11118191_10206585281895040_296247399_n

in Agama

Ishadat dan Ufsuy (Kakek Tua)

Syahdan, pada abad ke 12 hiduplah seorang kakek tua, ia mempunyai nama Ufsuy. Kakek tua tersebut bukanlah orang sembarangan, oleh karena kedudukannya sebagai seorang terkemuka di wilayah Heca yang tak jauh dari Bagdhad, keberadaanya sungguh sangat disegani masyarakat.

Selain sebagai pejabat Ufsuy juga adalah seorang dermawan, ia mempunyai satu kesenangan unik, yang mana kesenangan tersebut berbeda dari para pejabat lain yakni ia selalu menyempatkan diri untuk berjalan menelusuri setiap sudut-sudut gang kota yang biasanya banyak menjajakan barang-barang antik pada waktu pagi menjelang siang hari.

Ketertarikannya terhadap barang tersebut bukanlah tanpa alasan semata melainkan memang sudah menjadi kesenangan beliau untuk menyempatkan diri berkunjung ke satu tempat dimana tempat tersebut menyediakan barang-barang langka.

Terkadang teman-teman Ufsuy pun terkaget-kaget pada tindak tanduk Ufsuy yang tak pernah berhenti untuk mencari sesuatu yang langka. Padahal di rumahnya atau bisa di katakan Istananya telah terdapat beberapa banyak barang yang memang sangat sulit untuk didapatkan ditempat biasa.

Namun bagi Ufsuy, semua yang telah tersimpan di dalam rumahnya itu dirasa masih ada yang kurang, bahkan ia mengetahui betul bahwa dirinya tak mempunyai koleksi alat-alat musik, tak syak perkara inilah yang mengganjal hati Ufsuy dan membuat Ufusy selalu melamun pada beberapa hari kebelakang.

Setelah beberapa waktu kemarin tak sempat berkunjung ke sudut-sudut gang kota, maka baru hari ini Ufsuy bisa melampiaskan keinginan yang hendak ditujunya. Dengan beberapa pengawal, berangkat lah Ufsuy ke tempat yang menjual barang-barang langka, ia dan pengawalnya berjalan melewati beberapa toko kecil baik yang berada diruangan tertentu atau juga yang hanya disamping-samping jalan semata.

Ufsuy tahu betul bahwa beberapa koleksi yang ada di rumahnya kebanyakan berasal dari penjual lapak kaki lima. Oleh karena itu mata jeli Ufsuy sudah sangat jelas tertuju pada para pedagang kaki lima yang berada disampingnya.

Ketika Ufsuy dan para pengawal hendak berhenti di warung kopi, mata Ufsuy tertuju pada seorang pedagang yang berada tepat dipojok sudut gang. Sambil menyimpan barang-barangnya Ufsuy hendak mendekati pedagang tersebut dengan permintaan tanpa ditemani para pegawal.

Para pengawal Ufsuy pun merasa heran karena melihat sang tuan lebih memilih pedagang kecil yang notabennya menjajakan barang tak sebanyak pedagang lainnya. Mereka hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala sambil mencicipi kopi khas mesir dan sedikit roti khas dari Turki.

Disisi lain Ufsuy merasa bahwa dirinya seolah-olah sedang merasakan tarikan luar biasa ketika melihat pedagang yang berada dipojok gang. Langkah demi langkah Ufsuy lalui dengan semangat sampai akhirnya tibalah jua dirinya bertatap muka dengan sang pedagang. Dan tanpa basa basi Ufsuy memulainya dengan bertanya mengenai identitas pedagang tersebut.

“Siapakah namamu, wahai pedagang?” gumam Ufsuy pada pedagang tersebut.

“Wahai tuan yang terhormat, sebut saja hamba ini Langka. Maka kalau boleh saya tahu, ada gerangan apa yang lantas membawa tuan kesini?” Sambil bersila, Langka mempersilahkan Ufsuy untuk duduk dibelukar yang telah dipersediakan.

“Bila bertanya seperti itu maka saya pun tidak tahu mengapa saya berada disini, akan tetapi sepertinya saya merasa terpikat dengan satu dari dua barang yang hendak engkau jual” jawab Ufsuy sambil memegang terompet, dan mengerutkan dahi.

“Barang mana yang hendak tuan maksud?” Apakah itu terompet atau sebuah pedang?” tanya Langka dengan penuh semangat.

“Yang hendak saya lihat adalah terompet itu, bagaimana engkau menjelaskan pada pembeli agar yakin betul untuk membelinya wahai langka?” dengan penuh harap Ufsuy menginginkan jawaban yang menarik dari pedagang itu.

Mendapati pertanyaan tersebut membuat langka sedikit menghela nafas dan sedikit terbangun dari duduk silanya yang santai dari sejak tadi.

“Tuanku, keberadaan tuan disini pastinya membuatku ingin bergumam bahwa tuan adalah orang yang menghargai dengan apa yang namanya nilai. Tuan tidak akan berada didepan mata saya bilamana tuan tak mempunyai kesukaan terhadap barang-barang lama namun masih menyimpan sesuatu yang misteri untuk di ungkap. Begitulah tuan, terompet ini adalah salah satunya, ia adalah perumpamaan media tempat nyanyian masa lalu dan masa depan bergumul” Langka sambil memegang terompet tersebut.

“Apa sebenarnya yang engkau bicarakan wahai langka, tak ada yang bisa saya mengerti dari penjelasanmu barusan” Ufsuy menyanggahnya dengan wajah memerah dan alis mengerut, serasa mendapati diri berhadapan dengan seorang ahli.

“Tuanku, ada kalanya sesuatu itu tak bisa dijawab hanya dengan penjelasan dan satu waktu sahaja, seperti sekarang misalnya. Ada kalanya tuan harus menanggalkan rasa penasaran yang tergesa-gesa untuk menghindari ketidakpuasan. Mungkin tuanku seiring waktu akan menemukan apa yang hendak saya maksud dengan “nyanyian dari masa lalu dan masa depan” tegas Langka kepada Ufsuy.

Mendengar penjelasan Langka, Ufsuy merasa terkagum pada sosok Langka dan merasa tertarik untuk membawa terompet ini kerumahnya.

Ketika hendak membicarakan negosiasi selanjutnya, tiba-tiba para pengawal yang tadi sedang di warung kopi ternyata sudah berada tidak jauh dari tempat Ufsuy.

Merasa sedang dikejar oleh waktu, Ufsuy pun meminta sedikit waktu kepada Langka untuk berbicara pada para pengawal. Namun seketika Ufsuy menoreh kembali ke tempat Langka, di dapatinya Langka telah pergi namun terompet yang menjadi keinginan Ufsuy masih ada ditempat semula tersimpan. Hal ini sontak membuat Ufsuy semakin terkagum sekaligus heran pada sosok yang bernama Langka.

Tak lama dari kejadian itu, Ufsuy pun akhirnya memutuskan untuk pulang.

Hari telah lama berganti, lambat laun bulan dan tahun pun begitulah sama telah berlalu. Ufsuy seolah tak mengerti kenapa ia tak pernah melihat Langka dibeberapa sudut gang kota.

Sementara itu terompet yang pernah di dapatkan dari Langka ternyata masih berfungi dengan baik. Kualitas suara atau ukiran-ukiran yang ada diterompet tersebut terlihat tak bias atau memudar sama sekali.

Dua tahun setelah pertemuannya dengan Langka, sekarang Ufsuy telah menjadi seorang pengambil kebijakan rupanya. Baik itu kebijakan terhadap hal keagamaan, ketatanegaraan atau bidang lainnya yang berhubungan dengan kemaslahatan umat.

Mendapati dirinya sebagai seorang pengambil kebijakan tersebut membuat dirinya selalu teringat kepada Langka. Ia berusaha untuk jujur kepada diri sendiri bahwa Langka adalah orang yang pertama kali membuat ia terkagum.

Tak syak didalam dirinya bersemayam suatu keinginan untuk menjadikan Langka sebagai seorang penasihat, akan tetapi meski usaha pencarian terus dilakukan namun sampai saat ini pun Ufsuy tak pernah mendapati Langka.

Disisi lain, dalam karir kepekerjaannya.

Bertindak sebagai seorang yang mempunyai otoritas tinggi dalam hal kebijakan, tak jarang Ufsuy merasa kewalahan dan sesekali selalu ditimpa oleh beberapa masalah yang pekik. Hingga suatu hari permasalahan yang paling berat akhirnya menyambangi Ufsuy.

Kebijakan beliau yang menetapkan iringan suara-suara, termasuk suara terompet, sebelum panggilan untuk sembahyang akhirnya menuai protes dari sebahagian kalangan baik para pejabat maupun masyarakat.

Perkara ini membuat Ufsuy kelelahan bahkan sempat membuat ia jatuh sakit selama beberapa hari. Dalam pesakitannya tersebut ia selalu teringat dengan Langka, bukan hanya karena ini adalah menyangkut terompet itu akan tetapi ia juga terkadang membutuhkan nasihat-nasihat dari orang yang dianggapnya bijak.

Sudah beberapa hari Ufsuy tidak duduk disinggasananya, ia masih saja terbaring dan hanya bisa duduk di rumahnya saja. Sementara itu permasalahan kebijakan suara tersebut nampak masih menjadi obrolan yang sering dibahas disana sini, baik di wilayah istana ataupun diluar istana. Tentu hal ini sangat menambah berat beban yang ditempuh Ufsuy.

Baginya, untuk saat-saat seperti ini, tempat bergantung yang tak pernah mengecawakan adalah dengan mendekatkan diri kepada Pencipta. Meminta agar diberikan secercah terang dalam gulita cahaya.

Barulah pada satu malam, selepas ia merebahkan tubuh diatas karpet. Ufsuy membuka jendela kamarnya. Itulah yang di gemari Ufsuy, dengan melihat sekitar di dalam jendela tersebut, ia serasa bisa mengawasi seluruh keadaan masyarakat. Sesekali ia menguntit langit dengan teropong bintang yang diyakini masih kepunyaan ahli muslim terkemuka, Ibnu Haithham.

Selang beberapa menit kemudian, tepat ketika Ufsuy hendak menutup kembali pintu jendela, ia mendapati seorang lelaki berjubah abu-abu yang sedang berjalan sambil memegang beberapa buku dan lentera lampu ditangannya.

Seketika itu pula seseorang tersebut menoreh ketempat dimana Ufsuy berada, sebelum pria tersebut berbelok arah dan hilang dalam pandangan Ufsuy. Mendapati hal tersebut Ufsuy terkejut dan sedikit bergemetar. Ia seakan mempunyai mata dibelakang kepalanya.

Dengan tanpa memakai baju dan pengawal kebangsaannya Ufsuy hendak mengejar pria tersebut. Ia tahu betul bahwa belokan tersebut adalah belokan buntu, oleh karena itu sangatlah mungkin untuk menangkap dan mengetahui identitas pria yang membuat ia bergemetar tersebut.

Namun ketika Ufsuy hendak mencapai belokan itu, ternyata pria misterius itu sudah berdiri disamping tempat Ufsuy menguntitnya. Dengan terkejut Ufsuy berkata.

“Hah siapa kamu wahai laki-laki yang membawa buku?” sambil terengah-engah Ufsuy bertanya pada pria misterius itu.

“Apakah tuanku sengaja ke tempat ini untuk mencari hamba?” pria tersebut sambil mengangkat lentera lampu diantara wajahnya dan wajah Ufsuy.

“Bagaimana bisa engkau mengajukan pertanyaan yang sudah barang tentu engkau mengetahui pula jawabannya” karena masih sedikit kesal oleh karena terkejut Ufsuy seakan menggerutu kepada pria itu.

“Maafkan hamba tuanku, hamba hanya ingin memastikan sahaja bahwa tuan hendak kesini karena ada satu maksud. Apakah hamba terlihat seperti seorang pria yang bisa membantu meringankan perkara yang tengah dialami tuan?” dengan penuh kesopanan pria tersebut bertanya kepadaku.

“Bagaimana pula engkau tahu bahwa saya sedang berada pada masa-masa sulit selama menjadi pengambil keputusan” dengan keheranan Ufsuy menjawab pertanyaan pria tersebut.

“Tuanku, maafkan kembali lagi bila hamba telah melampaui satu ketentuan darimu, namun sungguh hamba tahu betul bahwa perkara ini sudah menyebar ke seluruh pelosok negeri” dengan wajah tenang pria tersebut menjelaskan kepada Ufsuy.

“Siapakah engkau ini wahai tuan yang membawa buku dan berkerja dimanakah engkau sehari-hari?” gumam Ufsuy dengan penuh penasaran.

“Mohon maaf sebelumnya tuan, perkenankan nama hamba Ishadat. Hamba berasal dan tinggal tak jauh dari rumah tuan. Hamba seorang perkerja disiang hari dan penggenggam kalam di malam hari” dengan penuh tenang Ishadat mulai terbuka tentang dirinya.

“Namun aku sangat jarang melihatmu, Lalu darimana dan mau kemana engkau malam-malam seperti ini?” Ufsuy mencoba mencari tahu lebih dalam tentang Ishadat.

“Hamba baru selesai merampungkan shalat dan membaca beberapa buku yang belum sempat tertuntaskan dihari kemarin” Ishadat menjawab sambil melihatkan buku-buku yang dipegang kepada Ufsuy.

“Apakah engkau tidak merasa letih atau setidaknya lelah dengan kegiatan disiang hari?” Ufsuy dengan perasaan ingin tahunya.

“Bagi hamba menghargai waktu adalah sesuatu yang sangat penting. Dan waktu yang paling berharga adalah ketika hati ini merasa dekat dengan sang pencipta, baik ketika hamba sedang berkerja atau sedang beroleh ilmu untuk mengenal Nya. Karena waktu tak terjamak pikiran, kematian pula yang hamba takutkan wahai tuan” Ishadat sambil tersenyum menatap Ufsuy.

Mendapati jawaban tersebut Ufsuy merasa tertegun. Baginya ia sedang berhadapan dengan seseorang yang tidak biasa. Lisan yang terlontar dari mulutnya adalah lisan yang terjaga dan ungkapan yang didengar adalah ungkapan yang belum pernah Ufsuy dengar sebelum-sebelumnya.

“Bagaimana bila Ishadat mau singgah di kediamanku, semoga saja ada beberapa obrolan yang bisa bermanfaat?” pinta Ufsuy kepada Ishadat.

“Wahai tuanku, bukankah lebih enak bila kita berada diluar?” Ishadat menyela ajakan Ufsuy.

“Diluar terlalu berisik untuk berdiskusi” jawab kembali oleh Ufsuy.

“Kalau misalkan tuan terganggu oleh kebisingan alam, siapakah yang akan dipersalahkan tuan karena kebisingannya?” Ishadat bertanya kepada Ufsuy.

“Tidak ada yang bisa saya salahkan” Ufsuy menjawab singkat karena memang tidak tahu siapa yang harus disalahkan.

“Itulah tuan bagaimana perbedaan antara suara yang dihasilkan oleh alam dengan suara yang dihasilkan oleh iringan-iringan sebelum sembahyang. Perkara sebahagian orang yang mempertanyakan kebijakan tuan adalah perkara bagaimana orang-orang tersebut mendengar suara tidak hanya sebatas suara. Melainkan ia penuh dengan beberapa persepsi luar, semisal pengalaman dan pengetahuan” Ishadat seakan tahu duduk persoalannya.

“Ketahuilah tuan bahwa meski suara yang dihasilkan merdu menebus qolbu, tetap akan kedengaran ngeri mengiris hati bilamana orang yang mendengarnya mempunyai persepsi yang buruk terhadap sekelilingnya baik itu mengenai pengetahuan, pengalaman atau situasi yang memaknainya. Sebaliknya meski kualitas suara yang dihasilkan keras tak berirama, bila sang pendengar mempunyai perihal baik mengenai keberadaan suaranya niscaya dia akan bersenang-senang” Ishadat dengan pendapatnya membuat Ufsuy terperangah.

“Maka benarlah bila pujangga muslim pada waktu dulu menyebutkan bahwa musik dan kesenangan ialah erat berkelindan. Semua itu bermula dari irama yang teratur dan jua persepsi-persepsi yang di indera sang pendengar.

Ketidaksetujuan sebahagian orang terhadap kebijakan tuan adalah pandangan orang-orang terhadap apa yang diwariskan kondisi dan situasi dimana mereka dibingkai. Bisa jadi mereka tidak nyaman dengan keberadaan suara-suara yang mendendangkan seruan atas agama yang berlainan dengan apa yang diyakininya” Ishadat melanjutkan nasihatnya.

“Kalau menurut tuan kebijakan ini dibuat untuk lebih memperjelas seruan sembahyang kepada orang-orang, barangkali bagi sebahagian orang yang berbeda agama maka hal tersebut merupakan suatu pengingat kembali kepada segala hal tentang pertentangan agama yang selalu terjadi dimasa-masa lalu, yah seolah mereka cemburu. Maka meski merdu suara berbunyi tapi hati enggan menanggapi. Sebaliknya memang bagi sebahagian orang adanya kebijakan ini merupakan suatu kemenangan tersendiri. Ibarat suara adalah simbol dari harapan akan waktu-waktu kedepannya” Ishadat berdiskusi seakan dia adalah bukunya itu sendiri.

“Lalu apa yang harus saya lakukan untuk kedepannya?” Tanya Ufsuy dengan wajah yang terlihat meminta.

“Sebaiknya tuan tetap harus memutuskan kebijakan tersebut. Disatu sisi memang dunia disekitar kita berubah dan perubahan itu pula yang membuat kita seolah-olah harus beradaptasi. Bila yang dikehendaki tuan itu sama halnya dengan apa yang dilakukan Bilal, lakukanlah dengan berimbang” Ishadat sambil tersenyum menjawab pertanyaan Ufsuy.

Ishadat lalu melanjutkan lagi dengan mengatakan.

“Yang terakhir adalah jangan lupa berlaku adil. Negeri tuan ini luas, bermacam pula masyarakatnya. Menggenggam amanat sebesar ini, adalah Allah yang harus dijadikan pertimbangannya. Bila sedikit sahaja tuan berlaku tidak adil, berbagai kekecewaan masyarakat rentan terjadi. Dahulukan kemaslahatan masyarakat sebelum membuat kebijakan yang malah memperuncing permasalahan. Jangan bertindak seolah pemimpin yang cemerlang, pada kenyataanya kepemimpinan tersebut adalah ilusi, berupa bayang hitam yang terbiasa mengekor tindak-tanduk orang yang empunya bayangan” Ishadat terlihat serius akan nasihat tentang ini.

Mendengar dan berdiskusi dengan Ishadat, sungguh pada waktu itu wajah Ufsuy yang tadinya tegang, lambat laun menjadi tenang. Bagai dahaga dipertemu sejuk, ia lantas meneteskan air mata tepat dihadapan Ishadat. Terlihat air matanya membasahi kumis kecil dan bibir nya yang seakan besar itu.

Sekarang ia, Ufsuy menggurui dirinya dan, meyakini bahwa merupakan sesuatu yang seharusnya bagi seorang manusia untuk belajar dari siapapun. Tingginya jabatan, bagi dirinya, tak sebanding tegak dengan tingginya ilmu dan perbuatan seseorang yang mulia.

Selepas perkataan terakhir dari Ishadat, terdengar kumandang adzan shubuh. Mendengar kumandang adzan tersebut Ishadat lalu meminta izin untuk terlebih dahulu menuju mesjid. Sedangkan Ufsuy hendak pergi kedalam istananya guna mengganti pakaian sebelum akhirnya menuju mesjid.

Selepas Ufsuy melaksanakan shalat di mesjid yang Ishadat tunjukan tadi. Apa yang terjadi pada saat itu ternyata sama persis ketika Ufsuy ingin bertemu dengan Langka. Ufsuy tidak beroleh Ishadat di mesjid tersebut, meski hanya buku atau bahkan lentera lampunya.

Mendapati hal tersebut Ufsuy tiba-tiba berlinang air mata. Dalam duduknya ia mengangkat kedua tangan lalu berdoa dan bergumam “mungkin peristiwa-peristiwa yang dialaminya itu merupakan teguran dari Allah bila saya lupa diri akan keadaan”.

“Sungguh diatas semua kejadian ini adalah Allah maha mengetahui atas segala hal” tandas Ufsuy, seorang kakek tua.

Mulai sejak kejadian itu Ufsuy, dalam mengemban tugasnya, tidak hanya bertindak sebagai seorang pengambil kebijakan, alias seseorang yang hanya duduk menandatangani keputusan yang sudah ditentukan orang-orang yang ada di ruang lingkup kuasanya.

Terkait dengan permasalahan kebijakan yang lalu. Pada akhirnya kebijakan yang diputuskan Ufsuy hanya terbatas pada beberapa kali tiupan terompet yang sudah mempunyai nada dan suara yang merdu sebelum di kumandangkannya adzan.

Selain itu pertemuan Ufsuy bersama Ishadat dan Langka barangkali telah menyadarkan beliau mengenai arti penting sebuah jabatan. Mulai sejak saat itu juga, ia lebih ingin mengenal dirinya dengan cara melebur diri bersama masyarakat. Kebijakan erat kaitannya dengan masyarakat, kalau tidak memahami betul keadaan masyarakat apatah guna dirinya mengesahkan setiap keputusan.

Ufsuy mulai menyadari bahwa tidak setiap kebijakan berasal dari keinginan masyarakat. Terkadang ada juga pejabat yang bermuka dua ingin menghendaki sesuatu yang membuat dirinya bisa berbangga diri.

“Bila salah ia melangkah, membuncah pula semua terpecah. Bila benar ia bertindak, akan tegar berjalan meski tertolak” tulis Ufsuy dalam buku catatan kecilnya.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment