in Bahasa

Kajian Pola Perubahan Cara Seorang Berbahasa

Bahasa seperti kita ketahui nampak seperti selaras. Artinya bahasa yang diucapkan oleh perorang mungkin adalah sama dan tidak mempunyai perbedaan. Akan tetapi hal tersebut tidak berlaku ketika suatu bahasa memasuki ranah sosial yang digunakan oleh manusia.

Dalam kehidupan nyata bahkan bahasa setiap orang itu berbeda-beda, dari dialek, idiolek, cara dia menyampaikan bahasa, penekanan berujar dan lain-lain.

Hal tersebut sangatlah menjuruskan pada kita bahwa ketika suatu bahasa itu memasuki ranah yang lebih luas maka disitulah ragam, gaya, dialek, idiolek dan sebagainya terjadi. Salah satu alasannya adalah bahwa bahasa itu dipakai oleh manusia, dan pada hakekatnya bahasa itu produktif, tentu sesuai pemikiran zaman.

Sebelum mencari contoh paling sering terjadi di Indonesia, lebih baik kita meneliti dulu hal terkecil yang terjadi di sekeliling kita. Seperti yang akan saya jelaskan didalam tulisan singkat ini. Saya melakukan penelitian terhadap 1 orang sebagai participant. Saya mengandalkan grounded theory, hal ini dilakukan karena saya ingin mencoba untuk mengeluarkan dan menciptakan teori baru yang mungkin belum ada di dunia (Ngarep.com). Sebagai bantuannya saya mengambil teori2 yang bersangkutan dengan pembahasan.

Pembahasan

Bahasa sebagaimana kita ketahui adalah alat komunikasi oleh manusia karena pada dasarnya bahasa itu manusiawi. Sejak pemakaian bahasa yang digunakan oleh masyarakat dalam lingkungan sosial maka hal itu tak pelak akan menimbulkan beberapa gejala-gejala yang mungkin tak biasa. Sebut saja mengapa ada alih kode, campur kode, peminjaman bahasa, kontak bahasa dan lain2.

Dalam literatur yang banyak saya baca, terdapat sebuah pencerahan yang pasti kalian ketahui akhir-akhir ini. Pencerahan tersebut bukanlah merupakan sebuah jawaban yang pasti, namun perlu adanya sebuah penjelasan yang menghubungkan kajian satu sama lain-nya. Yah yang saya bicarakan itu adalah sebuah kajian ilmu yang khusus membahasa gejala bahasa yang ada dimasyarakat yaitu sosiolinguistik. Ilmu multidisipliner yang beberapa tahun lalu menjadi satu mata kuliah yang saya sukai dan menarik perhatian saya. Karena itu pulalah saya mengambil konsentrasi linguistik sebagai konsentrasi penjurusan.

Sosiolinguistik adalah satu kajian ilmu yang membahas tentang gejala bahasa yang terjadi di masyarakat. Telah kita ketahui bahwa pelbagai gejala bahasa sangat sering terjadi didalam masyarakat. Bahasa yang pada hakekatnya produktif, heterogen dan yang lainnya, ia bersikap terbuka bagi pengembangan.

Apalagi ketika suatu bahasa itu digunakan oleh manusia, yang dengan kekuatan akal, pikiran, pengaruh lingkungan dan kepintarannya akan mempengaruhi cara mereka dalam berbahasa. Tentunya karena bahasa itu dipakai oleh masyarakat, maka hal yang perlu kita sadari adalah apa yang mempengaruhi mereka didalam berbahasa adalah suatu lingkungan dan cara masyarakat dalam memperlakukan bahasa.

Salah satu contoh yang akan saya teliti mungkin akan menjadi sebuah kajian yang menarik, karena kajian ini fokus pada (1) Perubahan tak tentu cara seseorang berbahasa. (2) Bagaimana Situasi mempengaruhi cara seseorang berbahasa, serta (3) Apakah indikator terpenting dalam perubahan cara seseorang berbahasa.

Perubahan yang tak tentu adalah sebuah maksud dari bagaimana seseorang tidak konsisten dengan penggunaan bahasa yang ia pakai. sebagai contoh akan saya paparkan sedikit ilustrasi: Yadi (seorang anak kecil yang sekarang sudah menjadi dewasa) suatu waktu memanggil panggilan pada seorang yang lebih tua dengan menggunakan kata AA, dan tidak memakai AA.

Perlu digaris bawahi bahwasanya ketika kita memakai teori dari kajian sosiolinguistik adalah kita tidak boleh melihat satu masalah hanya pada satu teori. Sebagai sebuah ilmu yang multidisipliner maka peran kita dalam berpikir luas diperlukan untuk bisa mencari sebuah solusi yang konkret dan dekat pada tujuan. Seperti pada contoh diatas. Kita bisa mengkaji perubahan tersebut dari ilmu bahasa atau juga kita bisa mengkajinya dengan ilmu sosiologi (tentu menjerus pada cara berbahasa).

Kata AA, teteh, atau semua kata panggilan lainnya adalah merupakan bentuk manifestasi cara seseorang didalam berinteraksi dengan seseorang. Lewat bahasa yang mereka tuturkan maka kita bisa melihat cara mereka bersosialisasi, berinteraksi dan berkomunikasi. Kata AA, dan teteh adalah bentuk dari tindak tutur kesantunan berbahasa di tanah sunda.

Biasanya teteh digunakan untuk seseorang perempuan yang lebih tua sedangkan aa adalah nama panggilan untuk pria yang lebih tua. Kesantunan itu merupakan produk adat yang sudah menjadi konvensi. Yang berarti ketika kita mengetahui maka kita harus melebur pada konvensi tersebut.

Namun seiring dengan konvensi tersebut ternyata banyak ditemukan distorsi-distorsi yang mengacaukan. Hal inilah yang menyebabkan apa yang saya sebut dengan perubahan tak tentu seseorang dalam berbahasa. Seorang Yadi yang pada dulu (ketika dia kecil) memanggil Duden (lebih tua) dengan panggilan aa, sekarang Yadi kerap memanggil hanya nama, tanpa ada AA. Dan yang lebih mengejutkan lagi yang saya temukan adalah Yadi juga pernah memanggil panggilan orang yang dulu lebih tua dengan aa, tapi ketika dekat dan akrab, Yadi menjadi berubah dalam bersikap bahasanya.

Pertama mari kita lihat pada Yadi dimasa kecil. Masa kecil itu adalah masa dimana seseorang dituntun untuk membangun karakternya, baik itu karakter dalan bersikap atau berbahasa. Hal-hal yang mendistorsi (baca:lingkungan) mungkin masih bisa diatasi melalui nasihat oleh orang tua dan guru2nya agar wanti-wanti untuk bergaul dengan siapapun/untuk bersikap sopan santun terhadap orang yang tua.

Kedua mari kita lihat pada Yadi dimasa remaja. Masa ini Yadi diikuti oleh perubahan yang terjadi pada dirinya. Dia tidak lagi bersikap seperti dulu yang santun dalam sikap bahasanya.

Dalam penilitian yang saya amati pada seorang Yadi, ternyata banyak yang saya temukan prihal faktor-faktor yang menyebabkan perubahan sikap berbahasa Yadi:

  • Pergaulan
  • Waktu berbicara
  • Keakraban

Pergaulan merupakan faktor terbesar yang menyebabkan terjadinya perubahan sikap berbahasa pada Yadi. Hasil analisis saya mencatat bahwa pergaulan Yadi berubah signifikan ketika dia mulai bergaul dengan anak-anak yang ‘nakal’.

Pandangan saya adalah bahwa ketika seorang remaja menemukan hal yang bisa membuat dia bahagia maka hal yang telah ada dimasa lalupun dibiarkan memudar, meski tidak semuanya tapi kebanyakan pastilah begitu. Karena masa remaja adalah masa yang paling indah (baca, krisye:kisah kasih disekolah)

Yadi mulai merokok, mengenal kata anjing, gobolog, jauh dari sikap santun terhadap orang yang tua semenjak bergaul dengan anak-anak yang tidak mempunyai dasar yang bagus.

Waktu berbicara, adalah salah satu teori yang diambil dari S.P.E.A.K.I.N.G nya Hymes. Dari perubahan yang terjadi pada diri Yadi ternyata ada hal yang membuat seseorang itu tidak konsisten untuk menggunakan AA, Teteh. Singkatnya, Seorang Yadi ketika dalam suasana bersama teman2 sepermainan, suasana tidak formal, ia memakai panggilan tanpa AA atau teteh. Sedangkan ketika Yadi bertemu langsung perorangan tanpa ada suasana seperti biasanya, ia menggunakan nama panggilan AA/teteh.

Asumsi saya mengatakan bahwa ketika psikologi seseorang Yadi ketika bertemu secara personal-personal dengan Duden maka yang akan terjadi adalah sikap kesantunan atau mungkin rasa malu yang ada pada diri Yadi. Adanya komunikasi yang secara person ini membuat rasa sungkan dan bimbang sangat dipertimbangkan seorang Yadi yang mempunyai historis dengan Duden sebagai orang yang lebih tua. maka benarlah apa yang dikatakan seorang (leech:2006) Yadi menerapkan kembali prinsip2 kesopanan, rasa hormat, hal ini untuk membuat komunikasi kondusif dan tidak sungkan.

Keakraban, seolah menjadi sebuah cahaya yang melelehkan tatakrama antara yang muda dan tua. Dari rasa keakraban tersebut tak jarang melahirkan sebuah rasa keinginan kebersamaan tanpa adanya rasa sungkan (baca:ga berlebihan) (baca:bukan homo). Perlu digaris bawahi bahwa keakraban yang disini adalah keakraban yang adanya hukum timbal balik persamaan pandangan.

Seperti seorang Yadi yang sebelum akrab dengan Jeta, memakai kata panggilan yang sopan namun ketika sudah akrab Yadi berani untuk menyebut dia dengan panggilan yang lebih kasar.

Faktor timbal balikny adalah:

Tidak adanya keinginan rasa penghormatan dari sang jeta
Yadi tidak memiliki lagi keinginan untuk bersantun, karena keakraban membuat semua menjadi terlihat samar

Kesimpulan

Telah kita dapati bahwa bahasa ketika dipakai didalam ranah masyarakat, maka tidak bisa dihindari berbagai gejala-gejala kebahasaan. Salah satunya adalah (1) Perubahan tak tentu cara seseorang berbahasa. (2) Bagaimana Situasi mempengaruhi cara seseorang berbahasa, serta (3) Apakah indikator terpenting dalam perubahan cara seseorang berbahasa.

Dalam penilitian ini saya memakai grounded theory. Artinya tidak berangkat dari teori manapun, namun melahirkan teori yang baru (ngarep.com). Saya juga menggunakan literature2 yang bersangkut pautan dengan data penelitian.

Tekhik yang digunakan adalah pendekatan secara informal, ikut membaur dengan participant.

Kesimpulan yang didapat adalah ada tiga yang menyebabkan perubahan, situasi yang mempengaruhi, dan indikator terpentingny adalah faktor bipolar/timbal balik.

Segala puji hanya bagi Allah semesta alam. -Aku Persembahkan Ini Untuk Allah Pencipta Semesta Alam-

Tinggalkan pesan

Comment