in Budaya

Indonesia Negeri Pelangi; Dan Kepudarannya

Adalah maksudnya rasa kebersamaan yang hidup dalam satu negeri besar nan indah pemberian Allah maha mulia. Keragaman antar suku, agama dan etnis telah menjadi sebuah bingkai abadi yang akan terus hidup di negeri Indonesia. Kedamaian, keinginan bersama dalam kehidupan yang tak ada konflik adalah dasar dari kehidupan yang rukun diantara penduduk di Indonesia.

Namun hukum kehidupan pun berjalan sesuai taqdir. Dimana ada satu kedamaian yang didamba maka akan ada pula suatu hal yang tak mengingini rasa harmoni itu. Kejahatan adalah lawan dari kebaikan, yang datang dari perbuatan manusia yang ingin memperkeruh suatu keadaan yang harmonis.

Dari semenjak adanya sebagian orang yang tak menghendaki rasa suatu kebersatuan, negara kita menjadi negara dengan tingkat konflik yang harus diatasi dengan serius. Konflik antar etnis pernah terjadi, konflik antar agama pernah terjadi dan sekarang pun konflik antar suatu ideologi yang tak perlupun muncul, kerusuhan tingkat kota.

Dari beberapa konflik yang disebutkan diatas maka konflik antar agamalah yang selalu menjadi perbincangan tingkat nasional bahkan internasional. Sehingga kemarin kalau saya tak lupa Indonesia di cap sebagai negara yang mempunyai tingkat toleransi terendah. Sungguh ngeri mendengar pernyataan tersebut, meski mereka telah melalui kerja survei yang ketat tapi kalau lihat realita dikebanyakan tempat, toleransi masih banyak bertebaran bung!!

Indonesia Itu Ibarat Pelangi

Kebersamaan, keragaman agama yang hidup dalam negara surga ini adalah ibarat pelangi. Ia berwarna rupa namun ia menawarkan suatu kekaguman yang menakjubkan. Ia sama ialah pemberian dari sang maha pencipta, pun kita juga adalah sama sepertinya.

Kita hidup berbeda agama telah berjalan semenjak dahulu kala, sudah beribu tahun lamanya. Maka tak heran ada banyak yang menyebutkan bahwa ada agama masehi selain agama yang berkembang karena budaya, agama budaya. Saya tak mau untuk bercerita panjang tentang agama masehi atau budaya, saya sarankan saja kepada pembaca untuk melengkapi pustaka pengetahuan dengan membaca.

Misi dari diturunkannya agama pada hakikatnya sama yaitu mengajarkan kebaikan dan menanamkan rasa takluk kepada sang maha kuasa. Namun kita perlu ingat bahwa semenjak nenek moyang kita yang pertama turun ke bumi ini maka disatu sisi terdapat api, iblis yang mendapat kutukan dari Yang maha kuasa, semenjak itu pulalah iblis memberi perhiasan bumi berupa godaan untuk ingkar terhadap Allah.

Dari agama yang pada awalnya diturunkan dengan misi kebaikan ternyata fakta sejarah banyak mengatakan bahwa terdapat suatu transformasi-transformasi yang pada akhirnya akan membuatnya bercabang. Tak dipungkiri peran utama bila terdapat suatu kesalahan adalah manusia. Ingat bung jangan pernah menyalahkan suatu kendaraan kalau kita terjatuh, jangan salahkan perahu yang mengambang bila kita salah arah, maka salahkanlah kemudinya. Jangan salahkan agamanya maka salahkan orangnya, hal itupun berlaku pada sejarah-sejarah agama pada mulanya.

Pelangipun Pudar Pada Pandangan

Kalau kita pernah berpikir dan kita pun akan selalu berpikir bahwa warna yang melekat pada pelangi itu takan berubah selamanya. Warnanya akan tetap selalu Merah, Kuning, Hijau, dilangit Biru. Kalaupun ada yang mengatakan kepada kita bahwa warna pelangi itu bukan itu, melainkan ini maka siapakah yang patut disalahkan?

Pun dalam keragaman beragama, maka yang pada awalnya ada satu agama dengan ajaran-ajaran utamanya menjadi berbeda sama sekali. yang patut disalahkan adalah manusia yang diembani nasihat-nasihat dalam suatu agama. Karena tak sedikit doktrin dari agama meyalahi hasrat manusia maka tak sedikit dari kebanyakan orang yang beralih padangan. Pun bila orang-orang telah jauh dari suatu agama maka hatinya kosong dan rentan terhadap pemikiran-pemikiran yang menggiurkan.

Pelangi di Indonesia banyak disorot, misalnya dalam kasus ahamdiyah. Mereka adalah orang-orang yang sama seperti Muslim lainnya, mengaji, shalat, zakat tapi ajaran-ajarannya disinyalir menyimpang. Mereka mayakini bahwa Mirza Ghulam Ahmad adalah nabi terakhir sedangkan dalam Islam sudah dinyatakan bahwa Nabi Muhammad lah yang terakhir. Satu warna pelangipun terlihat bias oleh karena pemikiran-pemikiran manusia dalam menjalankan agamanya.

Konflik ini berkepanjangan entah sampai kapan. Dan dengan adanya konflik ini pula maka orang-orang dari kalangan tak ingin harmoni banyak yang memanfaatkan momen disaat yang tepat. Pemberitaan pun semakin membuat citra agama Islam yang pada waktu itu telah tercoreng dengan citra teroris. Perlu diingat bahwa tuhan itu bukanlah media, media itu bukanlah kebenaran mutlak, namun dengan citra yang diemban maka kita banyak yang digiring pada apa yang mereka inginkan.

Pelangi Itu Tetap Berwarna

Pelangi itu akan tetap berwarna semestinya, perubahan ialah terjadi karena pandangan mata, hati manusia yang tak menginginkan harmoni. Yang pada mulanya bersemi dalam harmoni maka terdapat suatu pihak yang tiada menghendaki. Namun itulah dua sisi kehidupan abadi, bahkan sampai akhirat.

Tinggalkan pesan

Comment

  1. Keren artikelnya 🙂
    Emang sebuah rasa yang luar biasa hidup lingkungan yang penuh dengan keragaman budaya, suku, bahasa. Karena tanpa kita sadari perbedaan lah yang mengajarkan kita untuk saling menghargai satu dan lainnya.
    Salam Kenal bro 😀