adalah subyek. Subyek adalah bentuk dari kesadaranmu yang berlawanan dari isi kesadaran yang spesifik kepada dirimu. 4

Membunuh dan membenamkan aturan yang simbolik 5 adalah salah satu jalan yang seharusnya dilakukan para koruptor. Memperkuat iman kembali akan godaan hal-hal yang bersifat merusak tata kehidupan adalah suatu jawaban yang kurang lebih selaras. Artinya ada posisi seperti ini seorang koruptor harus bisa keluar dari permasalahan-permasalahan knikmatan yang ditawarkan oleh harta dan benda serta mengubur dulu impian menjadi raja bak dikartun-kartun dengan melihat ulang keadaan rakyat yang jauh dari impianmu wahai koruptor!

Koruptor; Menjadi Manusia Subyek Yang Melampaui Masa Depan

Masa depan para koruptor adalah penjara dan neraka. Penjara adalah tingkatan yang masih bisa dilampaui manusia untuk kembali kepada subyek yang menyesal. Melihat dirinya dalam cermin cerita hidup yang kelam adalah melihat hidup yang tak sesuai dengan apa yang dipikirkan para koruptor dikerangkeng besi. Menurut saya ketika seperti inilah seorang manusia memahami dirinya tengah kehilangan subyek yang sebenar-benarnya.

Ketika suatu yang simbolik telah pergi, ketika yang imajiner telah berlalu, dan ketika yang nyata telah menjadi masa lalu yang disesalkan, maka seorang manusia telah menyesal telah kehilangan subyek yang pernah mereka sematkan kepadanya. Pada saat sang koruptor berujar “Aku menyesal telah berbuat korupsi dan aku ingin kembali kepada masa lalu” saat itu pulalah mereka ingin kembali mengubah subyek yang telah mati pada dirinya sendiri dimasa lalu.

Oleh karena itu seharusnya kita bisa memaknai diri kita sendiri jauh dari yang kita kira dikemudian hari, meliputi segala sebab akibat yang akan tercipta kelak dimasa depan. Kita harus bisa merubah perumpamaan penyesalan datang diakhir cerita menjadi tidak ada penyesalan yang terlalu dalam hidup meski telah berlalu. Menjadi subyek yang benar-benar sadar akan suatu keadaan adalah menjadi manusia yang bisa melampaui masa depannya sendiri.

Singkatnya manusia yang seperti ini, khususnya para tikus kotor kantor, haruslah mengetahui tindak tanduk yang dilakukannya serta akibat yang akan dirasakannya nanti. Apabila mereka menyadari semua tindakan yang telah mereka lakukan ketika berada dibalik kerangkeng besi maka pada saat itulah ia tengah menyadari suatu kegagalan hidup dalam menjalani suatu yang seharusnya dijalani.

To be continued.

Referensi:

  1. Korupedia
  2. http://www.class.uidaho.edu/engl_258/Lecture%20Notes/man_is_naturally_good.htm
  3. http://rumahfilsafat.com/2011/06/14/jurnal-filsafat-slavoj-zizek-dan-manusia-sebagai-subyek-dialektis/
  4. Slavoj Zizek; The Myers
  5. http://www.academia.edu/540329/Zizek_Adalah_Superego_atau_Hanya_Subyek_yang_Pup_Lancar_yang_Bisa_Radikal_Bedah_Buku_Manusia_Politik_-_Robertus_Robet_

Tinggalkan pesan

Comment

12 Comments

  1. Korupsi apa bisa dibersihkan dr INA ya mas?
    lah sudah mendarah daging ngunu…

    tapi insya Alloh bisa bersih asal semua bisa bekerja sama…
    trim mas atas kunjungan ketempat saya yang sedrhana

    • Kalau ada i’tikad baik dan i’tikadnya itu benar-benar bisa menjadi sesuatu yang terkolektifkan, Insya Allah akan dimudahkan oleh penguasa dari segala raja, Allah Maha Mulia 🙂

      Sama-sama Mas Ahmad, makasih atas kunjungan baliknya.

  2. Korupsi sudah jadi budaya… tidak pejabat atau rakyat jelata, korupsi sudah mengakar. Kalo pejabat korupsinya bisa bermilyar-milyar, tapi rakyat kecil juga bisa korupsi, misalnya melalui kuitansi kosong yang akan diisi sendiri ketika membeli alat-alat perkantoran. Hal ini sudah menjadi umum…

Webmentions

  • Kreatifitas: Bahasa, Kecintaan dan Blogger | Zakii Aydia November 23, 2012

    […] Apabila kita terus menerus dicekoki oleh perkembangan tersebut tanpa adanya suatu peran subyek yang dialektis 3 maka kita akan senantiasa terasa mudah untuk digiring kemana inovasi itu mengarah. Subyek yang dialektis adalah upaya diri dalam gempuran sesuatu yang ada diluar kita, usaha sadar diri ditengah gempuran sesuatu yang tidak perlu. Untuk pembahasan selanjutnya mungkin anda bisa membaca tulisan singkat saya yang membahas tentang subyek 4. […]