in Kajian Budaya, Sejarah

Instagram, Ibu Negara dan Ungkapan

kajian-budaya

Ungkapan Ibu Negara kita yang berakhir dengan adanya kata “bodoh” telah membawa, sedikitnya kecemasan terhadap sebagian masyarakat Indonesia. Tentu, dalam hal ini, kecemasan tersebut terlahir oleh karena yang berkata prihal bodoh tersebut adalah seorang Ibu Negara terhadap rakyatnya sendiri.

Syahdan, kejadian tersebut terjadi ketika Ibu Negara mengupload satu foto, yang dimana didalamnya terdapat seluruh keluarga lengkap dengan pakaian batik. Foto itu diupload sang Ibu Negara ke salah satu situs sosial media yang sekarang terkenal dengan banyak penggunanya, Instagram.

Aydia - BassnettSeperti biasa, bila yang mengupdate foto itu orang-orang terkenal, apalagi Ibu Negara maka respon yang muncul terhadap foto tersebut akan banyak berdatangan. Dan memanglah hal tersebut, alias untuk lebih mendekatkan diri meski sebatas simbol, yang menjadi salah satu alasan melek sosial media bagi kaum istana.

Media: Tempat Interaksi Siapapun

Dalam era media sekarang, ranah sosial manusia mungkin berada pada tahap saling memberi komentar, cakapan, ungkapan, perasaan dengan menggunakan ruang media. Sesuai dengan panggilannya maka pada akhirnya sosial media adalah ruang baru bagi manusia untuk menciptakan dunia yang lebih modern.

Dalam era media sekarang sangat terasa bahwa semua berjalan dengan terasa cepatnya. Bila dahulu kala rindu itu tersimpan didalam hati namun sekarang perasaan rindu bisa kita ungkapkan dimana saja kita berada. Kalau dulu bisa berhari-hari ingin mengungkapkan rasa tersebut namun di era new media seperti saat ini semua itu bisa terjadi dengan hanya hitungan menit bahkan detik.

Begitulah mungkin bayangan dari bagaimana interaksi didalam sosial media mampu dimasuki oleh siapapun dia dan dimanapun dia berada. Era media saat ini adalah semua terhubung satu sama lain dengan begitu cepatnya. Hal tersebut ditambah pula dengan bagaimana sikap manusia yang selalu heboh dalam menindak lanjuti hal-hal yang memang seharusnya heboh 😀

Yang terjadi pada kejadian Ibu Negara dan salah seorang user Instagram mungkin begitu. Ketika seorang Ibu Negara tengah bersosialisasi dalam dunia media maka yang bisa menjangkau media tersebut adalah seluruh rakyat Indonesia yang mungkin mempunyai pandangan-pandangan berbeda dengan seorang Ibu Negara, khususnya, dan ke Presidenan, umumnya.

Karena dalam sosial media memuat konten saling berkomentar maka unek-unek yang berbeda tersebut akan dengan mudah terlontar langsung kepada seorang pemimpin negara. Nah ini yang terjadi adalah suara sumbang yang langsung terlontar dan menempel sekejap dalam mata Ibu Negara.

Saya sarankan bagi teman yang menginginkan lebih jelas permasalahan atau kalimat-kalimat yang terjadi antara Ibu Negara dan user Instagram untuk browsing dengan seksama. Disini saya hanya mengomentari dan hanya ingin berbagi untuk bagaimana seharusnya memaknai era media sekarang.

[share-locker id=”59d56817″ theme=”green” message=”Mau lihat bagaimana komentar-komentarnya? Share artikel ini dan tunggu penampakannya” main_url=”” facebook_share=”1″ facebook_share_title=”” facebook_share_url=”” facebook_share_message=”” facebook_like=”1″ facebook_like_url=”” facebook_colorscheme=”light” twitter=”1″ twitter_url=”” twitter_tweet=”Check out this post” google=”1″ google_url=”” vk_share=”1″ vk_share_url=””]Instagram-aydia[/share-locker]

Beberapa Kesadaran Yang Perlu

Ada beberapa hal penting yang harus dipahami oleh kita didalam menghadapi era baru media sekarang. Dan barangkali akan jadi lebih tepat bila kita menyebutkan bahwa hal yang harus dipahami tersebut dekat bersanding dengan istilah konsekuensi.

Kita tidaklah sekali mendapati berita yang terkait tentang kasus bully di sosial media khususnya twitter dan facebook. Kasus yang masih hangat adalah ketika Benhan yang berkonfrontasi dengan Misbakhun. Dimana pada akhirnya benhan katanya ditahan di LP cipinang.

Kasus ini bila ditelusuri dengan seksama maka akan didapati bahwa terdapat dua konsekuensi yang mungkin telah dilupakan oleh mereka.

  • Yang pertama konsekuensi terkait kedudukan kedua orang tersebut, mungkin sebagai seorang yang mempunyai kursi hebat di Indonesia, dan
  • Yang kedua adalah konsekuensi ruang sosial media itu sendiri yang tak mempunyai dunia tapal batas.

Kebebasan yang berada dalam ruang media sosial memang seluas kita berbicara tanpa batasan. Mau berbicara apapun di dalam sosial media, baik itu curhat ataupun keluhan dan lain-lain silahkan saja, asalkan kita harus menyadari konsekuensi apakah yang akan timbul setelahnya.

Terkait dengan permasalahan Instagram ini maka konsekuensi yang semestinya harus dimengerti adalah dari kedua belah pihak yang saling berkomentar. Konsekuensi sebagai Ibu Negara ketika menyebut seorang rakyat yang dipimpinnya dengan perkataan bodoh sungguh sangat tidak dibenarkan karena etika tidak pernah mengajarkan seorang pemimpin menyebut rakyatnya dengan perkataan tak mengenakan.

Konsekuensi yang kedua adalah hubungan antar sosial media yang begitu cepatnya mengakibatkan mudahnya konfrontasi tersebut mebludak tak karuan, bahkan sampai dengan cepat menjadi pemberitaan media-media nasional. Itulah bagaimana cara kerjanya sosial media diera saat ini. Dimana sharing connecting menjadi hal yang benar adanya sekaligus cepat adanya.

Sekarang pertanyaannya bagaimana konsekuensi yang diterima oleh sang user instagram? Adakah ia harus mendapatkan sangsi untuk mempelajari dengan seksama tentang netiquette atau budaya bersosial media ahahah?

Tinggalkan pesan

Comment