in Cerpen

Ishada Tentang Gorengan (PLuralisme)

Sore-Sore, 20/Feb/2000, Bandung. Waktu itu Ishadat sedang kebingungan mencari makanan, kebingungan yang ia rasakan seperti seekor semut mencari gula didalam susu. Ishadat sebetulnya sudah tahu bahwa banyak makanan yang bisa dia beli namun dengan banyaknya itu justru Ishadat kebingungan untuk memilihnya.

Terlebih ia mempunyai sifat yang berbeda dengan yang lain, perbedaannya itu terletak pada keinginan dia untuk bertanya “Apakah dengan banyaknya makanan membuat kita bebas memilih?”

Apakah rasa kebebasan itu datangnnya dari para pemilik makanan yang berbeda tersebut?” Ataukah aku hanya sebagai seorang yang selalu dikomandoi oleh para pemilik makanan itu?” Baginya kebebasan yang seperti itu bukan kebebasan berkehendak yang dia harapkan, melainkan kebebasan kehendak orang lain.

Ishadat berjalan terus ke arah jalan raya, sebelum akhirnya dia menemukan tukang gorengan yang sedang memasak. Tanpa banyak bicara ia langsung menuju lokasi tukang gorengan berada, ia sudah biasa untuk makan diluar – tanpa dibawa kekotsan -.

Akhirnya perut Ishadat bisa diisi juga, dan ia mulai merasa lega dan segar karena cabai yang diberikan tukang gorengan itu sangatlah nikmat. Ishadat wajahnya terlihat bingung, mungkin karena dia baru pertama kali merasakan gorengan yang enak ini. Gorengan favorit yang paling enak menurut Ishadat adalah Bala-bala (Sejenis makanan ringan yang digoreng)

Dengan rasa kebingungan sambil mengenyam gorengan, ia lantas bertanya kepada tukang gorengan tersebut:

  1. Ishadat: “Mang, bala-bala itu apa sih?”
  2. Mang Langka: “Bala-bala itu adalah masa-masa dimana kebersamaan seolah menunggu waktu untuk dimakan.”
  3. Ishadat: “Widih keren amat jawabannya mang, tapi kebersamaan apa maksudnya mang?”
  4. Mang Langka: “Bala-bala, didalamnya terdapat beraneka ragam sayuran dan ketika Mang mengolah keberaneka ragaman itu atau perbedaan sayuran2 itu akan berada pada tingkat yang sama.”
  5. Ishadat: “Apa yang dimaksud dengan tingkatan itu, mang?” Ishadat sambil menggares cabai.
  6. Mang Langka: “Yang lagi dimakan Adek – Bala-bala – itu adalah suatu perbedaan pada tingkat yang sama, dan bila ada pembeli yang memakan bala-bala, jarang dari mereka yang mengatakan/komplen: “Mang, ini wortelnya buruk, kol nya tidak enak, terigunya kurang cocok.

Hal itu terjadi karena mang mengolahnya dengan baik. Apa yang menurut mereka Kol itu sayuran yang baik, wartel itu baik untuk mata, tapi ketika sudah menjadi bala-bala semua tingkat itu sama rata sama rasa.

  • Ishadat: “Widih, jawaban mang mantap-mantap nih. Oh ia mang, pernah dengan sengaja memasukan sayuran yang sudah tidak layak? Ishadat berkata sambil makan bala-bala.
  • Mang Langka: “Ia pernah, tapi tadi sudah dikatakan bahwasanya nilai rasa enak – yang ada pada perbedaan – itu adalah pada peleburan dari sayuran. Perbedaan rasa didalam kebersamaanya tertutupi oleh rasa sayuranlain, olahan minyak, terigu dan macam-macam, yang penting itu bagaimana mang bisa menghasilkan uang.”
  • Ishadat: “Kalau didunia ini tidak ada bala-bala, apa yang akan terjadi mang?” Celetuk Ishadat.
  • Mang Langka: “Dunia ini akan baik-baik saja sebagaimana mestinya. Orang-orang yang kehilangan bala-bala masih bisa makan koq.”
  • Ishadat: “Oh ia juga yah. Mang kalau nilai rasa enak pada sayuran asli sama sayuran yang sudah menjadi bala-bala, apakah ada bedanya tidak?”
  • Mang Langka: “Engga tau de, mang bukan pakar kesehatan. Tapi mang suka lihat bahwsanya ada bahaya yang ditimulkan dari makanan yang digoreng.”
  • Ishadat: “Loh, terus bagaimana pendapat mang setelah menonton acara tersebut?”
  • Mang Langka: “Ya, ndak tau de, kan mang sudah ngomong tadi, mang bukan pakar dari kesehatan, pakar dari pengamat sayuran, pakar dari apapun.” Wajah mang Langka terlihat merah.
  • Ishadat: “Oh begitu yah mang.” Sambil makan bala-bala lagi. Mang kasihan yah sayuran yang berbeda-beda jadi satu rasa?” Sambil makan bala-bala lagi.
  • Mang Langka: “Ia juga sih de, tapi bagaimana lagi, mang kan harus cari uang.”
  • Ishadat: “Mang bisa engga cari perkerjaan lain?” Sambil mengunyah bala-bala lagi, tambah cengek.
  • Mang Langka: “Ada sih de, rencana mang ingin berganti profesi.”
  • Ishadat: “Wah apa itu mang?” Sambil membawa bala-bala lagi.
  • Mang Langka: “Mau jadi pembuat Pizza de.”
  • Ishadat: “Jiaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaah Mang!! *Mode unyu unyu. “Itu mah sama saja mang, malah tambah banyak sayuran yang sama rata sama rasanya donk.”
  • Mang Langka: “Habis bagaimana lagi de, hidup dinegeri ini susah banget kepengen kayanya. Malahan cepat miskin karena orang kaya – pejabat-pejabat – lagi demeun nya nyolong uang rakyat.”
  • Ishadat: “Hehehe memang yah mang yang berkuasa itu seolah berkuasa pada manusia, padahal mereka ciptaan Allah, dan Allah juga yang menciptakan kitam tapi koq ada yang berkuasa dan yang tidak?”
  • Mang Langka: “Engga tau lah de, mang bukan pakar politik.”
  • Ishadat: “Mang kenapa tidak menjadi pengusaha sayuran aja atuh?” “Padahal untungnya gede loh mang.”
  • Mang Langka: “Mang juga sih pengen de, karena sayuran memiliki khasiat yang tinggi untuk kesehata.”
  • Ishadat: “Oh setuju mang.” Sambil makan bala-bala yang ke 10.
  • Ishadat: “Mang jadi berapa semuanya? Saya mau pulang!”
  • Mang Langka: “Tadi ngambil apa aja de?”
  • Ishadat: “Saya tadi ngambil 10 bala-bala plus cengek mang.”
  • Mang Langka: “Harganya jadi 3500 rupiah de.”
  • Ishadat: “Jiaaaaaaaaaaaaaaah Mang. *Mode mata buleut ala Kenshin.
  • Ishadat: “Murah amat Mang, cabe nya gratis lagi.”
  • Mang Langka: “Ia gitulah de, mungkin karena persamaan/kebersamaan itu murah harganya (dibanding sayuran asli).

Ishadat sekarang tambah bingung meski dengan perut yang sudah kenyang. Heran koq ada yah peleburan persamaan dari nilai rasa enak itu.

Hujanpun turun dengan lebatnya dan Ishadat lari dengan kencangnya menuju kotsan.

Muhammad Zaki

Blogger | Writer | Reader | Thinker | Marketer Online | Mahasiswa Sejarah Kebudayaan Islam - Pasca UIN BDG | Youth Muhammadiyah |Work at Istoria Digital Studio
Alumnus Sastra Inggris UIN Bandung yang sedang mengejar Master Humaniora di tempat yang sama namun dalam jurusan berbeda yakni Sejarah Islam. Sesekali hiking, berpuisi, meneliti dan jalan-jalan.

Latest posts by Muhammad Zaki (see all)

Tinggalkan pesan

Comment