in Cerpen

Ishadat; Umat Rohingya Yang Tegar

Sudah beberapa minggu sang imam berserta keluarganya masih terkepung dalam suasana yang mencekam. Bagai kelam yang tak pernah berhenti meski hanya sehari, sang imam yang biasa dipanggil Ishadat ini terlihat tegar. Ia dengan sikap kedewasaannya telah mampu membuat kelarga-keluarga lain terlihat begitu tenang. Meski keadaan diluar tidaklah menyenangkan sama sekali.

Sebagai muslim rohingya yang sekarang tengah ditindas oleh orang kafir, ishadat tak pernah ingin terlalu terlena dengan jumlah besar yang dilabelkan pada saudaranya seumat. Ia sendiri sekarang tak mengetahui apakah ada saudara-saudara yang benar-benar perduli pada kejadian yang sedang menimpa dirinya dan keluarga.

Ia pun tak habis pikir dengan embel-embel HAM yang menurutnya tak bisa berbuat banyak untuk berbuat selangkah demi menyelamatkan kehidupan yang ditindas. HAM itu mungkin hanya bisa disemayamkan pada orang-orang pilihan. Ada sedikit kerusuhan ditimur tengah maka negeri adidaya langsung berkoar dan menurunkan barikade.

Coba lihat sekarang Suriah, Myanmar, Irak, Afghan, palestina dan lain-lain. Mana yang dimaksud dengan demokrasi yang mengusung Hak asasi untuk manusia menghirup udara damai nan sejahtera. Cacat itu namanya kalau kita akan mati tanpa ada perjuangan mereka-mereka yang mengusung kehidupan yang harmoni.

Ishadat tahu betul hanya kepada sang maha Khaliklah semua diserahkan, ia tahu sekarang sangat kecil untuk berharap ada pertolongan dari saudaranya. Ia lebih baik mati demi agama yang ia yakini tanpa harus menodai barang sedikitpun noda jarum yang tertusuk.

Esok harinya Ishadat terhenyak dari bangun dan melihat mesjid yang tengah terbakar sedikit demi sedikit menjadi abu yang membuat ia meneteskan air mata. Ia tak mampu untuk terus diam tanpa berbuat apa-apa, lantaslah ia berpesan pada keluarga-keluarganya “Kalau Allah Sang Maha Mulia menghendaki, kita akan dipertemukan kembali diakhirat”

Ishadat melangkahkan kaki menuju orang-orang yang beringas tak berperikemanusiaan. Yang menganggap pribumi sebagai milik manusia. Bodoh sekali mereka karena Ishadat tak meyakininya, hanya Allah lah pemiliki Bumi dan semesta alam.

“Oh Robb, engkaulah maha mengetahui segala taqdir umatmu dan manusia-manusia lainnya. Engkau maha tahu betapa menderitanya umatMu namun Engkau jualah yang maha mengetahui keindahan setelahnya”

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment

    • Alhamdulillah, terima kasih saya haturkan kepada Mas Sawali.
      Tulisan Mas sawali juga syarat akan ilmu pengetahuan, khususnya bahasa. Saya banyak baca dari blog bapak 🙂

      Ia mas saya lebih fokus untuk tidak tentang curhatan – dalam artian yang begitu lebay – tapi pada suatu pembelajaran. Salam mas Sawali.