Konflik dan Penyesuaian Persilangan Budaya

Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sansekerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia. Dalam bahasa Inggris, kebudayaan disebut culture, yang berasal dari kata Latin Colere, yaitu mengolah atau mengerjakan. Bisa diartikan juga sebagai mengolah tanah atau bertani. Kata culture juga kadang diterjemahkan sebagai “kultur” dalam bahasa Indonesia. Kebudayaan sangat erat hubungannya dengan masyarakat. Melville J. Herskovits dan Bronislaw Malinowski mengemukakan bahwa segala sesuatu yang terdapat dalam masyarakat ditentukan oleh kebudayaan yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri. Istilah untuk pendapat itu adalah Cultural-Determinism.

Beberapa istilah dalam penyesuaian lintas budaya

1.  A fish out of water

–   Seseorang yang hidup di budaya yang baru, penerimaannya:

Up = dapat dengan mudah menyesuaikan

Down = sebaliknya

–   Tergantung dari motivasi, lamanya tinggal, latar belakang budaya dan bahasa, pengetahuan budaya dan bahasa, kepribadian, cara berhubungan dengan orang lain, kondisi keuangan, pekerjaan, umur dan tingkat etnosentris.

  1. 2.      Unpredictable Cultural Adjusment

Setiap individu akan mengalami perbedaan dalam menyesuaikan atau menerima budaya baru. Bisa jadi seorang individu akan mendapatkan kemudahan ketika pertama kali datang ke dalam lingkungan dengan budaya baru lalu akan menemui ganjalan di tahun-tahun berikutnya atau sebaliknya ada individu yang mengalami kesulitan dalam menyesuaikan budaya ketika pertama kali datang tetapi karena kebiasaan dalam menerima kesulitan tersebut menjadikannya semakin kuat bertahan hidup dan cenderung akan mendapatkan kemudahan di tahun-tahun berikutnya.

Pandangan yang menganggap sama antara budaya baru dan budaya lama itu adalah salah. Hal tersebut dikarenakan mereka hanya melihat dari satu sisi saja, tidak melihat adanya perbedaan budaya. Padahal perbedaan antar budaya itu pasti akan selalu ada.

  1. 3.      A ride on a roller coaster

Pengalaman seseorang yang hidup dalam kebudayaan yang berbeda bisa diibaratkan seperti manaiki roller coaster, kadang berada di atas tetapi kadang berada di bawah, kadang bahagia tapi terkadang juga sedih. Hal ini bisa menimbulkan kebingungan apakah seseorang itu suka atau tidak pada budaya baru tersebut. Perasaan itu seringkali muncul tapi tidak selalu.

Ketika seseorang memasuki budaya baru, maka ia akan mengalami culture shock. Beberapa gejala-gejala adanya culture shock yaitu munculnya perasaan stress, lelah dan juga tegang.

Setiap individu itu akan mengalami perbedaan dalam menyesuaikan budaya baru. Masalah-masalah yang timbul dalam mempercepat atau memperlambat penyesuaian budaya:

  1. Kerinduan akan kampung halaman
  2. Ketidakmampuan bekerja dengan baik
  3. Terlalu banyak makan, minum dan tidur
  4. Kurang menerima orang-orang dengan latar kebudayaan yang baru.
  5. Menganggap budaya sendiri lebih baik dari budaya orang lain.
  6. Menarik diri dan menghindari kontak dengan orang-orang dilingkungan budaya baru.
  7. Kurang bisa menyesuaikan dengan orang lain bahkan dalam hal kecil sekalipun.

Salah satu cara pendatang baru dalam menyesuaikan diri dengan lingkungan kebudayaan yang baru yaitu dengan cara menjalin hubungan sosial yang baik dengan sesama pendatang baru dan penduduk  asli. Kemudian saling berbagi pengalaman satu sama lain sehingga memudahkan kita untuk mengetahui budaya baru di lingkungan yang baru dan memudahkan kita untuk menyaring budaya yang baik dan budaya yang buruk.

            Contoh perbedaan atau persilangan budaya yang menimbulkan konflik:

                        Contoh yang saya ambil adalah mengenai kebudayaan tentang asal-usul makanan khas Semarang bernama loenpia (kadang diucapkan lumpia). Meski penelitian ini jauh dari kemungkinan temuan asal-usul loenpia di Semarang, paling tidak temuan mereka memberi gambaran mengenai asal-usul salah satu klan yang sukses mengangkat loenpia sejak puluhan tahun yang lalu. Kisah loenpia dari klan ini berawal dari Tjoa Thay Yoe yang datang dari China ke Semarang, diperkirakan sebelum tahun 1900. Tjoa adalah seorang pedagang makanan yang ketika berjualan di pasar, ia bertemu dengan pedagang Wasih. Ia kaget ketika melihat kenyataan ada makanan yang hampir mirip yang diperdagangkannya. Namun, ada perbedaannya. Makanan yang dijual Wasih berisi udang dan kentang, sedangkan yang dijual Tjoa berisi daging babi dan rebung. Mereka kemudian menikah dan melahirkan anak bernama Tjoa Po Nio. Generasi ini yang turun-temurun sukses memproduksi loenpia di Semarang dengan berbagai variasi. Hingga sekarang keturunan mereka telah sampai pada generasi ketiga dan keempat. Beberapa nama produsen loenpia—seperti Loenpia Gang Lombok, Loenpia Jalan Pemuda, Loenpia Mbak Lien, dan Loenpia Jalan Mataram—yang dikenal tidak hanya oleh warga Semarang tetapi juga oleh mereka yang berasal dari luar kota adalah generasi keturunan Tjoa.Dan juga dalam masakan

Persilangan budaya tampak dari isi loenpia. Cara memasak, bentuk, dan nama merupakan ciri hidangan China, sedangkan rasa manis dan orak-arik sebagai isi loenpia merupakan ciri khas hidangan Jawa. Mereka juga tidak lagi menggunakan daging babi sebagai isi, tetapi diganti dengan daging ayam dan udang. Di banyak tempat persilangan budaya pada makanan juga terjadi. Di Kabupaten Pekalongan kita bisa menemukan gulai kacang hijau. Aneh! Kita biasa menemukan bubur kacang hijau dengan rasa manis, tetapi di tempat itu dibuat gulai. Penduduk keturunan Arab yang berada di tempat itu telah membawa pengaruh penggulaian kacang hijau itu. Kisah-kisah makanan itu menjadi bukti pertemuan budaya yang tidak saling menghilangkan. Pertemuan budaya saling memperkaya. Keberadaan “yang lokal” masih tetap ada meski berbagai pengaruh budaya dari luar masuk. Mereka yang datang silih berganti menambah berbagai variasi yang makin memperlihatkan betapa indah sebenarnya negeri ini, meski dari secuil makanan sekalipun.

Ditulis oleh: Jejen Jenal Arifin

Published by

Muhammad Zaki Al-Aziz

Alumnus Sastra Inggris UIN BDG, Mahasiswa Pasca SKI UIN, Marketer Online, Blogger, Activist, Studies Lover, Free Thinker, Writer, Founder of sastrajingga.com & Co-founder of "Comming soon yukdiskusi.com. Contact me @ZakiiAydia

2 thoughts on “Konflik dan Penyesuaian Persilangan Budaya”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *