in Kajian Budaya, Karya-karyaku

Efek Media, Jokowi dan PDI P

Kemenangan PDI Perjuangan (PDI P) dalam pemilu legislatif tahun 2014, hasil ini masih merupakan perhitungan cepat, rasanya tidak akan terlepas dari betapa pentingnya sosok figur yang pernah tampil ke media baik itu sebelum kampanye atau sebelum kampanye.

Suara PDI P yang hanya sampai pada kisaran 18-19% merupakan hasil yang jauh dari harapan awal atau tak seimbang dari bagaimana strategi yang mereka gunakan untuk menaikan elektabilitas PDI P.

Lalu banyaklah wacana-wacana yang mengatakan bahwa jargon “EFEK JOKOWI” tidaklah berjalan sebagaimana mustinya. Dalam hal ini maka terdapat pengamat politik yang, bahkan, mengatakan bahwa justru “EFEK RHOMA IRAMA” lebih kentara dibanding dengan Jokowi.

Terlepas dari hal tersebut kedua partai yang, memang mempunyai strategi untuk, mengusung seseorang sebagai kartu AS telah berhasil – Setidaknya untuk saat ini. Hal ini bisa dibuktikan dengan kenaikan perolehan yang dicapai oleh partai PDI Perjuangan dan PKB pada pileg 2014 ini.

EFEK Media, Jokowi dan PDI P

Rasanya ada yang kurang bila kita berbicara efek media, Jokowi dan PDI P tanpa menghadirkan media itu sendiri sebagai salah satu alat utama untuk mengenalkannya. Peranan media yang menjadi sangat penting bisa kita baca dari banyaknya beberapa tayangan televisi yang menampilkan seorang tokoh berserta kebaikan dan tindakan kepahlawanannya terhadap masyarakat.

Dari PDI P sendiri saya merasa bahwa media cukup membuat elektabilitasnya menaik. Tentu saya tidak melihat hal ini pada kurun waktu akhir-akhir kampanye, yang mana terdapat sebahagian media yang memberitakan hal menyudutkan terhadap PDI P umumnya dan Jokowi khususnya.

Dalam hal ini bahkan Ganjar Pranowo pada salah satu surat kabar mengatakan bahwa “Kami kemarin sulit masuk ke televisi, bahkan saya baca di koran, ngiklan di website saja itu tidak boleh sama pemiliknya sehingga menurut saya KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) harus turun tangan soal itu.” 1

Pernyataan diatas memang benar adanya bila kita hubungkan dan melihat pada kontek siapa dibalik media televisi yang ada di Indonesia saat ini? Dengan mengetahuinya mungkin kita juga akan mempunyai opini yang sama jika Jokowi dan PDI P, kemungkinan, diembargo oleh media.

Kembali kepada pendapat yang menyatakan media cukup menguatkan PDI P. Iklan kampanye, sebagai komunikasi politik dan metode yang telah diatur oleh UUD, PDI P yang muncul di televisi, terhitung sebanyak 13% 2, bisa dibilang sangat lugas, ia berhasil untuk tidak membuat para penonton membullynya.

Apalagi kalau kita bandingkan hasil tersebut dengan perolehan sementara pemilu legislatif 2014, maka hasil yang didapatkan PDI P dari iklan kampanye sangatlah memuaskan. Hal ini jauh berbalik dengan hasil perolehan suara partai tertentu yang banyak mengeluarkan anggaran untuk iklan kampanye.

PDI P & Berita Harum Sebelumnya

Ketika masyarakat merasa jenuh dan tak kentara karena terlalu sering melihat pemberitaan korupsi dan peran pemerintah yang kurang optimal maka yang ada pada pandangan rakyat adalah suatu kekecewaan. Terdapat suatu harapan yang terelakan dan terabaikan dengan memahami keadaan yang disajikan realitas media.

Ditengah kebimbangan tersebut maka rakyatpun membutuhkan seorang pahlawan bak Robin Hood atau pahlawan-pahlawan lain yang bisa menjadikan suatu perlawanan dari realitas pertama. Dan hal itu terjadi ketika pertama kali kehadiran Jokowi dan Tri Rismaharini muncul ke permukaan media.

Tanpa disadari pada waktu itu media sendiri yang membesarkan kedua figur tersebut hingga banyak dikenal oleh orang-orang dengan beberapa prestasi yang bisa membuat rakyat terpukau. Dalam kontek presiden bahkan ada sebahagian kalangan pengamat yang menyebutkan bahwa kelak bila Jokowi jadi Presiden maka wakil presidennya Tri Rismaharini atau bila jokowi jadi presiden maka yang cocok menggantikan gubernur DKI Jakarta itu adalah Tri Rismaharini.

Kedua figur ini, menurut saya, sangat berpengaruh pada perolehan suara PDI P pada pileg 2014 sekarang. Meski pemberitaan media yang kerap memunculkan citra bagus dari kedua figur ini banyak tayang jauh-jauh hari sebelum masa kampanye tapi rakyat, yang pada waktu itu tengah berada pada poros yang tak dikehendaki, merasakan efek luar biasa dengan kehadiran Jokowi dan Tri Rismaharini yang berada pada barisan PDI P.

Kesimpulan

Boleh jadi apa yang diungkapkan Ganjar Pranowo yang mengatakan Jokowi diembargo media itu benar adanya tapi tidak menutup kemungkinan bahwa media juga membesarkan nama Jokowi hingga banyak dikenal masyarakat saat ini.

Selain itu keberpihakan media sebagai pilar keempat pada ranah kekuasaan terbukti tidak selamanya bisa memenuhi keinginan politik satu partai. Kekuatan image atau simbol tidaklah bisa diukur dari betapa seringnya ia tampil dimata pemandang rakyat.

Meskipun begitu kehadiran Jokowi dan PDI P juga tidak selamanya diembargo media. Ada beberapa media baik online atau cetak dan sebagainya yang mendukung mereka dibalik layar.

Referensi:

  1. http://www.kabar24.com/nasional/read/20140410/98/215811/bicara-hasil-pemilu-2014-ganjar-pranowo-nilai-jokowi-diembargo-media
  2. http://www.goriau.com/berita/politik/inilah-belanja-iklan-pemilu-2014-di-televisi-hanura-terbesar-pbb-terkecil.html

Tinggalkan pesan

Comment