in Budaya, Sejarah

Gejolak Wacana Pra Pemilu

Dolls

Satu tahun lagi Indonesia akan dihadapkan pada suatu hajatan besar yang selalu digelar setiap 4 tahun sekali. Yah, apalagi kalau bukan pemilu, pemilihan umum, pemilihan presiden sekaligus konco-konconya.

Sejatinya kita sebagai warga akan menyambut baik perhelatan besar tersebut. Dengan melihat berbagai kondisi, keadaan bangsa selama dipimpin oleh pemimpin sebelumnya saya rasa masih banyak sesuatu hal yang belum mencapai apa telah menjadi impian kita.

Seolah ada yang dilupakan dari setiap janji manis yang terucap laris ketika belum menjabat tapi kita jelas menolak lupa, karena kita takan pernah bisa untuk tidak bisa merasakan luka bila dilupakan.

Itulah mengapa kita selalu menyambut baik perhelatan pemilu di Indonesia. Selain ingin memimpikan kehidupan yang lebih baik kita juga ingin merubah bagaimana kita melihat situasi Indonesia akhir-akhir ini.

Tahun-Tahun Penuh Bentrokan

Bentrokan tak selamanya merupakan hal yang selalu kita bayangkan adu jotos, pemukulan dan sebagainya yang menyangkut hal fisik. Akan tetapi bentrokan yang saat ini kita rasakan adalah bagaimana realitas kita digiring pada berbagai opini-opini yang ada dalam media.

Saat inilah saya merasakan adanya suatu gejolak wacana pra pemilu dalam bingkai media. Kita tahu bahwa media saat ini sudah menjadi bagian yang integral dalam kehidupan sehari-hari. Mulai dari facebook, twitter, tumblr, blogging, sampai pada apa yang ada dalam televisi adalah manifestasi budaya media. Budaya media adalah sesuatu yang akan, mungkin, menjadi utopia masa depan manusia.

Maka dari itu ketika media telah menjadi bagian yang integral tak heran banyak orang yang memanfaatkan media menjadi suatu alat yang terbilang jitu untuk membantu apa yang ingin mereka cita-citakan.

Iklan, propaganda, pengalihan isu, pemutaran opini publik dan wacana politik menjadi bukti bagaimana mereka menemukan hal yang harmoni dari cara media berkerja. Iklan yang cenderung mengajak kita untuk mengamini apa yang ditampilkan, menggiring kita untuk menyetujui apa yang ditampilkan dalam iklan, sehingga tak jarang iklan, secara tidak sadar, telah membantu kita untuk menemukan suatu identitas baru, sesuai yang dikodekan.

Akhir-akhir ini yang sering muncul kemuka dalam pemberitaan kita adalah wacana politik dalam bingkai media. Saya sedikit mencatat bahwa prahara yang selalu menjadi trend paling popular berita politik adalah prihal korupsi atau konflik dalam dan luar partai.

Kasus korupsi hambalang sampai kepada kasus yang sekarang masih hangat, kasus korupsi sapi setidaknya mempunyai kaitan erat dengan partai-partai besar yang ada di Indonesia. Ketika kasus hambalang mencuat kepermukaan maka partai demokrat seakan-akan menjadi sebuah bincangan-bincangan terfavori di media massa. Begitu juga ketika kasus korupsi sapi terkuak oleh KPK maka parta PKS pun mendapat rating paling banyak diberitakan dengan berbagai macam cerita.

Memahami Kekuatan Media

Media saat ini telah menjadi suatu alat yang paling berharga bagi dunia politik. Maka tidak salah kalau banyak orang berpendapat bahwa media, saat ini, adalah kekuatan setelah trias politica yang sudah dikenal banyak politikus.

Hal tersebut tidaklah mengherankan karena memang kita sedang berada dalam dunia media, dunianya tekhnologi. Sebagai manusia yang berdialektika dengan materi sudah seyogyanya kita hidup sesuai apa yang ada dalam kehidupan. Media bisa menjadi satu cara yang membuat seseorang terkenal dengan cepat namun media juga bisa membuat seseorang tersebut terjatuh tanpa ampun.

Seumpamanya, contoh tadi, kedua partai yang pernah menghiasi layar kaca Indonesia akan menjadi salah satu contoh bagaimana kekuatan media itu berjalan. Bahwa opini yang terbentuk dimasyarakat kita adalah salah satu stasiun TV tengah membombardir kedua partai tersebut oleh karena ada keberkaitan antara politikus dan kekuasaan dalam media, penguasa stasiun TV itu.

Kekuatan media setidaknya terletak pada bagaimana citra, dampak dari, yang selalu disuguhkan berita-berita dari pagi sampai sore hari menggiring masyarakat untuk mengamini setiap berita yang ada. Sebagai masyarakat konsumen, TV sebagai artefak budaya yang paling banyak dinikmati, alhasil telah menciptakan dunia realitas media yang dominan. Realitas sepenuhnya telah menjadi suatu yang absurd

Citra sangatlah penting dalam dunia politik. Satu stasiun TV, yang notabennya dimiliki oleh tokoh politik tertentu akan cenderung membuat citraan yang begitu menawan indahnya bagi tokoh tersebut. Begitulah media ketika menjadi suatu senjata politik zaman sekarang. Ia merupakan suatu kekuatan yang paling ditakutkan.

Menanti Siapakah Yang Seharusnya

Disatu sisi citra, dalam dunia politik, tersebut memang sangat diperlukan untuk menarik simpati masyarakat. Namun disisi lainnya terdapat suatu citra yang berbalik dari yang pertama. Selain citraan untuk menarik simpatisan masyarakat ternyata adapula citraan yang dihadirkan dengan wajah yang begitu mengenaskan.

Dalam hasil survey yang diadakan TVone maka angka pendukung partai demokrat sekarang ini, setelah kasus hambalang, cenderung tidak stabil sebagaimana dahulu. Apakah ini mungkin terjadi pada partai PKS, yang notabennya partai ini sedang menjadi arena pertarungan wacana media berita di Indonesia?      

Tinggalkan pesan

Comment