in Agama

Islam and Science; Sungai dan Laut

Dalam sejarah perkembangannya Science telah mencapai masa kegemilangannya dizaman sekarang. Berbagai penemuan mengenai alam, angkasa, langit dan bahtera banyak ditemukan oleh para ilmuwan yang bertahun-tahun menghabiskan waktunya untuk meneliti alam semesta.

Sejarah perkembangannya pun diwarnai berbagai macam pertentangan baik dalam wilayah keilmuan itu sendiri bahkan dalam tingkat Agama. Oleh karena itu kita mengenal sejarah Galilleo Galillei, Copernicus dan sebagainya yang pada waktu itu dikatakan telah melenceng dari ajaran agama karena apa yang ditemukan oleh mereka tidak sesuai dengan aturan agama.

Lama waktu berjalan doktrin agama kristen nampaknya semakin luntur karena berbagai gerakan dikumandangkan sebagai suatu ketidaksetujuan ilmuwan yang terkungkung oleh doktrin. Yang pada akhirnya akan melahirkan suatu istilah yang masih dikenal sampai sekarang yakni sekuler.

Namun hal ini berbeda dengan keadaan Islam dan hubungannya dengan Science. Keduanya itu seperti semisal keniscayaan yang menunggu untuk disentuh. Keniscayaan disatu sisi terletak dalam Al-Quran sedangkan waktu adalah proses manusia untuk menemukan sebagai jawaban menemu keniscayaan.

Sebagai salah satu bukti mungkin bisa kita temukan dalam penemuan para ilmuwan mengenai proses bertemunya dua air, sungai dan laut. Pertemuan antara air laut dan sungai itu seperti yang diungkap dalam buku Principle of Oceanoghraphy yang menjelaskan bahwa pertemuan antara kedua air dari arus yang berbeda ini tidak bercampur satu sama lain.
Keduanya tetap pada arus mereka masing-masing, meskipun ombak dan arus yang besar membuat arus kencang. Mari kita lihat pada gambar dibawah ini;

Pada gambar diatas telah kita dapati warna yang berbeda, ketiga warna tersebut mengindikasikan arus air yang berbeda dari Atlantic Ocean, Gibraltar Sea, dan Mediterenian Sea. Ketiga arus air itu meskipun bertemu dalam satu wilayah yang sama namun ketiganya tidak bercampur sama sekali.

Fenomena seperti ini telah tertulis didalam Al-Quran Al-karim Surat Ar-Rahmaan 19-20 dan Surat Al-Furqaan 53.

بَيْنَهُمَا بَرْزَخٌ لا يَبْغِيَانِمَرَجَ الْبَحْرَيْنِ يَلْتَقِيَانِ

Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.

Batas-batas yang dimaksud didalam maha kitab suci ini mengindikasikan terhadap keadaan air yang bertemu satu sama lain. Air sungai yang airnya lebih segar dan tidak asin bertemu dengan air laut yang asin. Pada keduanya tidak bercampur seperti yang telah diterangkan tadi karena ada suatu penghalang diantara kedua air tersebut.

وَهُوَ الَّذِي مَرَجَ الْبَحْرَيْنِ هَذَا عَذْبٌ فُرَاتٌ وَهَذَا مِلْحٌ أُجَاجٌ وَجَعَلَ بَيْنَهُمَا بَرْزَخًا وَحِجْرًا مَحْجُورًا

Dan Dialah yang membiarkan dua laut mengalir (berdampingan); yang ini tawar lagi segar dan yang lain asin lagi pahit; dan Dia jadikan antara keduanya dinding dan batas yang menghalangi.

Kita mungkin bertanya bagaimana proses itu terjadi? Mengapa Allah Maha Semesta Alam tidak menjelaskan secara rinci mengenai ayat-ayat diatas?

Itulah tugas seorang manusia untuk menjawabnya, karena banyak perintah Allah untuk mencari ilmu kepada manusia. Manusia adalah binatang yang berpikir dan membuat peradaban, mengembangkan keilmuan dan mencari kebenaran, dan menysukuri ciptaan Allah Semesta alam.

Jawaban dari manusia tersebut bisa diperinci dengan penemuan-penemuan ilmuwan barat yang mengatakan bahwa;
Modern science has discovered that in estuaries, where fresh (sweet) and salt water meet, the situation is somewhat different from what is found in places where two seas meet. It has been discovered that what distinguishes fresh water from salt water in estuaries is a “pycnocline zone with a marked density discontinuity separating the two layers.” This partition (zone of separation) has a different salinity from the fresh water and from the salt water. Mari kita lihat gambar dibawah ini;

Subhanallah maha mulia sang pencipta yang telah memberikan dan mencipta alam semesta. Mencipta manusia untuk mampu mengenaliNya melewati beberapa proses yang berkelindan. Semoga kita selalu dibukakan pintu cahaya untuk selalu diberi jalan menelusuri alam semesta yang masih banyak tak dikenal. Semoga Allah Maha Mulia selalu dekat dengan kita menebar cahaya sebagai penerang, amin.

Muhammad Zaki Al-Aziz – Islam and Science.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment